Aku menatap ke arah Arseno yang sedang duduk dipinggiran tempat tidur. Aku sedang duduk di sofa menikmati sarapanku. Rapat akan dilaksanakan pukul sepuluh tepat. Itu berarti, aku bisa sedikit lebih bersantai pagi ini. setidaknya sampai melihat dia bangun, karena setelah bertatap tatapan dengannya seperti ini yang ingin kulakukan adalah hengkang.
Aku berdehem pelan dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Masih bisa kurasakan Arseno menatapku hingga bisa menembus tubuhku. Aku tidak peduli. Kukeluarkan ponselku dan menatap chat-chat yang masuk dari grup dan beberapa dari teman kuliahku. Aku memang tidak memiliki teman dekat disini, kecuali Sakti dan teman-temannya.
Baru memikirkan Sakti. Sebuah panggilan darinya berhasil menetralkan kegugupan dan kecanggungan yang ada disini. Aku buru-buru mengangkatnya, tidak peduli bahwa sekarang Arseno masih menatapku, aku tidak peduli dengan tatapannya.
“Halo?”
Rasanya aku ingin berbahasa jerman. Supaya dia tak mengerti.
“Suami lo nggak lo usir kan?”
Aku memutar bola mata “Nggak. Dia masih disini. Kenapa?” tanyaku padanya. Arseno langsung mengerinyitkan dahi menatapku.
“Gita ngajak ngumpul nih, besok malem. Lo bisa? Udah lama kan PPI nggak ngumpul bareng lo”
Aku berpikir sejenak, merasa risih dipandangi oleh Arseno seperti itu. “besok gue lembur, bos gue lagi sayang-sayangnya sama gue. How about weekend?”
“Mereka mikirnya juga kalau nggak besok, sabtu sih. Lo setujunya sabtu? Kok lo nggak muncul di grup? Sibuk ya?” pertanyaan terakhir sakti membuat pipiku memanas seketika. Aku tau maksud ucapannya itu kemana.
“Gue baru baca. Anjir. Pikiran lo!” sanggahku cepat, membuat Sakti tertawa puas diseberang sana. Aku tidak tau apa yang membuat mereka tertawa. Orang-orang disekelilingku lebih sering menertawakanku. Aku berbakat jadi badut.
“Yaudah sabtu. See you the day after tomorrow. Perlu gue jemput nggak?”
Tatapanku dengan Arsen kembali bertemu.
"Dimana? Di Warung Mak?” Itu adalah salah satu restoran yang dimiliki oleh salah satu mahasiswi senior yang sudah lulus beberapa tahun lalu. Di deretan ruko-ruko di pusat kota. Kami lebih sering memanggil Mbak Dista itu Mak, karena dia merupakan orang yang paling cerewet diantara kami.
“Iya. Dimana lagi menurut lo tongkrongan murah”
“Siapa aja yang datang?”
“Banyak kok. Gue, Resky, Andri, Riana, Gita, Fitri. Mereka bawa pacar-pacar mereka. Lo kalau mau bawa suami lo juga nggak apa-apa”
“Emang nggak krik-krik gitu?”
Krik-krik?
Sakti tertawa. “Apanya? Ya terserah lo. Gue kan nggak ada pacar” sebelumnya, aku dan Sakti menjadi pasangan jika memang sedang berkumpul seperti ini. Karena mereka lebih sering membawa pacar mereka dibandingkan hanya pergi seorang diri. Apa yang akan terjadi jika aku membawa Arsen besok? Mereka pasti sudah heboh sekali.
“Bimo juga datang nih. Sama si Poltak. Rame kok. Lo nggak perlu sungkan ajak dia”
Aku menghela nafas dalam. “Yaudah. Gue pikirin dulu”
Ada jeda beberapa saat sebelum Sakti kembali berbicara. “Sa.. lo udah ngasih tau?”
Aku terdiam sejenak. Air mataku langsung berproduksi dengan baik. Apalagi mengingat kejadian itu. kejadian yang membawaku untuk bertemu seorang Sakti.
Aku menghela nafas dalam untuk mengurangi ketegangan wajahku. “udah ah. Capek ngomong sama lo. Gue mau rapat. See you” aku menutup cepat sambungan itu sebelum menatap wajah Arseno lagi.
Wajahnya menegang.
Aku mengalihkan pandangan dengan cepat. Meraih sesuatu dari dalam tasku dan menyerahkannya padanya. Dia menatapku lekat.
“Ini provider disini, kamu belum ganti provider kan?” ujarku yang kemudian diterimanya dengan baik. “aku udah masak telor sama salmon. Sup tadi malam masih bisa dimakan dan tinggal diangetin. Kalau kamu nggak mau cari makan diluar, makan itu aja”
Arseno hanya diam.
“Aku ada rapat sampai malam” lanjutku.sedikit gugup berada sedekat ini dengannya. “yaudah aku pergi dulu. Kalau mau pergi, jangan lupa kunci pintunya. Disini juga ada maling” aku segera beranjak dari hadapannya, namun tak kusangka bahwa tangannya sekarang mencengram lengan bawahku.
Aku menahan diri untuk tidak runtuh saat ini.
“ternyata aku salah. Kamu kelihatan baik-baik aja dan menikmati hidupmu, nggak seperti aku yang hancur karena perpisahan kita”
Aku menarik kasar tanganku dan menatap Arseno tajam, ingatan akan ucapan sakti tadi langsung mengonfrontasi amarahku.
Aku tidak tau bahwa aku mudah meledak, mengingat dulu pertahanan emosiku sangat baik. “Kamu mengharapkan aku seperti itu kemudian mengemis-ngemis cinta sama kamu?” pertanyaan sarkas itu seharusnya tak terlontar dari mulutku.
Arseno menghela nafas dalam. “Maaf” aku tidak tau permintaan maaf untuk apa yang diucapkannya saat ini. tapi ini terdengar menyebalkan. Aku meraih cepat jaketku dan pergi dari apartemen itu dnegan cepat. Berlama-lama dengan arseno bisa membuat kesehatan jantungku memburuk, dan mungkin juga tujuan hidupku.
Aku tidak ingin hancur lagi seperti dulu.
*
Aku menghentikan langkah kakiku saat melihat seseorang yang kukenali berjalan di depanku. Biar kujelaskan, aku adalah orang yang paling peka tentang dirinya. Melihat punggungnya di keramaian saja bisa membuatku langsung mengenalinya. Dia tidak perlu berbalik dan tidak perlu tersenyum.
Sinyal lain yang dikirim otakku adalah ketika sekujur tubuhku tiba-tiba bergetar karena melihatnya kembali. Ini efek khusus, aku memang bergetar setiap didekatnya dulu, tapi tidak pernah aku merasa aku akan kewalahan seperti ini. jadi, ketika badanku bergetar tiba-tiba, aku boleh menoleh kemanapun dan memastikan bahwa dia ada disekitarku.
Dari stasiun terdekat ke apartemen memang memakan waktu dua puluh menit berjalan kaki. Aku tidak sanggup menunggu bus tadi sehingga memutuskan untuk naik S-Bahn saja. ini sudah malam. Apa yang dilakukan laki-laki itu diluar sini?
Aku mempercepat langkahku sehingga sekarang kami berjalan beriringan. Melihat punggungnya yang dulu tegap, namun sekarang begitu rapuh membuat diriku khawatir. Hanya sedikit. Aku tidak tau apa yang dipikirkan oleh otak tololku sehingga aku mau-mau saja mengikuti kata hati seperti ini. berjalan di sampingnya.
Sudah terlalu lama sejak kami berpisah aku dan Arseno tak pernah lagi jalan berdampingan. Sejak pisah kamar, aku membatasi diriku padanya. Aku tidak ingin melihatnya dan berada lama-lama di dekatnya. Namun sekarang, dia berada di suatu tempat yang tidak dikenalinya dan dia tidak bisa bahasa jerman sedikitpun. Fakta itu membuatku terus-terusan memikirkannya.
Oke aku tau dia tidak selemah itu. dia pernah tinggal jauh dari orangtuanya saat kami kuliah dulu. Dia pasti bisa bertahan di negeri antah berantah sekalipun. Saat sudah sampai disampingnya. Tangan kiriku menarik tas tangan yang berada di tangan kanan. Menggantikan tugasnya. Aku tidak terbiasa menjinjing sesuatu dengan tangan kiri. Aku hanya tidak mau saat berjalan seperti ini, otakku kembali tidak berfungsi dan malah menggandeng tangannya.
Dia menghentikan langkahnya saat aku sudah berada di sampingnya. Aku bisa melihat dari sudut mata. Jalanan pada malam hari ini sudah sepi, meskipun masih banyak yang berlalu lalang. Aku terus berjalan, mengabaikan wajah bodohnya yang kaget karena kehadiranku.
“Aku jalan-jalan keluar karena bosan di apartemen” jelasnya saat menyusulku, aku memelankan langkah kakiku dan terus menatap kedepan.
“Oh..” tanggapku. Aku tidak tau harus menanggapi apa. Tiba-tiba dia meraih tas tangan yang berada di tangan kiriku. Aku tersentak dan menatapnya kaget.
Dia tersenyum manis. Dulu, aku bisa lumer karena senyumannya. Dia bisa menculikku hanya dengan memberiku senyuman. Ini tidak hiperbolis, namun memang seindah itu menurutku. Dan aku tidak akan segan-segan menciumnya saat itu juga.
Dulu.
“biar aku aja yang bawa” ujarnya, membawa tas tanganku di tangannya. Aku memutuskan untuk melanjutkan jalan. Apartemenku masih jauh, masih sekitar sepuluh menit lagi berjalan.
“Kamu udah makan?” tanyaku pada akhirnya, ketika kami melewati deretan ruko-ruko yang berisi café dan resto yang buka hingga tengah malam, saat musim seperti ini restoran dan cafe biasanya hanya buka hingga sore, tidak sampai tengah malam. Dia menghentikan langkahku dengan menarik tanganku.
“Belum” kemudian dia dengan seenaknya membawaku ke salah satu café di deretan ruko itu. aku menghentikan langkahku saat dia akan membawaku pada restoran makanan italia, lalu menariknya ke restoran jepang, tepat disebelahnya.
Kami masuk dengan cepat. Aku bahkan tidak sadar bahwa tangan kami saling menggandeng sampai kami memesan makanan. Dengan gugup aku langsung melepaskan genggaman tangannya. Membuat rasa hangat yang tadi menjalar hangat seketika.
Aku kemudian memilih kursi di tengah restoran ini daripada di sudut. Jadi segala keanehan dalam hubungan kami bisa dinetralkan dengan pengunjung yang ramai. Aku memesan sushi sedangkan dia memesan katsu yang ternyata hanya perlu beberapa menit dan langsung diantar.
“Kamu sering makan disini?” tanyanya ketika pesanannya sudah datang.
Aku mengerjap sebentar. “nggak pernah”
Dia sedikit kaget. “oh ya?”
“lebih sering masak” jelasku cepat.
“biaya hidup yang mahal ya?” tanyanya, tidak lagi menjadi bisu seperti kemarin. Tapi bicaranya dia malah membuatku semakin waspada. Dia dulu cukup cerewet saat kami masih baik-baik saja, dan kecerewetannya itu membuatku makin cinta. Hal ini tidak akan baik bagi kehidupanku. Aku lebih senang dia menjadi bisu seperti kemarin.
Aku hanya tersenyum tipis kemudian menunduk. Aku makan dengan satu tangan, sedang tangan lain kusembunyikan di bawah meja. Aku tidak akan membiarkan dia menggandeng tanganku lagi seperti tadi. meskipun aku tadi membalasnya.
Aku harus meminimalisir adegan romantis yang mampu meluruhkan pertahananku.
“Tsania” aku benci saat dia memanggil namaku lengkap-lengkap seperti itu. itu kebiasaannya saat akan membicarakan sesuatu yang penting. Dia lebih sering memanggilku sa dari sayang bukan dari tsania. Jadi dia akan memanggilku seperti ini. “saa… sayang” Dan kemudian aku seperti wanita bodoh yang berbunga-bunga.
Menjengkelkan sekali mengingat masa lalu.
aku menggumam tidak jelas, sambil terus melanjutkan makanku.
“aku nggak akan sia-siain tiga minggu disini” ujarnya, mau tidak mau aku menatapnya karena tidak mengerti dengan ucapannya.
“aku akan bikin kamu jadi istriku lagi, Sa” yang membuatku tersedak seketika. Aku buru-buru menyeruput teh ochaku dan menatapnya dengan pandangan horror.
“aku nggak bercanda. Aku udah sia-siain waktu satu setengah tahun untuk terpuruk, sekarang aku nggak mau lagi buat sia-siain waktu. Aku cuti tiga minggu dari kantor dan beberapa bulan ini aku bekerja supaya targetku selesai. Aku akan gunain tiga minggu ini untuk merebut lagi apa yang udah pernah jadi milikku. Aku udah mempersiapkan segalanya matang-matang, aku memang sengaja nyari tau keberadaan kamu dulu, nulis visaku dengan alamatmu kemudian bikin masalah di imigrasi. Itu memang sengaja. Seperti kamu yang sengaja udah nyusun skenario untuk meninggalkan aku dulu”
Aku tidak ingin mendengar ini. aku tidak mau. Aku belum siap. Aku setengah berlari mencapai pintu, melewati Arseno begitu saja dan keluar dari restoran jepang itu, berjalan secepat kilat untuk sampai ke apartemenku.
Tidak. Berada disana akan membuat Arseno melanjutkan lagi apa yang ingin dia katakan. Aku tidak mau berdua saja dengannya. Ini tidak akan mudah. Aku panik seketika, membayangkan hal-hal diluar kontrolku membuatku takut. Saat apartemen kami sudah di depan mata, aku tetap melanjutkan jalanku. Aku harus ketempat sakti, aku harus melarikan diri.
Namun cekalan tangannya lebih cepat dibandingkan langkahku, dia menarikku meskipun aku langsung mempertahankan diri untuk tidak membabibutanya dengan tanganku yang bebas. Aku tidak akan menangis sekarang.
Tidak akan.
“Apartemen kamu disini”
Aku menatapnya garang. “Lepas! aku nggak mau berduaan denganmu!” teriakku, mengundang beberapa orang untuk menatap kami. Arsen mengumpat saat melihat orang-orang itu mendekati kami.
Dia menarikku paksa, aku benar-benar seperti akan terjungkal ketika masuk ke dalam apartemen. Di dalam lift. Dia mencengkram tanganku lebih kuat dari tadi, seolah menyalurkan emosinya.
Rasa panik benar-benar menguasaiku sekarang.
Tanganku yang terbebas kugunakan untuk merogoh isi tasku. Aku harus menghubungi sakti. Melihat hal itu langsung membuat ponselku diambil oleh Arsen, aku memandangnya dengan penuh amarah. Rahangnya mengeras saat melihat nama yang kuhubungi tadi.
“Aku nggak akan berlaku nggak sopan, apalagi melecehkanmu! Apa yang kamu takutkan?” suaranya dingin dan datar, juga ada kekecewaan disana.
Tanpa sadar air mataku sudah mengalir. Begitu saja mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Arsen langsung memelukku dengan erat, membawaku ke luar lift dan berjalan menuju apartemenku. Tangisku tak bisa berhenti, aku menangis lebih keras.
Apa yang kutakutkan?
Saat itu aku benar-benar sadar. Aku takut hatiku akan jatuh lagi pada pesonanya. Aku takut jatuh untuk keduakalinya.
dan sekali lagi.
Aku benar-benar takut.