Panthana bertekad, hari ini dia akan menyelesaikan semua masalah dalam hidupnya. Masalah yang didapatkannya karena kebodohannya yang percaya pada saran dari hantu. Dia bodoh, dia akui itu. Itulah sebabnya, dia harus menyelesaikan semuanya hari ini.
Pertama yang dia lakukan adalah mendatangi ekskul volly sepulang sekolahnya. Dia berjalan tegap menuju Aula tertutup, dia yakin semua anggota ekskul volly pasti sedang berkumpul disana sekarang.
Dia sudah sampai di depan pintu Aula, hendak masuk ke dalam namun sempat diurungkannya ketika dia melihat Inggrid dan Roni sedang berlatih bersama. Biasanya dialah yang berada di posisi Roni, dan posisi itu sekarang telah digantikan pria lain. Bohong jika mengatakan dia baik-baik saja, tentu Panthana sedih dan sakit hati melihatnya. Tapi dia tahu semua ini terjadi karena kesalahannya. Hubungannya dengan Inggrid yang awalnya sempat akrab kini jadi buruk, bahkan gadis itu sangat membencinya sekarang. Sepenuhnya hal itu memang karena kesalahannya.
“Kak Thana, kok gak masuk?” Panthana menoleh ke arah seseorang yang menyapanya. Alea, adik kelasnya itulah yang ternyata sedang berdiri di belakangnya.
“Hm, nggak apa-apa, ini baru mau masuk kok,” sahutnya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia heran setiap kali dia mengintip ke dalam dari luar Aula, selalu Alea yang memergokinya. Lama kelamaan dia malu juga karena dirinya selalu melakukan tindakan memalukan di depan adik kelasnya itu.
“Ayo Kak, kita masuk sama-sama.” Panthana mengangguk menyetujui, lalu mereka berdua masuk ke dalam Aula.
Alea bergabung dengan rekan-rekannya sedangkan Panthana berjalan menuju ke tempat Roni dan Inggrid. Dia berusaha mengabaikan pemandangan menyakitkan mata dan hatinya karena kedekatan sepasang muda-mudi tersebut.
“Roni, bisa kita bicara sebentar?!” Ujar Panthana dengan sengaja meninggikan volume suaranya. Mereka pun menghentikan permainan volly mereka. Roni memicingkan matanya menatap ke arah Panthana, sedangkan Inggrid langsung membuang muka ketika tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Panthana. Entah disadarinya atau tidak, sikapnya itu semakin membuat Panthana terluka. Namun, dia tidak terkejut melihat Inggrid bersikap seperti itu padanya, dia tahu Inggrid sangat membencinya sekarang.
“Sebentar ya, aku bicara dulu sama Thana,” pamit Roni, yang langsung diangguki Inggrid. Roni mengajak Panthana berjalan menjauhi tempat Inggrid berada, sepertinya mereka akan terlibat pembicaraan yang cukup serius sekarang.
“Lo mau ngomong apa sama gue?” Tanya Roni, tanpa basa-basi seolah enggan berlama-lama menghabiskan waktunya dengan Panthana.
“Gue cuma mau bilang, gue mau keluar dari ekskul volly. Sebenarnya bisa aja gue keluar tanpa perlu ngomong, tapi gue gak mau jadi orang gak tahu diri kayak gitu. Lo kan ketuanya, jadi gue ngerasa seenggaknya gue harus ngomong sama lo.” Roni menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis mendengar jawaban Panthana.
“Gue seneng lo masih inget sama taruhan kita. Gue akui lo cukup jantan mau nepatin janji lo. Jadi karena sekarang gue udah resmi pacaran sama Inggrid, gue harap lo jangan pernah coba-coba deketin dia lagi.”
“Soal itu lo gak usah khawatir, gue pasti tepatin janji gue. Lagian Inggrid juga kayaknya benci banget sama gue.” Panthana menundukan kepalanya, terlihat sendu. Ekspresinya itu tak lepas dari pandangan Roni, membuatnya menyeringai karena merasa berhasil mengalahkan Panthana dalam perebutannya mendapatkan Inggrid. Dia bangga sekaligus bahagia karena dirinya lah yang keluar sebagai pemenang. Inggrid sekarang resmi menjadi kekasihnya.
“Itu salah lo sendiri. Lagian gue heran, bisa-bisanya lo ngasih kado laba-laba ke Inggrid. Lucu tahu gak? Gue pengen ketawa kalau inget kejadian kemarin.” Roni berusaha menahan tawanya, tak peduli meskipun raut wajah Panthana sangat tidak pantas untuk ditertawakan. Dia sedang sedih dan Roni terlihat bahagia di atas kesedihan Panthana.
“Gue harap lo bisa bahagiain dan jagain Inggrid.”
“Itu udah pasti, gue bakal tunjukin ke lo, Inggrid pasti bahagia sama gue.” Panthana mendongakan kepalanya, menatap ke arah Inggrid sekilas sebelum akhirnya memutuskan melenggang pergi dari sana.
Roni tersenyum puas seraya kedua matanya menatap intens ke arah punggung Panthana yang semakin menjauh. Akhirnya hubungannya dengan Inggrid tidak akan mendapatkan gangguan dari orang lain lagi. Saingan terbesarnya sudah mengakui kekalahannya dan mundur secara teratur.
Setelah pergi menemui Roni, Panthana menganggap urusannya dengan ekskul volly sudah selesai. Kini tinggal masalahnya dengan keempat sahabatnya yang harus segera diselesaikannya. Dia tidak tahan berlama-lama dijauhi oleh keempat sahabat baiknya. Sesegera mungkin dia ingin persahabatan mereka membaik seperti dulu.
Panthana merubah haluannya menuju ke arah lapangan basket dimana di sanalah biasanya anggota ekskul basket berkumpul dan melakukan latihan. Panthana mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian olahraga sebelum dia bergabung dengan teman-temannya yang sedang melakukan latihan basket.
Tanpa malu ataupun permisi, Panthana bergabung dengan mereka. Dia sama sekali tidak mengharapkan sambutan hangat dari rekan-rekannya, yang diinginkannya hanya satu, kehadirannya diakui dan tidak diabaikan. Sayangnya harapan tinggal harapan karena rekan-rekannya langsung menghentikan latihan setelah menyadari keberadaan Panthana di tengah-tengah mereka.
Panthana mengembuskan napas kasar, dia benci situasi seperti ini. Dia benci diabaikan dan tidak diakui keberadaannya oleh teman-temannya. Terlebih dia benci ketika melihat keempat sahabatnya tengah menatap tak suka padanya. Kesabaran Panthana sudah habis, dia tidak tahan terus dijauhi seperti ini. Dia pun melangkah tegas menuju ke arah keempat sahabatnya sedang berdiri saat ini.
“Ngapain lagi lo ke sini?” Reno, orang yang paling tidak menerima kehadiran Panthana disana, memulai pembicaraan. Seperti biasa, dia berbicara dengan nada ketus dan dingin seolah lupa bahwa mereka dulu sahabat dekat.
“Mau latihan basket, emang lo pikir mau apa lagi gue ke sini?” Sahut Panthana, tak kalah ketusnya.
“Harusnya kan lo lagi kumpul sama anak-anak volly? Ngapain lo ke sini? Lo udah gak diakui sebagai anggota ekskul ini.” Reno tak mau kalah, dia terus menyulut emosi Panthana. Danu mencoba melerai mereka, dia khawatir adu mulut itu akan berujung dengan adu fisik.
“No, tenang No. Lo gak boleh kayak gini.” Nasihat Danu seraya menepuk-nepuk bahu Reno untuk menenangkannya. Namun tangannya ditepis kasar oleh Reno.
“Gue gak suka liat lo disini. Kalau lo gak mau pergi, ya udah gue aja yang pergi.” Bukan sekadar ancaman yang dilontarkan Reno, dia benar-benar berniat pergi dari tengah lapangan.
Dia berjalan penuh keyakinan meninggalkan lapangan, namun langkahnya terhenti ketika dia merasakan sebuah bola dilemparkan seseorang dan tepat mengenai punggungnya. Reno membalik tubuhnya, dia menggeram kesal ketika melihat Panthana lah yang sengaja melemparkan bola ke arahnya.
“Apa masalah lo? Lo sengaja ya, mau ngajak berantem? Lo pikir gue takut sama lo?!” Bentak Reno, tampak murka karena ulah Panthana barusan.
“Gue pengin tantang lo maen basket. Kita lihat siapa yang paling jago maen basket, lo atau gue?” Tantang Panthana serta merta membuat semua orang yang ada disana terenyak kaget. Tak terkecuali Reno yang ditantang langsung oleh Panthana.
“Haah? Apa untungnya bagi gue adu basket sama lo?” Cibir Reno tampak tak tertarik mendengar tantangan dari Panthana.
“Pasti ada dong untungnya. Kalau lo yang menang, gue bakalan turutin apa yang lo mau termasuk keluar dari ekskul basket ini. Tapi kalau gue yang menang, gue pengen lo terima gue lagi di ekskul ini. Gue pengen hubungan kita kayak dulu lagi. Gimana? Lo mau terima tantangan gue?” Reno terdiam, dia menundukan kepalanya tampak sedang menimbang-nimbang keputusan terbaik yang harus diambilnya.
“Jangan bilang lo takut ngelawan gue No? Gue yakin lo bukan pengecut kan?” Dan kata-kata Panthana ini telah mengenyahkan segala keraguan di benak Reno. Dia mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih. Dia tak terima jika Panthana mengejeknya pengecut, memangnya siapa yang takut bertanding dengan Panthana, toh dia sudah hafal betul cara permainan seorang Panthana. Dia pasti bisa mengalahkannya, Reno meyakini hal tersebut.
“OK, gue terima tantangan lo!” Sahutnya tegas tanpa keraguan. Panthana menyeringai, semuanya berjalan sesuai rencananya. Reno memang sosok yang mudah tersulut emosinya dan Panthana tahu persis cara untuk memancing emosinya.
“Yang masukin bola pertama kali berarti dia yang menang.” Panthana menjelaskan peraturan dalam pertandingan mereka.
“Siip, gue setuju,” timpal Reno, tak keberatan. Lalu Panthana mengedarkan pandangannya ke arah rekan-rekannya yang lain, mereka menunjukan raut khawatir terutama Danu, Malik dan Anjar.
“Lik, lo yang jadi wasitnya ya. Terus kalian semua yang jadi saksi pertandingan ini,” ujar Panthana, yang diangguki Malik. Semua orang tak mengatakan apa pun, namun suasana tegang sungguh terasa di tengah-tengah lapangan tersebut.
Panthana dan Reno sudah berdiri di tengah lapangan, sedangkan anggota yang lain sudah berderet rapi di pinggir lapangan, antusias menyaksikan pertandingan dua sosok yang merupakan tokoh penting di tim basket sekolah mereka. Panthana merupakan kapten tim sedangkan Reno merupakan wakilnya. Kemampuan mereka dalam bermain basket tak perlu diragukan lagi. Mungkin karena alasan itulah semua orang tampak antusias ingin mengetahui siapa yang lebih kuat di antara mereka berdua.
Malik yang bertugas sebagai wasit berdiri di dekat kedua pemuda yang akan melakukan pertandingan. Dia melempar bola ke atas, yang seketika diperebutkan oleh Panthana dan Reno. Mereka melompat setinggi mungkin untuk mengambil bola yang melayang di udara. Panthana yang tubuhnya memang lebih tinggi dari Reno berhasil mendapatkan bola pertama kali.
Panthana berlari seraya mendrible bola ke arah tiang keranjang, dia harus memasukan bola secepat mungkin ke dalam keranjang sebelum Reno berusaha merebut bola darinya. Akan tetapi tentu Reno tak tinggal diam. Dia melakukan berbagai cara dengan teknik tipu daya untuk merebut bola dari Panthana. Dia membayangi Panthana, menghadang laju larinya sehingga membuat Panthana cukup kesulitan mempertahankan bolanya.
Awalnya Panthana berniat melakukan gerakan tipuan untuk mengecoh Reno. Dia berpura-pura maju ke samping dan ketika kaki Reno ikut melangkah ke samping, secepat kilat Panthana merubah posisinya menjadi membelakangi Reno. Dia memutar tubuhnya ke arah berlawanan dengan arah yang diambil Reno, lalu berniat kembali mendrible bola. Dia melakukan kecerobohan karena Reno sepertinya memang sudah hafal betul cara permainan Panthana. Gerakan tipuan itu mampu dibaca dengan akurat oleh Reno, dengan sekali tepisan, bola yang membentur lantai itu berhasil direbut oleh Reno. Kini gantian dia yang berlari seraya mendrible bola.
Sorakan dan teriakan dari penonton terdengar semakin memeriahkan suasana, hingga beberapa siswa yang tadinya hendak pulang merasa penasaran dan ikut bergabung menyaksikan pertandingan. Entah sejak kapan, kini pinggir lapangan penuh dengan para siswa yang saling bersorak menyuarakan dukungan mereka pada kedua pria yang masih bertarung dengan sengit memperebutkan bola.
Mereka berdua kini sudah berada di bawah keranjang. Reno melemparkan bolanya ke keranjang, namun sayang beribu sayang, bola itu meleset dan justru membentur pinggiran keranjang. Panthana tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia melompat tinggi menangkap bola.
Kini gantian Panthana yang berniat melemparkan bola ke dalam keranjang. Dia sudah mengambil ancang-ancang setelah yakin bidikannya tepat sasaran. Dia akhirnya melempar bola itu, membuat bola melambung tinggi di udara. Akan tetapi kegigihan Reno patut diacungi jempol, dia tak menyerah semudah itu. Dia melompat setinggi yang dia bisa, dengan jari tangannya dia tepis bola itu sehingga laju bola pun menjadi meleset dari target awalnya. Bola kembali membentur pinggir keranjang. Penonton semakin berteriak histeris menyaksikannya.
Baik Panthana maupun Reno sudah banjir dengan peluh mereka masing-masing. Napas mereka terengah pertanda mereka sudah mulai kelelahan. Tenaga mereka cukup terkuras karena mereka sama-sama tak mau kalah.
Bola ada di tangan Reno sekarang, dia sedang memantul-mantulkan bola dengan lantai seraya mengatur napasnya. Dia kembali melakukan gerakan ketika dilihatnya Panthana sudah mulai kembali menyerang. Dia ingin merebut bola dan kali ini bagaimana pun caranya Panthana bertekad untuk memasukan bolanya ke keranjang. Dia harus memenangkan pertandingan ini jika persahabatannya ingin kembali membaik seperti dulu.
Dia membayang-bayangi Reno di depan sehingga Reno kesulitan untuk melangkah maju. Reno memantulkan bolanya tepat ke samping kanan Panthana, membuat bola itu melayang ke belakang tubuh Panthana, Reno berlari cepat hendak menangkap bola. Namun dia kalah cepat dengan Panthana yang sudah bisa menebak rencana Reno. Dengan jari-jari besarnya, Panthana berhasil menangkap bola. Dia berlari secepat mungkin, mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya seraya mendrible bola ke arah keranjang, sontak membuat semua penonton kembali bersorak histeris meneriakan namanya.
“Maju Thana, maju!!!”
Mendapat dukungan dari banyak orang, tentu saja membuat semangat Panthana semakin berkobar. Dia melompat tinggi di udara ketika sudah berada tepat di bawah keranjang. Lompatannya terlalu tinggi hingga Reno tak mampu melakukan apa pun untuk menghentikannya.
Dengan sekali gebrakan, Panthana memasukan bolanya ke dalam keranjang. Tubuhnya bergelantungan di atas tiang dengan kedua tangannya yang berpegangan pada keranjang. Berhasil... dia berhasil memasukan bola ke dalam keranjang dengan menggunakan teknik slam dunk.
“Hebat Thana!!”
“Nice Slam Dunk!!”
Teriakan dan tepuk tangan dari penonton serta merta membuat Panthana tersenyum lebar. Wajahnya berbinar, dia berhasil memenangkan pertandingan itu.
Panthana kelelahan, tentu saja karena pertandingan barusan telah menguras seluruh tenaganya. Dia merebahkan tubuhnya di atas lapangan, tak peduli meski punggungnya yang berkeringat menjadi kotor. Di luar dugaan, Reno pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Panthana.
“Lo paling jago soal slam dunk, dari dulu gue gak pernah bisa menang kalau lo udah pake teknik slam dunk. Gue ngaku kalah.” Reno mengakui kekalahannya, sedangkan Panthana hanya tersenyum mendengarnya.
“ Lo juga tambah jago, No. Gue nyaris aja kalah barusan,” sahutnya seraya dia ulurkan tangan kanannya ke arah Reno.
“Lo bener, No. Gue udah ngelakuin kesalahan kemarin. Gue udah egois, ngelakuin hal seenak jidat gue tanpa mikirin perasaan kalian. Gue minta maaf ya sama lo.” Reno tak mengatakan apa pun, tatapannya tertuju pada tangan Panthana yang masih terulur padanya.
“ Gue tahu lo marah banget sama gue, tapi please... maafin gue. Gue janji gak bakalan ngulang kesalahan ini lagi. Lo sahabat baik gue, gue gak mau kehilangan lo. Gue pengen baikan sama lo,” tambah Panthana yang sepertinya membuat Reno tersentuh. Dia pun menerima uluran tangan Panthana.
“Gue juga minta maaf sama lo, Than. Gak seharusnya gue ngomong kasar ke lo.” Panthana menggelengkan kepalanya masih dengan napasnya yang terengah.
“Nggak, lo sama sekali gak salah. Gue malah makasih sama lo, berkat lo, gue sadar kalian semua emang paling penting di hidup gue. Lagian gak ada yang lebih nyenengin dibandingkan basket. Gue cinta banget sama olahraga basket. Cuma olahraga basket, gak ada olahraga yang laen.” Reno mendengus mendengarnya. Dia bangun dari berbaringnya masih dengan tangannya yang berpegangan dengan Panthana. Dia juga membantu Panthana untuk bangun.
Kemudian Panthana berjalan menghampiri Danu, Malik dan Anjar. Dia merasa inilah saat yang tepat untuk meminta maaf juga pada ketiga sahabatnya itu.
“Nu, Jar, Lik ... gue juga pengen minta maaf sama kalian. Please ... maafin gue. Gue pengin persahabatan kita kayak dulu lagi.” Mereka bertiga saling berpandangan sejenak, mungkin terkejut mendengar permintaan maaf Panthana.
“Sebenarnya kita gak keberatan lo masuk ekskul volly, Than. Yang bikin kita kesel tu, lo gak ngomong-ngomong ke kita. Udah gitu lo bolos sesuka hati lo tanpa pemberitahuan ke kita. Kita jadi ngerasa gak dianggap lagi sama lo.” Anjar menyahut, mengutarakan apa yang mereka rasakan ketika Panthana dengan egoisnya bolos latihan tanpa pemberitahuan apa-apa, padahal dia ketua ekskul basket. Terlebih alasan dia bolos karena masuk ke ekskul lain, sesuatu yang wajar membuat mereka tersinggung.
“Iya, Than. Harusnya lo ngomong aja ke kita. Toh kita juga gak bakalan larang lo kok. Cuma yang kita harepin lo bisa ngatur waktu aja supaya ekskul basket gak lo telantarin, lo kan ketuanya, Than.” Malik ikut menimpali.
“Iya, gue salah, maafin gue. Tapi kalian gak usah khawatir, gue udah keluar kok dari ekskul volly. Gue bakalan fokus lagi di ekskul basket,” sahut Panthana seraya menunjukan cengirannya.
“Gak perlu ampe keluar juga, Than. Nggak masalah kalau lo pengin ikut dua ekskul sekaligus. Yang penting lo bisa aja bagi waktunya.” Danu menasihati.
“Nggak kok, serius gue udah keluar dari ekskul volly. Kita berlima udah sama-sama di ekskul basket. Kita udah berjuang supaya tim basket sekolah kita menang, gue gak bakalan lupain perjuangan kita itu. ke depannya, kita bakalan terus sama-sama berjuang di basket.” Danu, Malik dan Anjar mengangguk bersamaan. Mereka setuju dengan ajakan Panthana.
“OK, masalah selesai. Kita sahabatan lagi kayak dulu ya.” Reno berujar seraya merangkul keempat sahabatnya. Mereka pun tertawa bersama. Panthana senang sekaligus lega, dia berhasil memperbaiki persahabatannya. Persahabatan yang diakuinya lebih penting dari apa pun.
Tanpa sepengetahuan Panthana, seseorang tengah memperhatikan mereka dengan kemarahan yang mendominasi raut wajahnya. Tatapan matanya melotot ke arah Panthana dan keempat sahabatnya. Aura berbahaya dan kebencian menguar dari tubuhnya yang sedang melayang di udara.
“Ini gara-gara kalian. Aku pasti ngasih kalian hukuman. Gara-gara kalian Thana jadi ngusir aku,” ucapnya, penuh amarah.