Andai hidup bisa seperti yang ada dalam angan Laras, mungkin wanita yang kini tengah hamil muda itu tidak akan merasakan tekanan yang luar biasa hebat itu. Ya, sore ini Laras dijemput Yudha bersama kedua orang tuanya. Laras hanya bisa mengembuskan napas panjang saja saat ini. Mereka jelas sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu paham yang saya bicarakan tadi?" Heni masih saja meremehkan Laras yang kini menganggukan kepala sebagai jawaban. "Ini masalah karir suami kamu yang tak lain adalah Yudha. Kamu sudah lihat video yang diedit oleh orang tidak bertanggungjawab itu?" tanya Heni yang dijawab gelengan oleh Laras.
Laras tidak akan sekuat itu melihat video sang suami berbagi tubuh dengan mantan istrinya. Inti dari bahasan ini adalah, Laras harus mau menemui Cokro. Wanita yang saat ini memutuskan untuk menunduk itu tahu siapa sosok Cokro. Atasan sang suami bukanlah orang yang mudah dibohongi.
"Ibu kamu kenal baik sama si Cokro itu. Jadi, usahakan agar bicaramu itu meyakinkan. Cokro juga sangat kenal sama kamu. Jangan sampai kamu kelepasan bicara," kata Bimo yang juga mengintimidasi Laras saat ini.
Obrolan demi obrolan mengalir sangat menyesakkan d**a Laras. Mereka tidak paham apa yang dirasakan oleh Laras. Hati dan mental istri Yudha itu benar-benar sakit. Sakit tak berdarah dalam jangka waktu hampir dua tahun.
"Ma ... kalo Pak Cokro tidak percaya bagaimana? Beliau itu orang yang sangat galak. Saya takut," kata Laras ketika Heni hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ck! Gini nih, Yud. Kamu makanya kali cari pengganti Nadira itu yang selevel. Jadi, Mama atau siapa saja tidak perlu menjelaskan detail apa yang harus dilakukan. Bicara dengan si Cokro saja harus diajarin dulu. Kamu dulu juga kerja di rumah si Cokro itu, masa, iya, nggak paham gimana karakter si Cokro itu," kata Heni merendahkan Laras yang kini menahan air mata agar tidak jatuh.
"Ma, Laras ada benarnya. Atasan aku bukan orang yang mudah percaya pada siapa pun. Jiwa intel-nya itu luar biasa. Insting mengindentifikasi kebohongan setiap orang dia bisa tahu dengan cepat." Yudha kali ini membela sang istri di depan kedua orang tuanya. "Lagi pula, kenapa harus bandingkan Laras dengan Nadira. Mereka jelas berbeda," kata Yudha setengah kesal pada sang mama.
Heni mengembuskan napas kasar. Ia tidak tahu racun apa yang diberikan oleh Laras agar sang anak mau patuh pada ucapan wanita yang sejak tadi menunduk itu. Laras bahkan tidak berani menyentuh makanan apa pun yang ada di depan meja. Rasa lapar hilang saat harus makan satu meja bersama dengan keluarga Yudha.
"Kamu pikirkan bagaimana cara ngomong sama Cokro. Jangan kamu masih saja merepotkan kami berdua. Untuk menghapus video kamu saja, Papa habiskan uang tidak sedikit. Hampir lima ratus juta rupiah," dusta Bimo membuat Yudha kesulitan menelan saliva.
Ayah dan anak sama saja, sama-sama suka berbohong. Heni bahkan tidak tahu jika jasa yang dipakai sang suami untuk menghapus video itu gratis. Bimo mengatakan dengan wajah sangat meyakinkan. Ya, ia hanya ingin sang anak merasa sangat bersalah.
"Kenapa harus semahal itu?" Yudha merasa bingung saat ini karena takut jika sang papa meminta agar dikembalikan uang itu.
"Kata Mama kamu, demi karir kamu yang ada dalam hitungan jam. Ya, tapi aku lihat, Cokro tidak bisa berkutik tadi. Bagian IT juga tidak bisa mencari video itu lagi," kata Bimo dengan nada merendahkan sang putra sekaligus mengintimidasi.
"I-iya itu emang bener, Pa. Tapi, nggak harus ngerendahin Laras," kata Yudha yang saat ini sangat gugup.
Bimo menatap sang putra dengan tatapan tajam dan mengintimidasi. Setiap kali ada masalah, ayah dua anak ini selalu saja akan melakukan hal ini pada kedua anaknya. Kakak Bimo--Indra akhirnya memutuskan pergi dari rumah. Kondisi rumah mereka sudah sangat tidak sehat.
"Memang dia serendah itu. Jauh kalo dibandingkan dengan Nadira. Lagi pula, dalam hati Papa dan Mama kamu ini, Nadira masih menjadi menantu kesayangan kamu. Kalo kamu mau contoh si Indra, lihat saja bagaimana hidupnya sekarang. Jauh dari kata layak!" Ucapan tajam itu jelas menyakiti hati Laras.
Kedua mertua Laras memang tidak pernah suka pada wanita yang kini mengandung calon cucu mereka. Alasan harta juga keturunan membuat Bimo dan sang istri berat memberikan restu. Laras memang sangat cantik, hanya saja tidak berpendidikan dan miskin. Akan tetapi, bukankah Yudha yang mengejar Laras?
"Ini kok malah bahas sampai Mas Indra. Kita hanya bahas masalahku saja." Yudha tampak sangat kesal pada sang papa. "Lagian, mana bukti pembayaran untuk hacker yang Papa suruh? Aku pengen lihat transaksi e-banking itu. Secepatnya akan aku kembalikan uang itu," kata Yudha yang kini tidak bisa menahan amarahnya.
Jika benar harus mengembalikan, maka Yudha akan menjual rumah dan kendaraan. Lalu, ia dan Laras akan tinggal di asrama sampai punya rumah kembali. Ya, setidaknya itu yang ada di otak ayah dua anak itu. Tidak ada jalan lain.
"Perlihatkan sekarang transaksi e-banking-nya, Pa," kata Yudha dengan nada santai dan membuat Bimo bingung.
"Memangnya kamu bisa bayar?!" Bimo membentak Yudha dengan suara keras membuat beberapa pengunjung lainnya menoleh ke arah mereka. "Sudah bagus kami sebagai orang tua kamu mau bantu. Apa perlunya kamu lihat transaksi e-banking itu?" tanya Bimo merasa direndahkan oleh sang anak.
"Oh, aku jelas perlu melihatnya. Aku mau ganti uang itu setelah melihat bukti transfer itu. Jika tidak ada bukti, tidak akan aku ganti. Aku anggap gratis uang setengah milyar itu," kata Yudha dengan wajah datar dan nada bicara dingin.
"Sudah, Pa. Kasih lihat saja pada anak kita," kata Heni yang kini menengahi pertengkaran anak dan suaminya itu.
Bimo tidak menjawab dan langsung beranjak dari duduknya. Ia merasa akan terpojok jika terlalu lama di tempat ini. Kebohongannya akan terbongkar jika berani menunjukkan transaksi e-banking pada anak dan istrinya. Bimo tidak mau hal itu terjadi.
Kini hanya tinggal mereka bertiga saja di tempat ini. Heni tidak lagi merendahkan Laras. Ia tahu, Yudha dalam keadaan marah besar. Entahlah, sebagai wanita yang melahirkan Yudha, ia tidak paham dengan selera sang putra.
"Kita udah selesai, Ma. Terima kasih atas bantuannya. Aku mau pulang," pamit Yudha langsung menggandeng tangan Laras.
Laras hanya bisa patuh saat sang suami menggandeng tangannya menuju ke meja kasir. Yudha membayar semua tagihan makan mereka meski sang istri tidak menyentuh makanan itu sedikit pun. Yudha lantas mengajak Laras ke parkiran. Mereka pun pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Laras hanya diam. Ia sudah mengabarkan pada sang ibu jika pulang ke rumah Yudha sore ini. Sang ibu pun mengiakan karena memang sudah seharusnya seperti itu. Menyelesaikan masalah dengan suami adalah hal paling penting.
"Kenapa hanya diam saja saat Papa dan Mama merendahkanmu?" Yudha bertanya dengan nada kesal pada sang istri yang sejak tadi menatap ke arah kaca jendela mobil.
"Aku nggak mau nambahin masalah. Aku jawab juga kedudukanku nggak akan berubah." Laras menjawab dengan tenang meski hatinya sangat sakit.
"Ck! Maksudku, kamu itu jawab omongan kedua orang tuaku. Jangan diam aja. Kalo diam aja, artinya kamu mengiakan!" Nada bicara Yudha mulai naik oktaf pada sang istri.
Laras mengembuskan napas panjang. Selalu saja akan seperti ini, Yudha mendadak marah. Penyebabnya karena sikap Laras tidak seperti yang diinginkan. Mendadak mobil Yudha berhenti dan membuat tubuh sang istri terhuyung ke depan.
"Hei! Kalo pakai jalan yang bener!" Bentakan dan ketukan keras pengguna jalan di belakang mobil Yudha pun membuat suami Laras semakin marah. "Ini bukan jalan milik Bapak Moyang kamu!" bentak pemuda yang kini melepas helm.
Yudha lantas membuka kaca mobil dan menatap tajam pada pemuda itu. Jelas penampilan seragam Yudha membuat pemuda itu ciut nyalinya. Yudha membuka pintu dan segera keluar. Laras hanya bisa diam di dalam mobil melihat pertengkaran dua laki-laki itu.
"Puas kamu?!" Yudha membentak Laras yang kini sedang mengusap perut yang masih rata itu.
'Sabar, ya, Nak. Kita pasti bisa melewati ini semua. Ya, hanya kita berdua. Cepat atau lambat, Ibu pasti akan pergi dari ayah kamu," kata Laras dalam hati karena tidak mau menjawab ucapan Yudha yang penuh emosi.
Lima menit kemudian, mereka sampai di rumah. Laras keluar dari mobil Yudha dengan perlahan. Akan tetapi, tidak dengan Yudha yang membanting pintu mobil dengan sangat kuat. Laras memegang d**a karena terkejut dengan suara keras itu.
"Kalian baru pulang?" Sapaan membuat wajah Yudha pucat saat baru saja membuka pintu yang telah dibuka kuncinya.