Menyusuri jalanan tanah merah sambil memandang sekitar. Untuk ukuran pemukiman di sini tergolong seperti perumahan, hanya saja tidak terlalu berdempetan.
Desain setiap rumahnya tidak berbeda jauh, jangankan warna catnya. Yang ada hanya balok-balok kayu tersusun rapi sebagai pondasi bangunan tersebut. Warna alami dari kulit kayu menjadi catnya, tidak berbeda satu sama lain.
Meski begitu, tentu ada perbedaan. Terkadang bunga putih pucat menghiasi pagar rumah, melilit dan menjuntai tonggaknya. Suhu di sini lembab, selain permukaan tanah merah yang kasar hanya beberapa bagian berumput tipis basah.
Apakah di sini juga turun hujan? Mala mengira-ngira, meneruskan langkahnya menjelajahi desa itu. Sampai di depannya seseorang baru saja keluar dari bagian samping rumah, menarik sebuah tali. Ternyata seekor kuda menyembul dari sana, baru Mala perhatikan benar, samping rumah itu tertutupi ruang rapat lainnya yang berbahan kayu.
Tidak terlalu luas, bisa jadi kandang hewan. Kakinya melangkah mendekat, sampai seseorang yang jadi menarik tali tersebut menyadari keberadaannya. "No-na, sedang apa di sini? Sendiri ...." Ucapannya menggantung, lelaki di hadapannya malah asyik menelisik sang lawan bicara.
"Ya, kurasa jalan-jalan."
Mendengar jawaban tersebut, mereka terdiam beberapa saat sampai lelaki tadi benar-benar berhasil mengeluarkan kudanya dari kandang. Menuntutnya berjalan dengan pelan, Mala mengikuti dalam diam. "Pasti Nona bukan orang sini, 'kan? Tidak baik bepergian sendiri," sahutnya menoleh ke belakang, tempat Mala mengekori lelaki itu.
Mungkin umurnya hampir mencapai empat puluh tahu, sekira Mala. Tidak terlalu tinggi, mengenakan kemeja kusut berwarna biru dan celana bahan, sepatu bot sebagai pelengkap. Namun, selain saling menilik penampilan, Mala jadi terpikirkan kembali pada ucapan bapak tadi.
Tidak baik bepergian sendirian, sama seperti yang diucapkan nenek pemilik toko kue. Memangnya dunia mimpi ini berbahaya? Lagi pula bagaimana dia bisa bepergian bersama orang lain? Di tempat yang sama sekali asing baginya.
"Bukankah sekarang tidak sendiri?" balas gadis itu tersenyum, menular pada sang lawan bicara.
Dalam satu sentakan, lelaki berumur itu menaiki kudanya, memegang erat tali tersebut hingga benar-benar seimbang. Baru setelahnya tangan besar itu terulur ke arah Mala, mengajak gadis itu untuk ikut naik.
"Kalau Nona ingin berjalan-jalan, maka tour guide yang paling baik adalah penduduk sekitar, 'kan?" Dibalas oleh anggukan, itu benar.
Dia tidak tahu apa pun tentang desa ini, jika bukan diberi tahu langsung oleh penduduknya maka Mala tidak akan pernah tahu apa pun. Harusnya dia menaruh curiga, sejauh tadi jalan-jalan singkatnya desa ini sepi. Tidak ada orang yang keluar sembarangan, yang Mala lihat ada satu dua orang memasuki toko, lalu bergegas masuk dan mengunci pintu rumah.
Jalanan lenggang dan kuda mereka berjalan lurus ke depan, membuat dia memperhatikan orang-orang di sana lagi. Tidak ada yang benar-benar peduli kehadirannya, semua orang hanya melanjutkan apa yang mereka lakukan tanpa terganggu.
"Apakah kau seorang pengembala atau peternak sebagainya?" tanya Mala akhirnya, tidak bisa lagi menahan rasa penasaran.
Sedari tadi mereka memang berjalan dalam hening, selain suara langkah kaki kuda dan beberapa percakapan orang sekitar yang dia tangkap, tetapi tidak mengerti banyak. "Benar, saya punya peternakan di depan sana, setelah pasar, kebanyakan sapi dan ayam. Kuda hanya beberapa."
Mala mengangguk mendengar penjelasan itu. Tidak heran, sedari tadi mereka menaiki kuda pasar yang dimaksud belum terlihat, pantas saja lebih baik bepergian dengan kuda daripada berjalan kaki jauh. "Apakah desa ini memang memiliki kekhususannya? Tidak banyak orang di sini." Lagi dia mengeluarkan apa yang dipikirkan, takutnya menyinggung Mala sudah beraut panik lebih dulu.
Namun, hal itu malah mengundang senyum ramah dari bapak tersebut. "Kami memang berinteraksi seperlunya, apalagi untuk keluar dari rumah. Kabut ini bukan kabut biasa, tidak baik untuk paru-paru mengirup udara dingin dan lembab secara terus-menerus," jawabnya belum tuntas memberikan kepuasan untuk gadis tersebut.
"Bukankah kabut ini memang ada setahun penuh?"
"Ya, karena itulah kami tidak pernah keluar rumah tanpa keperluan. Kegiatan dilakukan sebelum tengah hari, karena setelah dari sana kabut semakin tebal dan terasa menusuk d**a berlama-lama menghirupnya," tambah bapak tersebut memelankan laju kuda yang mereka naiki.
Rupanya saat pandangan dia mengarah ke depan, jajaran toko, kedai, dan penjual amparan terlihat ramai. Ya, dibilang ramai untuk seukuran desa yang sepi ini. Mungkin ada sekitaran 50 orang yang sedang melakukan transaksi jual beli, kudanya menerobos masuk di antara jejalanan terbatas tersebut.
Berbaur dengan orang-orang yang berbelanja. Tidak terhalang oleh adanya kabut yang menghalangi jarak pandang. Lebih tepatnya bukan sembarang kabut, tidak ada yang memakai baju berwarna cerah, warna kusam dan gelap yang seolah menyatu dengan sekitar. Benar-benar desa yang aneh, mungkin satu kota ini bisa jadi juga sama anehnya, Mala belum sampai sejauh itu menyusuri tempat ini.
Tak jauh dari hiruk pikuk pasar, pohon pinus yang tinggi menjulang mulai mendominasi kanan dan kiri jalan. Di ujungnya terlihat sebuah bangunan kayu lain, seperti membentuk huruf u, begitu sampai ternyata itu kandang sapi.
Mereka turun, telah sampai di tujuan. Karena bingung juga tidak tahu harus melakukan apa, Mala berinisiatif membantu sang bapak tersebut mengurusi ternaknya. Di samping kanan terdapat rumah-rumah kecil kerucut yang menjadi tempat tinggal para ayam, sementara di belakangnya juga pohon buah dan sayur terlihat tumbuh subur.
Sayang, mendengar penjelasan dari bapak itu lagi katanya sekarang belum musim panen, sehingga buah-buahan belum terlihat hasilnya. Yang Mala bantu adalah memanen sawi, mentimun, tobat, dan sayuran lainnya yang musim panennya lebih cepat dan berkali-kali dalam setahun. Gadis itu membawa seember sedang yang berguna untuk memasukkan hasil panen.
Tangannya berbalut sarung tangan, mulai mencabut sawi dari tanahnya, sedikit dibersihkan sebelum dimasukkan ke dalam ember. Mulutnya tertutupi kain perca, berguna agar menyaring udara yang dihirup. Katanya menghindari efek kabut karena terlalu lama di luar. Kegiatan itu berlanjut hingga sore, matahari yang awalnya menyusup di atas kepala, terlihat menoreh jingga di barat sana.
Peluh keringat bercucuran, meski udara selembab apa pun mengerjakan pekerjaan mengurus kebun dan ternak menguras banyak tenaga. Tidak hanya itu Mala juga ikut membersihkan kandang dari kotoran para ternak.
Susunan telur dalam boks kotak kayu, cukup banyak hingga menumpuk. Rupanya ayam-ayam tengah bertelur banyak, Mala bahkan bisa menemukan lebih dari lima butir telur dalam satu rumah kecil ayam tersebut. Itu kegiatan yang menyenangkan, Mala tidak pernah merasa berbaur dengan hewan seperti ini.
Lelahnya terbayar melihat karung berisi sayuran dan berbotol-botol s**u sapi yang tadi dia peras mati-matian. Tangannya sampai pegal, juga boks kayu berisi telur ayam. Semua sudah terkumpul dan dimasukkan rapi dalam gudang, nanti akan diangkut untuk dijual ke pasar.
Satu gelas berisi s**u murni tersaji di hadapannya, masih menggempul panas mungkin habis dimasak. Mala mendongak, mengucapkan terima kasih pada bapak tersebut. Selain mengajaknya berkeliling desa, dia juga bisa berkutak di peternakan langsung.
"Nona, pasti lelah. Asupan protein bagus untuk energi, bagiamana rasanya beternak?" tanya lelaki paruh baya tersebut sambil menyeruput s**u bagiannya.
"Itu menyenangkan. Pertama kalinya aku melihat dan mengurus hewan ternak, juga berkebun langsung! Ini lebih menyenangkan daripada hanya study tour sekolah," celoteh Mala jadi bercerita bagaimana pengalamannya.
Dia mengigit bibir bagian bawah, tidak seharusnya bercerita banyak. Namun, lagi-lagi senyum hangat bapak tersebut seolah menikmati ceritanya membuat Mala ikut senang. "Oh, ya, Nona. Kita bahkan belum berkenalan, maafkan kelancangan saya mempekerjakan Anda bahkan tidak saling mengenal," ujar lelaki paruh baya tersebut meminta maaf.
"Saya Arnodel, warga desa biasa memanggil saya Pak Del," tambahnya lagi memperkenalkan diri bahkan mengulurkan tangan untuk saling berjabat.
Disambut baik oleh Mala, tidak lupa perkenalan dirinya. "Panggil saja aku Mala, bisa dibilang seorang pengembara mungkin?" Perkataannya menggantung, untuk sosok dirinya yang bepergian di tempat antah berantah, julukan itu cocok bukan?
Suasana mencair, dan Mala tidak lagi berbicara terlalu kaku. Mereka bertukar cerita, bagaimana Pak Del mengurus kebunnya seorang diri. Dia bercerita memiliki seorang anak lelaki yang pergi ke kota menjadi seorang kesatria, baru Mala ketahui di dunia ini memiliki sistem pemerintahan berupa kerajaan. Dia seolah terlempar ke abad pertengahan lalu.
Tidak banyak yang Mala ceritakan, dia juga tak mungkin bercerita bagaimana bisa ada di sini. Itu terkesan aneh, masuk lewat buku, alam mimpi, dan sebagainya Mala sendiri belum percaya sepenuhnya. Namun, mimpi kali ini mungkin terasa lebih panjang. Mala bercerita dia masih bersekolah, memiliki hobi melukis, juga bagaimana perasaannya mengurus peternakan untuk pertama kali.
Sesudah itu Mala kembali ikut pada tempat pertama mereka bertemu. Di depan rumah Pak Del, tidak ada hal spesial lain. Saling mengucap salam perpisahan, karena Mala sendiri tidak yakin mengucapkan sampai jumpa lagi, entah kapan mereka bisa bertemu kembali. Kakinya berbalik menyusuri desa lagi, entah harus dibawa ke mana hampir menjelang malam begini.
. . .
Siluet cahaya membias tepat di wajahnya. Merasakan sesuatu yang terang membuat gadis itu berusaha untuk membuka mata, begitu kesadarannya utuh dia tahu telah kembali ke kamarnya. Dengan buku berada di samping kepalanya.
Ternyata benar, apa yang dia asumsikan. Buku ini mengantarkannya pada dunia lain. Dunia mimpi. Walaupun belum yakin sepenuhnya, setidaknya Mala tahu sehabis membaca buku itu dia akan berkelana ke tempat-tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.
Ditaruhnya buku tersebut di atas nakas, saat meninggalkan dunia mimpi kala itu masih malam hari. Namun, begitu terbangun pagi sudah menyambut, Mala harus bersiap karena sekarang dia akan kembali bergabung dengan keluarganya, di meja makan.
Meski sebenarnya hal yang sangat tidak ingin dia lakukan: sarapan bersama. Ingin saja Mala kembali tertidur, entah ke mana buku itu membawanya di dunia mimpi, lebih baik begitu. Namun, daripada menambah masalah karena bangun terlambat, lebih baik dia bersiap untuk menjalani harinya di dunia nyata.
. . .