Selamat membaca!
Viola kembali menatap Devan. Pria itu masih kelihatan kesal karena permintaannya tadi.
"Kenapa kamu diem aja? Kamu dengar yang saya bilang tadi, ‘kan? Sekarang kamu bisa pergi! Ingat! Rahasiakan apa yang kamu tahu dari semua orang!"
Viola mulai memainkan dramanya. Duduk kembali di tempat semula, lalu menangis di depan Devan seolah-olah pria itu sudah sangat menyakitinya. "Pak Devan jahat! Kenapa ngancem saya kaya gini, padahal Bapak yang jahat udah ngilang gitu aja tanpa mikirin perasaan saya? Sekarang begitu saya udah hampir move on, Pak Devan malah muncul lagi. Kenapa hidup saya bisa jadi tragis begini sih karena jatuh cinta sama Bapak? Saya udah nggak mau hidup lagi, lebih baik saya mati aja."
Viola sengaja mengeraskan suara tangisannya. Hal itu membuat Devan kalang kabut. Panik? Tentu saja, siapa yang tidak panik jika ada seorang mahasiswi menangis di ruangannya? Apa tanggapan orang yang nanti mendengarnya? Bisa-bisa mereka beranggapan jika Viola sedang meminta pertanggungjawabannya.
"Kamu kenapa jadi nangis? Udah jangan nangis! Diam, Viola, Diam!"
Viola bukannya menjawab. Gadis itu malah menambah suara tangisannya semakin keras. Aktingnya ternyata berhasil. Devan termakan drama yang dibuatnya meski sulit menahan tawa yang sudah berbaris di ujung lidah. Namun, Viola masih sanggup menahan, walau di dalam hati, tawa kerasnya seakan meraung sambil meledek sang dosen.
"Sudah, Viola, jangan nangis!" Dengan suara lembut, Devan mulai merayu Viola untuk diam. "Aduh, kalau ada yang denger Viola nangis kaya gini, bisa-bisa orang malah ngira kalau gue hamilin dia lagi," batin Devan, coba mencari akal agar Viola berhenti menangis.
Di tengah ketakutan Devan, tiba-tiba suara langkah kaki kian mendekat di depan ruangannya.
"Vi, tolong diem dulu, ya!" Devan terpaksa membungkam mulut Viola dengan kedua tangan. Membuat gadis itu langsung berdiri dan berada dalam dekapan Devan.
"Ya Allah, kenapa Pak Devan meluk gue? Jantung gue kan jadi berdebar nggak karuan gini," batin Viola, masih diam tanpa melawan. Terbuai dalam dekapan Devan yang menuntunnya ke sudut ruangan–di sebelahnya terdapat sebuah lemari buku.
"Kamu sembunyi dulu di sini!" Devan melepas tangannya dari mulut Viola yang sudah berhenti menangis.
"Tapi, Pak Devan mau nikahi saya, ‘kan?" Seolah mengerti posisi Devan saat ini, Viola mengatakan itu dengan berbisik.
"Nggak, pokoknya nanti kita bicarakan lagi baiknya gimana, oke!" Baru selesai menjawab pertanyaan Viola, tiba-tiba suara pria yang tentu saja tidak asing bagi Devan terdengar memanggil dari depan ruangan. Pria itu mulai mengetuk pintu.
"Ya ampun, itu benar Pak Gunawan," batin Devan semakin panik dan kembali meminta Viola bersembunyi.
"Pokoknya, saya nggak akan sembunyi kalau Bapak nggak mau ngabulin permintaan saya, titik!" Viola mengancam. Gadis cantik itu hendak melangkah pergi menuju pintu ruangan. Namun, Devan menahan langkahnya dengan cepat.
"Oke, oke, saya akan nikahi kamu, tapi sekarang kamu harus sembunyi dulu sampai Pak Gunawan pergi!"
"Benar ya, Pak? Pokoknya hari ini juga Bapak harus ketemu sama orang tua saya buat izin nikahi saya."
Devan terdiam sejenak. Berpikir dan semakin tersudut. "Sial, gimana ini?" gerutu Devan merasa kesal dalam hatinya.
"Gimana, Pak? Kalau Bapak nggak mau, saya keluar nih!" Sambil menakut-nakuti Devan dengan berlaga seolah ingin melangkah kembali, Viola benar-benar membuat Devan tak punya pilihan selain mengiyakan keinginannya.
"Oke, oke, cepat sembunyi dulu!" Dengan sangat terpaksa Devan memutuskan setelah terjadi pergulatan hebat dalam dirinya.
Selesai mengatakan itu, suara knop pintu terdengar akan dibuka dan selang beberapa detik kemudian, sosok rektor di kampusnya pun masuk. Ya, Devan memang tidak pernah mengunci pintu ruangannya. Namun, siapa pun yang datang pasti akan mengetuk pintu lebih dulu karena menghargai privasinya, sekalipun Gunawan adalah rektor di kampus itu.
"Mati gue," gumam Devan reflek memutar tubuhnya yang kini membelakangi sudut ruangan.
"Pak Devan, kenapa Anda berdiri di sana?" Gunawan langsung melontarkan sebuah pertanyaan saat melihat Devan hanya menatapnya dengan wajah pucat.
"Eh, ini, Pak ... tadi saya mau ngasih tahu mahasiswi saya soal ...." Devan tak jadi melanjutkan perkataannya saat tak lagi melihat Viola yang tadi ada di dekatnya.
"Mahasiswi mana?" Sang rektor bertanya saat tak menemukan siapa-siapa selain Devan di ruangan itu.
Devan pun masih terdiam. Berpikir untuk mengelak dan di saat pandangannya berhasil menemukan keberadaan Viola, gadis cantik itu malah mengedipkan mata seolah memberi isyarat padanya untuk tidak perlu takut lagi.
"Untung Viola udah sembunyi," batin Devan sambil menghela napas kasar.
***
Sepulang dari kampus, Viola langsung menagih janji pada Devan untuk datang ke rumahnya. Ya, Viola ingin jika sang dosen langsung bertemu orang tuanya. Setidaknya dengan dinikahi Devan, Viola akan terhindar dari perjodohan yang sewaktu-waktu bisa saja kembali dibahas ayahnya. Tentu saja Viola lebih memilih Devan daripada pria yang belum pernah ia kenal. Jangankan mengenal, untuk sekadar melihat wajahnya saja Viola langsung menolak saat Bimo meminta untuk bertemu dengan pria pilihan ayahnya.
"Saya ada satu syarat yang harus kamu setujui," ucap Devan sebelum keluar dari mobil saat baru saja menghentikan kendaraan roda empatnya tepat di halaman rumah Viola.
"Syarat apa, Pak?"
"Saya tidak ingin ada pernikahan yang besar-besaran. Pernikahan nanti harus dilangsungkan antar keluarga saja. Bagaimana apa kamu setuju?"
Viola seketika berpikir. Rasanya ia ingin menuntut lebih. Namun, gadis itu sadar akan posisinya saat ini. Viola mau tak mau harus mengikuti kemauan Devan.
"Oke, terserah Pak Devan aja."
Keduanya pun keluar dari mobil. Entah kenapa saat melihat rumah Viola, Devan seperti merasa tidak asing. Rasa-Rasanya ia pernah datang ke rumah itu dua minggu lalu. Namun, Devan memilih untuk tak bertanya pada Viola karena tidak begitu yakin dengan ingatannya.
"Pak, ayo masuk, ayah sama ibu saya udah nunggu."
Devan pun menyusul langkah Viola masuk. Setibanya di ruang tamu, pandangan Devan seketika dibuat terkejut saat dua orang yang pernah ditemuinya duduk di sebuah sofa panjang tengah melihatnya.
"Lho, Nak Devan." Bimo sontak saja terkejut. Pria paruh baya itu langsung bangkit dari posisi duduknya. Menghampiri Devan yang hanya mematung diam karena tak menyangka jika ingatan samarnya ternyata benar.
"Lah, kok, Ayah kenal sama Pak Devan?" Viola yang sama terkejutnya dengan Bimo pun langsung melontarkan pertanyaan pada sang ayah.
Bersambung✍️