Enam

1944 Words
Arsen sangat tampan saat memimpin rapat. Dulu saat kami masih satu organisasi, aku betah berlama-lama memandangnya yang membicarakan ini itu dan menanyakan pendapat-pendapat kami. Juga saat kami bertemu lagi beberapa tahun kemudian dalam sebuah project pekerjaan. Dia menjadi wakil dari perusahaan kontruksinya, yang akan berkerjasama dengan kantor konsultanku. Dia memang tampan, tapi saat dewasa dia menjadi lebih tampan. Aku tidak tau kapan tepatnya aku jatuh cinta padanya. Arseno dari awal membuatku tertarik. Tapi aku tidak berani membuatnya menyadari bahwa aku tertarik. Jadi sebagai gantinya, hanya aku satu-satunya wanita di departemen kami yang tidak menunjukkan kegugupan saat berkomunikasi dengannya di awal-awal, saat aku masih jadi staff. Aku tidak mau dia besar kepala karena mengetahui aku suka padanya. Tapi kurasa bukan saat itu aku jatuh cinta padanya, tapi saat pertemuan kami beberapa tahun selanjutnya, tepat saat kami mengobrol panjang lebar di café sebuah mall yang merupakan tempat rapat kami saat itu. Tiga jam yang bisa mengubah hidupku selanjutnya. Setelah pertemuan itu, kami melanjutkan obrolan di chat. Dia orang yang berwawasan luas dan luwes, dia juga humble, aku tidak pernah merasa kehilangan bahan obrolan saat bersama dengannya. Meskipun pembicaraan kami tidak bermuara pada satu titik, dia bisa menghargaiku ketika bercerita. Begitu pula aku. Kecocokan itu pula yang membuatku mengangguk saat dia mengutarakan ingin menikahiku dan tidak mau pacaran. Aku bahagia sekali, gebetanku dulu saat kuliah tiba-tiba melamarku dan tanpa pacaran. Aku memang tidak terlalu memusingkan kesendirian, lebih baik sendiri dan menggunakan waktu seproduktif mungkin daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Ternyata, Arseno juga memiliki prinsip yang sama. Kami menikah enam bulan kemudian. Saat malam pertama, tidak ada yang kami lakukan selain bercerita tentang beberapa teman kuliah yang datang ke acara resepsi kami. Tidak ada adegan panas, karena kami kelelahan. Setelah obrolan habis, kami merasa sangat canggung, kemudian memutuskan untuk tidur. Tidak ada tidur dengan pelukan, kami yah.. Kami. Malam pertama kami berlangsung beberapa hari selanjutnya. Saat itu Arseno pulang dalam keadaan lelah sekali, dan aku baru saja keluar dari kamar mandi. Aku menyuruhnya mandi saat itu, namun yang dia lakukan mencium dan memelukku hingga senggama kami yang pertama terlaksana dengan sukses. Kupikir, aku akan malu-malu saat pertama kali kami melakukannya, ternyata tidak sama sekali. Meskipun pangkal pahaku nyeri dibawa berjalan, aku tetap bisa masuk kantor di hari berikutnya. Kami tidak memiliki waktu untuk bulan madu. Belum sempat. karena kami sama-sama sibuk. Setelah malam yang panas itu, Arsen tidak pernah lagi malu-malu untuk meminta dan menggodaku. Kami lebih sering melakukan di pagi hari daripada malam hari. Malam hari hanya digunakan apabila kami memiliki waktu yang panjang dan ingin bermanja-manja satu sama lain. Kupikir, dia yang seperti itu telah mencintaiku. Kami jarang bermasalah. Arseno tidak pernah mengutarakan dia cemburu. Dia hanya memperingatiku untuk menjaga diri di depan laki-laki, dia pula yang menyuruhku untuk menggunakan penutup kepala. Aku menurutinya, tidak ada gunanya melawan, lagipula aku sukarela melakukannya. Tapi ternyata ketidakcemburuannya itu memang mengindikasikan sesuatu. Aku lebih sering marah padanya karena cemburu, seolah-olah takut kehilangannya. Tapi dia ternyata tidak takut kehilanganku, karena dia memang tidak mencintaiku. Tidak pernah. Aktivitas panas kami hanya sebatas itu. Tidak terbawa perasaan. Aku saja yang besar kepala terpengaruh novel-novel romantis dan menganggap bahwa semua itu bisa memupuk perasaan cinta, semakin sering kami melakukannya semakin besar pula cinta yang kami miliki satu sama lain. Bullshit! Sejak tau hal itu, aku memang melakukan penyelidikan khusus untuk suamiku. Aku memang istri yang durhaka, tidak mempercayai suami sendiri. Mulai pada penyelidikan itulah, maka mulai pula kepercayaanku padanya dan pada diriku sendiri terkikis. Berbulan-bulan aku melakukannya, maka berbulan-bulan pula rasa cinta yang menggunung itu habis karena kecurigaan dan langsung dihantam badai karena kekecewaan. Tidak ada lagi yang tersisa. Aku tidak sanggup hidup dalam kekecewaan. Lebih baik aku meninggalkannya dan sakit hati. Itu memang menyakitkan, tapi hidup dalam kekecewaan akan jauh lebih buruk dari apa yang kurasakan saat ini. Setidaknya sekarang aku berhasil memonopoli diriku sendiri. Tidak ada lagi Arseno yang mengatur-ngatur hidupku, tidak ada lagi Arseno yang meluluhlantakkan aku. Tidak ada lagi dia sampai dia datang ke kehidupanku yang tenang. Aku membencinya, tapi aku masih mencintainya. * Aku terbangun dalam mata yang luar biasa bengkak. Tidak perlu berkaca, aku bisa merasakannya saat dua kelopakku sulit untuk dibuka. Aku menangis berjam-jam tadi malam, sampai-sampai tertidur dan membiarkannya memelukku seperti ini. Aku menyingkirkan tangannya dari pinggangku dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat kudapati bercak darah di celana dalamku. Aku jadi mengerti kenapa aku begitu emosional akhir-akhir ini. Aku keluar dan mencari pembalut. Setelah mendapatkannya, aku kembali ke kamar mandi. Aku bersyukur stress membuat haidku datang lebih awal, seharusnya jadwalnya minggu depan. Karena aku begitu stress, dia menjadi maju seminggu. Jadwal haidku teratur. Tidak seperti wanita lain, aku bisa menandai tanggal-tanggal haidku di kalender. Ini juga akan membuat kemungkinan paling buruk tidak akan terjadi. Aku dan arseno sama-sama dewasa. Dan kami memiliki ketertarikan fisik sebelumnya. Kami memiliki kebutuhan. Tidak akan mungkin kami tidak merasakan getaran tinggal berdua di kamar ini, dan bisa saja hal yang paling tidak kuinginkan terjadi. Kalau aku berhubungan badan dengannya, aku harus menunggu dua tahun lagi untuk bercerai dengannya. Benar kan? Suami istri saling memenuhi kebutuhan. Jika aku bercinta dengannya dalam tiga minggu ini, aku yang akan kesulitan melakukan gugatan cerai, karena kami melakukan aktivitas suami istri disaat kami masih memiliki status. Aku tidak ingin membiarkan kemungkinan itu terjadi. Saat di kamar mandi, aku menatap dua mata bengkakku dengan nanar. Bisa-bisanya aku menangis seperti tadi malam. Aku benar-benar melampiaskan segalanya lewat tangisanku, juga ketakutanku. Hari ini, aku akan lebih terkontrol lagi dan aku harus menyusun strategi untuk membatalkan niat apapun yang arseno jalankan sekarang. Aku tidak akan memberinya kesempatan. Aku menggulung rambutku dan mulai memasak. Aku terbiasa memasak pagi. Sehingga jadwal tidurku memang lebih sempit dibandingkan orang-orang. Aku tidak begitu suka masak di sore hari kalau-kalau tidak ada acara. Setelah selesai makan, aku akan menyusun pakaian kotor dan membawanya ke ruang laundry. Aku terhenyak melihat beberapa pakaian kotor Arsen di atas tasnya. Menurunkan egoku, aku meraihnya dan membawanya keluar untuk dicuci. Aku menghabiskan satu jam untuk disana. Kemudian aku masuk lagi ke apartemen dan menemukan Arseno sudah berada di sofa dan menghadap ke arahku. Dia sepertinya baru bangun. Aku mengabaikannya dan langsung melesat ke lemari, membawa serta baju yang akan kupakai hari ini. Aku tidak ingin menyapanya. "Kamu kemana? Bangun-bangun nggak ada kamu, aku panik" ujarnya saat aku masih berpikir baju apa yang akan kupakai hari ini. Aku menoleh sebentar. "Aku nyuci. Pakaian kamu juga udah aku cuci. Besok-besok—" "Besok-besok aku harus nyuci sendiri?" Aku menghela nafas dalam. "Besok-besok kalau ada pakaian kotor, kamu taruh di keranjang warna biru. Biar aku nggak kesusahan kalau mau nyuci" jelasku, membuat Arsen terkekeh pelan dan mendekatiku. Aku mundur kearah lemari saat menyadari dia berdiri terlalu dekat. "Kamu udah janji nggak akan berbuat nggak sopan dan melecehkanku" ingatku, mengingat kata-katanya di lift semalam. Arseno menghela nafas dalam dan menatapku. "Kamu benar-benar nggak akan ngasih aku kesempatan, ya?" Aku menggelengkan kepala dan berbalik untuk mencari lagi baju yang akan kupakai. Kenapa semakin lama persediaan bajuku semakin menipis saja, padahal lemari ini sudah penuh dengan pakaianku. Aku menimbang-nimbang dan memutuskan untuk memakai kemeja lengan panjang dan jeans hitam. Aku akan membawa coat nanti jika hujan tiba-tiba turun. Akhir-akhir ini cuaca jerman buruk sekali. Sekalinya hujan, sekalinya terang benderang. Padahal ini sudah masuk musim gugur. "Kenapa, Sa?" Aku menghela nafas mendengarnya seperti itu lagi. "Karena kamu b******k" "Kalau aku nggak b******k, kamu mau kembali sama aku?" Aku kali ini benar-benar kesal. "Kembali sama kamu cuma akan motong umurku. Udahlah, Ar. Kamu talak aku dan kita selesai sampai disini. Ini juga kan yang kamu mau?" Aku tidak tahan lagi mengucapkannya, aku tidak mengerti padanya, dia mencintai perempuan itu, sekarang dia mengemis-ngemis perhatian seperti ini kepadaku. Seharusnya dia sudah hidup bahagia karena aku bukan lagi penghalang baginya. "Kapan sih kamu nggak ngomong pake urat sama aku? Aku cuma bicara baik-baik, Sa. Kamu nggak perlu emosi seperti itu" Melihatmu saja aku sudah emosi. "Kamu lupa, kamu yang bikin aku begini? Aku capek berdebat denganmu. Nggak akan membuahkan hasil. Keinginanku tetap sama. Bercerai dari kamu. Kamu bisa milih perempuan manapun yang mencintai dan kamu cintai. Aku bisa hidup tenang lepas dari kamu" Aku diam ditempatku. "Aku udah berusaha sabar dua hari ini menerima kamu, Ar. Bukan berarti kamu bisa seenaknya masuk ke dalam hidupku" "Apa karena Sakti? Apa kamu mau menjalin hubungan dengan Sakti?" Aku melotot kearahnya tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Bisa-bisanya dia menuduh orang lain atas sesuatu yang dibuat oleh tangannya sendiri. Aku benar-benar tidak percaya. "Nggak usah nuduh-nuduh Sakti. Mau bagaimanapun hubunganku dengan Sakti, itu bukan urusan kamu lagi" Aku bisa melihat kilatan emosi saat menatap Arsen. "Jelas urusanku! Kamu masih berstatus sebagai istriku. Nggak seharusnya kamu dengan laki-laki lain" Aku tertawa sumbang mendengarnya. Miris sekali. Seolah-olah aku yang paling jahat dari kisah kami. Benar-benar luar biasa. Memangnya dia pikir aku w************n yang mengobral dirinya ke sembarang laki-laki dan tidak tau akan martabat? "Istri yang menggugat suaminya. Istri yang mau lepas diri dari suaminya" ralatku cepat. Arsen mengepal tangannya, wajahnya sudah memerah. "Apa maksud kamu?" "Seharusnya kamu ucapkan itu pada dirimu sendiri satu setengah tahun yang lalu. Saat kamu masih berstatus sah jadi suamiku, Arsen" Aku menyingkirkan tubuhnya dengan sikutku dan berjalan menuju kamar mandi, untuk mengganti pakaian. Aku tidak yakin akan bisa mengontrol emosiku jika berlama-lama disini. Aku tidak yakin akan bisa mengontrol segalanya saat arseno masih berada disini. * Aku mengaduk-ngaduk occacino bubble-ku dengan sedotan. Aku tidak memiliki mood sama sekali untuk bekerja hari ini. Untunglah bos tidak menyuruhku untuk lembur, aku bisa membebaskan diri dan berkunjung ke kedutaan lalu menyeret sakti duduk disini untuk menetralkan perasaanku. "Jadi... kalian udah menyelesaikan masalah diantara kalian?" Aku mengangkat kepala dan mengerinyitkan dahi. "Gimana bisa selesai? Tiap kali kita bahas itu, selalu bertengkar. Tadi pagi puncaknya" Sakti tertawa pelan didepanku. Dia memang orang yang mengerti diriku. Suamiku saja tidak mengerti akan diriku. Seharusnya memang sakti saja menjadi suamiku. Pikiranku langsung melayang pada kejadian beberapa bulan yang lalu. "Tapi lo nggak bisa menghindar selamanya dari dia, Sa" ujarnya membuatku terdiam sepenuhnya. "Gue belum siap bahas ini, lo tau? Gue aja masih shock status gue masih bini dia. Padahal gue udah nyuruh Adara buat gantiin gue dipersidangan. Orangtua gue nggak ada yang bilang kalau gugatan itu dibatalin. Gue juga masih menyesuaikan diri" curhatku panjang. Aku tidak lagi bisa berpikir sekarang. Satu-satunya hal yang tidak kuinginkan adalah kembali ke apartemen. "Kalau lo nggak pulang malam ini, dia pasti nyari lo. Lo tau berlin malam-malam kan? Bukan nggak mungkin laki lo tersesat" "Dia nggak se bego itu" Sakti mendengus. "Gue tau. Tapi kabur-kaburan kayak gini nggak akan menyelesaikan masalah, Sa. Seharusnya kalian duduk berdua, baik-baik, cerita problema kalian, trus bisa diakhiri dengan romantisnya aktivitas panas. Hehe" entah apa yang lucu dari perkataannya. "Lo pikir gue semurah itu menyerahkan tubuh gue" "Ya nggak gitu maksud gue. Gue nggak bisa ngasih saran, Sa. Daridulu gue tanya, kenapa lo mau pisah sama dia, lo nggak pernah jawab. Lo bilang, ya nggak apa-apa, lo emang mau pisah dari dia. Sekarang dia datang, berjuang buat pernikahan kalian, tapi lonya malah gini" "Lo nggak ngerti" Sakti menghela nafas. "iya gue nggak ngerti, gue cuma bisa jadi tong sampah lo, Sa. Tapi juga lo bisa mengandalkan gue" "Gue nggak tau harus gimana" "Aapa yang lo takutkan sih? Lo takut jatuh cinta lagi sama dia?" Aku tidak yakin aku akan merasakan jatuh cinta lagi setelah kejadian itu dalam hidupku. Aku benar-benar sudah tidak yakin. Hatiku tertinggal di arseno, dan dia membawanya kembali untukku. Lebih dari satu tahun hidup tanpa hati jelas membuatku kaget. Dan kejadian-kejadian itu terus membayang dipikiranku. Membuatku takut. "Gue takut gagal lagi" ujarku lemah. Sakti hanya diam dan mengacak rambutku pelan. Menandakan dia juga prihatin atas keadaanku. Seharusnya, aku tidak semenyedihkan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD