Mendengar pertanyaan Pesona, Nendra segera membalikan badannya menghadap gadis yang tengah menatapnya. Nendra memandang Pesona dengan keterkejutan yang luar biasa, dia bertanya-tanya bagaimana bisa dia tahu?
"A..Apa maksud kamu?" tanya Nendra.
"Maksud gue lo mau lewat jalan yang sering buat balapan liar itu nanti?"
Secepat mungkin Nendra menghembuskan nafas lega, dia pikir Pesona bertanya apa dia akan ikut balap motor disana.
"Kamu khawatir yah?" tanya Nendra mengeluarkan cengiran konyolnya.
"Ngga, gue cuma tanya doang."
"Khawatir juga ngga apa-apa." Jawab Nendra sambil cengengesan.
"Nyebelin banget sih! Udah sana lo pergi! Oh iya besok jangan dateng ke sini, gue ada kerjaan jadi gue ngga akan ada dirumah."
"Kalau gitu aku ke tempat kerjaan kamu aja!" ujar Nendra.
"Ngga! Cowo kaya lo nanti malah ganggu gue kerja! Udah sana lo pergi!" bentak Pesona.
"Iya-iya galak banget sih! Aku pergi dulu ya, jangan rindu sama aku! Kalo rindu, mimpiin aku aja nanti kita ketemu disana oke?"
"Dasar cowo gila!" sentak Pesona membuat Nendra tertawa.
Nendra pergi menuju ke motornya lalu menyalakan mesin motor, dia memakai helmnya lalu membuka kaca helm. Dia menatap Pesona yang masih berdiri di depan pintu panti.
"Inget mimpiin aku ya? Aku takut kamu ngga bisa menahan rindu karena ngga ketemu aku." Teriak Nendra.
Pesona hanya bisa mendengus kesal mendengarnya, membalaspun tidak akan ada gunanya karena lelaki itu sudah menjalankan motornya menembus kegelapan malam berselimut dinginnya udara yang membuat bulu kuduk meremang. Setelah memastikan Nendra pergi, Pesona masuk kembali ke panti lalu pergi ke kamarnya mengistirahatkan tubuhnya yang lemas.
"Ternyata pura-pura baik itu cape yah?" gumam Pesona sambil menatap langit-langit kamarnya.
-------
Ditempat lain, Nendra sudah sampai di tempat balap liar itu. Beberapa orang mulai mengerubunginya termasuk teman-teman gilanya. Nendra melepaskan helmnya lalu memberikan high five kepada ketiga temannya itu. Dia melihat sekelilingnya yang sangat ramai dipenuhi pendukung dirinya dan pendukung lawannya. Nendra turun dari motornya lalu menatap remeh lawannya yang berada diseberang jalan.
"Jadi dia lawan gue kali ini?"
"Iya! Dia sering ikut balap liar tapi baru berani menantang lo kemarin-kemarin ini." Jawab Patra sambil menepuk bahu Nendra pelan.
"Punya apa dia sampai berani buat nantangin gue?! Cowo cupu kaya dia bakal jadi lawan gue?! Haha.. geli gue dengernya!"
"Dia punya duit 10 jt kalo lo berhasil buat ngalahin dia." Jawab Denis.
"Oke cepat!"
"Hmm denger duit aja cepet!"
Nendra tertawa mendengar balasan Hanis, lalu dia merasa bahunya ditepuk oleh seseorang. Dia berbalik dan melihat lawannya tengah berdiri dihadapannya sambil tersenyum mengejek.
"Kenpa? Kau takut aku kalahkan?"
"Seharusnya aku yang bertanya! Bersiaplah sediakan uang 10 jt untukku Ganendra!"
"Mimpimu terlalu tinggi Leo!"
Setelah mengatakan hal itu, Nendra pergi menuju motornya lalu memakai helm dan menaiki motornya begitu juga dengan Leo. Mereka menancap gasnya sebelum memulai pertandingan, sampai pada hitungan ketiga lomba itu dimulai.
Nendra menancapkan gasnya dan menyelip satu per-satu kendaraan yang ada dihadapannya. Dia semakin tersulut emosi saat melihat Leo yang sudah mendahului dirinya. Mereka saling menyalip satu sama lain dengan kecepatan diatas 40 km/jam. Nendra terus menancapkan gas tidak mau kalah dengan Leo.
Sampai akhirnya di garis finish, Nendra memang benar yang memenangkan pertandingan itu. Dia melepaskan helmnya lalu tersenyum mengejek kesamping Leo lalu kedua tangannya bertopang dibadan motornya.
"Bagaimana? Sudah puas mengalami kekalahan?"
"Hah! Lain kali gue yang akan menang!" jawab Leo lalu menyuruh anak buahnya menyerahkan uang 10 jt itu ke Patra.
Setelah memberikan uang itu, Leo beserta para pendukungnya pergi meninggalkan tempat itu. Patra berjalan menuju Nendra yang tersenyum jenaka ke arahnya, sementara Denis dan Hanis menatap lelaki dengan malas karena mereka yakin bahwa Nendra pasti akan menyombongkan diri lagi.
"Berhenti memasang wajah s****n itu Nen! Jijik gue!" ujar Denis.
"Biasa Den, si Raja bombai mulai lagi!" kata Hanis.
"Kata-kata apa lagi itu Han?" ucap Patra menggelengkan kepala.
"Bohong melebihi pinokio! Tuh liat hidungnya aja udah panjang banget kaya papan seluncur!" jawab Hanis.
"Hahaha... kalian kalo mau liat gue kalah makanya cari lawan yang sepadan sama gue! cowo cupu sok jagoan mau jadi lawan gue!" jawab Nendra.
"Oke! Ini hasil balapan lo! gue udah ambil bagian Denis, Hanis sama gue."
"Sip! Kalau gitu gue mau balik dulu takut orang tua gue sadar sekarang."
"Oke, hati-hati ya bang Nen." Ujar Hanis.
Nendra melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, udara dingin seakan menusuk ke dalam kulitnya. Dia bahkan sampai menggigil di balik helm hitam yang menutupi wajahnya. Setelah sampai di rumah, dia bergegas masuk kedalam namun baru beberapa langkah dia mendengar seseorang menginstrupsi dia.
"Balapan sama siapa lagi sekarang?" tanya lelaki itu dalam kegelapan ruang keluarga.
Nendra berbalik menatap lelaki itu lalu memutar bola matanya malas.
"Bukan urusan lo!"
"Gue kakak lo jelas itu urusan gue!" ucapnya dengan tenang.
Nendra terkekeh mendengar perkataan lelaki itu, "Sejak kapan lo anggap gue adik?"
Lelaki itu mengendikan bahunya acuh, "Gimana sama taruhan itu? Udah berhasil lo?"
"Perjanjian kita 2 bulan, jadi lo jangan ngelanggar hal itu!" jawab Nendra.
"Gue cuma tanya gimana perkembangan lo? Gue mau jaga-jaga buat siapin pesta perayaan karena berhasil dapetin motor kucrit lo itu."
"Gue ngga akan kalah dari lo Nalendra! Sekalipun lo itu kakak gue sendiri! Mungkin lebih tepatnya kakak angkat!" jawab Nendra.
Wajah Lendra mengeras mendengar perkataan Nendra tentang dirinya yang anak angkat. Selama ini mereka sama sekali tidak pernah akur, setiap ada kesempatan maka mereka akan bertengkar. Alasannya cukup simple, itu karena Lendra yang cemburu dan berusaha menyita seluruh perhatian orang tua Nendra. Umur mereka berbeda satu tahun dan Lendra merupakan kakak kelas Nendra di sekolah. Saat Ibunya Nendra mengangkat Lendra, Nendra tengah berada di perut wanita itu.
Awalnya Nendra tidak peduli namun lama-lama cara yang digunakan oleh Lendra mulai membuatnya tidak nyaman karena gosip yang disebarkan. Lelaki itu bahkan berani memfitnah dirinya didepan kedua orang tuanya.
Setelah mengatakan itu, Nendra berbalik dan menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Dia mengusap wajahnya pelan karena sempat tidak fokus. Dia berharap besok sinar mentari akan muncul membawa semangat baru untuknya mendapatkan Pesona.
--------
Sudah dua hari ini Nendra tidak menemui Pesona membuat gadis itu bertanya-tanya. Bukan karena dia khawatir atau rindu tetapi... dia hanya merasa aneh. Biasanya lelaki itu selalu menganggunya, sering membuat dia jengkel tapi akhir-akhir ini lelaki itu justru menghilang.
Senin depan Pesona sudah mulai berangkat sekolah, awalnya cukup sulit untuk mencari cara berbohong untuk tidak masalah tetapi justru Bu Rianti menyuruhnya istirahat total karena melihat wajah pucatku beberapa hari ini. Malam ini Pesona sedang duduk di teras halaman Panti sambil memandangi ponselnya. Dia tidak berharap tentang Nendra yang menelepon.. mungkin!
Menghilangkan perasaan egonya dia menekan nomor Nendra lalu mendialnya. Mulut pesona terus berkomat-kamit tidak jelas.
"Jangan diangkat! Jangan diangkat! Jang..."
"Halo?"
"Emm... ha.. hai!" jawab Pesona gugup.
Suara kekehan terdengar dari seberang ponselnya, "Ada apa Pesona? Merindukanku?"
"Ck! Jangan aneh-aneh, gue tadi cuma.... ngga sengaja tekan nomor lo kok!"
"Masa sih? Bilang aja kalau rindu!"
"Udah deh gue tutup teleponnya!"
"Eitss...jangan dong hehe.. bercanda!"
"Lo.. kenapa ngga pernah kesini lagi?" tanya Pesona ragu.
"Tuh kan hehe.. iya maaf, aku sibuk tugas sekolah akhir-akhir ini."
"Ohh."
"Oke! Buat menebus itu, besok aku jemput kamu ya? kita jalan-jalan keliling jakarta, gimana?"
Pesona menggigit bibirnya untuk menahan senyumannya yang hampir tercetak.
"Jam 10 ngga boleh telat!"
"Siap tuan putri!"
Setelah itu, untuk sementara mereka saling berdiam satu sama lain. Mereka hanya bisa mendengar helaan nafas mereka lewat ponsel.
"Nendra?" panggil Pesona.
"Iya, Pesona?"
"Aku boleh bertanya satu hal?"
Nendra yang mendengar pertanyaan itu menjadi sangat terkejut, apalagi saat Pesona berbicara Aku-Kamu.
"Apa?"
"Kamu bilang kita teman kan?" ujar Pesona.
Nendra tidak menjawab menunggu pertanyaan gurunya kembali.
"Iya.."
"Kalau gitu aku bisa kan percaya sama kamu?" tanya Pesona.
Nendra terdiam mendengar perkataan Pesona, dia bingung harus menjawab apa. Dia saja berbohong tentang alasan dia mendekati gadis itu. Dia takut saat gadis itu tahu yang sebenarnya maka dia akan menangis, dan Nendra sangat tidak suka.
"Jangan terlalu mudah percaya, karena kenyataan bisa jadi menyakitkan." Gumam Nendra.
"Maksudnya?"
"Sudahlah! Aku mau tidur, besok aku jemput jam 10 tenang saja! Selamat Malam Pesona."
"Malam.."
Pesona terbengong menatap ponselnya, entah mengapa dirinya menjadi seperti itu. Dia mengangkat telepon itu ke udara lalu berpikir.
"Apa yang lo sembunyikan dari gue Ganendra?"
----------
TBC