Bab 5. Pembuktian

1090 Words
Selamat membaca! "Viola, Viola, jadi Nak Devan ini yang mau dikenalin ke ayah buat jadi suami kamu?" Bimo langsung to the point. Sang ayah memang sudah dihubungi Viola saat masih di kampus soal kedatangan Devan ke rumahnya. "Iya, Yah, tapi ... kenapa Ayah udah kenal sama Pak Devan?" Viola masih bingung. Seperti sinyal wifi di saat hujan, ia masih sulit memahami situasi yang terjadi di depan matanya. "Coba waktu itu kamu lihat dulu siapa yang mau Ayah jodohin sama kamu, pasti kamu enggak akan nolak." "Lho, maksud Ayah? Jadi ... Pak Devan yang mau Ayah jodohin sama Viola?" Bimo pun tak kuasa menahan tawa saat mendengar pertanyaan putrinya. "Iya, Viola. Nak Devan ini yang mau dijodohin sama kamu." Dina–sang ibu pun ikut bicara. Menjawab pertanyaan putrinya yang terlihat kebingungan. "Apa?!" "Udah, udah, enggak usah kaget gitu. Namanya jodoh enggak akan ke mana ya, Nak Devan?" Bimo tampak begitu akrab dengan Devan. Bagaimana tidak, Devan adalah putra dari sahabatnya semasa kuliah. Keduanya dulu memang sempat punya impian untuk menikahkan anak-anak mereka. Namun, takdir berkata lain, Ryan Alvaro–ayah Devan sudah lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Meski rasanya mustahil, perjodohan itu bisa kembali terlaksana setelah Bimo dan Dina secara tidak sengaja bertemu dengan Nilam–ibu Devan di sebuah pusat perbelanjaan. Ya, sejak saat itulah, narasi perjodohan kembali digaungkan Bimo yang disambut baik oleh Nilam. Mereka pun akhirnya sepakat meski saat itu belum mendapatkan persetujuan dari Devan dan Viola. *** Pernikahan sederhana tanpa melibatkan orang di luar keluarga baru saja berlangsung. Hanya ada keluarga dan juga kerabat dekat dari kedua mempelai di acara tersebut sesuai syarat yang Devan berikan pada Viola. "Sekarang kita sudah resmi menjadi suami-istri, pokoknya kamu harus ingat lima syarat yang saya ajukan!" Selain mengajukan syarat untuk tidak mengadakan pernikahan secara besar-besaran. Devan juga mengajukan syarat lain yang mau tak mau harus Viola ikuti. Saat baru masuk ke dalam kamar Devan yang tampak cukup besar dan mewah, Viola pun menoleh, menatap lekat wajah pria yang baru setengah jam lalu resmi menjadi suaminya. "Apa untuk syarat nomor tiga bisa dibatalkan? Bagaimana jika orang tua Pak Devan dan orang tua saya sampai tahu kita tidak tidur sekamar?" "Mereka tidak akan tahu. Nanti malam kita akan tidur sekamar, tapi setelah mereka pulang, kamu harus pindah ke kamar tamu." Viola hanya mendesah kasar. Raut wajahnya berubah masam. Tentu saja ia masih ingat betul dengan syarat yang diajukan oleh Devan. Namun, Viola tidak menyangka jika itu benar-benar akan terjadi setelah mereka menikah. "Ya, saya tidak punya pilihan selain menuruti, Pak Devan." Viola menjawab sekaligus memenuhi syarat kedua Devan yang tidak ingin dipanggil dengan sebutan lain, walau mereka sudah menikah. Selayaknya suami-istri, sebenarnya Viola ingin memanggil Devan dengan panggilan sayang seperti pasangan lain. Walaupun merasa sedih, tetapi Viola tahu jika itu adalah pilihan yang harus dijalani. Menjadi istri Devan memang harapannya sejak mereka pertama kali bertemu di kampus lamanya, maka itulah Viola tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang didapatnya sekalipun Devan mengajukan 5 syarat yang tidak masuk akal. "Bagus kalau begitu. Lagi pula kamu harus tahu jika pernikahan ini bukan kemauan saya, melainkan keinginan kamu sendiri. Jadi, ingat syarat terakhir yang saya pernah katakan!" Viola kembali diam. Wajah masamnya berubah sendu saat ingat jika pernikahannya hanya akan berlangsung sementara seandainya Viola tidak berhasil membuat Devan jatuh cinta padanya dalam dua tahun. "Lah, tapi kan orang tua kita udah jodohin kita, Pak! Berarti kan bukan kemauan saya aja pernikahan kita bisa terjadi." "Ya, kan waktu itu kamu menolak perjodohan itu! Harusnya sekarang juga kamu tidak mengancam saya dengan pernikahan bodoh ini!" Devan menghela napas kasar. Menahan rasa kesal pada Viola yang sudah semakin menumpuk. "Pokoknya kamu harus ingat syarat terakhir yang saya bilang kemarin!" "Tenang aja, Pak, saya enggak akan lupa syarat terakhir itu. Walaupun dua tahun terbilang cepet, tapi itu lebih masuk akal dari waktu yang Bapak ajukan sebelumnya." "Sebenarnya saya cuma mau 6 bulan, tapi kamu malah ngancem akan menceritakan rahasia saya pada semua orang di kampus. Dasar licik!" Melihat raut cemberut di wajah Devan, Viola sejenak melupakan kesedihannya. Entah kenapa gadis itu merasa yakin bisa membuat Devan jatuh cinta padanya. Keyakinan yang jadi alasan terbesarnya untuk tetap menjadi nyonya Devan. "Gue dari dulu penasaran deh, apa bener cowok seganteng Pak Devan impoten?" Seketika terbesit pertanyaan yang dulu sempat mengusiknya, apalagi pertanyaan itu belum sempat Viola tanyakan, lantaran pria itu menghilang begitu saja. "Mungkin gue harus buktiin sendiri aja." Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam pikiran Viola. Tanpa membuang waktu, gadis itu pun langsung membuka kebaya berwarna putih yang sejak tadi melekat pada tubuhnya selama beberapa jam saat acara akad nikah berlangsung. "Kamu ngapain, Vi?" "Saya mau ganti baju soalnya gerah dari tadi pake kebaya ini terus." "Ya, tapi jangan di depan saya! Ganti di sebelah sana aja!" Devan menunjuk sebuah ruangan yang ada di sisi kiri Viola. "Enggak ah, saya mau ganti di sini aja." Dalam sekejap, tubuh polos Viola terlihat jelas di mata Devan. Pria itu sampai menelan saliva-nya sendiri karena merasa tubuh Viola begitu indah. "Saya tahu pikiran kamu, tapi percuma, itu nggak akan berhasil!" Sambil mengulas senyum yang menggoda, Viola pun melangkah maju. Membuat Devan hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah liar Viola yang menurutnya tidak tahu malu. "Pak ...." Viola memanggil, suaranya terdengar berbisik di telinga Devan saat langkahnya terhenti tepat di hadapan pria itu. "Apa Bapak tahu kenapa saya masih mau jadi istri Bapak, meskipun syarat-syarat yang Bapak ajukan itu sangat tidak masuk akal buat saya?" Raut wajah Devan masih datar. Menatap Viola dengan enggan. "Saya enggak mau tahu! Menurut saya, kamu itu cuma terobsesi sama saya karena dulu saya sempat nolak kamu." "Salah, Pak! Saya itu udah jatuh cinta sama Bapak sejak Bapak pertama kali ngajar di kelas saya." Tentu saja Devan tersentak kaget, terlebih lagi saat tangan Viola hendak masuk ke celana bahan hitam yang dikenakannya. Spontan saja Devan langsung beranjak. Melangkah mundur dan menjauh dari Viola. "Stop, Viola! Jangan kurang ajar! Ingat! Saya ini dosen kamu!" "Iya, tapi kan Pak Devan suami saya sekarang. Masa sih saya enggak boleh ngelakuin itu, bukannya kita udah halal, Pak?" "Jaga sikap kamu, Viola! Saya akan tambahkan satu syarat lagi, ini sebagai syarat keenam yang harus kamu lakukan selama kita menikah! Kamu ingat syarat ini! Kamu tidak boleh menyentuh bagian mana pun tubuh saya dengan tangan kamu! Kamu ngerti!" Viola tersenyum kecut. Raut wajah Devan yang sekarang membuatnya jadi teringat saat Devan memarahinya di kampus. Wajah galak yang tegas dan benar-benar killer. "Ya udahlah kalau enggak boleh. Dasar dosen killer!" Viola membuang pandangannya. Melangkah pergi begitu saja menuju kamar mandi yang ada di sudut ruangan. Bersambung ✍️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD