Episode 14
Penasaran.
Mas aryo mengajakku untuk segera pulang. Dia khawatir dengan kondisiku yang baru saja keluar dari rumah sakit. Aku tak bisa menolaknya, karena memang kondisiku yang baru mendingan. Sebenarnya aku ingin berlama-lama di rumah adikku, masih banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Sayangnya mas Aryo melarangku, alasannya dia gak berani berlama-lama meminjam mobil orang. Mau tak mau akupun menurutinya. Walau sedikit kesal tapi mau bagaimana lagi, aku juga harus istirahat.
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menurut pada mas Aryo. Aku ingin berubah menjadi istri yang baik untuknya. Aku sadar hanya dia satu-satunya orang yang selalu ada untukku.
Dan akupun berharap dia juga begitu.
Sebenarnya aku masih penasaran dengan Sukesih tadi, ada hubungan apa sebenarnya antara dia dengan orang yang mirip mas Bob itu. Jika masalahnya tentang pertanggung jawaban atas kecelakaan yang mereka alami, kenapa dia terlihat sangat dekat dengan orang itu. Atau mungkin mereka sudah saling mengenal sebelumnya? tapi dimana? sejak kapan?
Astaga, baru saja aku berjanji untuk tidak lagi memikirkan orang lain, dan sekarang aku telah melanggarnya. Ternyata begitu berat cobaan untuk menepati janji sendiri, oh ya ampun ... bantu aku Tuhan.
Tak bisa dipungkiri, setiap wanita hamil pasti ingin selalu bersama dengan pasangannya. Aku juga merasakan hal itu. Walaupun mas Aryo tergolong suami siaga, tetap saja hatiku selalu menolak setiap perhatiannya. Didepannya aku selalu berusaha untuk bersikap layaknya seorang istri yang selalu ingin dimanja, sejujurnya hatiku sangat tersiksa.
Seandainya aku tak hamil pasti kejadiannya tak seperti ini. Mungkin sudah kutinggalkan dirinya, bagaimanapun aku berusaha untuk kembali mencintainya, tetap saja hatiku menolaknya.
Hingga saat ini dihatiku masih tersimpan dengan indah nama mas Bob. Sebegitu susahnya menghapus namanya dihatiku, walaupun dia telah melupakanku. Caranya meninggalkanku semakin membuatku penasaran dengan dirinya.
"Mas Bob, dimanakah dirimu?" bathinku.
Sebenarnya aku juga lelah melakukan semua sandiwara ini, tapi aku juga tak sanggup jika hidup sendiri. Bukan maksud hatiku untuk membela diri dengan memanfaatkan kebaikan mas Aryo, hanya saja aku harus bagaimana? Aku tak mungkin berkata jujur padanya tentang siapa sebenarnya ayah dari bayi ini.
Setiap kali aku bersama Mas Aryo aku selalu tak tenang, ada rasa takut dan khawatir yang selalu muncul tiba-tiba. itulah sebabnya tensi darahku selalu naik, bukankah wanita hamil dilarang stress?
Lantas bagaimana caranya agar aku tak lagi memikirkan mas Bob? Aku juga ingin melupakannya tapi tak bisa. Setiap saat aku merasa seperti melihat dirinya ada dimana-mana, bagaimana bisa aku melupakan kenangannya jika bagian dari dirinya kini tumbuh dirahimku, apa yang harus aku lakukan?
Aku tahu ini salah, aku tahu tak selamanya kebusukan ini dapat kusimpan dengan rapat. Tetapi aku sendiri masih bingung mengambil sikap. Apakah bertahan dengan semua kebohongan ini atau pergi sebelum semuanya terungkap?
Hal yang selalu menghantuiku setiap harinya adalah perasaan bersalah, karena telah menyembunyikan status bayi ini pada semua orang.
Sementara Mas Aryo, betapa bahagianya dia setiap kali mengelus perutku. Aku selalu bersedih kala mendengar setiap kali dia berdoa untukku dan juga bayi ini, begitu tulus kasih sayangnya. Sementara aku, tak pernah sekalipun aku mau berterima kasih atas semua perhatian dan cinta kasihnya padaku.
Entah kenapa aku selalu tak bisa melakukannya.
**
Hari ini kuputuskan untuk kembali mengunjungi rumah Sukesih, kali ini aku datang sendirian. Karena minggu ini memang jadwal mas Aryo kepasar, katanya sekarang dia dipercaya temannya untuk kembali mengelolah salah satu lapak di pasar. Aku bersyukur setidaknya penghasilan mas Aryo sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah bagi hasil dari warung makan yang saat ini dikelola kedua anakku. Kata mas Aryo semua ini rezeki dari Allah untuk anak yang ada di dalam kandunganku, membuatku semakin merasa bersalah.
"Seandainya kau tahu yang sebenarnya, apa yang akan kau lakukan Mas? masihkah kau merasa bahagia dan bersyukur?" Batinku.
Aku sengaja pergi sendiri, aku ingin mencari tahu ada hubungan apa antara Sukesih dengan pria yang wajahnya mirip mas Bob itu. Namun, sesampainya aku dirumah Sukesih ternyata dia tidak ada di rumah. Ingin bertanya pada tetangganya ternyata sama saja mereka semuapun tak ada dirumah. Kupikir mungkin saat ini mereka semua tengah bekerja.
Tak ingin pulang dengan tangan kosong, akupun melanjutkan perjalananku menuju rumah sakit tempat aku dirawat kemarin. Kali ini aku langsung bertanya pada petugas yang berjaga dilantai empat tentang pasien yang bernama Boby ardiansyah. Tak sulit untukku keluar masuk rumah sakit ini, karena hampir setiap bulan aku dirawat disini.
Petugas itupun bertanya jenis penyakit serta diruang mana pasien dirawat. Aku berusaha untuk bersikap tenang, sembari menceritakan bahwa pasien korban kecelakaan yang sempat koma enam bulan yang lalu. Aku berkata jujur pada petugas itu kalau aku sebenarnya baru pertama kali ini berkunjung. Syukurnya petugas itu paham maksudku, sambil memandang laptop didepannya petugas itupun menanyakan kembali nama dan alamat lengkap pasien yang kumaksud.
Setelah mendapat keterangan dari petugas tadi akupun langsung pergi ke ruangan dimana pasien yang mirip mas Bob itu dirawat. Beruntungnya aku pintu ruangan itu tengah terbuka, mungkin karena hari masih pagi sengaja dibuka oleh mereka.
Alangkah terkejutnya aku melihat pemandangan yang tersaji didepan mataku. Aku ingat wanita itu yang kemarin duduk dan menggenggam erat tangan mas Bob. Saat ini keduanya juga terlihat sangat bahagia, saat aku tiba disana wanita muda itu tengah duduk sembari menyuapi pria yang kucari.
Kuberanikan diri untuk masuk kedalam, kebetulan ada petugas kebersihan yang tengah melakukan tugasnya bersih-bersih ruangan. Ya, aku memang sengaja datang pagi-pagi sekali, saat semua penghuni dan petugas rumah sakit ini mulai beraktivitas.
Melihat kedatanganku perempuan muda itupun kaget dan bertanya.
"Maaf Mbak, cari siapa ya?" Katanya spontan.
Mungkin dia heran melihat aku yang tiba-tiba ada disampingnya, sembari menatap tajam pada pria didepannya yang ternyata juga terkejut saat melihatku.
"A--aku, eh maaf, benarkah bapak ini bernama pak Boby?" kataku bergetar, kulihat pria itu mengangguk.
"Oh, iya benar mbak, tapi maaf kakak saya masih belum bisa mengingat semuanya. Mohon maaf kalau kakak saya tidak bisa mengingat anda, ada yang bisa saya bantu?" Katanya sembari meletakkan mangkuk kecil berisi bubur yang sedari tadi dipegangnya.
"Sa--saya hanya kenalannya, maaf baru bisa datang menjenguknya. Saya juga baru tahu kabarnya, lihat sendiri kan keadaan saya, hehehe." Kataku mencoba tersenyum.
"Oh iya, silahkan duduk Mbak, kenalkan saya Beby adiknya Mas Boby." Katanya sembari mengulurkan tangan.
Akupun mengangguk sembari menyambut uluran tangannya dan kami pun saling berjabat tangan. Ada rasa bahagia menjalar dihatiku saat mengetahui hubungan antara mereka berdua.
"Mbak ini rekan kerja atau ...?" Tanyanya.
"Oh iya, saya pemilik rumah makan tempat pak Boby biasa memesan makanan." Kataku jujur.
"Oh ya, aduh maaf belum bisa menghubungi pihak Mbak soalnya keadaan mas Boby masih belum stabil."
"Iya gak apa-apa, saya juga mengerti kok, saya kesini karena baru tahu kalau pak Boby dirawat disini, kebetulan saya juga mau cek kandungan. Sekalian mampirlah." Kataku berbohong.
"Oh begitu, terimakasih loh Mbak sudah repot-repot jenguk mas Boby, mana lagi hamil ini hehehe."
"Iya namanya juga langganan, tapi maaf loh saya gak bawa apa-apa ini, hehehe. Namanya juga baru tahu." kataku sembari melirik ke arah mas Boby, namun yang dilirik malah tertidur.
"Iya, gak apa-apa loh Mbak, justru saya yang berterimakasih karena Mbak sudah mau repot-repot datang kesini, ya kan Mas?" Katanya sembari melihat kearah mas Boby.
"Astaga, orangnya malah tidur, maaf loh Mbak, Mas Boby malah tidur jadi gak enak saya."
"Oh, gak apa-apa saya juga sudah mau pulang ini, titip salam aja sama pak Boby nya, ya." Kataku.
"Iya Mbak, nanti saya sampaikan, kalau boleh tahu nama Mbak siapa ya? biar enak nanti ceritanya sama mas Boby, soalnya dia masih belum bisa mengingat banyak hal."
"Nama saya ... Mi-ra."
"Oh, Mira. Maaf kalau boleh tau nama lengkap Mbak siapa ya?"
"Sumira. Ya udah sa--saya permisi dulu." Kataku sembari melangkah hendak pergi, namun tak jadi karena tanganku ditariknya.
"Tunggu Mbak, jangan bilang kalau Mbak pacarnya mas Boby?" Katanya penuh selidik.
"Bukan, aku bukan pacarnya, aku bukan siapa-siapanya, aku hanya rekan bisnis." Kataku penuh penekanan.
Entah kenapa aku tak sanggup mengatakan yang sebenarnya, aku terlalu takut untuk berterus terang. Perlahan pegangan tangannya terlepas dan akupun segera keluar dari ruangan itu, semakin cepat aku berjalan semakin sesak rasanya d**a ini.
Setelah berjalan perlahan-lahan, akupun tak kuasa lagi menahan rasa sesak yang sedari tadi menghimpit dadaku. Ingin rasanya aku menjerit, memaki kebodohanku sendiri, namun aku sadar tak mungkin ku lakukan disini. Perlahan butiran-butiran bening nan hangat membasahi pipiku, semakin kutahan semakin deras pula jatuhnya, membuatku terisak pilu.
"Apa yang harus aku lakukan?"