Kota Kabut Penghujan

1537 Words
Pandangannya mengabur, sementara indra lain merasakan suhu lembap menyentuh permukaan kulit. Baru setelah mengerjap-ngerjap beberapa kali Mala bisa melihat benar apa yang ada di hadapannya. Gelap malam menyapa, tidak bisa dia lihat jelas bagaimana kondisi langit selain samar-samar melihat bayangan bulan di atas sana. Kakinya mulai melangkah, melihat sekeliling yang sangat asing. Pepohonan menjulang tinggi, lebih dari ukuran normal, sementara kabut asap mengelilingi sekitar. Mengudara tipis, memberikan suasana dingin. Tak ada yang terlihat di tempat itu selain pohon-pohon pinus dan dirinya. “Halo, ada orang?” tanyanya sedikit meninggikan suara. Mencoba mengulangi pertanyaan yang sama beberapa kali. Nihil, sampai tenggorokannya terasa sakit pun tidak ada satu pun yang menyahut. Malah suaranya yang menggema sebagai jawaban yang Mala terima. Gadis itu bingung, hanya melangkahkan kaki ke arah depan, menyusuri hutan yang gelap. Baru setelah mengumpulkan kesadaran. Mala sadar bahwa ada yang aneh, pakaian yang dia pakai berubah. Tubuhnya dibalut piyama putih bersih dan kedua kaki jenjang itu telanjang menginjak tanah merah di bawahnya. Padahal terakhir Mala ingat dia masih memakai seragam sekolah dengan sepatu lengkap. Ah, ini di mimpikah? Namun, terasa begitu nyata. Tiba-tiba ribuan air dari langit berjatuhan, menimpa tanah. Sedikit senyum tersungging di bibirnya, dia menengadahkan tangan ke atas dengan kepala mendongak. Menanti tetesan air itu menghujaninya, tetapi Mala menyukai hal tersebut. Ketika tetesan air hujan membasahi tubuhnya, merasakan ketenangan mendengar suara detingan yang berjatuhan itu. Walaupun menunggu sedari tadi dengan mata yang terpejam, ada sesuatu yang lebih aneh lagi. Hujan itu sama sekali tidak mengenainya, tidak pula membasahi tubuhnya. Padahal di bawah kakinya tanah sudah basah karena deras hujan. Perlahan Mala membuka matanya, menemukan air hujan yang mengambang di sekitarnya. Sama sekali tak bergerak menyentuhnya, seolah berhenti ketika akan mengenai gadis itu. Lagi, malah terheran, tetapi tidak ingin ambil pusing. Ini hanya mimpi. Wajar hal aneh seperti ini terjadi. Dia sedikit menyayangkan karena tidak bisa merasakan air hujan yang membasahi tubuh. Seolah putus asa gadis itu terus melangkah di antara kegelapan, dengan kabut yang semakin menebal. Tangan itu mencoba menggapai-gapai ke depan sana. Mencari apa pun yang bisa disentuh, dijadikan pegangan. Kebingungan semakin membuatnya cemas, begitu saat pandangannya tak lagi bisa melihat sekitar selain putihnya kabut yang membutakan pemandangan. “Tolong, adakah seseorang di sini?” Gadis itu sedikit terisak. Terus bergerak ke depan sana, di mana kabut semakin menelannya. Tak ada yang terlihat selain putih. Tidak ada yang tahu apa yang ada di depan sana. Semakin Mala mencoba meraba-raba dan merasakan, dia hanya semakin merasa mati rasa. Sampai entah sejak kapan kantuk mulai menelan semua kekhawatirannya. Matanya dipaksa menutup hingga kesadarannya pun ikut terenggut. . . . Pening menyerang. Gadis itu mencoba mengumpulkan kesadaran, menatap sekitarnya yang kembali normal. Begitu penjaga perpustakaan menatap Mala heran, menemukan gadis tersebut di perpustakaan yang baru saja dia buka. Mala seakan sadar, buru-buru dia mengambil tasnya dan pamit dari sana. Jadi, semalam dia tertidur di perpustakaan? Seolah membenarkan cahaya matahari menyoroti begitu keluar ruangan. Meski tidak pulang, toh, tidak ada satu pun yang akan mencarinya. Mereka mungkin tidak tahu kalau Mala pulang atau tidak. Lebih tepatnya tidak peduli. Untung saja semua buku pelajarannya ada di loker, gadis itu beranjak mengganti pelajaran dan segera pergi ke toilet. Kejadian aneh terus saja berdatangan, seolah menghantuinya. Apa ini? Dia ketiduran semalam, tetapi kenapa lingkaran hitam di bawah matanya? Seolah mengatakan dia kurang tidur. Mencoba tak ambil pusing, Mala membilas wajahnya dengan air. Masih menatap kosong ke cermin di depan, mencoba meyakinkan diri kalau dia hanya bermimpi aneh semalam. Namun, terasa begitu nyata sampai teringat jelas di ingatan. Baru saja dia akan beranjak menuju kelas, pandangannya jatuh pada sepatu yang dia kenakan. Kotor, bercak merah dari tanah mengotori sepatunya. Hah, yang benar saja?! Mala, ‘kan, hanya tertidur di perpustakaan bukan berlarian di hutan. Tunggu, otaknya seakan tak terima, tetapi terus dijejali berbagai macam spekulasi. Apakah semalam benar-benar mimpi atau kenyataan? Pusing kembali menjalar, Mala terduduk lesu di bangkunya. Untung tidak ada satu pun siswa yang peduli, jadi dia bisa tenang tanpa merasa terganggu. . . . Kejadian tersebut terus menghantuinya. Mala penasaran, tetapi juga enggan. Dia selalu menyangkal pikiran konyolnya tentang sebuah mimpi kenyataan. Itu pasti khayalannya saja, tidak ada yang seperti itu di dunia nyata. Berhari-hari Mala mencoba menjalani harinya dengan normal. Tidak pernah sekalipun membaca lagi buku tersebut. Buku yang membuatnya tertidur dan bermimpi aneh. Dalam sebuah kamar berukuran 3x3 m, tidak ada yang spesial sebenarnya. Berbeda jauh dari kamar kakak-kakaknya yang luasnya bisa berkali-kali lipat. Ruangan itu hanya diisi single bed dengan nakas di sebelahnya, berseberangan dari sana terdapat lemari dan meja belajar. Isi kamar biasanya, hanya dinding berwarnakan putih polos tanpa apa pun lagi. Tidak ada yang menarik, kecuali ketertarikan gadis itu pada melukis. Satu-satunya hal yang menunjukkan kesenangan Mala dari kamarnya terdapat sebuah easel, kuas, dan berbagai warna cat air. Lukisan karyanya tidak tergantung di dinding kamar, menumpuk di pojok ruangan. Mala beranjak berniat merapikan buku-buku pelajarannya, mengeluarkan semua isi tas. Sampai salah satu buku yang tak seharusnya ada di sana terselip. Buku yang terakhir kali dia baca selain pelajaran, benda yang membuatnya kepikiran akhir-akhir ini. “Aku lupa menuliskannya di daftar pinjam perpustakaan,” keluh sang gadis akhirnya membawa buku tersebut kembali dalam pangkuan. Meski tidak ingin mengakui tentang mimpi malam itu. Mala penasaran berniat melanjutkan bacaannya. “Kita buktikan itu nyata atau hanya angan belaka.” Sama seperti sebelumnya, buku tersebut tidak berisi full tulisan di kertasnya. Hanya sebaris kalimat, paling panjang satu paragraf setiap halamannya. “Gadis Perindu mulai menjelajahi kota Plashay penuh kabut dan hujan sepanjang tahun." Berbaring di atas kasur dengan kepalanya yang terjatuh di atas buku. Kesadarannya kian menghilang bersamaan dengan tulisan lain yang muncul di balik halaman yang terbuka itu. “Selamat berpetualang!” . . . Meski merasakan suasana yang tidak jauh seperti terakhir kali dia bermimpi. Tempat ini berbeda, bukan hutan yang dipenuhi pohon-pohon pinus dan kabut yang tebal hingga menghalangi pandangan. Hanya jalanan sepi beserta kabut tipisnya, sesekali terlihat di kanan-kirinya pohon tak berdaun, yang termakan usia meninggalkan rerantingannya saja. Berjalan ke depan, karena tidak tahu ke mana lagi kakinya ini harus melangkah. Seperti sebelumnya, dia selalu sendirian. Sebelum pemikiran itu dipatahkan oleh pemandangan rumah-rumah di depan sana dengan lampu cahaya kecil sebagai penerangan di setiap rumah. Lagi, semua itu terhalangi oleh kabut. Mist Bakery. Begitulah yang tertulis di papan kecil yang mengantung pada pintu bangunan rumah kayu bercak hitam. Tidak ada seorang pun yang berkeliaran di luar rumah, pemukiman yang dia singgahi itu seperti kuburan saking sunyinya. “Ada apa yang membuat gadis muda sepertimu kemari?” Sebuah suara bertanya, Mala yang baru saja membuka pintu, mengedarkan pandangannya menelisik tempat tersebut dibuat terkejut. Seseorang di balik meja lebar menatapnya sambil tersenyum. Orang yang bertanya padanya itu seorang nenek-nenek. Etalase toko berisi berbagai macam kue dan roti. “Hm, ini di mana, ya?” Mala bertanya balik. Sedikit menatap heran gadis di hadapannya, sang nenek akhirnya mengangguk mengerti setelah beberapa saat. Memilih masuk ke dalam sebuah pintu di belakang meja dekat etalase tersebut. Dia kira nenek itu tidak ingin berbicara dengan Mala. Apa dia terlihat aneh? Atau pertanyaannya itu terlarang? Namun, Mala tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya setelah berhari-hari digantung. Dugaannya salah sang nenek kembali dengan nampan berisi kue, teko, dan dua cangkir teh hangat. Harum melati mendominasi, nenek itu menyuruhnya untuk duduk di salah satu kursi. Mereka menyesapi teh dalam diam. “Kota Plashay. Kota berkabut dan penghujang sepanjang tahun.” Jawaban dari orang di hadapannya bukan membuat Mala mengerti, malah tidak paham sama sekali. "Apakah di sekitar sini ada hutan lebat?" Dia kembali mengajukan pertanyaan. Dibalut penasaran, Mala yakin suasana yang dia rasakan di desa ini dengan pertama kali menginjak hutan tidak jauh berbeda. "Hutan Kabut, tidak ada yang memasukinya. Banyak yang berkata sekalinya masuk ke sana tidak pernah kembali, karena yang kau lihat mungkin hanya dipenuhi kabut." Itu benar, jawaban dari nenek pemilik toko tersebut membuatnya tercenung beberapa saat. Tidak bisa kembali? Namun, kini dia berdiri di sini. Di desa ini, mungkin jika spekulasinya benar, karena terbangun membuatnya bisa keluar dari hutan itu. Sedikit rasa syukur Mala panjatkan, meskipun masih belum mempercayai benar apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin dia memang harus melihat-lihat sekitar, mengelilingi desa ini adalah jawabannya. Bagaimana dia bisa nyasar sampai sini? “Kurasa ini ada di dunia mimpi,” gumam Mala masih terdengar oleh sang lawan bicara. Detik berikutnya sang nenek tertawa kecil sambil berujar, “Bagimu mungkin ini mimpi. Namun, tak semuanya begitu.” Mala termenung. Masih mencerna masuk ucapan wanita tua yang melanjutkan meminum tehnya. Kalau memang ini mimpi, mana mungkin bisa jadi kenyataan, ‘kan? Sama saja untuk semua, seharusnya begitu. Masih banyak hak yang dia tidak tahu dan tak mengerti. Matanya menatap keluar jendela toko. Hujan mulai turun mungkin memang bisa menghapus kabut sementara yang membuat tempat itu semakin hidup. “Tidak baik untuk orang luar bepergian sendiri,” pesan nenek tersebut merapikan piring dan cangkir. Selalu memberi senyuman hangat, yang di mana hatinya juga merasakan hal yang sama. Perkataan itu seolah menahannya untuk mendekap lebih lama di toko kue tersebut. Sebuah mug terletak di hadapannya, membuat Mala menoleh pada sang pelaku. Nenek tadi kembali membawa segelas cokelat panas. "Udara akan semakin dingin dan cokelat bagus untuk menghangatkan badan." Setelah itu Mala menikmati sisa waktunya menunggu hujan reda dengan menyesap cokelat panasnya. . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD