Motor Nendra memasuki parkiran sekolah, dia mematikan mesin motronya lalu turun sambil melepaskan helm yang dipakainya. Dia membantu gadis yang baru saja turun dari motornya melepaskan helm. Lelaki itu tersenyum hangat pada gadis itu, sebaliknya gadis itu justru terkekeh melihat sikap menggemaskan Nendra.
"Apa kamu begitu bahagia?" tanya gadisnya.
"Menurutmu? Tentu saja aku sangat bahagia! Sekarang kamu itu Pesona-ku." jawab Nendra.
Dia menggenggam tangan Pesona lalu berjalan bersama menyusuri koridor sekolahan. Semua mata saat ini tertuju pada mereka berdua, Pesona sangat risih dengan tatapan itu. Pesona ingin melepaskan tautan tangan mereka namun Nendra menahannya.
"Jangan hiraukan mereka! Kamu tahu kalau iri itu tanda tak mampu, dan sekarang mereka sedang iri karena aku yang berdiri disebelahmu, menggandeng tanganmu, bukan mereka."
Pesona memutar bola matanya malas, "Kamu yakin? Tetapi kenapa hampir yang melihat kita itu wanita? Jadi mereka iri padaku atau padamu?!"
"Benarkah? Aku tidak menghiraukan mereka makanya aku tidak sadar siapa saja yang memandangi kita, lagipula yang terpenting bagiku adalah kamu disamping aku bukan orang lain." Jawab Nendra berhenti lalu menatap Pesona dengan senyum lebarnya.
Diberikan senyuman seperti itu wajah Pesona memerah, dia memalingkan wajahnya ke arah lain agar Nendra tidak tahu. Terlambat, karena nyatanya lelaki itu sudah tertawa melihat wajah merona Pesona. Dia mencubit hidung Pesona pelan dengan tawa yang mulai mereda.
"Kenapa sih kalau merona sama pacar sendiri harus malu? Aduh gemesnya, pacar aku pemalu." ujar Nendra.
"Jangan kaya gitu ih! Lebay tau ngga?!" geram Pesona kesal karena hal itu pipinya menjadi semakin memerah.
"Biarin!" jawab Nendra acuh.
Dia kembali menarik tangan Pesona menuju kelas gadis itu yang berada dilantai dua. Pesona menarik kedua sudut bibirnya sedikit saat menaiki tangga. Dia bisa merasakan jantungnya yang berdegup semakin cepat dan juga bahagia yang menyelimuti dirinya. Perasaan ini pertama kali dia rasakan saat berada dekat dengan seorang lelaki, dan itu hanya dirasakan saat bersama dengan Ganendra.
"Kita udah sampai, aduh kenapa rasanya aku berat banget yah buat pergi jauh dari kamu?" ujar Nendra membuat Pesona menghela nafasnya.
"Nen, kita masih di satu sekolah yang sama. Jangan lebay belagak kaya aku ada di seberang pulau yang beda sama kamu deh!"
Nendra mengoyang-goyangkan tangan Pesona manja, "Tapi kalau aku rindu gimana? Kalau aku pengin liat wajah kamu gimana? Kalau aku pengin pegang tangan kamu gimana? Kalau aku pengin tiduran dibahu kamu gimana?"
Pesona mengangkat alisnya, gemas melihat kelakuan kekasihnya yang sangat manja seperti anak kecil. Dia menahan senyuman yang sudah hampir dia keluarkan.
"Terus?" tanya Pesona dengan senyuman tertahan.
Nendra melepaskan genggaman tangan Pesona, "Ck! Kamu ngga peduli sama aku yah?"
Pesona tidak bisa menahannya lagi, dia tertawa terbahak melihat kelakuan Nendra yang menurutnya sangat lucu. Nendra langsung mematung saat melihat gadis itu tertawa untuk yang pertama kali. Suara tawanya mengalun bagaikan melodi bagi Nendra, dia melongo melihat kecantikan yang terpancar dari gadisnya itu.
Dia melihat sekelilingnya dan tampak siswa lelaki yang berlalu lalang sedang memandang ke arah Pesona dengan tatapan takjub. Maklum saja, ini adalah pertama kali Pesona tertawa begitu di sekolah bahkan sampai terbahak. Nendra mendesis kesal, dia langsung menutup mulut Pesona dengan tangannya.
Pesona melotot saat tangan Nendra membekapnya, dia menarik tangan lelaki itu turun dan mendelik ke arah Nendra.
"Kamu kenapa sih?" tanya Pesona galak.
Nendra sempat bergidik melihat perubahan wajah Pesona yang tadi ceria menjadi garang.
"Jangan tertawa seperti itu lagi!" jawab Nendra tegas.
"Loh kenapa? Kamu yang bilang sendiri kalau pengin liat aku tertawa waktu itu kan?"
"Iya, tapi jangan disini! Kamu boleh tertawa kalau kita cuma berdua aja dan kamu juga ngga boleh senyum ke orang lain selain aku. Pokoknya kamu harus jadi Pesona yang kaya dulu, ngga pernah senyum dan tertawa!"
"Ke Ibu dan anak-anak panti juga ngga boleh?" tanya Pesona.
"Kalau itu boleh! Maksud aku ke orang asing! Pokoknya ngga boleh!" jawab Nendra gemas.
"Emang kenapa sih?"
"Ck! Nanti kalau banyak yang suka sama kamu karena dengar kamu tertawa, aku juga yang bakal repot!"
"Hah?"
"Suara tawa kamu itu udah kaya melodi yang bisa buat orang jatuh hati tau! Nanti kalau banyak yang jatuh hati, saingan aku tambah banyak! Kalau gantengnya dibawah aku sih ga masalah tapi kalau diatas aku, gimana? Bahaya kalau kamu milih dia dibanding aku."
"Apaan sih Nen! Udah sana pergi ke kelas kamu!"
"Beneran loh ya! kamu ngga boleh senyum apalagi ketawa di depan cowo lain!" ujar Nendra sedikit teriak.
Nendra terkekeh melihat Pesona menutup telinganya karena merasa malu. Dia menuruni anak tangga dengan siualan yang keluar dari mulutnya. Setiap dia melangkah senyumnya selalu terpasang di wajahnya. Dia melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya lalu memasukan itu ke dalam tas.
"Wooo kenapa nih anak? Kesambet jin bogel?"
Denis langsung menyambut Nendra dengan pertanyaan yang menyindir dan disusul tawa teman-temannya yang lain. Nendra tidak menghiraukan mereka dan memilih untuk langsung duduk di bangkunya.
"Kayanya ada yang mau dapet motor baru nih!" ujar Denis.
"Yuhuu nyai bakal ada yang traktir sebulan nih haha..." sahut Hanis.
"Lo udah jadian sama Pesona?" tanya Patra.
"Iya." Jawab Nendra tersenyum lebar.
"Astaga! Sumpah Nen, ngeri gue liat lo senyum kaya gitu. Liat nih bulu kodok gue sampe merinding." ujar Hanis.
"BULU KUDUK! Kesel yah emang ngomong sama nih anak!" sahut Denis.
"Terus gimana? Lo bakal kasih tau Lendra terus putus sama Pesona?" tanya Patra.
Entah kenapa mendengar kata putus dengan Pesona, Nendra merasa sangat marah. dia merasa tidak rela jika harus putus dari gadis itu.
"Emang gue pernah bilang kalau gue bakal putusin dia?"
Patra mendengus kasar, "Lo sendiri yang bilang waktu itu, b*****t!"
"Masa sih?" tanya Nendra acuh.
"Wah nih anak perlu gue kasih bogem mentah kayanya!" jawab Patra yang sudah berdiri dan ditahan oleh Hanis dan Denis.
Nendra terkekeh melihat hal itu, dia merasa puas membuat Patra yang kalem menjadi Patra yang pemarah.
"Gue ngga mau putusin dia! Mungkin gue udah jatuh cinta." Jawab Nendra.
"SUMPAH?!" ujar ketiganya serempak.
"Waras ngga sih nih bocah?" tanya Patra.
"Doa aja supaya dia ngga akan ketemu sama cowo lain dan dia ngga akan pernah lepas dari gue, karena kalau dia sampai pergi mungkin gue akan jadi ngga waras."
Nendra mengatakan hal itu sungguh-sungguh, dia tidak akan melepaskan Pesona kecuali gadis itu sendiri yang berkata bahwa ada pria lain yang mengisi hatinya.
--------
Nendra memasuki rumahnya setelah mengantarkan Pesona ke panti, lagi-lagi dia berjalan sambil bersenandung. Wajahnya juga masih berseri-seri, nanti malam rencananya Nendra akan belajar bersama dengan Pesona di panti. sebenarnya itu adalah akal bulusnya supaya bisa bersama dengan Pesona. Nendra sangatlah manja kepada Pesona, setiap ada kesempatan dia selalu menempel pada Pesona seperti lintah.
"Kesurupan setan apa lo senyum-senyum sendiri?!" tanya Lendra yang berada dipertengahan anak tangga melihat Nendra sedang menaiki anak tangga sambil tersenyum sendiri.
"Perhatian juga lo sama gue." jawab Nendra terkekeh.
Lendra menggelengkan kepalanya malas meladeni tingkah Nendra. Dia kembali melanjutkan menuruni anak tangga namun bahunya ditahan oleh Nendra.
"Lo udah siap kehilangan motor kesayangan lo itu?" tanya Nendra tersenyum sinis.
Lendra menatap Nendra datar, "Jadi kesimpulannya lo udah jadian sama dia?"
"Yap! Itu artinya gue yang menang taruhan. Sini kunci motor lo!!" jawab Nendra sambil mengulurkan tangannya.
"Gimana supaya gue bisa percaya kalau lo udah jadian sama Pesona?" tanya Nendra bersedekap memandang Nendra.
"Maksudnya lo ngga percaya sama gue?"
"Gue cuma ngga mau ditipu sama lo."
"Jadi sekarang mau lo apa?"
"Bawa dia kerumah! Mungkin dengan itu bakal membuktikan kalau lo emang beneran udah jadian sama dia. Sekalian gue bakal kasih kunci motor itu dihadapan Pesona, gue dengar lo Cuma mau pacaran sama dia buat dapet motor gue. Hitung-hitung gue bantu lo supaya Pesona cepet mutusin lo."
Nendra mengepalkan genggaman tangannya, rahangnya mengeras menahan amarah.
"b*****t lo!"
"Hahaha... Kenapa? Gue minta lo buat pacaran sama dia bukan buat jatuh cinta! Lo sendiri pernah bilang kalau itu semua cuma taruhan, kenapa sekarang lo jadi serius? b**o!"
Nendra terdiam.
"Kalau lo mau dapetin motor gue dan udah siap putus dari Pesona, lo bisa bawa dia ke rumah dan dateng ke gue. Batas waktu lo tinggal satu bulan lagi, Ngerti my bro?"
Nendra menengadahkan kepalanya dan memejamkan mata, tiba-tiba kepalanya berdenyut karena mengingat perkataan Lendra. Dia melepaskan tasnya lalu melemparkannya ke sembarang tempat.
"b******k!" umpat Nendra.
--------
TBC