Di dalam kelasnya, sesekali Panthana melirik ke arah bangku Inggrid. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis ketika dilihatnya sang gadis tengah fokus menyalin tulisan di papan tulis. Memang saat ini ada seorang guru yang sedang mengajar di kelas mereka. Namun Panthana sulit mendapatkan fokus karena pikirannya terus menerawang memikirkan reaksi Inggrid ketika dia menyerahkan kado untuknya nanti sepulang sekolah.
Hari ini merupakan hari ulang tahun Inggrid. Panthana sudah memasukan tarantula yang ditangkapnya kemarin malam di dalam sebuah kotak, dia pun sudah membungkusnya dengan kado. Sepulang sekolah nanti, rencananya dia akan menyerahkan kado itu pada Inggrid.
Bel tanda istirahat siang mengalun merdu di telinga para siswa, mengundang senyuman senang di bibir para siswa karena sebentar lagi mereka bisa mengisyaratkan sejenak otak mereka dari pelajaran. Tak lupa mereka pun memutuskan untuk mengisi asupan makanan di perut mereka agar bisa kembali bersemangat ketika harus kembali memulai pelajaran.
“Nu, kita ke kantin bareng yuk!” Ajak Panthana pada teman sebangkunya, Danu. Namun bukannya menyahut, pemuda itu justru meninggalkannya begitu saja tanpa kata. Memang semenjak perseteruan mereka beberapa hari yang lalu, hubungan Panthana dengan teman-temannya menjadi renggang. Bahkan dengan teman sebangkunya pun demikian. Panthana selalu berusaha mengajak Danu bicara, tapi Danu seolah sengaja mengabaikannya. Untuk kesekian kalinya Panthana mendesah lelah menghadapi sikap sahabat-sahabatnya yang menurut dirinya terlalu kekanakan. Hanya masalah sepele membuat kemarahan mereka berkepanjangan. Dan hari ini Panthana bertekad untuk memperbaiki hubungan persahabatan mereka.
Dia pergi menuju kantin, sengaja menolak ajakan Dian untuk makan siang bersama. Selama beberapa hari ini dia memang selalu makan siang bersama Dian, tentu bersama Inggrid juga. Tentu saja Panthana sangat senang bisa makan siang bersama Inggrid, namun untuk saat ini dia bertekad untuk makan siang bersama keempat sahabatnya lagi. Sesuatu yang dulu rutin dilakukannya setiap hari.
“Hai, Guys,” sapanya. Setibanya Panthana di dekat keempat sahabatnya. Seperti biasa mereka duduk di kursi yang memang sudah menjadi tempat mereka makan siang selama ini. Bahkan tak ada satupun siswa yang berani menempati meja mereka seolah tempat itu memang sudah menjadi tempat khusus tim basket makan siang di kantin.
Tanpa permisi Panthana mendudukan dirinya di kursi yang masih kosong. Kursi yang biasa memang diduduki olehnya. Keempat sahabatnya tak ada yang mengeluarkan suara mereka, tatapan mereka dingin tertuju pada Panthana.
“Kalian udah mesen makanan, kan?” Tanya Panthana, berusaha bersikap ramah pada keempat sahabatnya. Namun, tampaknya dia benar-benar diabaikan karena tak ada satu pun dari keempat pemuda itu yang menyahutinya.
“Guys, gue balik ke kelas ya, gue jadi gak selera makan nih.” Reno melenggang pergi setelah mengatakan itu. Tak berselang lama, Malik dan Anjar ikut menyusul kepergian Reno. Kini hanya menyisakan Danu dan Panthana saja.
“Kalian kenapa sih? Masih marah ya sama gue? Gue ngaku salah deh. Please, maafin gue,” pinta Panthana sendu pada Danu. Dia benar-benar tidak nyaman diperlakukan seperti ini oleh teman-temannya, mengingat begitu dekatnya mereka dulu sebelum dia melakukan kesalahan dengan masuk ke ekskul Volly tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya.
“Yang berubah tuh Lo, Than. Bukan kita. Selama ini lo kan yang udah gak pernah gabung lagi sama kita? Lo lebih milih sama cewek lo dibanding kita berempat yang udah lama jadi sahabat lo.”
“Kalian salah paham, gue makan siang bareng Dian soalnya gue tahu kalian masih marah sama gue, jadi gue cuma nunggu waktu yang tepat buat minta maaf sama kalian.”
“Udahlah, Than. Mendingan lo gak usah gabung lagi sama kita. Lo sama cewek lo aja atau sama temen-temen baru lo di ekskul volly.” Danu ikut melenggang pergi, meninggalkan Panthana sendirian dengan keresahan yang sedang dirasakannya kini. Dia bingung, entah bagaimana cara memperbaiki persahabatan mereka?
***
Sesuai rencana Panthana dan Dian, hari ini mereka mengajak Inggrid makan bersama di sebuah cafe. Mereka bahkan sudah membeli kue untuk memperlengkap kejutan mereka untuk Inggrid. Panthana senang bukan main karena hari ini dia yakin sekali gadis yang dicintainya akan menyukai kejutan darinya dan Dian.
Namun, rasa senang itu berubah menjadi raut jengkel ketika dilihatnya Inggrid datang bersama dengan Roni. Padahal seharusnya hanya mereka bertiga yang menikmati acara ini tapi sekarang Roni menjadi tamu yang tak diharapkan oleh Panthana. Namun apa boleh buat sepertinya memang Inggrid sendiri yang mengajak Roni untuk bergabung dengan mereka.
Mereka memesan meja yang terletak di pojokan, cukup jauh dari meja lainnya. Mereka mulai menyalakan lilin yang sudah dipasang di tengah-tengah kue. Lilin berbentuk angka 17, usia Inggrid saat ini.
Setelah selesai menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’, Inggrid pun meniup lilin tersebut. Dia memotong kue dan menyuapkan potongan kue tersebut pada sahabat baiknya, Dian. Menyuapkan pada Panthana dan terakhir pada Roni. Mereka tampak begitu menikmati acaranya meski Panthana sesekali melirik kesal pada Roni. Terutama jika pria itu mulai beraksi dengan mengutarakan gombalan ampuhnya. Gombalan yang sepertinya sukses berpengaruh pada Inggrid jika dilihat dari rona merah yang menghiasi wajah si gadis. Hal tersebut membuat Panthana semakin kesal dibuatnya. Tetapi apa boleh buat, ada Dian disana. Jadi Panthana tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menahan keinginannya untuk menghajar Roni.
Mereka mulai menikmati makanan yang mereka pesan seraya mendengarkan seorang penyanyi yang sedang menghibur seluruh pengunjung cafe.
“Sumpah ya, gue seneng banget. Gue beruntung banget punya sahabat kayak kalian. Thanks banget ya,” seru Inggrid tulus pada teman-temannya. Dia tidak menyangka teman-temannya mau repot-repot merayakan ulang tahunnya seperti ini. Padahal di rumahnya tak ada perayaan apapun. Orangtuanya sedang pergi dinas ke luar kota sedangkan sang kakak sedang sibuk dengan kuliahnya. Lagipula terkadang dia kesal pada kakaknya yang sering menjahilinya. Buktinya beberapa hari yang lalu, dengan jahilnya kakaknya menyelipkan mainan laba-laba di buku diarynya. Saat itu Inggrid benar-benar ketakutan karena menyangka mainan itu benar-benar laba-laba asli yang begitu dibencinya.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu di dalam cafe, banyaknya makanan yang mereka pesan membuat mereka begitu kekenyangan. Masih banyak makanan mereka yang tersisa, tampaknya mereka tidak akan sanggup lagi menghabiskannya.
Malam menjelang dan sudah saatnya mereka untuk pulang. Namun sebelum itu mereka tahu inilah saat yang tepat untuk menyerahkan hadiah mereka pada Inggrid. Dian menjadi orang pertama yang memberikan hadiah untuk Inggrid.
“Grid, lo buka sekarang aja kadonya. Gue pengen tahu lo suka atau gak sama kadonya,” saran Dian, yang langsung dituruti Inggrid.
Dengan wajah berbinar, Inggrid membuka hadiah dari Dian. Wajahnya semakin berbinar senang ketika melihat buku diary yang diberikan Dian untuknya. Sahabatnya itu memang tahu seleranya, dia bahkan memberikan buku diary dengan sampul tokoh anime favoritnya.
“Makasih Dian,” pekiknya girang seraya memeluk Dian erat.
“Sama-sama, sekali lagi selamat ulang tahun ya Grid.” Inggrid mengangguk. Lalu tatapannya beralih pada Panthana, lebih tepatnya pada hadiah yang sedang digenggam Panthana. Menyadari tatapan Inggrid padanya, Panthana pun bergegas menyerahkan kado darinya yang tanpa ragu langsung diterima Inggrid.
Sama halnya dengan tadi, kali ini pun Inggrid langsung membuka hadiah dari Panthana. Jantungnya berdebar kencang, dia penasaran ingin mengetahui hadiah pemberian Panthana untuknya. Pasalnya inilah pertama kalinya dia mendapat kado dari seorang pemuda di hari ulang tahunnya.
Seketika kedua matanya membulat sempurna dan kotak yang dipegangnya dia lempar sejauh mungkin darinya, ketika dia melihat makhluk apa yang nyaris disentuhnya. Seekor laba-laba tarantula yang menyeramkan yang tentu saja sangat dibencinya. Parahnya lagi itu laba-laba asli bukan laba-laba mainan yang selalu diberikan kakaknya ketika sedang menjahilinya.
Panthana membeku di tempat duduknya ketika melihat Inggrid melempar hadiah darinya seolah jijik. Dia semakin heran ketika mendapati Inggrid sedang menatap marah padanya. kedua matanya berkaca-kaca nyaris menangis, sontak hal itu membuat Panthana terkejut bukan main.
“Lo jahat banget, Thana. Lo sengaja ya mau nakut-nakutin gue? Gak lucu tahu gak. Gue benci banget sama laba-laba. Gue juga benci sama kakak gue yang suka jahilin gue pake laba-laba. Dan sekarang lo juga. Gue benci sama lo Thana, benci banget!!” Ucapnya dengan volume suara tinggi. Panthana diam mematung, tak tahu harus mengatakan apa. Dia terkejut sekaligus bingung saat ini. Dia memberikan hadiah itu atas saran Bowbow, karena menurut hasil penyelidikan sang hantu, Inggrid sangat menyukai laba-laba. Ternyata apa yang diragukannya selama ini benar adanya. Menurutnya juga mustahil gadis semanis Inggrid menyukai hewan sejenis laba-laba.
“Grid, Thana pasti gak maksud jahat kok sama lo. Mungkin dia gak tahu lo benci banget sama laba-laba. Please, maafin dia ya,” bujuk Dian merasa iba melihat Panthana yang langsung terdiam karena mendengar bentakan Inggrid. Lagipula dia juga tidak mau hubungan sahabat dan pacarnya menjadi buruk karena masalah ini.
“Lo gak usah bela dia, Di. Lagian mana ada orang yang ngasih hadiah ulang tahun kayak gitu. Hewan itu kan bahaya, Di. Kalau gak ada niat jahat, kenapa coba dia ngasih hadiah laba-laba ke gue?” Sanggah Inggrid, tak sanggup menyembunyikan amarah dan juga kekecewaannya pada Panthana. Menurutnya hal seperti ini tidak pantas dijadikan sebuah lelucon atau candaan.
“Ron, anterin gue pulang,” pinta Inggrid pada Roni, membuat Panthana semakin tertegun.
“I-Iya, Grid. Tapi sebelum pulang. Ini, terima dulu hadiah dari gue. Mudah-mudahan bisa bikin suasana hati lo yang dirusak Thana jadi bagus lagi.” Wajah Inggrid masih memerah menahan emosinya, tapi dia tetap menerima hadiah dari Roni. Tanpa ragu dia pun membuka hadiah itu. Wajah kesalnya seketika berubah menjadi berbinar senang ketika melihat sebuah boneka pikachu berada di dalam genggamannya.
“Waah, Ron, kok lo tahu gue suka pikachu?” Tanyanya heran, setahunya hanya Dian yang mengetahui hal ini.
“Gue liat casing handphone lo ada gambar pikachunya, terus benda-benda punya lo semuanya warna kuning. Jadi gue simpulin lo suka warna kuning dan juga pikachu. Lo suka hadiah dari gue?” Inggrid mengangguk penuh semangat.
“Makasih ya, Ron.”
“Sama-sama, Grid. Oh iya, gue boleh gak minta hadiah juga dari lo?” Inggrid mengernyitkan dahinya bingung, beberapa detik kemudian dia pun mengangguk.
“Gue minta lo jawab pernyataan gue. Gue kan udah bilang suka sama lo, gue juga pengin banget lo jadi cewek gue. Jadi apa jawaban lo, Grid? Lo belum jawab ampe sekarang.” Bukan hanya Inggrid yang terbelalak kaget, melainkan Panthana dan Dian sama kagetnya. Panthana sangat ketakutan sekarang, dia takut Inggrid akan menerima Roni sebagai pacarnya.
“Iya, Ron. Gue mau jadi cewek lo.” Dan apa yang ditakutkan Panthana benar-benar terjadi. Kini dia merasa telah kehilangan harapannya untuk mendapatkan Inggrid. Jangankan untuk mendapatkannya, menjalin pertemanan pun sepertinya sangat mustahil sekarang. Inggrid begitu membencinya dan semua ini karena ulah Bowbow. Panthana bertekad di dalam hatinya, tidak akan memaafkan Bowbow untuk kesalahan besarnya ini.
***
Di dalam kamar Panthana, Bowbow sedang bersenandung seraya melayang-layang. Dia sengaja tidak mengikuti Panthana karena dia tahu saat ini Panthana sedang mengadakan acara untuk perayaan ulang tahun Inggrid. Dia tidak ingin mengganggu konsentrasi Panthana karena itu dia memilih menunggu di kamarnya.
Dia tersenyum riang ketika Panthana tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Sesegera mungkin dia melayang menghampiri satu-satunya pemuda yang bisa melihat sosoknya itu.
“Thana, gimana acaranya? Inggrid suka kan hadiah dari kamu?” Tanyanya, tak sabar ingin mengetahui reaksi Inggrid setelah menerima hadiah dari Panthana. Menurutnya Inggrid pastilah senang. Namun dia heran ketika melihat Panthana hanya menundukan kepala dan tak mengatakan apapun padanya. Pemuda itu terlihat begitu pendiam malam ini.
“Thana, gimana? Semuanya lancar, kan?” Tanyanya ulang. Bowbow terenyak kaget ketika Panthana mendongak dan terlihatlah wajahnya yang memerah dengan urat-urat marah bermunculan di keningnya. Dia juga menatap tajam pada Bowbow, sesuatu yang tak pernah dilakukannya selama ini.
“Lancar lo bilang? Apanya yang lancar, kacau iya,” jawab Panthana ketus membuat Bowbow semakin tak mengerti.
“Apa maksud kamu?”
“Lo bilang Inggrid suka laba-laba, kan? Lo sengaja ya ngerjain gue. Lo sengaja kan supaya Inggrid benci sama gue?”
“Kok kamu bilang gitu, Thana?”
“Inggrid benci banget sama laba-laba dan sekarang dia juga jadi benci sama gue. Semua itu gara-gara lo, tahu gak?!” Bentak Panthana, membuat Bowbow terenyak masih dalam posisi melayangnya.
“Semenjak lo datang di hidup gue, hidup gue jadi berantakan. Orang-orang ngira gue gila karena mergokin gue lagi ngomong sendiri, temen-temen gue jauhin gue gara-gara lo yang nyaranin gue buat gabung sama ekskul volly. Dan sekarang, gara-gara lo juga gue jadi dibenci Inggrid. Parahnya lagi sekarang Inggrid jadian sama Roni. Lo cuma bisa bikin gue sengsara. Mendingan lo pergi deh, jangan muncul lagi di depan gue!!” Ucapnya, masih dengan nada membentaknya.
“Kamu ngusir aku, Thana?”
“Ya, gue ngusir lo. Pergi sana, jangan pernah muncul lagi di depan gue!”
“Tapi kamu kan udah janji mau bantu aku nyari identitas aku sama alasan aku jadi hantu gentayangan? Kamu gak bisa ngingkarin janji kamu.” Bowbow mulai meneteskan air matanya. Dia tak menyangka apa yang dibayangkannya tadi sangat bertolak belakang dengan kenyataan. Bukannya menerima ucapan terima kasih dari Panthana, dia justru dimarahi dan dibentak Panthana, parahnya lagi... dia pun diusir dengan kejamnya oleh pemuda yang diharapkannya bisa membantunya memecahkan misteri tentang kematiannya.
“Lo juga ingkar janji. Lo bilang mau bantuin gue dapetin Inggrid. Nyatanya lo justru bikin dia benci sama gue. Lagian dia udah jadian sama cowok laen sekarang, udah gak ada harapan lagi buat gue. Jadi sekarang, lo pergi dari hadapan gue!”
“Nggak bisa gitu, Thana. Kamu udah janji mau bantuin aku. Maafin aku kalau aku salah.” Panthana tidak menyahut, dia berjalan cepat menuju jendela kamarnya yang tertutup. Dia buka jendela kamarnya selebar mungkin membuat hembusan angin dari luar masuk ke dalam kamarnya.
“Lo pergi sekarang juga dan jangan pernah muncul lagi di depan gue!”
“Tapi, Thana ....”
“Kalau lo gak pergi juga, gue terpaksa manggil pak ustad kemari buat ngusir lo.” Lagi-lagi Bowbow terbelalak kaget. Air matanya sudah berjatuhan begitu derasnya.
“Thana.”
“PERGI!!!” Detik itu juga Bowbow melayang pergi melewati jendela yang terbuka. Setelah memastikan hantu itu pergi, Panthana segera menutup jendela beserta gordennya. Dia sudah memutuskan tidak ingin berurusan lagi dengan sang hantu.
“Thana, kamu jahat,” ucap Bowbow sendu seraya menatap ke arah jendela kamar Panthana.