Pagi ini terasa asing, padahal baru dua hari mengambil cuti namun perasaannya berbeda. Ia takut ditanya-tanya, terlebih alasannya terdengar sepele. Menjaga muridnya yang kecelakaan? Bukankah sangat aneh. Terlebih keduanya tak memiliki hubungan kekerabatan. Seorang murid saja yang ijin untuk pernikahan teman, paman atau teman dekat pun dianggap alfa karena alasannya yang tidak terlalu mendesak. Terlebih Kirana yang mengambil cuti untuk menjaga orang sakit. Sesampai di sekolah ketakutannya tak terjadi, tak ada satupun dari mereka yang bertanya atas ketidakhadirannya selama dua hari ini. Keningnya mengernyit dengan bibir mengerucut. ‘Segitunya ga ada yang peduli denganku,’ batin Kirana. Padahal ia sudah menyiapkan seribu argument jika ditanya namun tampaknya semua itu sia-sia. Bel berbunyi

