Sepuluh

1756 Words
Arsen menggeliat pelan dari tidurnya. Tangannya masih melingkari pinggangku. Aku sudah bangun dari satu jam yang lalu, tidak memutuskan melakukan apa-apa selain menikmati pemandangan di depanku. Akhirnya aku bisa merasakan tidur dengan tenang setelah dua tahun aku dihantui mimpi buruk. Wajah lelap Arsen membuatku menarik sudut bibir. Sedikit. Sekaligus menahan diri untuk bisa menahan sakit yang tiba-tiba menghentak saat memori itu kembali teringat. Dia begitu tampan, tidurnya seperti bayi, apalagi saat dia semakin merapat ke tubuhku. Seolah-olah takut hilang lagi. Hatiku masih batu, jujur saja. Aku hanya berusaha untuk tidak memperparah keadaan dengan terus-terusan bertengkar. Tiba-tiba kami sepakat untuk tidak lagi membahas masa lalu. Jadi sekarang, aku hanya menjalani apa yang seharusnya kami jalani. Tanpa merubah sedikitpun keputusanku. Aku tidak sanggup membayangkan kembali bersama Arsen. Tidak lagi. kembali ke rumah kami dulu hanya akan membuatku semakin gila, disaat hidupku sudah mulai membaik seperti ini. apapun yang terjadi disini, hanya akan terjadi disini. "Satu kesempatan, Sa. Biarkan aku berusaha merebut kamu lagi dua minggu ini" Arsen tidak memiliki banyak waktu disini, bersamanya dua minggu tidak akan merubah apa-apa di dalam hidupku. aku tidak menjawabnya, hanya membiarkan dia melakukan apapun. Membiarkan dia mengendalikan hubungan kami disini, aku tidak ingin campur tangan. Hanya dua minggu lagi. Akan kukubur kebencian dan kekecawaanku dalam-dalam. Akan kulakukan untuknya. Aku tidak ingin menyebut ini kesempatan, karena kesempatan berarti aku telah membuka hati. Aku tau dengan pasti, hatiku masih tertutup. Aku mencium puncak kepalanya dan berusaha melepaskan belitan tangannya di pinggangku. Ini kan yang dia mau, menjadi pasangan yang sesungguhnya? "Ar, lepas. Aku harus kerja" Dia berguman sedikit dan semakin menyurukkan kepalanya di leherku, menciumnya sekilas. Membuat tubuhku meremang "nggak bisa apa kamu nggak pergi" Aku mengusap kepalanya dengan tanganku satunya. "Bisa, kemudian aku dipecat dan nggak bisa ngelanjutin kuliah" Mendengar hal tersebut, Arsen memilih mengalah dan melepaskan tangannya di pinggangku. Dia duduk dan aku mengikutinya, sebelum aku beranjak dia kembali memagut bibirku dan memberikan ciuman panas. Seolah dia selalu merindukanku, menginginkanku. Aku menyudahinya duluan dan tersenyum tipis. Tidak terlalu tulus. Kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mandi serta menetralkan hatiku yang terasa kacau, jantungku berdegup begitu cepat saat ini. Aku menekan pelan dadaku. Bertahanlah, hanya dua minggu. Ujarku di dalam hati. Aku akan bertahan selama dua minggu, membiarkan Arsen melakukan apapun yang dia ucapkan. Berusaha untuk berpegang pada janjinya sendiri tadi malam. "Setelah itu, aku akan menghargai keputusanmu. Tapi biarkan aku mengejar kamu dua minggu ini" jika satu-satunya cara lepas dari Arsen adalah berpura-pura menerima penyesalannya, akan kusingkirkan segala macam memori menyakitkan itu sementara. Aku akan melupakan segala kenangan buruk yang sempat membuatku gila. Aku pernah membaca di salah satu buku Pattie Roberts "Sometimes, the only soul that can mend a broken heart is the one that broke it" seperti kata penulis itu, aku melakukan semua ini untuk menyembuhkan patah hatiku padanya. Bertahun-tahun hidup dalam patah hati membuatku sadar bahwa aku membutuhkannya untuk melupakan segala kesakitan ini. Aku hanya membutuhkannya untuk mengobati ini semua. Tidak lebih. * Memaafkan Arseno tidak mungkin sesuatu hal yang mudah. Setelah memberinya sedikit kesempatan, rasa ragu mulai menggerogoti hatiku. Aku tidak yakin bisa menjalani ini, tanpa ikut jatuh di dalamnya. Bagaimana jika aku benar-benar tersandung? Sejak kami berbaikan semalam, kejadian-kejadian menyakitkan itu kembali membuatku pilu. Aku jatuh cinta pada Arsen tepat saat dia mengantarku pulang setelah kami bertemu kembali kala itu. dan dia mengatakan hal yang sama di awal-awal pernikahan. Jatuh cinta. Aku tidak yakin lagi bagaimana rasanya. Setelah sayat sembilu hatiku ditikam oleh pengkhianatannya. Aku hanya menutup mataku kemarin, sejenak. Tidak mungkin permasalahan yang terjadi selama empat bulan pernikahan diselesaikan dalam empat hari. Intinya, tidak mungkin masalah pengkhianatan bisa diselesaikan dengan kata-kata ingin kembali. Meskipun aku tau aku masih sangat mencintainya. Perasaanku sudah cukup tergambar jelas bagaimana aku mengkhawatirkannya semalam. Kupikir kemarin –saat dia kembali- memberi kesempatan padanya agar dia tidak begitu lagi merupakan hal yang benar. Ternyata aku salah, mengambil keputusan disaat hatimu terlampau senang atau terlampau sedih akan mendatangkan petaka pada dirimu sendiri. keputusan yang baik harus diambil dalam kondisi tenang. Dan sekarang, aku mulai meragu. Aku tidak mungkin menjalani kehidupan seperti air disungai, mengalir apa adanya. Dan jelas, keputusan yang kuambil semalam adalah salah satu keputusan paling kukutuk di dunia ini, setelah keputusan bersedia menikah dengannya. Bayangan-bayangan tangan Arseno dipinggang Zulfa kembali terbayang dalam benakku. Aku hampir putus asa mencari cara untuk melupakannya. Semakin aku berusaha untuk menyingkirkan bayangan itu, semuanya terasa lebih jelas. Perasaan saat-saat aku mengetahui semuanya bahkan masih bisa kurasakan sekarang. Nyaris ingin mati. Saat itu aku baru selesai menyelesaikan satu novel legendaris dari penulis Indonesia, asma nadia. Aku jarang membaca novel berbau agama. Saat sudah tak menemukan novel romance luar yang ingin k****a, aku memutuskan untuk membaca salah satu karyanya. Satu kalimat yang selalu terbayang dibenakku hingga sekarang. Mungkin dongeng seorang perempuan harus mati, agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan. Tepat dua hari setelah aku membaca novel tersebut, aku mendapati suamiku datang ke rumah so called someone special in the pastnya. Aku memang membuntutinya setelah mendengar kabar dari salah satu teman baikku di acara reuni SMA, dia memberitahuku bahwa Arseno pergi ke obgyn tempat dia koas bersama perempuan. Jelas bukan aku. Karena aku tidak hamil dan rumah sakit itu bukan tempat dimana aku dan Arsen rutin check up. Aku mempercayai suamiku. Demi, Tuhan. Namun gelagat aneh Arseno kala itu semakin menambah kecurigaanku. Aku akhirnya memutuskan untuk mengikutinya dua minggu penuh, kebetulan kerjaanku di kantor sedang lega-leganya. Awalnya, hanya pertemuan biasa di rumah Zulfa. Lama kelamaan, api yang mereka percikkan semakin membakar janji suci pernikahan kami. Arseno mulai membawanya ke kafe, ke restoran, ke mall dan ke rumah sakit, lengkap dengan tangannya yang ringan memeluk pinggang perempuan itu. Dua minggu penuh. Aku perempuan pencemburu dan posesif. Amarahku ingin meledak, tapi mendapati sainganku adalah orang yang tak akan pernah bisa kulawan hanya membuatku menahan bulat-bulat perasaan kecewa dan sakitku kemudian berbuah melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. Satu bulan setelah aku membuntuti mereka, Arseno dengan teganya menanyakan hal yang berada di luar kepalaku, menjadikanku gila sepenuhnya. Pertanyaan yang bisa membuatku banjir dengan air mata hingga sekarang. Aku kembali teringat kata-kata di novel itu. mungkinkah sudah saatnya aku menyingkir dari kehidupan mereka dan menghentikan dongengku dan mulai mencari dongeng lain. Ya sepertinya begitu, karena pada kenyataannya akulah yang datang diantara mereka. Zulfa hanya merebut apa yang seharusnya miliknya. Mungkin. Satu pertanyaanku, jika memang Arseno lebih mencintai Zulfa, kenapa dia tidak kembali pada perempuan itu disaat aku memberinya kesempatan? Menjauhiku akan jauh lebih baik karena kondisi emosi dan hatiku tidak pernah stabil didekatnya. Apa yang harus kulakukan ketika ketakutan itu kembali datang dan mulai pelan-pelan merusak jalan hidupku? Aku benar-benar tidak mengerti langkah apa yang seharusnya kuambil. * Aku masuk ke dalam apartemen dengan perasaan yang sama kacaunya dengan tadi pagi. Kerja tidak membuatku bisa melupakan kegundahan hatiku. Semakin cepat waktu berlalu hari ini, semakin besar pula kegusaran yang kurasakan karena aku akan kembali berhadapan dengan Arsen. Suamiku. Aku menemukannya tengah menonton televisi. Jika biasanya dulu setiap pulang aku mencium pipinya dan menyapanya dengan mesra. Kali ini kubiarkan sepatuku yang membuatnya tersadar kedatanganku. Aku meletakkan sepatuku di tempatnya dan menggantung tasku. aku hanya melempar senyum tipis padanya sebelum membuka lemari dan mengambil pakaianku. Setelahnya, aku berlama-lama di kamar mandi. Memikirkan sikapku selanjutnya, memikirkan hubungan kami dan memikirkan segalanya. Tubuhku bergetar mengingat aku akan membuka pintu kamar mandi ini dan kembali berhadapan dengan Arseno. Tidak ada yang salah dengannya. Yang salah adalah ingatan yang datang saat aku menatapnya. Aku masih tidak bisa melupakan mimpi buruk itu, membuatku bisa merasakan kembali kehancuran hati dan jiwaku. "Sa" suara ketukan dari luar menyadarkanku yang tengah melamun. Aku segera duduk dari kloset dan menjawab pelan. "Iya?" "Udah satu jam loh. Kamu ngapain di dalam?" Mikirin kamu. Aku menghela nafas dalam. "Sorry, aku masih mau bersihin pembalut" jawabku tanpa malu, tidak tau lagi jawaban apa yang harus kukatakan saat ini. seketika aku merasa sangat tidak siap bertemu dengannya. Aku muncul beberapa menit kemudian. Dia ternyata masih menungguku di depan pintu kamar mandi, badannya sedikit masuk ke dalam dapur. "Aku pikir kamu pingsan di dalam. Lama banget" ujarnya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum memandangnya dan menaruh pakaian kotorku di keranjang kotor. Setelahnya aku langsung menuju tempat tidur dan duduk. Arsen melakukan hal yang sama, namun dia memilih duduk di sofa. berada berjarak seperti ini saja bisa membuatku gugup seketika. Aku menundukkan kepalaku. "Kamu kenapa?" Aku menengadah. "Kamu udah makan?" Arsen menganggukkan kepalanya, membuatku tersenyum tipis. Aku menghela nafas dalam-dalam. "Arsen.. aku.." aku ragu mengatakan ini padanya. Aku benar-benar ragu. Selama satu setengah tahun ini, aku merasa tidak pernah bimbang dan siap menjalani pilihanku. Saat ini, aku tidak siap. "Ya sayang?" Arsen menepuk pelan bahuku, entah sejak kapan dia berada di dekatku. Aku menyingkirkan tangannya perlahan, menggenggam tangan yang pernah menjadi penenang dalam setiap kesedihanku itu selama beberapa detik sebelum melepaskannya. "Keputusanku akan tetap sama" jujurku pada akhirnya. Aku menundukkan wajah, tangisku siap tumpah, tapi kutahan sebisaku. Aku benar-benar bimbang, tapi mengingat kilasan kejadian itu terus merenggut kewarasanku. Aku semakin yakin ini keputusan yang benar. "Menurut kamu, apa yang membuat aku menggugat kamu saat itu?" Arseno tampak terkejut dengan pertanyaanku, atau mungkin wajahnya telah berubah saat aku mengucapkan kata-kata tadi. aku tidak tau. Aku tidak memperhatikannya. Ketegangan begitu menguasai kami. "Karena aku.." Aku menghela nafas pelan. "Karena kalau aku nggak menggugat kamu, kamu akan meminta izin untuk menikahi Zulfa bukan?" Mata arseno terbelalak mendengarku mengatakan hal itu. "Aku tau Ar, aku tau kalian ada main dibelakangku saat itu. Kamu tau aku bukan seseorang yang gegabah dalam mengambil keputusan. Kalau aku menggugatmu, ada alasan kuat dibalik itu semua. Kamu tau kan?" Aku menghela nafas dalam. "Aku mengenal kalian, meskipun aku nggak dekat dengan perempuan itu. Aku tau siapa dia. Kalian sama-sama nggak mau pacaran, tapi kalian bermesraan di belakangku. Aku pikir, kamu sudah nikah siri dengannya" jelasku sejujur-jujurnya. "Apa yang terjadi denganku selama disini bukan lagi tanggung jawabmu, Ar. keguguranku bukan kesalahan kamu, aku yang salah karena terlalu jadi pengecut membahas masalah ini dulu. aku takut Ar, aku takut mendapatkan jawaban yang nggak kuinginkan. Makanya aku mengusirmu dari kamar kemudian pernikahan kita nggak lagi hangat" Aku menghela nafas pelan. "butuh waktu untukku menghilangkan ketakutan itu lagi, Ar. Perpisahan kita dan apa yang terjadi setelahnya mengguncang psikologisku. dalam dua minggu aku nggak mungkin mengubah keputusanku. Semuanya terlalu beresiko. Apa jaminan hatimu bukan lagi untuk dia? apa jaminan kamu nggak akan bermain dibelakangku lagi? Aku masih takut dalam berkomitmen. Termasuk dengan kamu" "Untuk itu aku mau menegaskan. Apapun yang terjadi dua minggu ini, akan tetap terjadi disini. kedepannya, keputusanku masih akan sama. Aku masih akan meminta pisah dari kamu. Dan aku harap kamu mau menyetujuinya"   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD