Kota Kabut

1146 Words
Dalam perjalanan menuju kota Mala hanya membungkus dirinya dengan selimut tipis yang ada di salah satu tumpukan barang. Ada lusinan telur, s**u, dan sayuran yang memenuhi kereta kuda tersebut. Daripada disebut kereta mungkin ini lebih mirip gerobak yang didorong oleh kuda, hanya saja memiliki atap dan pintu di bagian belakangnya. Pandangan kusir di depan bisa melihat ke dalam kereta lewat jendela kaca kecil tepat di belakang kepalanya. Pak Del terlihat fokus menerjang hujan yang menderas, ingin saja Mala mengantikan orang tua itu, tetapi dia ingat tidak bisa mengendarai kuda. Inisiatifnya terpatahkan begitu saja, meski memang dia tidak akan kehujanan di tengah badai sekalipun. Namun, demi keselamatan bersama lebih baik dilakukan oleh yang profesional saja. Hujan pasti membuat jalur perjalanan mereka lebih licin, sehingga harus penuh kehati-hatian agar terhindar dari kecelakaan. Diliriknya sesaat bagaimana mata Pak Del memicing menatap jalanan di depannya, benar juga jarak pandang ikut terbatasi. Meski hujan adalah favoritnya, tetapi sekarang dia berdoa semoga hujan cepat reda. Takut-takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, setidaknya lelaki tua sebaik Pak Del tidak boleh kenapa-kenapa. Doanya dikabul. Tak lama pemandangan yang hanya berisi pepohonan itu mulai digantikan oleh gambaran pemukiman-pemukiman. Benar, tidak sampai lima menit kereta mereka berhenti sejenak, Mala baru tahu kalau memasuki sebuah kota ada pula pemeriksaan identitas. Hujan pun sudah berhenti saat dia memasuki kota. Bersyukur dia masih menenggelamkan diri dalam tumpukan sayuran, tidak ada yang bertanya siapa dirinya. Karena jujur saja, Mala bingung harus menjawab apa. Untuk seorang yang datang dari luar, mengaku warga sekitar pun dia tidak tahu apa-apa. Bahkan mungkin bagi orang lain dia datang dari antah berantah. Tidak ada yang salah. Pandangannya teralih pada jendela kecil di depan, mengintip bagaimana suasana kota. Ternyata di sini lebih berkabut daripada desa yang kemarin Mala kunjungi, kabutnya sedikit pekat dan menutupi penglihatan. Namun, semua orang seperti tidak masalah dengan itu. Terbiasa hidup di kota berkabut, sehingga jarak pandang yang tipis bukan lagi suatu masalah berarti. Orang-orang berjalan hilir mudik dengan jubah hitam dan masker. Menutupi setengah wajah, menurut apa yang dikatakan Pak Del itu agar kabut asap tidak terhirup banyak. Karena lagi-lagi itu bukan kabut biasa, tetapi berbahaya. "Mala, kau bisa berkeliling sesukamu, tetapi jangan terlalu jauh. Temui aku di tempat yang sama saat matahari terbenam," pesan Pak Del dianggukinya. Mala malah bingung disuruh berkeliling kota. Tidak ada yang dia kenal dan tak tahu harus melakukan apa, tetapi sesuatu menarik perhatiannya. Pohon kering bahkan mungkin sudah mati terlihat berdiri kokoh di tengah alun-alun. Tidak ada daun yang tersisa hanya badan pohon dan rantingnya. Memilih mendekat, dia terduduk di sekitar pohon kering tersebut. Ada sebuah bata melingkar yang mengelilingi pohon tersebut, seolah mengurungnya. Bukan hanya Mala saja yang duduk di sana, tetapi jarak mereka berjauhan. Jika dari perawakannya, mungkin seorang gadis yang tidak berbeda jauh darinya. Entah keberanian dari mana, tetapi dia beringsut mendekat. "Halo, saya Mala. Maaf menggangu, bolehkah kita berkenalan?" sapanya menjulurkan telapak tangan. Kalau dalam dunia nyata dia tidak mungkin akan melakukan hal tersebut. Menghampiri orang asing terlebih dahulu, mengajaknya berkenalan itu terbilang tidak akan pernah terjadi dalam hidup seorang gadis sepertinya. Namun, Mala mencoba memberanikan diri bertanya, keluar dari zonanya. Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi, batinnya mencoba memberikan keberanian. Siapa sangka tangannya disambut baik. Sebuah tangan yang halus, tetapi dingin berjabat dengannya. Mala mendongakkan kepala, tersenyum meski tahu dia tidak bisa melihat balasan orang tersebut. "Yessira, orang-orang memanggilku dengan panggilan Sira," balasnya bersuara. Hampir tidak terdengar kalau bukan Mala yang peka terhadap suara. Selesai berjabat tangan, keduanya sama-sama terdiam cukup lama. Tidak ada yang memulai percakapan, gadis itu sendiri bingung bagaimana caranya memancing pembicaraan. "Kau bukan orang sini, ya?" tanya Sira cukup mengagetkan Mala. Dia mengangguk sebagai jawaban. Meski telah mengenakan jubah dan tudung, mungkin penampilan Mala dengan piyama putih menarik perhatian orang. "Apa aku terlihat aneh?" Lawan bicaranya tampak panik, buru-buru menggeleng kuat-kuat. "Ti-tidak maksudku bukan begitu ... kau terlihat asing saat memandang sekitar," cicit Sira memberi penjelasan. Mala menghembuskan napas lega. Dia kira dia terlalu mencolok atau sebagainya, sampai identitasnya bisa terbongkar begitu cepat. Mereka berbincang singkat, lebih seperti memberi pertanyaan, menjawab, lalu berulang. Sira memiliki rambut pendek di atas bahu, beberapa helai depan rambutnya berwarna putih, tidak terlalu terlihat karena tertutupi tudung jika tak diperhatikan dengan benar. Selain itu dia memakai kemeja bermotif soft dan rok. Pasti dibalik kain yang menutupi wajahnya, Sira adalah gadis yang cantik. Mala meyakininya. Dengan baik hati pula Sira mendadak menjadi tour guide mengelilingi kota yang pertama kali dia masuki ini. Jika desa yang pernah Mala singgahi didominasi oleh pemukiman berumah kayu. Maka kali ini yang terlihat adalah warna gelap dari bebatuan menjadi tembok rumah. Terlihat unik, warnanya yang gelap dengan lampu-lampu di setiap tiang rumahnya. Meski berkabut semua masih bisa dilihat jelas, bangunannya lebih berdempetan dan banyak orang yang berlalu lalang. Wajah mereka tertutupi kain, terlihat bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang Mala sadari jarang sekali menemukan orang sedang berbincang dengan orang lain. Sira bilang karena warga kota jarang bertegur sapa dengan orang asing. Mereka mungkin bekerja di luar, tetapi hanya berinteraksi dengan orang yang mereka kenal di lingkungan rumah. Suatu fakta yang mengejutkan lagi. Jalanan aspal itu dipenuhi satu dua kuda yang lewat. Sementara kiri kanan dari sisi jalan itu berisi para toko dan rumah yang berbaur menjadi satu. Pembeda dari keduanya adalah lonceng yang tergantung di daun pintu, bangunan dengan lonceng tersebut itu berarti toko. "Ah, maaf aku lupa jika aku tidak membawa uang," sahutku begitu tersadar saat akan membayar makanan. Bagaimana bisa Mala lupa dia tidak sepeser pun punya uang di dunia ini. "Tidak apa-apa, itung-itung traktir perkenalan kita." Begitu kata Sira, tetapi Mala tidak enak hati. Dia berjanji jika bertemu lagi dengan gadis itu, maka akan membayar hutangnya. Mendengar perkataan tersebut Sira malah tertawa, berteman terasa menyenangkan meskipun mereka baru kenal. Mala tidak akan pernah melupakan gadis berambut pendek itu. Mereka saling bercerita, mengajaknya mengelilingi kota dari pemukiman pinggiran sampai pusat pembelanjaan. Begitu dia mendongak sorot sinar matahari yang tidak terlalu tampak itu sudah berada di ujung barat. Waktunya pulang menemui Pak Del. Mereka berpisah, berpamitan, Mala tidak yakin kapan akan bertemu kembali, tetapi dia yakin ada saatnya untuk bisa saling menyapa lagi. "Apakah jalan-jalannya menyenangkan?" tanya Pak Del melihat wajah Mala yang berseri, dia mengangguk. Namun, perlu juga mengatakan hal lain. "Pak Del, terima kasih untuk segala bantuan dan tumpangannya. Aku rasa tidak akan ikut kembali ke desa, aku akan meneruskan perjalanan ke tempat lain. Mengembara," ungkapku sedikit takut Pak Del marah. Namun, sebuah tepukan di kepala membuatku menatap sang pelaku. Pak Del mengusap kepalaku lembut sambil berujar, "Jika memang itu keinginan Mala pergilah. Berhati-hati dan kalau bisa temukan partner perjalananmu." Senyum merekah di antara keduanya. Perpisahan pasti datang di antara pertemuan, dan dia harus siap. Karena perjalanan tidak akan pernah berhenti sampai sini saja. Keduanya telah menjadi semakin akrab, dengan kesan formal dan kaku yang sudah berkurang, Mala lagi-lagi akan selalu mengingat sosok orang tua baik hati tersebut . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD