Kirana dengan telaten memaparkan satu persatu point materi dari setiap pilihan ganda yang ada. Mengabaikan Putra yang sedari tadi justru menatapinya. Ia tahu Putra tak fokus sejak awal dan ia memilih untuk diam, lagipula Putra juga cukup aktif menjawab saat ia di beri pertanyaan dadakan, pria itu bisa menjawabnya dengan tepat.
“Temen-temenmu ga jadi dateng ya?” tanya Kiran sembari merenggangkan punggungnya. Ia mengambil segelas air dingin dan meneguknya hingga habis. Ia sudah menjelaskan panjang lebar hingga mulutnya terasa kering dan di depannya, seorang pria hanya meringis kecil, kali ini ia sedikit gelagapan.
Putra salah tingkah.
“I─itu bu, mereka bilang ga jadi.”
“Ga jadi belajar?”
“Bukan, mereka jadi belajar tapi mereka di─di cafe yang tadi.”
“Lain kali kalau mau berbohong, lakukan lebih baik lagi,” sindir Kirana to the point membuat Putra menggigit bibirnya, ia ketahuan. Kiran juga tak bisa marah melihat raut pasrah Putra.
Raut itu justru terlihat menggemaskan. ‘Menggemaskan? Astaga! Aku mikir apa,’ batin Kiran menyangkal pikirannya.
“Lain kali jangan seperti ini lagi.”
Kiran melirik Putra yang menghindari kontak matanya. Kiran menarik sudut bibirnya ke atas, merasa lucu.
Putra sedari tadi menghindari kontak matanya, padahal saat ia menerangkan materi, pria itu terus memandangnya lekat, seakan jika berkedip objek yang dipandangnya akan menghilang.
“Kenapa diam saja? kamu pahamkan?”
“Paham bu, aku ... aku minta maaf,” ucapnya dengan tulus sembari menundukan kepalanya, tangannya mengepal menahan malu. Walaupun begitu, Putra sama sekali tak menyesali kebohongannya. Ia sudah cukup senang saat mendapati dirinya bisa duduk berduaan selama dua jam dengan wanita yang disukainya.
“Ada yang mau ditanyain lagi?” Kiran membalikan buku soal yang sudah tujuh puluh persen terisi. Ujian Kelulusan memang tinggal menghitung bulan dan murid kelas tiga begitu serius mempersiapkannya. Mereka bahkan membeli banyak buku meski tak ada jaminan mereka akan baca seluruhnya.
“Udah cukup bu, eum ... ibu ga langsung pulangkan?”
“Kenapa emang?”
“Makan malam dulu, mamah udah masak.”
“Oh ... kalau gitu ibu pulang habis makan.”
“Kalau gitu aku ambilkan dulu,” ucap Putra bergegas dengan membawa setumpuk buku.
Jalannya tampak tergesa, Kiran mengulum senyumnya erat, ia menahan diri agar tawanya tidak terdengar. Ini kali pertama ia melihat muridnya senekat ini untuk mendekatinya. Bukan ke ge-eran, sekalipun banyak murid yang menggodanya dan memujinya namun kali ini jelas berbeda, ia dibawa ke rumahnya dengan dalih kebohongan untuk belajar. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Kiran melirik arlojinya, waktu mengajarnya sudah habis tapi ia tak bisa pulang begitu saja, ia tak mungkin menolak makan malam yang sudah disiapkan sejak ia datang, terlebih ia juga tak bawa kendaraan, sedikit menyesal karena ia memilih untuk membonceng motor muridnya.
“Ibu ga pilih-pilih makanankan?”
“Makannya disini?”
“Emang ibu mau makan dimana? Di dalam boleh sih, tapi takut ibu ga nyaman. Orang tuaku juga udah makan duluan.”
“Ibu jadi merepotkan.”
“Putra yang bikin ulah,” balasnya dengan santai menyusun makanan yang dibawanya.
Kiran bahkan tak bisa berkata banyak melihat muridnya mendorong troli berisi makanan, rumah orang kaya memang sangat berbeda, bukan sekedar nampan, tapi troli dorong seperti yang biasa ia lihat di rumah sakit ataupun hotel.
“Orang tuamu ga nanya yang aneh-aneh?”
“Sebelum mereka tanya yang aneh-aneh, aku udah duluan bicara yang engga-engga, bu.”
“Oh ... oke, kalau gitu ibu ga mau dengar.”
Putra terkekeh mendengar jawaban dari wanitanya, cukup puas karena ia menjawab dengan bijak. Ia juga akan canggung jika harus menjelaskan. Tidak mungkin ia harus menjelaskan sebesar apa rasa suka yang dimilikinya pada Kiran, ia hanya bisa menceritakan pada orang tuanya.
Untuk hal privasi, ia lebih nyaman untuk menceritakan langsung pada orang tuanya daripada teman sepermainannya.
“Lain kali, kalau emang mau belajar private, bilang aja. Ga perlu bohong apalagi sampai ke rumah kaya gini. Sekarang udah banyak cafe belajar, perpustakaan yang bisa dibuat tempat kumpul,” ucap Kiran sambil mengaduk mangkuk sayurnya. Putra yang dihadapannya mendengarkan dengan serius. Perasaannya membuncah, wanita di depannya bak memberikan lampu hijau untuknya. Alih-alih marah dan menyetop tindakan dirinya, Kiran seperti memberi kesempatan pada Putra.
“Jadi boleh bu kalau semisal Putra minta diajarin lagi sama ibu?”
“Asal sesuai konteks, belajar dan ga perlu sampai ke rumah kaya gini.”
Mendengar jawaban itu, Putra terkesiap. Ia sungguh tak menyangka jika setelah yang dilakukannya, ia masih boleh ‘belajar’ bersama. Ia sudah sangat khawatir jika sikap gurunya akan berubah setelah kebohongannya.
Hatinya menghangat, ia merasakan jika peluang itu benar-benar ada.
***
Pukul setengah delapan, Kirana baru tiba di kontrakannya. Tubuhnya terasa pegal, matanya mengerjap menatapi langit-langit kamarnya. “Kirana bodoh!” rutuknya pada diri sendiri. Ia menghentakan kedua kakinya kesal. “Aku yang harus menghentikannya, tapi kenapa justru aku yang ikut penasaran,” lirihnya memejamkan mata.
Bayangan pertemuan tadi kembali muncul begitu jelas, bayangan putra yang salah tingkah karenanya, pertemuan dengan orang tua Putra yang cukup mengejutkan namun di lubuk hatinya, itu juga terasa menyenangkan.
Ia sangat menyadari jika Putra menyukainya dan ia harus menghentikannya, namun ia justru terjebak. Ia penasaran dan ingin mencoba masuk ke dalam permainan percintaan anak SMA.
“Apa karena dia orang kaya?” monolognya seorang diri tanpa henti. Rumah Putra menjulang tinggi berbanding terbalik dengan kontrakan miliknya yang hanya sepetak. Bukankah banyak wanita yang goyah karena harta?
“Padahal aku sudah punya Elang,” gumamnya lagi kembali menghentakan kakinya frustasi. Ia terus berguling tak karuan di kasur minimalisnya. Hingga dering telpon mengejutkannya.
Mata Kiran berbinar cerah dan dengan cepat ia merogoh tasnya, mengambil ponsel.
“Oh my bebeb, kamu penyelamat kegundahan hatiku,” seru Kiran bergegas menuju meja riasnya. Ia duduk dengan tegak, menyalakan ringlight dan memasang ponselnya pada holder phone. Kiran mengambil lip cream andalannya dan membubuhinya tipis. Biarpun sudah malam, ia tetap harus cantik di depan kekasihnya. Apapun situasinya.
“Kebiasaan ya, kalau nelpon angkatnya lama banget,” ucap Elang yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur. “Hpku tadi di tas, jadi ambilnya lama,” sangkal Kiran menyunggingkan senyumnya, memamerkan garis bibir yang melengkung sempurna. Elang selalu mengatakan jika senyumnya sangat cantik.
“Pulang jam berapa tadi? Pesanku sampai dianggurin gitu. Pasti pusing banget ya ngajar tambahan.” Kiran menggeleng cepat. “Engga, engga cape sama sekali,” sahut Kiran cepat, tangannya bergerak mengecek pesan yang masuk dari Elang namun pandangannya tertuju pada nama lain yang terpajang disana.
‘Lapor, Putra pulang dengan selamat. Terima kasih untuk hari ini.’
Kiran membeku cukup lama, senyumnya terukir tipis dengan matanya yang berbinar cerah, ia meremat jari-jarinya memikirkan balasan yang pantas dan tak mencurigakan. Jemarinya kembali aktif mengirimkan pesan balasan.
‘Sama-sama.’
“Lihatkan, berapa pesan yang ku kirim dan kamu ga ada bales sama sekali.” Ucapan Elang bahkan tak terdengar. Alih-alih membuka pesan dari Elang, ia justru membuka foto profil Putra dan memandangi cukup dekat. Foto itu tampak gagah, sama seperti yang dilihatnya hari ini. Tak ada citra anak SMA yang membuatnya lupa.
Elang sedari tadi hanya mengamatinya dari layar ponsel, wanitanya terus diam tak menjawab ucapannya.
“Sayang,” panggilnya dan masih terabaikan. Ia juga mengetuk ponselnya berkali-kali namun tetap, Kiran hanya diam sambil tersenyum.
“Sayang? Kirana? Halo? Annyeonghaseo?”
Deg!
Kiran mengerjapkan matanya. Ia teringat jika sedang menelpon kekasihnya. “Ah maaf kayanya aku kecapean deh,” sahut Kiran gugup, sembari memijat pelipisnya. Matanya bergulir ke kanan dan ke kiri menghindari kontak mata pria dalam ponselnya.
“Katanya ga cape sama sekali. Ya udah istirahat dulu, besok ku telpon lagi. Nice dream baby. I love you.”
“Love you too.”