Episode 11
Aku mulai membuka hati, tapi ....
Sudah tujuh bulan berlalu dan perutku pun semakin hari semakin membuncit. Menandakan janinku sehat dan baik-baik saja. Syukurnya tak terlalu banyak keluhan yang aku alami selama kehamilan ini.
Berbeda dengan kehamilan ku terdahulu, yang terlalu banyak drama keluhan ini dan itu.
Aku tak begitu peduli dengan jenis kelamin bayi yang kukandung ini. Bagiku dia tumbuh dengan sehat dan diperlakukan dengan baik oleh Mas Aryo merupakan hal yang paling aku syukuri.
Semenjak kehamilan ini, hari-hari kulalui dengan hal-hal yang positif. Aku benar-benar menikmati masa-masa kehamilan yang sangat menyenangkan. Mereka semua, anak-anak dan mas Aryo sangat memanjakanku. Apapun yang aku inginkan Mas Bob dengan cepat mengabulkannya. Membuatku semakin tersanjung dan menyadari bahwa selama ini akulah orang yang tak pernah bersyukur.
Ku akui mas Aryo sekarang banyak berubah, selain baik dan perhatian, dia juga banyak uang.
Bukan uang yang membuat hatiku mulai mengaguminya, tapi ketulusan hati yang mas Aryo miliki. Aku tak pernah lagi membenci dirinya, bahkan saat ini aku justru merasa nyaman saat bersama dengannya. Mungkinkah cinta itu perlahan muncul kembali?
Aku secara perlahan tak lagi menolak setiap kasih sayangnya, belaiannya serta semua tentang dirinya. Kuakui waktu telah merubah segalanya. Selama hampir tujuh bulan bersamanya tanpa gangguan dari pihak lain, membuat tembok pembatas yang dulu kubangun perlahan kuhancurkan.
Aku tanpa rasa terpaksa melayani setiap inginnya, menikmati sentuhannya dan meresapi setiap lenguhannya. Membalas semuanya dengan senyuman, tanpa keluhan seperti dulu. Semenjak aku menyadari kesalahanku, aku tak lagi memperdulikan keadaannya. Aku ikhlas melayaninya.
Terkadang pandangan kita terhadap seseorang selalu salah, ketika kita sedang mencari pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan.
Namun sisi lain hatiku tak bisa melupakan mas Bob. Semakin keras hatiku untuk melupakan kenangan tentangnya, semakin sakit pula rasanya. Tak kupungkiri kadang kenangan tentang kebersamaan kami sering muncul dan menghantui pikiranku. Sebisa mungkin kutepis jauh-jauh pikiran itu. Namum bukannya pergi, pikiran itu seolah-olah memaksaku untuk tetap mengingat semua tentang dirinya. Semakin aku membencinya, semakin dalam pula kerinduan itu untuknya.
Entah apa yang salah pada hubungan kami, hingga kini tak pernah lagi kudengar berita tentang dirinya. Bak ditelan bumi dia menghilang begitu saja.
Anehnya, saat hati ini mengingat kenangan tentang dirinya, bayi dalam perutku seolah ikut bahagia dan tak henti-hentinya membuat gerakan, seolah mengerti apa yang kupikirkan. Berbeda saat aku bersama Mas Aryo, walaupun bayi ini meresponnya dengan gerakan tapi terasa berbeda. Gerakannya tidak seaktif saat aku mengingat Mas Bob. Mungkin karena banyi ini memang anaknya mas Bob, itu sebabnya aku tak bisa melupakan dia.
Seandainya Mas Bob tak menghilang begitu saja, ingin rasanya aku bertemu walau sekali saja. Bukan untuk kembali padanya, aku ikhlas jika dia tak mau bertanggung jawab. Aku sadar siapakah diri ini, aku hanya ingin menumpahkan segala caci-maki untuknya, agar dia tahu bagaimana rasanya kesakitan ku selama ini. Agar dia tahu bahwa yang kukandung ini adalah anaknya. Benih yang selalu dikhawatirkannya jika tumbuh tanpa adanya ikatan pernikahan diantara kami berdua.
Berdasarkan hasil usg yang aku lakukan menunjukkan usia kandunganku, aku yakin karena selama beberapa bulan sebelum aku hamil mas Aryo tak pernah sekalipun menyentuhku. Setelah aku hamil beberapa minggu Mas Aryo pulang. Aku ingat waktu itu kondisiku yang tak enak badan, disitulah mas Aryo menggauliku. Sangat jelas rentang waktunya. Sampai saat ini aku masih terus merahasiakan usia kandunganku yang sebenarnya, itu pula yang membuatku semakin stress. Aku takut bagaimana jika mas Aryo menyadarinya?
Jika mengingat semua perhatiannya padaku saat ini, rasanya hatiku tak tega. Namun aku harus bagaimana? tak mungkin aku jujur tentang semuanya. Siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi jika aku jujur tentang anak ini. Aku juga belum siap menanggung semua kebutuhanku dan bayi ini jika Mas Aryo meninggalkanku. Egoiskah aku?
Kasih sayang Mas Aryo sangat luar biasa, diusianya yang sudah lebih dari enam puluh lima tahun tapi dia berusaha untuk menjadi suami siaga. Tak pernah dibiarkannya aku melakukan pekerjaan yang berat, bahkan sekedar bantu-bantu diwarung saja aku tak boleh, alasannya takut aku kecapean. Ada rasa bahagia diperlukan istimewa olehnya, setidaknya ada nilai lebih untuknya. Saat ini aku merasa beruntung memiliki pasangan seperti Mas Aryo. Seandainya waktu bisa diputar ulang ingin rasanya menjadi istri yang setia.
Begitulah penyesalan selalu datang belakangan, seandainya aku tak pernah selingkuh, apakah mas Aryo tetap seperti ini?
Saat seperti ini aku hanya bisa berkata, "Seandainya dan seandainya saja."
**
Hari ini jadwalku untuk cek kandungan, rencananya Mas Aryo ikut sekalian belanja perlengkapan bayi. Melihatnya yang sangat antusias membuat senyumku terus mengembang. Ada rasa bahagia menyelimuti hatiku rasanya ingin seperti ini terus, jangan ada lagi dusta dan perselingkuhan diantara kami, semoga saja.
Sesampainya kami dirumah sakit Mas Aryo langsung pergi ke tempat pendaftaran, sementara aku duduk di ruang tunggu. Aku ingat saat pertama kali datang ke rumah sakit ini, waktu itu aku langsung dirawat inap karena mengalami pendarahan hebat. Sedangkan usia kandunganku baru empat bulan, selain karena faktor usia waktu itu aku sempat stres.
Aku terus menerus memikirkan nasibku yang sangat tidak beruntung. Sudah hamil malah ditinggal selingkuhannya. Aku sempat berpikir untuk menggugurkan kandungan ini. Beruntung mas Aryo dengan cepat membawaku ke rumah sakit ini.
Itulah sebabnya mengapa Mas Aryo begitu perhatian padaku dan juga bayi ini. Apapun yang aku lakukan tak pernah luput dari perhatiannya.
Saat tengah menunggu itulah, aku seperti melihat seseorang yang rasanya tak asing bagiku. Seperti melihat bayangan wajah seseorang yang sangat aku kenal.
"Mas Bob! benarkah itu dia? Sedang apa dia disini?" Batinku.
Degup jantungku serasa meledak-ledak, ingin rasanya aku menghampirinya. Namun aku ragu karena dia tak sendiri, ada seseorang yang dengan setia menemani serta menggenggam erat tangannya, sangat mesra. Membuat hatiku kembali sakit, tak ingin larut dalam kesedihan akupun berlalu dari tempat itu. Tak kuhiraukan panggilan Mas Aryo juga orang-orang yang sempat berteriak mengkhawatirkan ku, aku terus saja berlari.
Tiba-tiba perut bagian bawahku terasa sakit dan sangat kencang, karena kram membuatku hampir saja terjatuh. Untungnya Mas Aryo dengan sigap menangkapku dan membantuku untuk kembali berjalan perlahan-lahan. Melihatku yang tiba-tiba berlari membuatnya sangat cemas dan khawatir.
Setelah menenangkan hati dan pikiran kamipun kembali ke ruang tunggu, syukurnya disana sudah tak ada lagi pemandangan yang membuatku merasa tidak nyaman, seperti tadi. Lantas kemana perginya dia?
Bersambung.