Arseno tidak kembali ke apartemenku selama dua hari. Dia memberiku waktu dan ruang untuk berpikir. Aku sedikit bersyukur dia tidak kembali, setidaknya aku tidak lagi merasakan suasana canggung ketika berada di dekatnya. Berliana tidak bertanya apa-apa kepadaku saat aku datang dengan wajah bengkak dan menangis, dia malah menenangkanku. Bahkan hingga sampai keesokan harinya, dia bersikap biasa saja padaku. Seolah-olah aku tidak datang kepadanya malam itu dengan kondisi berantakan. Berliana memang benar-benar menghargai privasi temannya, dan aku beruntung memiliki teman seperti dirinya. Aku tidak tau harus menceritakan ini pada siapa. Pada Sakti, hubungan kami tidak sedekat itu. Dia memang penyelamatku, heroku. Tapi ini sudah berada di batas privasi yang tidak ingin kubagi pada siapapun disi

