Dilema

1121 Words
Episode 8. Dilema "Sayang ... kita nikah yuk?" "A-apa mas? nikah?" "Iya nikah, setelah mas pikir-pikir ada baiknya kita akhiri hubungan yang gak jelas ini, Mas pengen punya anak." "Ta--tapi, aku kan belum cerai Mas. A-apa gak sebaiknya Mas pikirkan dulu." "Justru itulah yang selalu Mas pikirkan sayang, mangkanya Mas berani ngomong begini karena sudah Mas pikirkan." "Aku ... Bingung Mas, aku belum siap." "Jangan bilang kalau kamu masih cinta sama suamimu, kamu anggap selama ini hubungan kita seperti apa?" "Maafkan aku Mas, maksudku bukan begitu. Jujur aku cinta sama Mas, tapikan Mas tahu sendiri suamiku sudah tua. Aku gak tega." "Gak tega, apa masih cinta?" "Aku dah gak cinta sama dia, a-aku cuma kasian Mas sama dia." Kataku sembari menunduk. Aku bingung dengan semua ini, disatu sisi aku sangat senang dengan ajakan mas Bob untuk menikah, disisi lain aku bingung dengan status ku. Aku kasihan dengan mas Aryo, dia sudah tua. Bukan maksudku mendahului takdir, aku tak ingin menyakiti hatinya walaupun sudah aku lakukan, tapi aku tak tega jika harus meninggalkannya. "Bagaimana kalau kalian bercerai saja? aku akan menyiapkan surat perceraian untuk kalian." "Cerai? Tapi kami hanya nikah siri, bagaimana caranya?" Kataku. "Hah ... Itu malah bagus, lebih gampang prosesnya." "Maksud Mas, bagus gimana? Apanya yang gampang?" "Pernikahan kalian kan hanya sah dimata agama, sementara dimata negara kalian tidak memiliki status." "Maksudnya gimana sih Mas? Bukannya sama saja ya, kan orang-orang kampung dan keluargaku juga tahu kalau aku sudah lama menikah dengan Mas Aryo dan itu sah." "Iya memang sah, yang bilang gak sah siapa sayang? Hei ... Dengerin Mas ya, pernikahan mu dengan situa Aryo itu memang sah, tapi tidak diakui negara." "Tapi kami punya kartu keluarga loh mas, berarti kan pernikahan kami sah dan diakui negara, kalau tidak mana mungkin kami bisa bikin kartu keluarga." "Sayang, dengerin Mas ya. Semua warga negara kita yang sudah menikah memang wajib dicatat dalam kartu keluarga, karena tugas dukcapil cuma mencatat bukan menikahkan. Itu sebabnya kalian bisa punya kartu keluarga." "Lah, terus aku harus bagaimana? Apa sih bedanya nikah siri sama nikah pakai surat-surat itu? Bukannya sama aja ya Mas?" "Bedalah, sekarang Mas tanya sama kamu. Apa yang kamu harapkan dari pernikahan siri itu? jika nanti terjadi sesuatu pada suamimu, kamu hanya menjadi penonton, kamu gak ada hak atas warisan dia. Apalagi kalau bukti pernikahan kalian gak ada." "Hah ... Kok bisa Mas, kan aku yang udah ngurusin dia, dikartu keluarga statusku juga istrinya masak aku gak dapat apa-apa. Ya gak mungkinlah, hehehe." "Iya memang benar yang kamu katakan itu. Ah ... Sudahlah, lain kali kita bahas." Seketika aku teringat dengan masa kecilku yang tak diakui oleh keluarga ayahku. Karena aku lahir dari pernikahan siri, begitu juga dengan adikku, dengan mudahnya pria breng*ek itu mencampakkan ibuku. Karena mereka menikah juga secara siri. Itu sebabnya ibuku tak bisa menuntutnya untuk menafkahi kami, apalagi bukti pernikahan mereka hanya selembar kertas yang tulisannya gak jelas. "Kamu benar Mas, nikah siri itu gak enak. Tapi bagaimana caranya agar aku bisa berpisah dari suamiku?" "Kalau masalah itu, biar aku yang urus. Kamu tinggal duduk manis aja nunggu hasilnya." "Tapi Mas ... Apa Mas yakin? aku takut, keluarga Mas tak merestui hubungan kita." "Soal itu kamu tak perlu khawatir, kitakan sama-sama dewasa mana mungkin mereka menolak pilihan Mas." "Aku ... bingung Mas." "Hei gak usah bingung, santai saja. Kalau kamu belum siap, ya gak masalah." "Mas hanya takut kamu hamil anak Mas tanpa ikatan pernikahan, Mas gak mau ... Ah sudahlah, kalau kamu belum siap ya sudah, gak apa-apa." Katanya sembari tersenyum. "Kalau memang Mas takut aku hamil, ya mulai sekarang kita ...." Kata-kataku terhenti karena mas Bob menempelkan jemarinya dibibir ku. "Huss, ngomong apa sih." Katanya sambil menggelengkan kepalanya. "Memangnya kamu bisa nahan itu, kalau kita lagi berdua ha ...? Bukannya kamu suka gak tahan ya, hehehe." Katanya terkekeh. "Maksudku kalau Mas takut aku hamil ya gak usah begitulah." Kataku cemberut. "Hahahaha, yang suka ngajak begituan itu siapa sih?" Katanya sembari mengacak puncak kepalaku. Aku seperti anak kecil yang hanya bisa cemberut saat mas Bob memperlakukanku seperti ini. Kuakui selama ini dia tak pernah meminta atau memaksaku untuk melakukan hubungan intim. Akulah yang selalu mengajaknya untuk melakukan itu, tapi kenapa malah dia yang khawatir? Harusnya kan aku yang khawatir, aneh. Kalau dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan mas Bob, selama ini aku kan gak pernah tahu tentang hukum-hukum perkawinan. Apalagi tentang urusan surat-surat penting apalah tadi namanya ya, ah lupa aku. Jangankan urusan yang begituan masalah kartu keluarga atau akte kelahiran saja aku gak pernah tahu gimana cara bikinnya. Aku taunya terima beres, yang penting punya kartu keluarga, urusan dikantor ya urusan merekalah gimana caranya. Yang penting sewaktu-waktu diperlukan ada barangnya. Ya, walaupun status pernikahan ku dengan mas Aryo hanya sah dimata agama, tapikan gak mungkin aku melakukan poliandri. Biarpun pengetahuanku tentang agama sangat minim, tapikan memang gak boleh perempuan terikat dengan dua pria sekaligus. Ya kan jadi gak jelas anak keturunan siapa yang terlahir dari hubungan seperti itu. Namun jika aku terus bertahan dengan Mas Aryo, apa aku kuat? Meninggalkan mas Aryo yang telah lama mendampingiku dan telah memberiku dua orang putri bukanlah pilihan terbaik. Tetapi jika terus bertahan, bukan hanya hatiku yang terluka hidupku pun akan terus seperti ini. Apalagi jika dia tahu selama ini aku telah menduakan cintanya, bisa hancur sehancur-hancurnya kehidupan Mas Aryo dan aku tak tega membayangkannya. Bagaimana pula nanti keadaan Mas Aryo, sekarang saja dia mulai sakit-sakitan itu. Apakah aku bisa sejahat itu? Aku tahu ini semua salahku, jika saja gaya hidupku tidak seperti sekarang ini lebih besar pasak daripada tiang. Mungkin, penghasilan dari usaha warungku ditambah uang pemberian Mas Aryo, pasti cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Lalu bagaimana dengan nasib kedua anakku? yang masih menumpang hidup dengan ku? mana tega aku membiarkan mereka hidup susah diusia yang masih muda. Cukuplah aku saja yang merasakan hidup susah dan menderita ketika aku menikah dulu, jangan sampai anak keturunanku pun merasakan hal yang sama. Namun, seandainya kuterima lamaran Mas Bob otomatis aku harus meninggalkan mereka semua. Aku tak yakin mereka bisa mandiri seperti halnya aku dulu. Dan aku juga tak rela jika kedua anakku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan saat ini. Aku tak ingin mereka juga bergelimang dosa demi bertahan hidup dengan cara seperti ini, cukuplah aku saja yang berbuat dosa, mereka jangan. Membayangkannya saja aku tak sanggup apalagi sampai terjadi, jangan sampai ya Allah. Jika kutolak resikonya aku akan kembali ke kehidupanku yang dulu. Yang selalu menjadi tulang punggung keluarga dan aku tak yakin bisa terus setia pada Mas Aryo. Bisa jadi akan semakin terjerumus ke dalam lembah dosa, entahlah. Memikirkan semua ini membuat kepalaku terasa sakit, apa yang harus aku lakukan? Bersambung. Bantu Sumira gaes biar dia gak bingung. caranya like, komen dan subscribe cerita ini. Terimakasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD