Melahirkan

1646 Words
Episode 15 Melahirkan. Setelah puas menumpahkan segala rasa yang menghimpit dadanya, Sumirapun bermaksud untuk pulang. Baru beberapa langkah dia berjalan tiba-tiba saja dia merasakan sakit yang teramat sangat diarea bawah perutnya. Memaksanya untuk menghentikan langkah, dia pun beristirahat di ruang tunggu rumah sakit. Saat duduk diruang tunggu Sumira berusaha untuk merilekskan pikirannya, dan mencoba untuk tetap tenang, walau hatinya tengah bergejolak. Perlahan diapun mengatur deru nafasnya, mengelus-elus perutnya yang semakin sakit. Berkali-kali dia mengatur tarikan nafasnya, mencoba untuk tidak merasakan nikmatnya rasa kontraksi. Sayangnya rasa nyeri itu kian lama kian meningkat ritmenya. Semakin dia berusaha untuk tidak merasakan sakitnya, malah semakin menjadi-jadi pula rasa nyerinya. Membuatnya semakin tak nyaman, entah berapa lama dia berganti-ganti posisi. Terkadang dirinya duduk, berdiri, kemudian duduk lagi begitu terus. Sehingga dia merasa ada sesuatu yang seolah menekan perutnya seperti hendak buang air besar. Semakin lama rasa itu semakin tak tertahankan lagi. Suami pun teringat saat dirinya melahirkan dulu, rasanya hampir sama seperti saat ini. Namun, dia berusaha untuk terus bersikap tenang. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Mungkin rasa takut dan khawatir memaksa dirinya untuk terus berusaha bersikap tenang. Entah apa yang ditakutkannya. 'Aku yakin ini pasti tanda-tanda melahirkan, ya ampun ... Aku harus bagaimana? Mereka tahunnya kandunganku baru menginjak delapan bulan, kalau lahiran sekarang pasti ketahuan dong, kalau bayi ini sebenarnya tidak prematur ... Aish ... Sakitnya, bagaimana ini.' Bathin Sumira. Semakin lama dia memikirkan keadaanya, semakin hebat pula rasa nyeri disertai keram di perutnya yang semakin sering. Membuatnya tak sanggup lagi untuk duduk, dengan suara tertahan dia meminta bantuan securiti agar membawanya ke unit gawat darurat. Namun, belum pun sempat dia sampai di sana tubuhnya malah ambruk, untungnya seorang wanita muda yang kebetulan duduk disampingnya dengan sigap memegangi tubuhnya. Dan dengan bantuan orang-orang di sana Sumira pun berhasil diantar keruang gawat darurat. ** "Bu, ibu ... Bu ...." Seseorang memanggil-manggil, memaksaku kembali ke alam sadar. Semakin lama kurasakan suaranya semakin dekat, bahkan sangat dekat. "Alhamdulillah, akhirnya ibu sadar. Suster tolong di cek kondisi janinnya, pasang semua alat." Kata pria berbaju hijau, khas pakaian dokter. Setelah mataku terbuka sempurna kulihat dokter tampan itu tersenyum padaku. Senyuman yang sangat menawan. Tanpa menunggu lama dengan sigap dua orang suster langsung melaksanakan tugasnya. Satu orang sibuk memasang jarum infus dan mengambil sedikit darahku. Sedangkan suster lainnya menanyakan nama, alamat lengkap serta semua keluhan yang aku rasakan. Setelah semua lengkap terpasang suster yang sedari tadi memeriksa catatan medisku pun akhirnya menelpon Mas Aryo. Memintanya untuk segera datang ke rumah sakit tempatku terbaring saat ini. "Saya pingsan ya suster?" Kataku sembari memperhatikan keadaan sekitar. "Iya Bu, syukurnya semua baik-baik saja." Katanya sembari tersenyum. "Alhamdulillah, padahal baru beberapa hari yang lalu saya dirawat disini, ya kan suster. Apa gak bahaya untuk bayi saya sus?" Tanyaku khawatir. "Insya Allah ya Bu, mangkanya ini lagi kita pantau denyut jantung dedenya, untuk saat ini Alhamdulillah masih aman, berdoa terus ya Bu." kata suster cantik itu lagi. "Iya suster terimakasih." "Sama-sama Bu." Katanya sembari tersenyum. Setelah itu suster cantik itupun kembali ke ruangannya. ** Entah berapa lama aku tertidur, saat terbangun kulihat Mas Aryo tengah duduk di bangku samping brangkar tempatku terbaring. Dia tersenyum sembari mengelus puncak kepalaku, hal yang selalu dilakukannya sedari dulu. Membuatku seperti anak kecil. "Permisi pak, ibunya kita pindahkan ke ruang bersalin ya, bapak bisa mempersiapkan semua kebutuhan ibu dan bayinya sekarang. Sambil menunggu tensi ibunya normal, dan denyut jantung bayinya stabil ya Bu. Kalau jam dua belas malam ini kondisi keduanya belum stabil juga, mau gak mau kita lakukan tindakan sesuai anjuran dokter, ya Bu." Kata asisten dokter padaku. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelah mengatakan itu beliau langsung meminta kedua securiti mendorong brankarku membawaku ke ruang bersalin. Setelah memastikan semuanya terpasang dengan baik dan benar merekapun meninggalkanku. Tak berapa lama datanglah perawat cantik menanyakan namaku. "Permisi ... Halo ibu siapa namanya?" "Nama saya Sumira Bu." "Maaf ya Bu saya cek dulu kandungannya." "Iya ... Silahkan Bu." beliau kemudian memeriksa layar monitor disampingku, yang langsung terhubung dengan kabel yang menempel di perutku. Sambil tersenyum dia pun kembali memeriksa perutku. "Tadi sudah diberitahu kan Pak kalau malam ini ibunya akan menjalani tindakan?" katanya sembari menatap mas Aryo. "Astaghfirullah, jadi malam ini langsung dilakukan tindakan Bu dokter? Apa gak ada cara lainnya ya Bu? Kan usia kandungannya masih delapan bulan." Kudengar suara mas Aryo bergetar. "Iya Pak ini juga masih kita usahakan, mangkanya kita tunggu sampai pukul dua belas malam nanti. Jika masih tetap seperti ini, gak ada pilihan lain. Bukannya dari awal sudah dikasih tau ya Pak kalau posisi plasentanya menutupi jalan lahir?" "Maaf Bu saya kurang mengerti hal begituan, hehehe. Namanya juga sudah tua, yang penting sehat semuanya Bu. Kalau urusan apa itu tadi namanya ya, saya serahkan sama dokternya saja, apapun itu saya ikut. Yang penting anak dan istri saya selamat." " Iya pak, ini juga lagi kita usahakan yang terbaik untuk ibu dan bayinya. Saya permisi dulu ya Bu, Pak." Dokter cantik itupun keluar ruangan sembari tersenyum. Hampir saja aku salah memanggilnya, jika mas Aryo tak memanggilnya dengan sebutan dokter, bisa malu aku. Ah ... maklumlah aku tak bisa membedakan mana yang suster mana yang dokter, karena saat ini pakaian yang mereka gunakan dari ujung rambut hingga ujung kaki hampir semuanya sama. Hanya warnanya saja yang berbeda-beda. Jika asisten dokter yang pertama kali memeriksaku memakai setelan warna hijau, kali ini dokter spesialis anak memakai setelan warna ungu, sedangkan dokter kandungan yang biasa memeriksaku memakai setelan warna merah marun. Hehehe ... Setidaknya itulah yang ku ingat saat ini. Pukul setengah sebelas malam, kembali lagi dokter memeriksa keadaanku. Sayangnya tak ada perubahan pada denyut jantung bayiku. Aku pun hanya bisa pasrah dan berusaha untuk tetap tenang. Berharap semua akan baik-baik saja. Saat waktunya tiba ku lihat mas Aryo mondar-mandir di depan pintu masuk ruang operasi. Seperti orang kebingungan. Saat brangkar tempatku berbaring berhenti tepat di depan pintu itu, seketika dokter anastesi memintaku untuk meminta doa restu pada mas Aryo. "Bismillah, sebelum kita masuk ibunya salim dong sama suami cium tangan suaminya Bu." Aku mencium punggung tangan mas Aryo, sembari tersipu malu. Karena hal seperti itu belum pernah sekalipun aku lakukan sebelumnya. Dengan segenap perasaan akupun memohon maaf serta meminta agar mas Aryo mengikhlaskan apapun yang terjadi nanti. "Mas ... Aku minta maaf jika selama ini, a-aku tak pernah menjadi istri yang baik untukmu. Doakan kami dan Ikhlaskan apapun yang terjadi nanti." "Huss ... gak boleh ngomong gitu, Insya Allah Mas sudah memaafkan semuanya. Mas juga minta maaf ya Yang." Katanya sembari mengecup puncak kepalaku. Dan kujawab dengan anggukan. Setelah itu akupun dibawa masuk keruangan yang terang dan sangat dingin. Aku berusaha untuk tetap tenang. Kata orang, berada di ruang operasi itu ibarat berdiri di persimpangan jalan. Tempat dimana kita bisa sangat dekat dengan sang pencipta. Entah apa maksudnya akupun tak tahu. Aku mencoba untuk berdoa, sayangnya tak bisa. Entah kemana hilangnya semua doa-doa yang pernah kupelajari sewaktu kecil dulu. Perlahan air mataku menetes dengan sendirinya. Aku benar-benar lupa, aku menangis mengingat semua tingkah lakuku selama ini. 'Tuhan ampuni aku.' Perlahan Aku pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Mencoba mengingat kalimat-kalimat zikir, Alhamdulillah akhirnya aku bisa. Dengan penuh kepasrahan kulantunkan doa' meminta pertolongan pada sang pemilik kehidupan. Aku terus beristighfar dan memasrahkan diri padanya. Alhamdulillah rasa khawatir dan ketakutan perlahan hilang diganti dengan rasa syukur karena masih mengingat Allah meski keadaanku seperti ini. Ada rasa bahagia menyelusup dihatiku saat mengingat tentang kematian. Setidaknya aku masih sempat menyebut nama Tuhan ku Allah SWT sebelum aku benar-benar mati. Aku yakin doa dan harapanku pasti diijabah, itu sebabnya tak henti-hentinya aku berzikir. walau rasa dingin ini sangat menusuk-nusuk hingga ketulang. Entah berapa lama aku terbaring sendirian di ruangan ini, saat dua orang dokter memintaku untuk duduk akupun hanya bisa menurut. Entah apa yang dilakukan keduanya. Yang aku rasakan hanya dingin saat salah satu dari mereka menyuruhku untuk sedikit membungkuk. Setelah beberapa saat, akhirnya proses yang sangat mendebarkan pun dilakukan, aku sama sekali tak bisa merasakan apapun, tubuhku rasanya mati rasa. Kedua dokter itupun memintaku untuk menggerakkan kedua kakiku, sayangnya tak bisa. Dan mereka saling mengangguk. Aku mencoba untuk tidur sayangnya suara alunan musik yang sangat keras, membuatku kembali ke alam sadar. entah lagu apa yang mereka putar. Selain suara musik aku juga mendengar suara dari beberapa orang dokter, entah berapa orang jumlah mereka. Yang pasti paramedis ini benar-benar kompak dan asyik. Sesekali salah satu dari mereka juga bertanya padaku, karena tak begitu jelas aku hanya mengangguk dan tersenyum, aku tak mengenali wajah mereka karena masker dan pakaian yang mereka kenakan juga sama semua. Entah apa yang terjadi denganku, tiba-tiba saja rasa dingin dan mual membuatku seketika menarik sebelah tangan ku, melihat tindakanku salah satu dari dokter itupun segera memperbaiki kembali posisi tanganku. "Dokter, tolong saya, saya ingin muntah."kataku gelagapan. "Tarik nafas ya Bu, tarik nafas." kata dokter ganteng yang berada tepat di sisi kananku. "Dokter, saya lupa caranya." kembali aku berkata. "Tarik nafas itu mengambil udara dari hidung, kemudian keluarkan dari mulut, ayo ibu pasti bisa." suara lembut dokter muda itu menghipnotis ku. "Hmmmmp ... hahhh. Begitukan Dok?" "Iya ibu, lanjutkan terus sampai rasa mualnya hilang." "Hhmmmp ... hahhh. Iya dokter." Aku pun berulang kali menarik nafas sebanyak-banyaknya, dan benar saja rasa mual dan muntah yang tadi sangat menyiksaku perlahan hilang. "Dokter, apa yang terjadi dengan saya?" "Enggak apa-apa kok Bu, ini sudah selesai, ini cium dulu dong dede bayinya. Alhamdulillah semuanya selamat." sambil mendekatkan wajah bayi mungil itu kewajahku, seketika rasa bahagia memenuhi rongga hatiku. "Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." Setelah semua selesai aku merasa kembali mengantuk, entah berapa lama aku tertidur dan ketika aku terbangun aku merasakan sekujur tubuhku rasanya sangat sakit terutama bagian bawah perutku, rasanya seperti terbakar dan sangat menusuk-nusuk. "Oh Tuhanku, kenapa rasanya begitu sakit? Ampunilah dosaku Tuhan!" teriakku. Tiba-tiba seorang perawat datang menghampiriku sambil tersenyum dia memintaku untuk kembali tenang, sembari berkata tangannya dengan cekatan menyuntikkan cairan obat kedalam selang infusku. Seketika rasa sakit yang tadi sangat menyiksaku perlahan hilang, membuatku kembali terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD