Hujan Kering

1135 Words
Sehabis melakukan semua aktivitasnya yang berulang, Mala merebahkan diri di atas kasur. Yang cukup untuk merelaksasikan badan yang serasa mau rontok, benar pelajaran olahraga hari ini begitu menyiksa. Dia tidak suka olahraga mandiri, tidak didampingi guru pembimbing. Karena dengan begitu waktu penyiksaannya dimulai, teman-teman satu kelas tidak pernah menyukai Mala. Mereka akan mengerjainya, menyuruh dia berlari memutari lapangan sekolah yang tentu sangat besar sampai lebih dari 10 keliling. Menjadikan dia penjaga gawang, padahal menangkap bola saja Mala tidak tahu caranya. Itu hanya alibi, karena yang sebenarnya mereka ingin bisa menendang bola tepat pada wajah dan badan gadis itu. Semakin gencar menghindar malah mereka yang geram, berujung Mala yang diseret ke gudang. Sampai sore hari tiba, barulah dia bisa keluar dari tempat berdebu itu. Membersihkan setiap bola, raket, dan perangkat olahraga lainnya yang habis dipakai. Seharusnya itu tugas bagian piket, tetapi tahu sendiri Mala hanya pesuruh, korban di sini. Dia capek, ditambah tak ada sarapan untuknya. Orang yang disebut ibu itu mengusir dia dari meja makan karena tidak ingin sang ayah tidak nafsu makan. Sungguh, kalau bukan perlakuan seperti ini yang dia terima selama bertahun-tahun, gadis itu pasti jatuh menangis meratapi nasib. Jauh dari itu sekarang Mala hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya. Dia tidak menangis untuk hal yang tidak perlu, dunia ini kejam makannya dia harus semakin kuat untuk bisa bertahan. Pandangannya jatuh pada buku paling tebal di nakasnya yang terbuka. Kalau dia lari dari dunia ini sementara tidak apa-apa, 'kan? Setidaknya dunia yang kemarin dia kunjungi tidak menjahatinya. Tidak ada yang mencemooh penampilan Mala, tak pula berlaku buruk padanya. Jika ... jika ada tempat untuk lari, Mala ingin lari sebentar. Karena dari gadis itu bangkit, mengambil buku tersebut. Kembali membuka lembaran lain, sebelum jatuh tertidur menimpa kasur di bawahnya. "Selamat datang kembali, Putri Tidur!" . . . Yang pertama terasa ialah indra penciuman yang menghirup udara lembab pohon pinus. Menenangkan pikiran, gadis itu pun membuka kedua kelopak mata menemukan dirinya berdiri di atas tanah basah berlumut. Tak jauh di belakangnya pagar pembatas dan sebuah papan kayu bertuliskan sebuah nama desa yang tak asing. "Ah, jadi aku kembali ke perbatasan desa ya?" gumamnya berjalan ke depan tanpa alas kaki, piyama putihnya menjuntai menggesek tanah, menimbulkan sedikit bercak merah pada ujung piyama tersebut. Mala sudah selangkah lebih jauh dari sebelumnya, meski tidak mengerti pasti kenapa bisa setiap dia tertidur melakukan perpindahan tempat juga dengan yang terakhir kali dia datangi. Ini aneh, tetapi semuanya memang aneh sedari awal. Untuk orang normal yang tidak merasakan apa yang Mala rasakan, tidak mungkin percaya dia menjelajahi dunia mimpi. Kakinya melangkah maju, membelah tanah basa yang terpijak. Sekelilingnya memang dipenuhi oleh pohon hijau yang tinggi menjulang, di antara pinus. Namun, tak selebat saat Pak Del mengajaknya ke peternakan. Pohon di sini lebih sedikit, tetapi rimbun menutupi langit hingga yang terlihat hanyalah bias cahaya yang masuk melewati ranting-ranting kecil. Tidak peduli sejauh apa kaki ini berjalan, membawa gadis itu pergi. Lagi pula memang ini yang dia inginkan berjalan tak tentu arah, hanya cara untuk menikmati apa yang sedang dia jalani tanpa peduli apa yang terjadi di dunia nyata. Tidak akan ada yang benar-benar peduli sekalipun Mala tertidur selama 12 jam lebih, atau sama sekali tidak bangun. Mungkin bau dari bangkainya baru membuat orang-orang sadar akan kehadirannya yang sudah tidak ada. Kepalanya menggeleng kuat-kuat, jangan memikirkan kematian semudah itu, Mala belum ingin pergi ke akhirat. Setidaknya sampai menyelesaikan buku tebal yang dia baca ini. Jauh berjalan, sampai kedua kakinya pun melemas tidak kuat. Terpaksa memberhentikan perjalanan, memilih untuk menepi di salah satu pohon yang rindang. Kepadanya bersandar pada badan pohon, mulai menguap tanda mengantuk, terlelap sesaat tidak masalah bukan. Dia juga perlu istirahat untuk mengisi kembali daya energi. . . . Tahu-tahu yang membuat Mala terbangun ialah suara berisik yang terdengar berjatuhan. Gadis itu bangun dengan mata yang masih mengerjap-ngerjap bingung, ujung jarinya mengenai genangan air. Seolah tersadar, kepalanya mendongak ke atas. Benar, hujan. Yang membangunkannya tadi itu suara hujan, tetapi bukan hanya itu. Dipandanginya seluruh badan, tidak ada yang kurang hanya saja ada yang janggal. Badannya kering, sama sekali tidak tersentuh air. Baru saja Mala mengulurkan tangannya ke depan, mencoba membiarkan tangannya terbasahi rintik air, tetapi nihil. Air itu seolah melayang di atas telapak tangannya, sampai bergerak ke samping jatuh ke tanah seperti seharusnya. Hujan menderas, tetapi tetap sama. Tidak mempengaruhi Mala sama sekali, seperti yang terjadi terakhir kali pada mimpi pertama gadis itu. Ah, hujan memang tidak bisa menyentuhnya, padahal sakit terguyur air dari atas langit pun Mala tidak masalah. Dia tidak pernah bermusuhan dengan cuaca satu ini. Kakinya melangkah berputar, mencoba bergerak sepersis dalam bayangan. Tanpa seorang pun yang melihat gadis beriris cokelat itu menari di bawah hujan. Menyapa alam sekitar, seolah dayu rintiknya adalah musik penghantar. Tanah becek itu serasa menjadi lantai dasar yang berlapiskan keramik emas. Hanya satu yang kurang, partner dansa. Jika saya ada seseorang yang menemaninya menari tidak jelas. Berguyuran dengan hujan, mengembara ke mana pun kaki melangkah, dia ingin satu saja sebagai teman perjalanan. Karena gadis tersebut sadar, perjalanan ini belum apa-apa, masih panjang sekali lembaran buku yang belum dia buka. Begitu juga dengan cerita ini, yang masih baru dimulai. Jauh dari akhir. "Nona, kau tidak kehujanan?" Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Mala malah berlanjut menyapa orang yang sudah tak asing lagi baginya. "Pak Del, kita berjumpa lagi!" "Anda bisa masuk angin, Nak. Pakai selimut yang ada dalam kereta, dan beristirahatlah di dalam. Kau ingin ikut pergi ke pusat kota Plashay?" Tanpa disuruh dua kali pun dia memutari kereta kuda tersebut, ikut duduk bersama banyak barang bawaan. "Bapak ingin menjual semua ini di kota, ya?" tanya Mala dibalas anggukan. "Ya, hasilnya lumayan untuk dijual ke kota. Sementara kebanyakan sudah di jual ke pasar desa, hanya saja masih banyak barang yang tersisa, lebih baik dijual di kota," jelas Pak Del sibuk di depan sana melecutkan kudanya untuk terus mengangkut mereka bergerak. "Sudah seminggu sejak terakhir kali kita bertemu. Nona Mala, apakah Anda baik-baik saja sekarang?" Kedua bola matanya membulat sempurna, masih memproses pertanyaan yang mungkin terkesan biasa, tetapi bukan itu. Ini sudah seminggu berlalu dari terakhir kali dia bertemu Pak Del? Padahal hanya sehari saja dia tidak kembali ke dunia mimpi ini. Pembeda antara kedua dunia ini makin terlihat jelas, adanya perbedaan waktu juga yang terjadi. Di tempat ini waktu berjalan lebih cepat. "Uhm, aku baik-baik saja, kok," balas Mala tersenyum paksa mengundang senyuman lain. Namun, lelaki paruh baya itu tidak mudah dibohongi bukan benar-benar baik-baik saja. Gadis itu hanya berusaha untuk baik-baik saja, sejujurnya dia cukup terkejut bertemu kembali di tempat ini. Di perjalanannya menuju kota, tetapi malah menemukan gadis itu yang menerjang hujan tanpa berpikir dua kali. Pak Del sana memakai jaket hujan tebal agar tidak membasahi tubuhnya, ditambah lagi jarak pandang karena hujan itu juga tidak jelas. Sungguh, kebetulan yang aneh. Lelaki itu jadi bertanya-tanya sejauh apa Mala telah berjalan hingga sampai sini? . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD