Episode 9
Aku hamil ...? Anak siapa?
Hari ini entah kenapa seluruh tubuhku terasa sakit dan pegal-pegal semua, membuatku tak kuat jika harus memasak. Tak tega melihat keadaanku yang kurang enak badan, Dewi pun memintaku untuk beristirahat saja. Mungkin karena aku terlalu lelah dan masuk angin karena sering menunda-nunda waktunya makan.
"Hueeek."
Bau aroma masakan membuat hidungku tersiksa, rasanya sangat aneh. Tak hanya itu mendadak perutku terasa sangat mual membuatku seketika ingin muntah.
"Hueeek ... hueeek."
Setelah puas mengeluarkan semua isi perutku, Dewi pun segera membaluri punggungku dengan minyak kayu putih. Kemudian membimbingku masuk kedalam kamar dan memintaku untuk beristirahat saja.
"Biar Dewi yang masak ya Bu, kayaknya ibu masuk angin ini, nanti Dewi buatin wedang jahe untuk ibu." katanya sembari mengelus punggungku, akupun mengangguk mengiyakan.
Hari ini kubiarkan kedua putriku menghandle semua pekerjaan warung, aku yakin mereka pasti bisa. Kalau soal rasa, masakan Dewi bisa diandalkan ketimbang masakan Putri, itu sebabnya aku tak begitu khawatir untuk masalah masakan dan rasa.
Apalagi hari ini ada pesanan nasi box dari proyeknya Mas Bob, otomatis pekerjaan diwarung pasti bertambah banyak. Untunglah kedua putriku sangat cekatan menyiapkan semua pesanan. Mungkin karena terbiasa kalau tidak, bisa keteteran mereka.
Karena sering memesan nasi box padaku, seperti biasanya Mas Bob sendiri yang akan datang untuk mengambil pesanannya. Saat melihat siapa yang melayani pesanannya, Mas Bob yang heran kemudian bertanya pada mereka kenapa bukan aku yang melayani pesanannya.
Kedua putriku pun menjelaskan keadaanku yang sedang sakit. Karena penasaran dan atas izin keduanya, Mas Bob pun memberikan diri untuk melihat langsung keadaanku. Seperti biasa Mas Bob langsung masuk ke kamarku, aku yang tengah tertidur seketika terbangun saat melihat kedatangannya. Terlintas ide nakal di otakku akupun pura-pura tertidur karena aku ingin menggodanya.
Kebiasaanku ketika tidur tanpa menggunakan pakaian lengkap akan kugunakan untuk menggoda Mas Bob. Aku ingin melihat bagaimana sikapnya ketika melihatku tidur tanpa menggunakan pakaian lengkap.
Kebetulan saat Mas Bob datang selimut yang ku gunakan memang terjatuh dilantai. Sungguh diluar dugaanku, Mas Bob ternyata memungutnya dan menyelimuti tubuhku dengan sangat hati-hati. Benar-benar pria yang baik hati.
Saat tangannya terulur hendak menyentuh dahiku, dengan refleks ku gigit tangannya, membuatnya tersentak kaget.
"Astaghfirullah, astaghfirullah ... Astaghfirullah, ya Allah maee!" Pekiknya.
Melihat tingkah lucunya sontak membuatku tertawa, aku tak menyangka ternyata selama ini Mas Bob orangnya kagetan, sesuatu yang sangat langka menurutku.
"Jhahaha. Ya ampun Mas ... ternyata kamu kagetan ya orangnya." tawaku.
"Biasanya enggak kok, ini karena sedih aja lihat kamu sakit." katanya.
"Yakin ...?" godaku.
"Yakinlah, mau bukti? sini Mas peluk."
"Lah ... apa hubungannya? gak nyambung deh."
" Yaudah sini Mas sambungkan."katanya sembari memeluk tubuhku.
Aku yang memang masih lemas tak kuasa menolak pelukannya, semakin erat rasanya semakin nyaman. Entah apa yang ada dipikiran Mas Bob perlahan tapi pasti tangan kekarnya dengan lembut menyentuh area sensitif ku membuatku tak bisa menolak setiap sentuhannya.
"Mas ... Aku lagi sakit loh, gak sayang apa?" Kataku sambil melepaskan pelukannya.
"Astaga, kamu sih godain Mas, kan jadi gak enak nolaknya, hehehe."
"Heleh, dasar mesum."
"Ya ampun kok tahu? Anak duk* n ya?" Katanya sembari nyengir.
"Astaga orang ini, bener-bener deh."
"Yaudah, Mas pergi dulu. Jangan lupa minum obat, kalau ada apa-apa kabarin Mas ya."
"Iya sayang, makasih ya. Hati-hati." Kataku.
Diapun bergegas pergi dengan senyum manisnya disertai kerlingan genit.
**
Minggu ini jadwal kepulangan Mas Aryo, tetapi kondisi tubuhku masih sama seperti minggu kemarin. Padahal sudah minum jamu pegalinu tapi tetap saja tak ada perubahan.
Malah tambah parah rasanya, tak ingin membuat Mas Aryo khawatir kukuatkan diri ini untuk mengurus segala kebutuhannya. Kebetulan Dewi anakku sedang dirumah keluarga suaminya, sedangkan Putri tengah sibuk mengurus warung. Mau tak mau akulah yang harus mempersiapkan segala kebutuhan Mas Aryo.
Malam ini cuaca terasa sangat panas membuatku gerah. Karena sakit aku tak begitu peduli dengan kipas angin yang kebetulan rusak.
Aku yang tak biasa tidur dengan pakaian lengkap pun terpaksa menanggalkan selimut yang biasa aku gunakan. Karena lelah dan mengantuk ditambah kondisi tubuhku yang belum mendingan, akupun tak menghiraukan tatapan Mas Aryo.
Entah apa yang ada dipikirannya saat melihatku. Dengan cepat dia masuk dan mengunciku dalam dekapannya. Aku yang terkejut tak berdaya untuk berontak, ada rasa tak rela saat Mas Aryo menyentuhku. Aku sangat j*jik kala bib*rnya menyentuh kulitku dan meninggalkan tanda cinta disana. Aku terus meronta, menolak semua perlakuannya, sayangnya semua usahaku sia-sia. Aku hanya bisa menangis dalam diam, ada rasa bersalah sekaligus marah pada diri ini.
Entah berapa lama aku tertidur, tak kuhiraukan Mas Aryo yang sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri. Melihatku yang masih tiduran membuatnya tersenyum mungkin dipikirannya saat ini aku masih kelelahan karena perg*mulan yang kami lakukan tadi malam.
Huhhh ... sebenarnya dia tahu gak sih mana yang benar-benar menikmati, dan mana yang enggak. Aku yakin dia pasti tidak tahu bedanya.
Seandainya dia tau kalau aku sama sekali tidak pernah menikmati permainannya, kira-kira apa yang akan dia lakukan?
Ah ... sudahlah biarkan saja dia dengan senyumannya itu. Apa salahnya menyenangkan hati seseorang, apalagi hati suami sendiri, iya kan?
Tapi cukup kali ini saja dia melakukannya padaku, aku tak mau kecolongan lagi. Lain kali aku akan lebih berhati-hati. Aku berharap dia segera berangkat kembali kepasar. Melihatnya lalu-lalang di rumah ini membuatku dihantui rasa takut. Ingin rasanya aku menelepon Mas Bob, memintanya untuk segera membawaku pergi dari rumah ini, namun semuanya urung aku lakukan, karena statusku masih istri Mas Aryo.
**
Seminggu tinggal bersama Mas Aryo dalam satu rumah, membuatku selalu dihantui rasa ketakutan. Hampir tiap malam aku tak bisa tidur nyenyak, apalagi jika melihat mas Aryo, membuatku stress dan asam lambungku pun ikut naik. Benar-benar menambah penderitaanku.
Saat-saat yang paling kutunggu akhirnya datang juga. Setelah seminggu dirumah, akhirnya Mas Aryo kembali kepasar tempatnya mengais rezeki.
Hal yang paling menggembirakan menurutku adalah ketika dia jauh dariku. Membuatku terbebas dari rasa ketakutan.akan perbuatannya tempo hari. Setelah mas Aryo pergi, akupun segera menelpon Mas Bob, memintanya untuk segera menemuiku. Mendengar permintaanku yang tak seperti biasanya Mas Bob pun datang ke tempat biasa kami bertemu.
Saat dia datang aku langsung memeluknya, menumpahkan segenap rasa gundah gulana, yang seakan menghimpit jiwaku. Dengan lembut dia membelai rambutku, membiarkanku menumpahkan kesedihan yang seakan tak pernah berakhir. Akupun larut dalam tangisan.
"Nikahi aku Mas! aku tak mau lagi hidup bersama dengannya aku takut." kataku disela-sela tangis.
Mas Bob hanya diam sambil terus mendekapku yang masih terisak.
"Aku takut dia melakukannya lagi, aku sangat membencinya, aku tak suka caranya memperlakukanku seperti itu. Tolong bawa aku pergi Mas!"
Mas Bob melepaskan dekapannya, menghapus air mataku dengan ujung jarinya kemudian mengec*p pucuk kepalaku.
"Sabar ya sayang, Mas janji secepatnya akan membawamu pergi dari sini." lirihnya.
Mendengar itu hatiku sedikit tenang, rasa takut dan khawatir perlahan hilang. Benar-benar ajaib kata-kata yang Mas Bob ucapkan.
Entah kenapa setiap berdekatan dengannya hidupku seakan kembali seperti dulu, tingkah lakuku pun sepertinya ikut berubah, benar-benar dahsyat cinta ini.
Melihatku yang telah tenang, Mas Bob pun mengajakku untuk makan siang bersama. Direstoran cepat saji khas negeri sakura. Namun saat diperjalanan, mendadak kepalaku terasa pusing, pandangan mataku gelap dan berkunang-kunang. Hampir saja aku pingsan.
Seketika aku teringat akan tamu bulanan yang sepertinya belum juga datang. Membuatku deg-degan aku takut, jangan-jangan aku hamil ... kalau benar, terus ini anak siapa? tapikan usiaku sudah empat puluh tahun, apa mungkin wanita seusiaku masih bisa hamil? Berbagai pertanyaan muncul dibenakku.
Jika benar aku hamil lantas benih siapakah yang tumbuh di rahimku ini? belum sempat aku berpikir tiba-tiba tubuhku luruh dan akupun tak ingat lagi dengan apa yang terjadi setelah itu.
**
Dukung author dengan komentar dan like. Terimakasih.