Mas Bob menjauh, Mas Aryo bahagia.
Episode 10.
Aroma minyak kayu putih menarikku kembali ke dunia nyata, entah berapa lama aku pingsan. Saat terbangun, yang kulihat hanya seorang perempuan muda memakai blush putih dipadu dengan celana hitam. Aroma tubuhnya sangat wangi, memakai pashmina hitam senada dengan celana yang dipakainya. Dia berdiri persis disamping brangkar tempatku terbaring sembari tersenyum padaku, senyum yang sangat menawan.
" Alhamdulillah akhirnya ibu sadar, maaf ya Bu saya cek tekanan darah nya dulu ya." dengan cekatan dia melakukan tugasnya.
"Apa yang dirasakan Bu?" pertanyaan Bu bidan itupun menyadarkanku dari rasa takjub akan wajahnya.
"Cuma lemes Bu."kataku pelan.
"Mual, muntah atau ada yang lain?"
"Iya, sudah seminggu ini rasanya eneg terus, makan apapun rasanya gak enak."
"Sudah tes kehamilan Bu?"
Pertanyaan Bidan tersebut sontak membuatku melongo, ya Tuhan, apa mungkin aku hamil.
"Be-- belum Bu." kataku ragu.
"Kapan terakhir kali mens?"
"Saya gak ingat Bu."
"Ya sudah, sebaiknya kita tes dulu ya."
Aku pun mengiyakan perintahnya, untuk mengambil sedikit air seniku dan menyerahkannya pada perempuan cantik yang kutahu berprofesi sebagai Bidan tersebut. Saat-saat yang paling mendebarkan pun terjadi, membuat jantungku serasa berdetak kencang. Aku tak tahu harus bagaimana.
Mas Bob yang sedari tadi hanya menungguku di luar, kini masuk keruangan dan duduk di bangku pasien. Dia begitu tenang duduk manis sembari memperhatikan seluruh ruangan yang didominasi warna putih itu.
Aku yakin mas Bob pasti tertarik sama Bu bidan, buktinya dia sampai tak berkedip saat melihat wajah cantik Bu bidan itu. Jangankan Mas Bob, aku saja yang wanita pun sangat kagum dengan kecantikannya. Melihat itu seketika hatiku sakit, ternyata Mas Bob sama saja dengan p****************g diluaran sana. Tak bisa melihat wanita cantik, matanya langsung melotot tak berkedip.
'Menyebalkan, dasar buaya.' batinku.
"Ehemm ..." Entah kenapa tenggorokanku rasanya sangat gatal.
Menyadari bahwa dirinya jadi pusat perhatian, Bu bidan langsung menyodorkan hasil pemeriksaan nya padaku. Mungkin dia risih diperhatikan, dia pun memakai kembali maskernya.
"Selamat ya Bu, Pak istrinya positif hamil, untuk mengetahui usia kandungannya sebaiknya ibu usg saja biar lebih jelas, dan untuk --"
"Apa Bu, saya hamil?" kataku syok.
Belum sempat Bu bidan menjelaskan semuanya pada kami aku langsung memotong ucapannya, membuat Bu bidan heran, mungkin karena aku berteriak.
"Iya Bu, berdasarkan keluhan yang ibu rasakan dan hasil tes kehamilan ini, ibu positif hamil. Seperti yang saya katakan tadi untuk lebih jelasnya sebaiknya ibu melakukan usg saja. Saya hanya meresepkan vitamin dan anti mualnya saja, ya. Ini nanti langsung ke kasir ya pak."
Bu bidan pun menuliskan beberapa nama obat untukku yang langsung diterima oleh Mas Bob.
"Oh, iya Bu terimakasih, mari Bu." jawab Mas Bob sembari menerima selembar kertas resep obat dari Bu bidan. Akupun bergegas ikut berdiri sembari mengucapkan terimakasih.
Setelah menebus obat dari apoteker Mas Bob langsung mengantarku pulang, tak ada pembicaraan apapun antara kami berdua. Sepanjang perjalanan pulang kami seolah larut dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang ada dipikirannya, sementara aku sendiri tak tahu harus bagaimana. Aku sendiripun bingung sebenarnya aku ini mengandung benih siapa?
Tak terasa kamipun sampai dirumahku, tanpa basa-basi seperti biasanya Mas Bob pun berlalu begitu saja meninggalkan ku dengan sejuta tanya. Mas Bob berubah saat mengetahui kalau aku hamil, apakah dia berpikir bahwa aku hamil anak Mas Aryo? jika benar bagaimana kelanjutan hidupku nanti? aku harus bagaimana? Apakah aku harus mengatakan semua ini pada Mas Aryo? apakah dia percaya kalau ini anaknya?
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Sebaiknya kurahasiakan saja kehamilan ini pada semua orang, sampai aku siap untuk memberi tahukan semuanya pada mereka. Ya, sepertinya memang harus begitu.
**
Sudah hampir dua minggu Mas Bob tak lagi menghubungiku, walau aku sering menelponnya dan mengirimkan pesan namun tak pernah sekalipun dibalasnya. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba berubah menjadi acuh padaku, padahal dia yang selalu berjanji akan setia padaku sampai maut memisahkan. Nyatanya saat aku begini, dia pergi tanpa meninggalkan pesan dan penjelasan membuatku setengah gila.
Aku tak bisa menyembunyikan keadaanku yang sebenarnya pada kedua anakku, karena hyperemesis yang aku alami benar-benar menyiksaku membuat mereka khawatir.
"Hueeek ...."
"Ibu sebenarnya sakit apasih? kok kayak orang ngidam gitu." kata Dewi saat melihatku tengah menguras isi perut.
Aku hanya mampu menggelengkan kepala, karena tak sanggup lagi rasanya untuk berkata-kata. Melihatku yang semakin sakit Dewi pun semakin khawatir membuatnya berlari kesana-kemari, entah apa yang dilakukannya.
Tak kudengar lagi suara grasak-grusuknya, kemana perginya anak itu? Karena lelah akupun kembali terlelap.
Ternyata Dewi pergi kerumah bidan yang letaknya tak jauh dari rumah kami. Membawanya kerumah dan langsung meminta bidan itu untuk memeriksa keadaanku. Aku yang tak bisa menolak hanya diam dan pasrah, karena keadaanku memang sangat lemah.
Saat bidan itu memintaku untuk buang air kecil aku juga nurut, Dewi yang cekatan langsung mengantarku kekamar mandi. Aku hanya pasrah saat Dewi mengambil air seniku, memberikannya pada bidan tersebut.
"Alhamdulillah, Bu Mira hamil selamat ya Bu." kata bidan Arni padaku.
Mendengar itu aku hanya mengangguk dan tersenyum, sementara Dewi hanya terdiam seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Aku mengerti apa yang dia pikirkan, pasti dia masih tak percaya dengan apa yang aku alami, sama seperti aku waktu pertama kali mengetahui kehamilan ini. Aku malah tak yakin kalau wanita seusiaku masih bisa hamil, tapi nyatanya aku memang hamil.
Setelah mengantar bidan Arni kembali ke rumahnya, Dewi langsung mencecar beberapa pertanyaan padaku.
"Ibu jujur sama aku, sebenarnya anak siapa itu?" Katanya sinis.
"Anak Ayahmu lah." Kataku mencoba untuk tetap tenang.
"Aku kok gak yakin ya."
"Maksudmu apa?"
"Maksudku, bukannya ibu ada --."
"Oh, jadi kau pikir aku itu w************n yang mau sama siapa saja, gitu?" Kataku memotong ucapannya.
"Eng- gak gitu Bu, tapikan ibu pernah pacaran sama--."
"Itu bukan pacaran, ah sudahlah sebaiknya kau tanya saja sama Ayahmu, bagaimana hubungan kami."
"Ya gak mungkinlah."
"Sudahlah ibu mau istirahat, ibu ngantuk."
Sebenarnya aku sangat takut dengan pertanyaan Dewi. Aku yakin dia pasti tidak percaya dengan semua kata-kataku. Jika saja saat ini tubuhku tak selemah ini sudah kuga*par mulutnya itu, tapi aku tak boleh emosi karena bisa saja dia hanya memancingku agar aku berkata yang sebenarnya.
Melihat respon ku yang tak seperti biasanya Dewi pun akhirnya pergi kembali ke warung. Sebelum dia pergi kudengar dia menelepon ayahnya, membuat hatiku semakin tak karuan.
***
Mendengar berita kehamilanku, Mas Aryo yang tengah bekerja pun langsung pulang untuk melihat keadaanku. Aku tahu dia pasti khawatir dengan kondisiku atau jangan-jangan dia juga tak percaya jika aku hamil anaknya. Jika seperti itu aku harus bagaimana?
Tok ... tok ... tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku, ternyata Mas Aryo sudah datang. Kulihat ditangannya berbagai macam jenis buah-buahan yang masih sangat segar, melihat dia tersenyum aku yakin dia pasti tengah gembira.
"Alhamdulillah akhirnya doaku terkabul Yang, kamu hamil ... hehehe."
"Uhukk ...." Entah kenapa mendengar perkataannya barusan membuatku tersedak, padahal aku minum tanpa berbicara.
"Pelan-pelan Yang, aku gak kemana-mana kok, aku janji akan selalu ada di dekatmu sampai kamu benar-benar enakan badannya." katanya sembari mengelus perutku.
"A-apa Mas, maksudnya gimana?" kataku sembari ngengerutkan kening, jengkel.
"Kamu kan kalau ngidam parah banget sampai gak bisa ngapa-ngapain, aku kan khawatir mangkanya aku gak mau jauh-jauh dari kamu." katanya sambil mencolek hidungku, membuatku jengah.
"Tapi aku gak mau lihat kamu! bukannya tambah sehat aku, yang ada malah tambah ngedrop kalau lihat kamu terus!" ketusku.
"Aku janji gak akan dekat-dekat."
"Hueeek ... tuh kan belum apa-apa sudah mual aku, pergi sana!" usirku sambil mengibaskan tangan.
"Pergi ... ngerti gak sih, aku gak suka lihat kamu Mas!" teriakku.
"Iya, iya aku keluar, tapi ingat ya dimakan buahnya, kalau pengen sesuatu Mas ada didepan." Katanya sembari tersenyum dan berlalu dari kamarku.
"Huhhh ... nyebelin banget tuh orang! gak ada kerjaan lain apa? udah tau aku gak suka lihat dia, eh dianya malah senyum-senyum, kenapa sih suamiku itu harus dia?"
Kenapa mas Aryo begitu gembira? Apa dia pikir janin ini anaknya? Kalau benar begitu baguslah, akhirnya aku bisa tenang, tak ada lagi yang mengganggu pikiranku.
Tentang siapa sebenarnya ayah dari janin ini biarlah hanya Tuhan yang tahu. Jika Mas Bob saja bisa melupakanku, kenapa aku harus mengingatnya?
Terlalu sakit hati ini dibuatnya, sebaiknya kututup rapat-rapat cerita tentang aku dan dirinya. Anggap saja dirinya bukan siapa-siapa dengan begitu aku bisa kembali hidup normal bersama Mas Aryo dan juga bayi ini.
Bersambung.