Bab 7—Meleset dari Angan-angan

1815 Words
**** Jam dinding berwarna putih itu kini menunjuk pukul sebelas siang, setelah semuanya berbenah untuk segera mengantar Margareth dan juga Johan ke bandara mereka memasuki mobil masing-masing dengan cepat. Margareth dan Johan berada satu mobil dengan Darrent dan juga Sellena sedangkan Sarah dan William sengaja membawa mobil sendiri dengan dalih ingin pergi ke suatu tempat sedikit lama. Perjalanan menuju ke bandara tidaklah lama, hanya memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit. Sisa-sisa kebersamaan mereka isi dengan gelak tawa dan juga canda. Mereka sendiri tidak tahu kapan lagi suasana akrab dan bisa berkumpul seperti ini terjadi kembali. Mungkin jika Sellena mau, Sellena bisa datang ke Amerika dan mengunjunginya bersama Darrent. Margareth dan Johan sudah pasti senang jika anak menantu kesayangannya mau berkunjung dan menginap beberapa waktu. Siang itu perjalanan menuju ke bandara begitu lancar, karena bertepatan dengan hari kerja maka jalanan pun sedikit senggang daripada hari-hari sebelumnya. Tidak sampai tiga puluh menit, mobil mewah milik Darrent berhasil memasuki area bandara. Setelah memarkir mobil dengan rapi bersama mobil-mobil lain, Darrent lantas mengambil koper milik ayah ibunya dan turut membantu membawakannya. Selama perjalanan menuju ke ruang tunggu, Margareth sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada Sellena. Sebagai orangtua perempuan, Margareth sudah kadung jatuh cinta pada menantunya tersebut. Selain sikap yang sopan dan manis, nyatanya sikap sang menantu yang begitu polos dan menghargai mampu membuat Margareth begitu terkesan dan langsung menyukainya. "Hellena, kamu janji ya kalau nanti jika pekerjaanmu ada senggang kamu main ke rumah Ibu di Amerika. Ibu sangat ingin memperkenalkan kamu pada tetangga ibu disana," ucap Margareth dengan tatapan penuh damba. Wanita itu meraih tangan Sellena, mengelusnya lembut dan menggenggamnya dengan erat. Perlakuan baik yang diterima Sellena membuat Sarah merasa iri hati. Sedikit menyesalkan karena sakit Hellena yang tak tahu tempat membuat anak yang ia anggap sebagai 'Penghasil Uang terbanyak' itu tidak mendapatkan kasih sayang mertua dengan semestinya. "Iya Bu, saya janji. Nanti jika ada waktu senggang saya akan meminta Darrent untuk menemani saya pergi ke Amerika dan mengunjungi Ibu," hibur Sellena sambil mengulas senyum. "Janji ya, di Amerika Ibu memiliki banyak pohon Cherry. Kamu bisa petik sesuka hati jika kamu mau," tawar Margareth terus menatap wajah menantunya seolah tiada habis. "Sudahlah Margareth, ayo kita masuk. Pesawat sudah datang, jika kita tidak segera masuk kita akan ketinggalan. Kamu ini, kita hanya berpisah waktu dan tempat, jangan seperti berpisah dan tak bertemu lagi." Johan menegur istrinya karena Margareth tak kunjung beranjak dari hadapan menantu kesayangannya. Margareth mengulas senyum, ia menyeka air mata yang menempel di sudut bola matanya. "Aku hanya merasa sedih, Johan. Aku hanya berkumpul dengan menantuku beberapa hari dan kini aku harus kembali membawa kenangan ini." "Bu, jangan sedramatis itu. Kami akan segera mengunjungi Ibu jika ada waktu, dulu waktu aku pergi jauh Ibu sama sekali tidak menangisiku sekarang kenapa justru menangisi anak menantu? Ah, Ibu membuatku merasa cemburu," tukas Darrent dengan tatapan dibuat kesal. Margareth tergelak, rasa sedihnya kian menghunjam. "Bukan begitu Darrent, selama ini Ibu menganggapmu sebagai anak laki-laki yang kuat. Berbeda dengan kondisi sekarang, ibu baru saja memiliki anak perempuan yang manis. Ibu tidak sanggup harus berpisah dengan Hellena." Jawaban Margareth membuat seluruh keluarga hanya mampu mengulas senyum dan menggeleng kepala. Margareth kembali menatap Sellena, mengusap pipinya yang merona dengan tatapan penuh cinta. "Kamu hati-hati di sini ya, jaga dirimu baik-baik. Jika Darrent melakukan kesalahan yang tidak wajar, jangan ragu untuk melaporkannya padaku. Aku pasti akan langsung menghukumnya dengan kedua tanganku." "Bu—" "Diam kamu Darrent, jangan menyela jika Ibu bicara pada istrimu." Margareth mengeluarkan ultimatum, membuat semua orang lagi-lagi menggelengkan kepala. Margareth menatap Sellena sekali lagi, ia tertunduk lalu melepas salah satu cincin permata yang ia pakai. "Cincin ini untuk kamu, Ibu rasa cincin ini sangat cocok berada di jari-jarimu yang lentik dan juga putih. Dipakai yan Sayang, Ibu sangat menyayangimu." Sellena terkejut, tak percaya jika wanita paruh baya yang memiliki watak baik itu mau memberikan salah satu cincin terbaiknya untuk dirinya. Perlahan ia mendapati Margareth menyematkan cincin itu di jari manisnya, sangat cocok dan pas dengan ukuran tangan Sellena. Margareth tersenyum ketika melihat cincin itu kini berpindah kepemilikan. "Sekarang kamu adalah milikku dan aku adalah milikku. Kita satu keluarga Sayang, jaga dirimu baik-baik." Margareth lalu memeluk tubuh Sellena dengan erat, tak lupa pula ia mengecup kening serta pipi anak menantunya dengan sayang. Setelah perpisahan itu, Margareth dan juga Johan lantas masuk ke dalam ruangan dimana mereka akan segera berangkat ke Amerika. Melambaikan tangan, Darrent merangkul Sellena dengan lembut. Semua merasa kehilangan kecuali Sarah. "Ehm, Darrent, kami ijin pergi sebentar ya. Ada beberapa kebutuhan rumah yang harus dibeli sekarang, kami harus berbelanja kebutuhan jadi pulanglah ke rumah bersama Hellena tanpa harus bersama kami." Sarah mengalihkan perhatian keduanya setelah bayangan sosok sang besan telah hilang bersamaan dengan beberapa orang yang turut pergi bersama mereka. Berbalik badan, Darrent dan Sellena menatap Sarah. " Apa perlu kami temani Bu?" "Ah, tidak usah Darrent. Kamu pulang saja dengan Hellena, aku bersama William akan berbelanja bahan makanan dan memasak yang enak untuk kalian." Sarah mengulas senyum dengan sempurna seolah-olah semuanya baik-baik saja. "Baik Bu, aku dan Hellena pulang ke rumah ya. Sampai ketemu di rumah," ucap Darrent pelan lalu menatap Sellena dengan lembut. Pria itu lalu menggandeng tangan Sellena dengan tangan kanannya. "Ayo Sayang kita pulang, biarkan ibu dan ayah menikmati waktu belanja mereka dengan tenang." **** Mobil Sarah dan juga William melaju dengan kencang, mereka memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar cepat sampai ke rumah sakit. Satu hal yang harus mereka ketahui, mereka harus mengecek kondisi Hellena. Jika memungkinkan mereka akan membawa Hellena pulang dan menempatkannya di posisi semula. Bagaimanapun kasihan Sellena yang harus menjadi ban cadangan bagi saudari kembarnya. Memarkirkan mobil tepat di depan rumah sakit, Sarah dan William berjalan setengah berlari memasuki rumah sakit. Semenjak pernikahan pura-pura itu dan Hellena jatuh sakit, Sarah dan William jarang sekali menengok ke rumah sakit kecuali jika telah larut malam. Memasuki bangsal dimana Hellena dirawat, Sarah mempercepat langkahnya. Mereka tidak ingin Hellena salah sangka dan mengamuk padanya. "Hellena," panggil Sarah setibanya ia diambang pintu kamar tempat Hellena dirawat inap. Hellena yang hanya rebahan segera menoleh, melihat ayah dan ibunya datang sontak saja Hellena beringsut bangun dengan menahan rasa sakit. "Ibu... Ayah..." Sarah lalu memeluk putrinya, mengelus punggungnya dengan lembut seraya berbisik merdu. "Tenang Nak, semua akan baik-baik saja." "Bu, bagaimana dengan Darrent? Bagaimana dengan Sellena? Apakah mereka melakukannya?" Hellena melepas pelukan ibunya, menatap penuh dengan tatapan ingin tahu serta rasa cemas yang begitu tinggi. "Tenang Hellena, tenangkan dirimu." Sarah menyentuh pundak Hellena, mengusapnya lembut supaya Hellena mampu menenangkan dirinya yang terlihat begitu tertekan. "Bagaimana aku bisa tenang Bu?! Di rumahku ada suamiku bersama saudariku. Aku mana bisa tenang dengan keadaan ini?! Bu, tolong aku. Kapan aku bisa keluar dari sini dan bertemu dengan suamiku?!" Hellena mulai histeris, ia tidak bisa menyimpan rasa khawatirnya dengan nada suara yang nayris berteriak. "Hellena, pelankan suaramu. Kau bisa mengganggu pasien lain," ucap William memperingatkan. Pria paruh baya itu mendekat, menatap putrinya dengan tatapan tajam. Hellena menerima tatapan itu dengan perasaan sedikit takut, ia berpaling dari ayahnya dan kembali menatap Sarah. "Bu, ceritakan padaku apa yang terjadi di rumah?!" Sarah menatap Hellena, menarik napas lalu mulai bercerita bagaimana Margareth dan juga Johan begitu memuja Sellena. "Kedua mertuamu sangat menyukaimu, Nak. Dia memujimu beberapa kali dan menyatakan jatuh cinta kepadamu." "Benarkah?" Mata Hellena berbinar, ada perasaan lain yang tumbuh di dalam dadanya. Sarah tersenyum lalu mengangguk, ia mengusap rambut anaknya dengan lembut. Namun perlahan mata berbinar itu berubah menjadi penuh amarah, Hellena dengan cepat menepis tangan Sarah yang menyentuh rambutnya. "Tapi semua itu ditujukan kepada Sellena, bukan aku Bu. Mereka memuji Sellena, mereka jatuh cinta pada Sellena. Semua yang mereka sukai itu terdapat pada Sellena dan bukan padaku Bu. Semua ini bohong, semua ini bohong!" Hellena Kemabli histeris, ia berteriak lalu menangis kemudian. Sarah merasa sedih mendengar ucapan Hellena, seumur hidup Hellena tidak pernah terkalahkan oleh Sellena dalam segala hal dan baru sekarang ia merasa gagal di depan mertua dan juga suaminya. "Sayang, jangan bersedih. Kami akan segera mengembalikan hidupmu seperti semula. Kamu akan mendapatkan Darrent seutuhnya." Sarah mencoba menghibur, air matanya turut keluar karena merasakan emosi yang begitu dalam dari teriakan Hellena barusan. Keributan yang terjadi memicu sang dokter yang merawat Hellena datang dan menghampiri. "Selamat siang semuanya, maaf apakah Anda keluarga pasien?" tanya sang dokter di ambang pintu seraya memperhatikan Sarah dan juga William. Sarah menoleh, ia menghapus air matanya lalu mendekati sang dokter. "Iya Pak Dokter, kami orangtuanya." Dokter yang papan nama bertuliskan Dokter David itu menghela napas lalu membetulkan letak kacamatanya. "Kebetulan sekali Anda datang berkunjung, saya ingin berbincang dengan Anda. Silakan ikuti saya ke kantor." Dokter David lalu berbalik badan meninggalkan ruangan, Sarah menoleh kembali ke arah Hellena. "Tenangkan dirimu Nak, aku akan meminta dokter untuk segera memulangkanmu." Hellena yang masih menangis hanya mengangguk dan tak banyak bicara. Hanya satu keinginannya, ya, dia sangat ingin pulang dan menemui suaminya. Atas instruksi yang diberikan Dokter David, keduanya lalu keluar dari ruang Hellena dan mengikutinya menuju kantor. Perasaan keduanya campur aduk, bertanya-tanya dalam hati kira-kira pesan dan wacana apa yang akan mereka bahas nanti setibanya di kantor. Memasuki ruangan berudara dingin, Sarah dan William yakin jika ruangan rapi dan serba putih itu adalah ruangan dimana dokter David bekerja selama ini. "Silakan duduk Tuan dan Nyonya," ucap Dokter David mempersilakan sembari duduk di kursi putar miliknya sendiri. Sarah dan William hanya menurut, mereka duduk dengan perasaan gusar yang tak bisa ditutup-tutupi oleh apa pun. Keduanya terus memperhatikan sang dokter yang menatap rekam medis milik Hellena. "Baik Bu, Pak, saya ingin membahas mengenai penyakit yang diderita Nona Hellena saat ini dimana kita tahu bahwa nona ini dibawa kemari dalam keadaan tak sadarkan diri setelah mengeluh dadanya sakit." Dokter David memulai ucapannya sambil menatap wajah Sarah dan William bergantian. "Karena kondisi yang belum stabil dan juga harus melakukan pengecekan intensif maka kami sebagai pihak rumah sakit menyatakan bahwa untuk sementara waktu Nona Hellena biar tinggal disini hingga sembuh." "Apa Dok? Apa itu artinya dia belum boleh pulang?" William terkejut, mewakilkan apa yang dirasakan oleh Sarah saat ini. Dokter David menghela napas lalu menggeleng pelan. "Belum Pak, kondisi Nona Hellena sangat lemah. Jika dia pulang, yang saya takutnya adalah kondisinya yang mungkin bisa drop sewaktu-waktu. Jadi daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka akan lebih baik lagi jika Nona Hellena dirawat inap sampai sembuh." Sarah terbengong, tak percaya jika sakit yang diderita putrinya kemarin kini berimbas buruk bahkan jauh lebih buruk dari bayangannya. "Dokter, apa tidak bisa rawat jalan saja? Putri kami ingin segera pulang dan dia kelihatan begitu tertekan Dok." David menggeleng lagi, kali ini dengan mimik wajah sedih. "Nona Hellena sakit parah, Bu. Dia tidak sedang sakit gigi atau sakit hati. Anak ibu butuh perawatan intensif setiap waktu. Jika sesuatu yang buruk terjadi selama di rumah, apakah Ibu bersedia menanggung kerugian baik materi atau nyawa?" Sarah dan William saling tatap, mereka menggeleng lemah. Dokter tersenyum tipis ," Itulah Bu, sebaiknya kita bersabar ya. Saya yakin Nona Hellena kuat menjalani semua ini." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD