PART 8

1447 Words
Nendra melajukan motornya ditengah dinginnya malam, seperti biasa dia mengenakan jaket hitam tebal miliknya dan motor sport berwarna merah yang dia miliki sejak smp. Saat ini dia sedang menuju ke jalanan sepi dekat panti milik Pesona, dia datang kesana karena balap liar. Seorang Ganendra Fasana Divaldi bukanlah lelaki lugu dan polos seperti yang Pesona kenal. Dibilang berandal sebenarnya dia tidak se-berandal itu, tetapi kalau dibilang tidak dia juga sering keluar malam ikut balapan liar. Seperti saat ini, dia ditelepon oleh Patra bahwa ada anak sekolahan lain yang menantang dia untuk balap motor. Setelah mendengar itu, dia langsung memakai jaketnya dan mengendap-endap keluar rumah. Pemikiran Pesona mengenai dia anak mami memang hampir benar, karena kedua orang tuanya selalu mengawasinya dengan ketat. Ganendra mempunyai seorang kakak laki-laki dan adik perempuan yang duduk dikelas 3 SD. Hari ini adalah keberuntungannya bisa kabur dari rumah tanpa seorangpun tahu. Nendra menghentikan motornya saat melihat lampu merah yang ada dihadapannya, sambil menunggu lampu hijau mata Nendra mengelilingi sekitarnya melihat kota Jakarta pada malam hari ini. Keningnya berkerut saat melihat seorang wanita yang mirip dengan Pesona tengah duduk disebuah halte bis dengan melamun. Nendra memperhatikan lebih jelas lagi, oke ternyata itu memang nyata Pesona bukan hanya mirip. Dia membelokan Motornya menuju ke halte itu, dia menghentikan motornya tepat dihadapan gadis yang terbengong itu. Nendra melepaskan helmnya lalu turun dari motornya menghampiri Pesona, saat dia duduk disampingnya, gadis itu sama sekali tidak meresponnya. "Pesona? Kamu ngapain disini malam-malam? Baju kamu tipis banget, kamu ngga dingin?" tanya Nendra. Pesona memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya perlahan. "Lebih baik sekarang lo pergi! Gue lagi ngga punya tenaga buat debat sama lo!" ujar Pesona dengan bibir pucatnya. Nendra memegang tangan Pesona, dia terkejut saat merasakan betapa dinginnya tangan gadis itu. Dia memindahkan tangannya ke pipi Pesona yang bahkan jauh lebih dingin dari tangan gadis itu. "Kamu disini berapa lama sih? Badan kamu dingin banget!" ujar Nendra lalu melepaskan jaketnya dan memakaikan ke tubuh Pesona. Gadis itu tidak menolak saat Nendra memasangkan jaket miliknya di tubuh Pesona. Lelaki itu kembali memegang kedua tangan Pesona lalu menggenggamnya sambil mendekatkan kemulutnya. Dia meniup kedua tangan Pesona yang ada digenggamannya agar lebih hangat, sekali lagi Pesona sama sekali tidak membantah. "Nendra..." panggil Pesona lirih. Nendra sempat terkejut mendengar Pesona memanggil namanya, selama ini gadis itu tidak pernah memanggil dirinya. Dia mendongakkan kepalanya menatap wajah pucat Pesona yang anehnya membuat sesuatu berdesir dihatinya seakan tidak terima melihat Pesona lemah seperti ini. "Kenapa? Masih dingin? Aku antar kamu pulang aja yah?" tanya Nendra lembut. Pesona menggeleng lemah, "Lo pernah ngerasa ngga, kalo lo itu udah ngga ada gunanya buat hidup?" "Kamu ngomong apa sih?" "Gue ngerasa itu hampir setiap hari. Lo tau anehnya apa? Berkali-kali gue cari hal yang membuat gue ngerasa kalau gue masih pantas hidup, tapi kenyataannya gue ngga pernah nemuin itu." Nendra terdiam mendengar perkataan Pesona, dia menunggu kalimat berikutnya yang akan gadis itu keluarkan. "Gue harus apa sekarang? Gue cape terus bertahan kaya gini. Mungkin lebih baik gue pergi jauh dari semua ini." Lanjut Pesona dengan pandangan kosong. "Jangan ngomong hal yang aneh-aneh Pesona! Kamu masih punya keluarga di panti, kamu ngga boleh meninggalkan mereka!" jawab Nendra cemas mendengar perkataan Pesona. "Mereka ngga mau terima gue lagi. Ibu ngga mau punya anak perokok berandal kaya gue. Dia malu punya gue, dia ngga mau gue disana." Setelah mendengar hal itu, Nendra bisa menyimpulkan bahwa Ibu yang dimaksud Pesona itu adalah perawat panti dan perawat itu sudah mengetahui tentang Pesona yang merokok lalu mengusir gadis ini. "Aku juga udah bilang merokok itu ngga baik! Kamu masih melakukannya?" Pesona hanya melirik Nendra sekilas lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu mau aku bantu?" tanya Nendra. "Bantu apa?" "Bantu ngilangin kebiasaan buruk kamu yang merokok itu. Kita bisa coba secara pelan-pelan. Gimana?" Pesona mengangguk mendengar perkataan Nendra membuat lelaki itu tersenyum. Nendra menggosok kedua telapak tangannya lalu menempelkan ke pipi Pesona. Gadis itu hanya diam memandang wajah Nendra dengan datar. "Kamu mau tau sesuatu yang lebih berbahaya dari rokok ngga?" "Apa?" "Emang kamu ngga ngerasa? Aku ini kan menyebabkan jantung orang berdebar-debar, sesak nafas, gugup, salah tingkah, gagal move on. Satu hal lagi yang lebih mengerikan, aku bisa membuat setiap orang jatuh cinta dengan tatapan mataku. Lebih berbahaya dari rokok kan?" ujar Nendra tanpa melepaskan tangannya dari pipi Pesona. "Ngga usah bikin kesel deh! Pede banget sih!" jawab Pesona mengalihkan tatapannya ke arah lain tetapi tidak menyingkirkan tangan Nendra dari pipinya. Nendra menurunkan tangannya lalu terkekeh saat mendapati respon Pesona yang mulai kembali seperti biasanya. Dia menarik tangan Pesona untuk berdiri namun gadis itu masih tetap duduk disana. "Mau ngapain?" "Antar kamu pulang." "Ck! Lo ngga denger tadi gue ngomong apa? Mereka ngga mau nerima gue lagi!" jawab Pesona kesal. "Ngga ada seorang Ibu yang tega ngusir anaknya sendiri, mungkin tadi Ibu kamu terbawa emosi. Sekarang ayo temui dia, aku yakin kalau sikap Ibu kamu pasti berbeda dari sebelumnya." "Tapi dia bukan Ibu kandung gue!" "Mau dia Ibu kandung atau bukan yang pasti dia anggap kamu anaknya selama ini. Bukannya kamu diurus sama dia sejak kecil? Aku yakin Ibu kamu itu pasti sayang banget sama kamu, dia pasti sedih dan menyesal kalau tau anaknya kabur karena ucapannya dia sendiri." Pesona menunduk memandang kakinya yang lurus kedepan, jalanan mulai sepi tidak seperti siang tadi waktu Pesona menangis membuat orang-orang heran. Sesekali orang yang lewat memandang mereka dengan tatapan bertanya-tanya. Nendra yang tidak mendapati respon dari Pesona, akhirnya dia berjongkok tepat dihadapan Pesona. Dia memegang tangan Pesona seperti menguatkan gadis itu. "Semua akan baik-baik aja Pesona, percaya sama aku! Kalau kamu ngga berani ketemu Ibu kamu, biar nanti aku temenin kamu. Aku yakin dia akan menyambut kamu dengan senang. Ayo!" Setelah menghembuskan nafas panjangnya, Pesona berdiri dari duduknya. Nendra yang tadi masih berjongkok ikut berdiri lalu tersenyum senang. "Nah gitu dong! Yuk, aku antar kamu." ujar Nendra lalu menarik tangan Pesona. Pesona memandang motor merah milik lelaki itu, ternyata kemarin dia tidak salah lihat. Nendra datang ke panti menggunakan motor ini, tapi Pesona masih bingung apa dia benar melihat Nendra waktu itu di balapan liar atau tidak. "Kok bengong? Ayo naik!" "Motor lo ganti?" tanya Pesona menghiraukan ajakan Nendra yang sudah ada di atas motornya. "Oh.. emm ini motor kakak aku, udah ngga usah dipikir! Ayo cepet, nanti keburu malem banget!" Pesona naik ke motor lelaki itu, dia sedikit tidak nyaman karena posisinya yang harus berdempetan dengan Nendra. Dia memegang punggung lelaki itu sebagai pegangannya. "Ngga mau peluk aku?" tanya Nendra. "Ngga usah mimpi! Udah cepet jalan!" sentak Pesona. Nendra tertawa mendengar sentakan gadis itu, dia menutup kaca helmnya lalu melajukan motornya menembus jalanan kota di dinginnya angin malam. ------- Saat ini Nendra hanya bisa berdiri dengan canggung melihat tangisan dari wanita paruh baya yang sedang memeluk gadis yang tadi dia bonceng. Berkali-kali dia mendengar kata maaf keluar dari bibir wanita itu. Sementara itu Pesona hanya mampu membalasnya dengan senyuman, gelengan dan juga kata maaf. "Ibu ngga bermaksud berbicara seperti itu Pesona, Ibu hanya kecewa kamu merokok. Ibu ngga pernah punya niat sedikitpun mengusir kamu dari panti! Kamu anak Ibu, jangan tinggalkan Ibu. Tolong maafkan Ibu..." "Pesona tahu, Ibu ngga perlu minta maaf. Seharusnya Pesona yang meminta maaf, Pesona janji ngga akan mengulangi hal seperti itu lagi. Tolong, Ibu jangan menangis lagi." ucap Pesona menghapus air mata Bu Rianti. Sekali lagi Bu Rianti memeluk pesona dengan keharuan dan penyesalan yang dia rasakan. Saat Bu Rianti tengah memeluk Pesona, matanya melihat ke belakang gadis itu dan mendapati seorang lelaki sedang memperhatikan mereka. Bu Rianti melepaskan pelukannya karena penasaran dengan lelaki itu. "Dia siapa Son?" tanya Bu Rianti. "Oh, kenalin Bu, dia Ganendra. Dia temen aku." "Nak Ganendra, terima kasih sudah mau mengantarkan Pesona dengan selamat kesini." "Ngga apa-apa kok Bu, oh iya panggil saja saya Nendra Bu." Jawab Nendra. "Nak Nendra, mau Ibu buatkan minuman apa?" tanya Bu Rianti sambil tersenyum. "Ngga usah Bu, saya mau langsung aja lagian saya masih ada janji. Saya pamit dulu Bu, aku pulang dulu Son. Besok aku main kesini lagi, bolehkan Bu?" "Boleh dong, iya udah kamu hati-hati yah dijalan." Jawab Bu Rianti. Nendra maju dan mencium tangan Bu Rianti, setelah itu dia pamit keluar panti. Baru beberapa langkah keuar, langkahnya terhenti saat seseorang mencekal tangannya. "Jaketnya ketinggalan!" ujar Pesona saat berhasil memegang lengan Nendra. "Tadinya aku mau sengaja tinggal buat alasan dateng kesini ketemu kamu." "Ngga usah cari ribut deh lo! Nih!" jawab Pesona kesal lalu mengulurkan jaketnya. Nendra mengambil jaket itu, "Makasih ya..." "Gue yang bilang makasih ke lo!" sahut Pesona membuat Nendra terkekeh. "Oke, gue pergi dulu ya!" ucap Nendra lalu membalikkan badannya. Belum sempat dia melangkah lagi-lagi hal itu dia urungkan, pertanyaan Pesona yang berikutnya seakan membuat tubuhnya kaku. "Lo mau ke tempat balap liar?" Deg! ---------- TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD