3 :: TIPUAN MANIS

1375 Words
Lima belas menit lamanya, akhirnya mereka sampai di kediaman Putra. Ia merasa tertipu saat melihat rumah megah yang di masukinya, baru halaman rumahnya saja sudah seperti kediaman artis papan atas, jarak antara gerbang dan pintu utama yang cukup jauh, belum lagi air mancur dengan taman mini yang membuat Kiran harus menahan diri untuk tidak berselfie. Seapik itu, deretan bunga berwarna-warni dengan macam jenis yang berbeda. Nuansa sejuk nan hijau yang tampak segar untuk sekedar berteduh, jauh berbeda dengan suasana luar gerbang yang panas nan gersang. ‘Rumah idaman banget,’ gumam Kiran memandangi jendela yang begitu mengkilap. Daripada rumah, ia seperti melihat sebuah kastil semi modern. ‘Orang kaya itu ... beneran ada ya? Bukan dongeng semata.’ “I—ini jadi belajarnya dimana?” tanya Kirana mencoba kembali fokus, awalnya ia ingin memastikan jika rumah yang dimasuki benar, agak khawatir jika yang dimasuki malah rumah tetangga namun mengingat bagaimana gerbang rumah itu yang terbuka. Kirana memutuskan untuk diam, ia tak mau bersikap norak dan memalukan. Cukup hatinya saja yang bergumam kagum. Pertanyaan Kirana pun masih masuk akal, karena dari sepanjang matanya mengedar, tak ada gazebo seperti yang dimaksudkan oleh Putra. Hanya taman dengan air mancur dan beberapa ayunan yang terpasang. “Di dalem gazebonya, Bu.” Putra melepas helm dan mengibaskan rambutnya. Ketampanannya naik berkali-kali lipat menurut kepercayaan dirinya. Ia mencoba menebarkan pesona pada wanita dihadapannya yang tampak begitu acuh. "Jadi Ibu harus masuk?” “Lagian mau dimana lagi, Bu. Dulu pernah gazebo dibangun diluar tapi kata temen-temen SMPku keluargaku kaya orang pelit karena ga bolehin temennya masuk, jadi di pindah ke dalem.” Kirana memadang ragu pintu utama yang tak kalah megah, dua kursi rotan dengan tipe ayunan menyapa di pintu masuk, Kirana hanya meneguk ludah mengikuti langkah Putra sepanjang jalan. Ia tak pernah menyangka akan melihat rumah sebesar ini selama hidupnya. Tak sekedar melihat namun juga menapaki lantai yang seluruhnya terbuat dari marmer. ‘Mewah ga ketulungan, keramiknya aja sekinclong ini.’ Jiwa norak dan kemiskinannya meronta tak mau diam. ‘Orang tuanya kerja apa ya bisa sampai punya rumah semewah ini.' “Ayah … Ibu … Putra pulang,” teriaknya dengan suara lantang. Ruangan itu begitu kosong nampak tak berisi. “Ayo masuk, Bu.” “Kamu ga bilang ada orang tuamu.” Kiran menarik langkahnya ragu. Tubuhnya membeku, ia merasa tidak sopan karena tidak ijin terlebih dahulu pada pemilik rumah. “Emang ibu maunya ga ada orang tuaku? Bukannya malah bahaya? Aku cowok loh.” Kirana mengernyit pura-pura tak mengerti maksud ucapan pria di sampingnya. Wajahnya menampakan sisi polos sambil melongok menunggu kehadiran orang tua Putra untuk ia salami. "Owalah, ini toh pacarnya Putra, cantik banget! Emang pinter yah anak jaman sekarang kalau cari jodoh." "Saya bu—" “Lho emang jaman dulu gimana? Ayah salah pilih jodoh gitu?” “Sembarangan kalau ngomong, silakan nak duduk dulu biar ibu bikinin minuman.” Kirana melongo mendengarnya. Suaranya bahkan diserobot tak terdengar. Pacar? Apa penampilannya terlihat masih begitu muda sampai orang tua Putra mengira ia kekasihnya, ia bahkan sudah mengenakan pakaian semi formal dengan tas besarnya. Ia bahkan tak berdandan sampai bisa memikat hati seoran pria, ucapan wanita paruh baya di depannya cukup berbahaya. “Ga perlu repot-repot, Bu. Saya juga bukan pacarnya Putra, saya gurunya Bu, mau ngajarin tugas.” “Lho gurunya? tapi Putra kemarin bilang mau bawa pacarnya. Dia juga ijin bilang mau jemput pacarnya kok, ibu juga udah masak karena nak Kirana mau dateng.” “Putra ... bisa jelasin?” kali ini suara ayahnya yang menginterogasi membuat Putra meringis kecil. “OTW jadi pacar Bu, he he he.” Putra hanya terkekeh kecil, menghindari tatapan mata dari wanitanya. Waspada. “Putra," tegur Kiran tak nyaman. “Beneran, Bu. Putra serius.” Kirana menghela nafas berat, jika bukan karena dirinya berada di kediaman Putra mungkin sudah habis Putra dihajar olehnya. “Ga papa, ga usah malu-malu. Kami juga dulu kaya gitu. Ibu Putra guru saya waktu SMA.” Putra tersenyum lebar mendapatkan pembelaan dari ayahnya. Dia adalah salah satu motivasi mengapa ia ingin memiliki kekasih seorang guru. “Tapi saya disini mau mengajar Putra, Pak ... Bu,” ucap Kirana sesopan mungkin. “Udah fasih juga manggil Pak, Bu. Tinggal tunggu Putra lulus dan sukses.” “Ibu,” panggil Putra meminta untuk tidak meneruskan, matanya dikedipkan agar ibunya tak terus menggoda Kiran. Khawatir wanitanya semakin tak nyaman dan kabur dari dirinya. “Kita makannya nanti habis belajar ya Bu,” ucap Putra meraih lengan Kiran begitu saja. Tanpa penolakan dan tak bisa di tolak, Kiran hanya mengikuti langkah pria di depannya dengan tangan yang mencengkram lembut lengannya. Ruangannya cukup luas, ia melewati beberapa ruangan dengan pintu kaca menampakan ruang gym, dapur dan tempat bermain. “Gazebonya disana, Bu.” Putra membuka pintu belakang. Hamparan rumput sintetis terlihat menyejukan mata. Dengan kaki telanjang keduanya berjalan menuju gazebo. Ada juga kolam renang di sebelahnya tersekat oleh dinding kaca. “Ibu tunggu disini ya, biar Putra ambil buku dulu.” Kirana tak sempat menjawab karena pria itu lebih dulu berlari meninggalkannya. Kirana terhenyak. Cita-citanya juga memiliki rumah sebesar ini, rumah yang biasa ia lihat di homedecor. Ia bahkan melupakan sejenak rasa kesal dan bingung mengenai kedatangannya. Kakinya gatal untuk tidak jalan-jalan, sudah dua menit ia menunggu muridnya namun tak kunjung kembali. Langkahnya pelan menggelitik saat rumput sintetis itu menyapa kakinya. “Bunganya cantik-cantik banget,” gumamnya memandangi bunga yang begitu warna-warni dalam satu petak yang sama. “Itu bunga dahlia,” ucap Putra yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Salah langkah dan terkejut sedikit saja ia bisa terjengkang. “Kalau ibu mau, nanti Putra pisahin biar bisa ibu bawa ke rumah.” “Udah ambil bukunya?” tanya Kiran yang dibalas anggukan tipis. Tak hanya buku, beberapa camilan juga sudah terhidang. “Ada tukang kebunnya ya? Kayanya terawat banget.” “Iya bu, ada yang ngerawat.” “Ya udah, yuk mana yang mau dikerjain?” Kiran menganga memandang buku yang menumpuk begitu banyaknya. “Serius mau ngerjain sebanyak ini dalam 2 jam?” “Engga sih, biar keliatan belajar aja,” kekeh Putra mengambil satu buku paling tipis. Buku kumpulan soal yang diprediksi akan banyak keluar tipe sejenis. Setidaknya itu yang terus di gemborkan oleh guru bimbelnya. “Tapi kamu beneran bilang ke ibumu kaya gitu?” Putra mengerjap tak paham. “Bilang apa?” “Bilang pacarmu mau dateng sampai minta ibumu masak?” Putra salah tingkah, tengkuknya terasa dingin tiba-tiba. Ia meringis kecil dan mengangguk. Ia tak mungkin menyangkal karena dia bukan pembohong. “Orang bilang, ucapan bisa jadi doa. Jadi apa salahnya.” “Kamu masih sekolah lho, belum lulus dan jalanmu masih panjang. Jangan mikirin cinta-cintaan yang belum pasti.” Putra mengangguk, sopan santun kala mendengar nasihat tentu dengan tidak menyangkal. “Kalau bercanda ke orang lain ga masalah, tapi masa kamu juga bohongin ibumu bilang kalau mau bawa pacar.” “Ga bohong kok, aku bilang ke ibu mau bawa calon pacar,” balas Putra dengan senyum mengembang. Ia buka halaman perhalaman hingga menemukan soal yang dicarinya, hanya untuk pengalihan. Ia tak mau wanita di hadapannya semakin ilfil dengan sikapnya yang seenaknya, hanya saja ... untuk pertama kalinya ia nekat seperti saat ini. Ia berharap ada sedikit getaran berbeda yang dimiliki oleh Kiran untuknya, getaran yang akan tumbuh kian besar kala ia sedikit menggodanya. Ia ingin mengganggu pikiran Kiran. Membuat Kiran terus memikirkan hingga merindukannya. “Tapi Bu, kalau ibu kasih ucapan buat semangat belajar aja, aku pasti semangat. Aku ga punya pacar yang bisa kasih semangat, sekalinya punya pasti ngajak pergi mulu bukan ngajak belajar.” “Jadi ibu harus sering-sering kasih kamu ucapan semangat?” “Iya, aku usahain bisa dapet nilai eum ... paralel sepuluh besar atau harus sampai lima besar?” “Senyamanmu aja, ayo udah mana soalnya.” Kiran memilih mengabaikannya, beralih pada latihan soal dihadapannya. Biologi adalah keahlian utamanya, matanya mengerjap mengulang membaca soal dan mengangguk paham. Materi DNA dan RNA memang materi yang paling banyak di keluhkan murid di kelasnya. “Oh, oke ibu bisa.” Putra tersenyum cerah, bukan karena soalnya yang terpecahkan melainkan kencan studynya. Ia selalu menyukai gurunya yang menerangkan begitu detail. Daripada materinya, ia lebih menyukai cara dan suara wanita itu berbicara. ‘Cantik, pintar dan pengertian. Bagaimana mungkin aku tak suka.’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD