Helena mencengkram kuat pinggiran dress yang ia kenakan. Ia berusaha mengangkat kakinya agar mau berpijak di teras rumahnya dulu, namun kedua kakinya terasa sulit untuk ia gerakan. Kakinya tampak tidak mau melangkah lebih jauh lagi. Simon yang sudah berdiri di depan pintu, mengulurkan tangannya pada Helena. "Ayo, sayang." Helena yang tadinya tertunduk, mau tidak mau mengangkat kepalanya. Bisa matanya lihat pintu bercat coklat kehitaman di depannya yang tertutup dengan rapat. Helena menelan ludah. Ia merasa tidak sanggup apabila masuk ke dalam rumah itu. "S-Simon, t-tampaknya-" "It doesn't matter, Helena. Ayo." Simon benar-benar kukuh, Helena terpaksa menerima uluran tangan pria itu, ia menarik nafas panjang dan mengangkat kakinya untuk menginjak teras rumah. Seketika d**a Helena teras

