Bab 6—Please, Tolong Aku!

1504 Words
**** Mendengar wacana mengenai bulan madu dan t***k bengeknya mendadak kepala Sellena pening luar biasa. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Apa?! Tubuh Sellena terasa lemas, berjalan menuju ke ruang tengah pun rasanya seperti tidak kuat. Wajah gadis itu terlihat muram, sandiwara yang ia anggap hanya untuk sementara kini justru merembet dan berimbas pada yang lainnya. Lalu, bagaimana ia harus mengakhiri semua ini? Berjalan dengan digandeng Darrent, Sellena harus kembali berhadapan dengan sepasang mertuanya yang begitu baik dan penyayang. Saking baik dan penyayangnya, Sellena sendiri bahkan tidak tega untuk menipu mereka lebih dalam lagi. Melihat Sellena kembali dari ruang dapur bersama Darrent, wajah Johan dan Margareth terlihat berseri-seri. Terlihat beberapa koper milik mertuanya telah dikeluarkan dari kamar, memberi tanda bahwa mereka akan segera kembali ke Amerika dimana Darrent dilahirkan. "Hellena, kemari Sayang. Kami ingin bicara serius denganmu," ucap Margareth pada Sellena yang perlahan duduk di sebelah Margareth. Wanita paruh baya itu tersenyum, mengelus punggung Sellena dengan penuh perhatian. "Bicara apa Bu?" Sellena berkata lirih, perasaannya sudah tidak menentu karena dihadapkan pada kenyataan dimana ia harus berbohong lagi dan lagi. "Beberapa jam lagi kami akan kembali ke Amerika, rasanya tidak ikhlas harus meninggalkanmu di sini. Tapi karena kepadatan pekerjaanmu jadi kami tidak bisa mendesakmu untuk turut pergi bersama kami." Margareth membuka suara, ia tersenyum lalu menoleh sekilas pada suaminya. "Sebagai hadiah dari kami untuk pernikahan kalian, kami memberikan dua buah tiket pesawat untuk berwisata di Bali dua Minggu lamanya. Jangan khawatir, kami sudah mengurus visa untuk kalian juga." "Wow, sungguh fantastis Bu. Terima kasih banyak." Darrent begitu bahagia, ia berdiri lalu memeluk ibunya dengan penuh sayang. "Sungguh Bu, aku akan memanfaatkan momen indah ini untuk berbulan madu bersama Hellena." Margareth tersenyum lalu mengangguk, ia tahu apa yang diinginkan oleh putra semata wayangnya sehingga ia memilih untuk menentukan dimana kedua pengantin baru itu akan berbulan madu. Berbeda dengan Margareth dan Johan yang begitu bahagia, Sarah dan William hanya saling pandang dengan tatapan kurang berkenan. Tentu saja mereka tidak berkenan karena seharusnya yang mendapatkan berkah berkelimpahan ini adalah Hellena dan bukan Sellena. "Jadi kapan kalian akan berangkat bulan madu?" tanya Margareth dengan tatapan seolah ingin tahu. Bola matanya yang berbinar terlihat penasaran akan jawaban yang akan Sellena lontarkan. "Nyonya, apa semua ini tidak terlalu berlebihan untuk Hellena?" Sarah tiba-tiba menukas membuat Margareth dan juga Johan melayangkan pandangan ke arahnya dengan pandangan heran. Sarah tergagap, ia lalu pura-pura tersenyum. "Biarkan mereka beristirahat terlebih dahulu beberapa hari di rumah. Bukan maksudku melarang mereka pergi bukan madu, bukan. Aku hanya ingin mereka memiliki tenaga cukup karena perjalanan ke Bali pun membutuhkan beberapa jam penerbangan." Alasan yang dilontarkan Sarah memang cukup masuk akal, Sellena merasa sedikit tertolong dengan alasan itu. Setidaknya ia bisa menunggu hingga Hellena benar-benar sembuh sehingga rasa penyesalan akibat terlalu banyak berbohong ini bisa segera sirna dari hatinya. "Aku tidak mempermasalahkan kapan mereka akan berangkat, Nyonya Sarah. Semua kendali ada di tangan Darrent dan juga Hellena, bukankah begitu?!" Margareth kembali bersuara seraya menatap ke arah Darrent seolah meminta anak muda itu untuk segera mengambil sikap. "Aku sendiri ingin segera pergi berbulan madu, Ibu. Pekerjaanku sangatlah padat, Hellena mungkin saja begitu. Masing-masing dari kami mengambil cuti jadi tidak bisa berdiam diri dan melewatkan masa liburan hanya di rumah. Pergi berlibur adalah alternatif yang baik untuk menghibur diri sekaligus mempererat tali hubungan." Darrent mengemukakan pendapat yang diikuti oleh anggukan kepala Margareth seraya tersenyum. "Nyonya Sarah, sekarang Anda tahu bukan bagaimana sibuknya putraku dan juga putrimu. Mereka memiliki waktu yang terbatas, kasihan kalau waktu cuti mereka habis sementara mereka tidak bisa mendapatkan liburan yang mereka mau. Hellena, bagaimana pendapatmu? Kenapa sedari tadi hanya diam saja?" Margareth membidik Sellena dengan tatapan ingin tahu. Sedikit merasa curiga karena anak menantunya itu memilih diam disaat keluarga sibuk mengurusi urusan mereka berdua. Sellena terdiam, jantungnya mendadak berdebar ketika pandangan seluruh keluarga jatuh ke arahnya. Tuhan, harus menjawab apakah dia saat ini?! "Ehm, aku hanya menurut dengan keputusan Darrent, Ibu. Terserah dia yang akan memutuskan semuanya." Sellena menjawab dengan pasrah, tidak mungkin baginya menjawab terang-terangan terlebih berniat menolak disaat semua orang begitu ribut memutuskan. Margareth mengulas senyum, ia lalu menatap Darrent dengan tatapan bijak. "Hellena sudah menyerahkan keputusan kepadamu, Darrent. Sekarang tinggal kamu yang akan memutuskan kapan kau akan berangkat pergi berlibur." Darrent tersenyum, ia mengangguk lalu menatap Sellena sejenak. "Mungkin besok Bu, biar hari ini kami mengantarmu pergi ke bandara." Margareth lalu menoleh sekilas pada Johan, tersenyum bahagia dengan keputusan yang diberikan Darrent untuknya. "Bagus kalau begitu Sayang, kami turut berbahagia untuk masa liburanmu. Selamat ya?!" **** Sarah mondar-mandir di kamarnya, perasaan tidak menentu menyergap batinnya semenjak Darrent memutuskan untuk segera pergi berbulan madu. Tentu saja Sarah tidak bisa membiarkan hal ini terjadi, Darrent milik Hellena dan ia tidak bisa membiarkan Darrent pergi bersama Sellena. Mendapati William masuk ke dalam kamar, Sarah lalu buru-buru melongok keluar kamar dan menutup pintu rapat-rapat. "William, kita harus mencegah hal ini agar tidak terjadi." William terdiam, ia menaikkan kedua tangannya di atas pinggang. Menggeleng pasrah, Wiliam mengusap dahinya dengan penat. "Apa yang harus kita lakukan? Meminta Sellena untuk membatalkan, hah?!" "Ini semua karena salah Sellena, coba saja dia menyangkal dan meminta waktu beberapa hari mungkin kita bisa meminta Dokter untuk segera menyembuhkan Hellena." Sarah kembali mondar-mandir, perasaannya kacau bukan main. "Sarah, semua ini bukan salah Sellena. Bukan. Semua ini salah Hellena," putus William membuat Sarah menghentikan langkah lalu menatap suaminya tajam. "Bagaimana bisa kamu menyalahkan putrimu?" Sarah terheran-heran, bola matanya melebar dan nyaris melotot ke arah William. "Bagaimana bisa kamu menyalahkan putrimu?! Sarah, apakah Sellena itu bukan juga putrimu?" William membalikkan pertanyaan kepada Sarah. Sebuah pukulan telak yang membuat Sarah terbungkam beberapa saat. "Ingat Sarah, Sellena juga putri kita. Jika bukan karena Hellena yang tiba-tiba sakit maka kejadian runyam seperti ini tidak akan mungkin terjadi." "William, aku rasa tidak ada satu orang pun di dunia ini mau mengidap sakit secara mendadak terlebih terkena infeksi paru-paru seperti Hellena. Kamu harus ingat Will, kita makan dan minum karena uang Hellena." Sarah berkata pelan, nada suaranya yang sempat meninggi kini kembali melunak seperti biasa. William terdiam cukup lama, ia berjalan dan duduk di sisi ranjang. "Lalu apa yang harus kita perbuat? Kita tidak bisa mempersulit Sellena terus menerus. Aku yakin dia pasti kesusahan dengan posisinya saat ini." "Mari pergi ke rumah sakit setelah mengantar besan ke bandara. Aku ingin memastikan keadaan Hellena, jika memungkinkan aku akan membawanya pulang dengan begitu Sellena tidak akan menderita dan tertekan." Sarah menatap suaminya dengan serius. Anggukan kepala William menjadi sebuah pertanda bahwa mereka setuju dengan rencana tersebut. "Baiklah jika itu maumu, aku akan mempersiapkan mobil untuk kita." William lantas bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari kamar. Sarah menghela napas, ia menatap jarum jam di dinding yang menunjuk pukul sepuluh pagi. Ya, setelah mengantar besannya ke bandara ia berencana untuk menjenguk Hellena dan memastikan keadaannya. Jangan sampai posisi Hellena terlalu lama ditukar oleh Sellena, selain kasihan ia sendiri tidak suka jika Sellena harus berada di dekat Darrent. Entahlah tapi itu yang terjadi pada perasaannya. Ia benar-benar tidak suka jika Sellena bersama Darrent. **** Semenjak menjadi istri pura-pura Darrent, Sellena benar-benar tertekan. Pria itu bahkan selalu mengikuti kemanapun Sellena pergi, dimana Sellena hadir maka Darrent selalu di belakangnya. Mengambil air minum, Sellena lantas duduk di kursi yang tersedia di ruang makan. Hari-harinya begitu kacau hingga ia tidak bisa berpikir jernih. Setiap kali ia ingin menghilang, Darrent selalu saja menemukannya hingga telepon dan panggilan dari Ivan pun tak sempat Sellena angkat. Ya Tuhan, sampai kapan cobaan ini berakhir?! Benarkah semua ini kesalahan dirinya yang sedari awal telah mempermainkan sebuah pernikahan?! "Sayang, kamu disini rupanya?!" Darrent lagi-lagi membuntutinya. Pria itu tersenyum lalu mendekat dan merengkuh tubuh Sellena dari belakang dengan erat. "Darrent, jangan seperti itu. Aku merasa sedikit sesak," keluh Sellena merasa canggung. Peringatannya membuat Darrent sejenak mengerutkan dahi, meski demikian ia mengendurkan pelukannya dan duduk di sebelah Sellena. "Sebentar lagi orangtuaku akan berangkat ke bandara, apakah kamu mau ikut?" tanya Darrent sembari menatap ke arah Sellena. Gadis itu membetulkan letak kacamatanya dan terdiam cukup lama. Bukan karena apa, ia tengah mempertimbangkan jawaban apa yang pas untuk ia katakan. "Boleh, aku rasa aku perlu mengantar mereka sampai ke pintu." Darrent tersenyum, ia lalu mengelus pipi Sellena dengan lembut. Sebuah perlakuan spesial yang membuat Sellena hampir meleleh karena pada kenyataannya Ivan sendiri jarang melakukan hal tersebut kepadanya. Dering ponsel milik Sellena berbunyi, membuat pria itu mengurungkan niatnya untuk terus membelai pipi Sellena. Dengan wajah canggung, Sellena merogoh saku rok panjang yang ia kenakan. "Siapa Sayang?" Darrent bertanya dengan alis menaut, ia merasa heran karena pasalnya Sellena tak kunjung mengangkat bahkan terkesan abai dan mematikan ponsel. "Kenapa malah dimatikan?" Sellena mencoba tersenyum kecut, tidak mungkin baginya mengangkat panggilan Ivan disaat ada Darrent di sampingnya. "Bukan siapa-siapa, hanya teman kerja." "Kenapa tidak diangkat? Mungkin itu penting," ucap Darrent penasaran. Sellena menggeleng, bertahan dengan senyumnya yang terlihat begitu dipaksakan. "Tidak, aku tahu bagaimana teman-temanku. Mereka hanya iseng, jangan terlalu dipikirkan." Darrent mengangguk, ia mengulas senyum lalu bangkit dari duduknya. Perlahan ia mengulurkan tangan ke arah Sellena. "Mari kita pergi, aku rasa ayah dan ibuku akan tambah senang jika kita mengantarnya pergi." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD