Kirana mematut dirinya di cermin cukup lama, ia menjinakan rambut singanya yang mengembang buas hingga terurai lurus sempurna. Ia memandangi berpose pada cermin full body memperhatikan penampilannya.
Bajunya sudah ia setrika licin dengan aroma fresh buah yang mengelilingi. Pipinya semi merona dengan bubuhan blush on tipis dengan bibir pink yang ia beri sedikit perona agar tak terlihat pucat.
‘Rasanya terlalu berlebihan,’ gumam Kiran memandang cermin dari jarak dekat, tangannya diletakan di dagu sembari memamerkan senyum lebarnya. Ia melihat kesempurnaan Tuhan di hadapannya. Cantik, sangat cantik. Itu yang ada dalam benaknya.
Telunjuknya mengetuk bibirnya berkali-kali. “Apa aku memang secantik ini biasanya?” gumamnya lagi diakhiri dengan senyum manis. Ia memberi wink pada pantulan dirinya dan bergegas keluar rumah setelah mengambil tas kerjanya.
Ia mengutamakan keamanan tempat tinggalnya, ia tak pernah lupa untuk mengunci pintu depan dan saat ia berbalik badan, pandangannya mengerjap dan terbengong untuk beberapa saat. Ia mematung.
“Selamat pagi, Bu.”
Kiran mengibaskan tangannya di depan mata berkali-kali, takut-takut jika ia berhalusinasi. Tanpa kata, seorang pria tiba-tiba muncul di depan rumahnya sepagi ini, memberi senyum dan sapa dengan wajah begitu ceria.
“Ka—kamu ngapain disini?” tanya Kiran yang akhirnya sadar jika sosok di depannya adalah nyata. Putra Bagaskara, pria itu sudah ada di depan rumahnya tertanda saat ini masih jam setengah tujuh.
“Cuma mau berangkat bareng.”
“Ibu gak mau dibonceng kaya kemarin.”
“Putra juga ga nawarin ibu buat bonceng kok.”
Kirana membeku beberapa saat, kalut dengan pikirannya dan memilih untuk mengabaikan muridnya. Seragam putih abu-abu sudah membuat Kiran sangat sadar, jika ia tak boleh lengah terhadap muridnya. “Kamu harusnya ga perlu buang waktu ke rumah ibu segala, apalagi jaraknya lumayan jauh dari sekolah.”
“Aku ga buang waktu kok, ibu saja yang berangkatnya terlalu santai. Aku udah disini dari lima belas menit yang lalu.”
Kiran menghentikan geraknya, ia baru saja akan memasang helm. “Lima belas menit? Kamu nunggu disini?”
“Iya, ibu pasti dandannya lama.”
Kirana berdecih mendengar ocehan muridnya dan memilih untuk menutup wajahnya dengan helm. Ia sudah memutuskan untuk mengabaikan muridnya kali ini dengan serius. Ia menyalakan mesin motornya, sedikit memanaskannya dan mengendarainya dengan santai. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang karena Kirana bukan pengebut atau penyalip handal.
Pandangannya tertuju pada kaca spion di depannya.
‘Ini gila!’
Sesampai di sekolah, keduanya berpisah karena parkiran motor yang berbeda. Kiran sesegera mungkin bergegas menuju ruang guru agar tidak berpas-pasan dengan muridnya, Putra.
Berhasil, namun pesan singkat lagi-lagi membuatnya terdiam.
‘Karena ibu ga ngajar di kelas hari ini, sampai jumpa di jam pulang sekolah.’ Pesan dari
Putra yang membuat Kiran lagi-lagi hanya terdiam. Dalam satu tahun mengajar, baru kali ini ia merasa begitu waspada, khawatir dan juga takut secara bersamaan menghadapi muridnya. Meski terkadang, tanpa bisa disangkal ada rasa senang dan juga merasa begitu istimewa.
‘Jam pulang? Apa yang harus kulakukan?’
***
Jam istirahat kantin, lapangan sepak bola, lapangan basket, perpustakaan hingga taman ramai oleh para siswa yang tengah menikmati jeda pelajaran. Hanya beberapa murid yang tersisa di dalam kelas, termasuk Putra yang sejak tadi berkutat dengan ponselnya.
Sekolah memang tidak melarang siswanya membawa ponsel, kecuali jika digunakan saat jam pelajaran, penyitaan tanpa ampun akan dilakukan.
“Nih pesenan lo,” ucap Awan─teman Putra membawakan makanan yang di pesan oleh Putra. Pria itu ogah pergi ke kantin yang sesak dan memilih nitip temannya dengan memberi sedikit tips.
“Selain dateng tiba-tiba ke rumah cewek, apa lagi yang mereka sukai?”
“Tanya sama ceweknyalah, ya kali sama gua.”
“Kan lu ga jauh beda sama mereka.”
“Njir! Gue dah semacho berotot gini masih di anggap lekong. Bsoangt memang.” Awan kesal dengan temannya yang satu ini, tiba-tiba saja menanyakan tutorial untuk mendapatkan hati wanita pada dirinya yang jomblo dari lahir.
Putra menepuk kepalanya, mencoba menyadarkan dirinya yang melantur akibat terlalu lama melamun. Ia mengambil takoyaki di depannya dan melahap bulat-bulat. “Masalahnya, ini cewek lebih tua cukup lumayan dari gue, udah kerja.”
“Lu suka tante-tante? Jendes? Hei! Sadar Hei!
Ada Carolina anak blesteran indo-jerman yang demen caper sama lu, ada Vanessa anak Cheerleader yang hobi banget kasih hadiah ke lu dan masih banyak orang yang suka curi pandang ke lu tapi ... lo malah suka sama tante-tante?”
“Ga setua itu. Ini masih perawan ting-ting.”
“Perawan tua maksud lo? Otak lu kudu di cuci kayanya, ah! Mata lo kayanya minus parah kudu di lasik biar normal lagi.”
Putra gedeg sendiri mendengarnya, padahal ia meminta pendapat namun malah mendapat hinaan kecil, tak sampai melukainya hanya saja tak enak di dengar, ia mengibaskan tangannya berkali-kali mengusir halus membuat Awan dengan senang hati pergi ke kursinya.
‘Carolina? Vanessa? Yang mana ya?’ gumamnya sambil menggulirkan pandangannya berkali-kali. Ia memang tak suka bersikap jual mahal, tanpa mengklaim kelebihannya sendiri namun orang-orang sering mengatakan jika Putra sangat baik pada semua orang.
Tak lama seorang wanita datang ke bangkunya dengan memegangi sekotak s**u yang sedang di minum.
“Putra, ini dapet dari guru olahraga katanya suruh kasih ke lo, barangkali tertarik buat ikut,” ucap seorang wanita dengan rambut yang terurai panjang dengan jepit rambut yang terselip di dekat telinga. Matanya berwarna coklat cerah, lebih terang daripada umumnya, berkulit putih dengan hidung yang lancip.
‘Blasteran indo-jerman?’ batin Putra mengerjapkan matanya.
“Guru olahraga?”
“Iya, turnamen.”
“Tumben banget langsung dari guru, biasanya suruh cari sendiri,” gumam Putra sambil mengambil selebaran itu. Wanita itu langsung membuang muka. Putra membaca sekilas brosur yang ada ditangannya sambil mengangguk-angguk paham.
“Adik kelas lagian ga bisa diandelin, jarang banget bikin event atau ikutan acara sana sini, beda sama angkatan kita.”
“Tapi kita juga mulai sibuk persiapan ujian, aku sih bisa-bisa aja ikut tapi ga tahu yang lain, belum lagi kalau ketahuan guru, ntar malah wali kelas yang disalahin, kasih ke adek kelas aja.” Putra mengembalikan brosurnya, ekstrakurikuler memang dihentikan untuk kelas tiga agar fokus untuk ujian kelulusan dan persiapan untuk ujian masuk perkuliahan.
Tryout bahkan diadakan sebulan dua kali, membuat para siswa kelas tiga gila-gilaan mengejar materi, hanya beberapa yang bersikap santai. “Ya udah deh kalau gitu, nanti ku kasih ke adek kelas, aku balik ke kelas dulu.”
Belum sempat membalikan badan, suara Putra sudah menghentikannya. Ucapan to the point yang membuat lawan bicaranya menjadi melayang.
“Minta nomer hp.”
“Bu—buat?”
“Ntar lo juga tahu, ada yang pengen kutanyain,” balas Putra mengedipkan sebelah matanya. Wanita itu membeku, ia menjadi salah tingkah hanya dengan satu kedipan mata. Seperti ada panah cupid yang tertanjap di dadanya. Debaran asing dan perasaan membuncah melingkupi dirinya.
“Oh, oke.”
Putra menghela nafas lega setelah kepergian wanita yang ia tak yakin siapa namanya, ia melirik awan dan menunjuk dengan dagunya. Bibirnya berkata tanpa suara.
“Yang tadi itu, siapa?”