Namun, niat hati ingin menjelajahi lebih lama dunia mimpinya itu, Mala terbangun dengan bias cahaya hangat menerpa wajah. Pagi datang begitu cepat, seolah tak ada waktu istirahat untuk tubuhnya.
Bukan masalah bagi gadis itu sekarang, meski dari pagi hingga sore dia disibukkan oleh dunia yang memuakkan. Ada malam yang menjadi tempatnya menjelajah, menemukan kebahagian lain lewat mimpi. Kata istirahat mungkin tidak berlaku, tetapi istirahat sebenarnya bukan hanya tertidur tak sadarkan diri sementara, tetapi lepas dari apa yang mengekang.
Mau percaya ataupun tidak, tetapi begitulah kenyataannya. Lebih dari satu mimpi membawanya kembali ke dunia itu, dan Mala mencoba untuk meyakininya. Mungkin ini cara Tuhan membalas semua takdir-Nya yang tidak menyenangkan. Begitu pikir Mala.
Segera bergegas bersiap menuju sekolah. Sejak kejadian itu tidak pernah lagi dia berani untuk ikut bergabung sarapan bersama "keluarganya". Gadis itu tidak ingin mencari ribut dengan kehadirannya yang tidak diinginkan banyak pihak.
Tidak apa-apa, kata itu selalu terulang dalam benaknya. Rumah ini memang tidak pernah benar-benar menjadi tempatnya berpulang, juga sekolah hanya bangunan berkedok tempat belajar. Dunia nyata mengerikan, memaksa Mala remaja yang baru berusaha tumbuh dewasa secepatnya.
Goresan pena di atas lembar putih itu mulai mengisi penuh, bergulir lembaran baru hingga lonceng memberi tanda untuk berhenti sejenak. Selain itu kadang dia bersuara ketika ditanya, mencoba fokus membaca buku dan melakukan perlakuan semena-mena orang-orang itu.
Kali ini tugas yang sedang dia buru-buru tulis karena sesampainya ke rumah Mala ingin tertidur lebih lama. Namun, sayang niatnya itu mungkin harus lebih ekstra dilakukan, karena kini lembar ke delapan dari rangkuman tiga babnya terguyur minuman. Mala mendongak menemukan gadis berambut panjang cantik terurus, memegang cup minuman yang isinya tinggal sedikit, tumpah semua pada buku yang sedang dia tulis.
Orang di depannya dengan tanpa rasa bersalah malah terlihat mencoba menahan tawa saat mata mereka beradu pandang. "Sorry, gak sengaja gue, tuh," celetuknya berbalik badan dan cekikikan.
Ah, kapan perundungan ini berakhir? Kalau dia melakukan sesuatu mungkin bukan hanya buku yang sedang Mala pakai, tetapi seluruh buku di lokernya akan dibakar habis. Dia sampai tidak habis pikir, tetapi manusia memang bisa sejahat itu, ya?
Hanya mampu menghela napas panjang, alat tulis dan semua buku yang tersisa di tas dia kuras habis, membawanya segera keluar dari ruangan pengap yang sesaat setelah dia keluar terdengar tawa penuh ejek. Sengaja, memang itu kesengajaan. Sama seperti kemarin, minggu lalu, bulan, dan tahun sebelumnya.
Dengan kekuatan yang tersisa, Mala membuka kembali buku yang sudah basah itu, meletakkannya di dekat jendela perpustakaan yang langsung tersorot sinar matahari. Berharap mungkin bisa segera kering, sembari menunggu terlalu lama untuk baku tersebut kering, berakhir gadis itu menulis kembali di buku baru. Setidaknya tidak ada yang akan menggangunya terang-terangan di perpustakaan. Tempat ini anti berisik, penjagaan ketat yang tegas, membuat orang-orang model "temannya" itu enggan bahkan untuk melewati ruangan tersebut.
Tempat yang bagus untuk bersembunyi. "Mala, mau teh?" tanya seseorang menawari segelas teh yang asapnya masih terlihat menggempul keluar dari tempatnya.
"Bukankah makan dan minum di perpustakaan itu terlarang, Sisil?" bisik Mala bertanya.
"Memang benar, sih, tapi ini rahasia kita berdua. Tidak akan ada yang melihat juga, nah diminum yaa! Semangat belajar," balas gadis yang dipanggil Sisil itu melenggang setelah meletakkan secangkir teh.
Mala sungkan untuk meminumnya karena tadi, ada larangan untuk makan dan minum di perpustakaan. Namun, meminum teh juga membantu menambah konsentrasinya. Diliriknya ke arah meja tempat penjaga perpustakaan berada, Sisil ada di sana mengacungkan jempol seolah meyakinkan. Kalau begitu Mala hanya bisa menerima pemberian gadis cerita penjaga perpustakaan itu. Sejauh ini karena sama-sama suka membaca buku mereka cukup sering mengobrol, karena itu Sisil mungkin tahu Mala sedang tidak baik-baik saja.
Diseruputnya perlahan minuman tersebut, aura teh yang khas memenuhi penciuman sembari tangannya yang satu tidak berhenti untuk tetap mencatat tugas. Ingatkan Mala untuk berterima kasih kepada Sisil, dia belum sempat mengatakan hal itu.
. . .
Ketika bias cahaya di langit makin meredup, hari Mala telah sampai di ujung. Bukan tanpa apa-apa dia senang, Mala ingin tidur, yang lama. Sampai dia dapat menyelesaikan semua petualangan yang tertulis di buku.
Tidak cukup dengan hanya waktu malamnya, yang setiap kali dia terbangun pagi telah menjemput. Tidak ada makan malam, menghabiskan waktu dengan bincang keluarga sebagainya. Jangan berharap karena hal tersebut tidak akan benar-benar terjadi.
Kehadirannya itu tidak dianggap di sini. Tidak penting, wajahnya baru akan tampak ketika satu keluarga besar Sri Kersuma berkumpul untuk berbicara hal penting. Pencitraan publik saat diwawancarai sebagai pelengkap. Selain itu maka gadis bernama Mala dari keluarga Sri Kersuma sudah tidak ada.
Harinya cukup berat, meski tidak bisa disebut buruk seluruhnya. Tubuhnya yang masih berseragam lengkap itu terjatuh pada kasur, menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan yang mendekap buku tebalnya kuat-kuat. Setelah cukup meyakinkan diri, lembaran baru beserta satu bait paragraf pendek menjadi cerita pengantar sebelum tidur.
Karena kisahnya baru dimulai setelah ini. Jep! Matanya membuka sempurna menemukan dia yang lagi-lagi berbaring atau tertidur mungkin di bawah tanah. Begitu terbangun itu adalah pinggir kota Plashay untuk melanjutkan perjalanan.
Dari yang Mala tahu dari Sira, kota berikut yang paling dekat adalah kota Wilgetis. Entah kota macam apa yang berikutnya menyambut kedatangan gadis itu, tetapi dia tidak pernah mundur saat memulai sesuatu.
Hamparan sabana memanjakan mata yang pertama kali melihat. Seolah keluar dari hutan, di depannya sudah terlihat kuncup hingga yang timbul, kakinya melangkah keluar dari jalan sebelumnya yang banyak tumbuh pepohonan besar seperti hutan.
Mala bahkan saking asyiknya dengan dunia sendiri lebih memilih tertidur sejenak barang sepuluh menit untuk merebahkan diri. Semilir angin yang menampar wajah dengan pelan, ditambah suara alam lain terdengar memenuhi pendengaran.
Kota Wilgetis, tidak memiliki plang menyebutkan perbatasannya, tetapi meski tidak begitu Mala tahu dia memang berada di kota tersebut. Berjalan jauh sampai berganti hari itu melelahkan.
Dia bangkit, tidak ingin tertidur lebih lama dalam buayan alam. Kaki kecil berbalut sepatu yang terakhir diberikan Sira, melangkah ke depan. Sabana, hijau, asri tiga kata itu penggambaran sejauh langkahnya.
Makin jauh, Mala merasakan anginnya makin kencang. Tidak ada tanda-tanda perumahan di sekitar sini, tetapi pantang kata mundur setelah memulai. Perlahan tanpa sadar, kaki kecilnya bukan lagi menapak pada tanah kering berbalut rerumputan pendek.
Namun, langkah itu makin ringan membawanya semakin ke atas. Mala tidak lagi berpijak pada tanah, langit membawanya mengudara, tanpa gadis itu sadari kejanggalannya.
. . .