Nada mengedarkan pandangan. Ruangan besar itu gelap, lampu gemerlapan memang membuat pandangannya lebih baik, tapi juga membuat kepalanya pusing. Bau alkohol yang tumpah dan sedang dibersihkan oleh petugas kebersihan, bercampur dengan bau asap rokok dan keringat orang-orang yang asik berjoget di lantai dansa. Pendingin ruangan tidak kuasa melawan hawa panas dari begitu banyak tubuh orang.
“Kenapa kita ke bar kelas begini? Harusnya kita ke bar elit, pasti orang-orangnya lebih beradab, dan orang beradab lebih mudah untuk diajak kerja sama.” Ujar Nada tepat ditelinga Echa. Dia berusaha keras menandingi gelegar musik, yang mustahil ditandingi.
Mereka mengambil tempat duduk bersisian di sofa merah yang sudah pudar, bekas sundutan rokok di sana-sini, dan mereka berbagi sofa itu dengan beberapa pengunjung lain yang bahkan tidak memedulikan kehadiran mereka. Semua sibuk dengan musik dan minuman di tangan masing-masing.
Echa mendekatkan bibir ke telinga Nada. “Kita mencari bule kere yang tergiur oleh sepuluh ribu dolar milikmu. Dan bule di tempat elit pasti memiliki cukup banyak uang dari pada sepuluh ribu dolar itu.”
Lagi-lagi Echa benar. Jadi Nada diam, memperhatikan orang-orang. Beberapa kali dia memang pernah datang ke tempat seperti ini atas ajakan Echa yang mudah stress akibat deadline pekerjaannya sebagai seorang penulis online berbayar sekaligus novelis yang harus menyelesaikan novel-novelnya. Terkadang Nada bisa menoleransi kekacauan di sini, menikmati suasanya, tapi kadang juga dia merasa tersiksa, seperti sekarang. Mood-nya sedang tidak dalam suasana pesta. Ditambah ketegangan dan kehawatiran yang belakangan tak mau pergi darinya, membuat semuanya semakin memburuk.
“Kau lihat bule dengan singlet abu-abu di lantai dansa itu?” ujar Echa di telinganya, membuat Nada mengedarkan pandangan ke arah yang ditunjuknya. “Dia tampan, dan terlihat tidak mempunyai uang.”
“Tapi dia terlihat terlalu mabuk untuk diajak bicara.” Langkah mengambang lelaki itu membuat Nada tidak yakin lelaki itu bisa mencerna kerumitan masalahnya.
“Kita tidak tau sampai kita mencoba. Ayo!” Echa meraih dan menarik tangan Nada, membawanya ke lantai dansa.
Echa bergerak penuh semangat, bertolak belakang dengan Nada yang hanya menggoyangkan tubuhnya asal. Mereka bermanuver sedemikian rupa sampai mereka bisa berhadapan dengan lelaki yang menjadi incaran pertama malam ini.
“Hai!” sapa Echa pada lelaki itu, sambil terus bergoyang.
“Hai!” balas lelaki itu. Matanya sayu, senyumnya penuh makna, dan tangannya langsung meraih Echa ke dalam pelukannya.
“Hey, hey, slow down! Temanku ingin bicara denganmu.” Ujar Echa dalam bahasa Inggris yang sempurna. Dia keluar dalam pelukan lelaki itu dan menunjuk ke arah Nada.
“Hai!” Mata sayu yang sama, senyum penuh makna yang sama, dan sambutan dengan pelukan yang sama, membuat Nada merinding dan langsung menghindar. Dia menarik Echa untuk pergi dari situ dengan terburu-buru. Tak mengindahkan seruan protes dari lelaki mabuk di lantai dansa.
“Aku bilang lelaki itu mabuk! Dan yang ada dipikirannya hanya bagaimana pulang dengan perempuan yang bisa ditiduri!” pekik Nada tidak sekeras yang dia harapkan ketika mereka sudah sampai di pojok ramai dengan orang-orang yang hanya mencoba mengobrol.
“Kamu benar. Ayo kita cari yang lain.”
Nada meraih lengan Echa dan menatap temannya dengan khawatir. “Aku jadi semakin tidak yakin. Ini ide yang buruk!”
“Kita baru sekali mencoba dan kamu sudah menyerah? Tidak mudah memang mencari orang yang tepat, tapi bukannya tidak mungkin. Ayolah, kita coba lagi!” walau enggan, Nada mengikuti langkah kaki Echa.
Semalaman itu mereka berkeliling dengan hasil yang nihil. Ada yang menolak dengan halus, tak jarang yang memaki mereka dengan menyembut mereka sinting atau ragu dan mengira mereka penipu. Beberapa yang bilang akan memikirkannya di beri nomer telpon oleh Echa yang langsung terlupakan oleh kemeriahan pesta.
“Sudah kubilang, kita harusnya tidak mencari di bar. Orang-orang di sana tidak akan menganggap kita serius.” Nada melempar high heels yang membuat kakinya pegal setengah mati. Mereka baru saja sampai kost jam tiga pagi. Lelah, mengantuk dan rasa frustasi membuat Nada langsung melemparkan dirinya ke atas kasur, yangsegera mendapat di protes Echa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Ganti baju dan cuci mukamu dulu!” Echa menarik kakinya padahal hampir saja Nada jatuh ke dalam lelap.
Nada mengeliat kesal. “Ini ide buruk!” tersugut-sugut ia bangkit dan menyeret dirinya ke kamar mandi untuk melepas pakaian dan mencuci muka. “Aku tidak akan meneruskan rencana ini!” lanjutnya setelah keluar dari kamar mandi, mengambil baju tidur dari dalam lemari dan langsung memakainya.
“Kenapa sih kamu mudah sekali menyerah? Katakan, kamu punya ide lain yang lebih baik?” tanya Echa, mengangkat matanya dari novel yang baru saja dia buka.
“Aku akan mencari seorang lelaki Indonesia dan langsung memintanya menikahiku.” Nada merebahkan dirinya di samping Echa, bersiap untuk tidur dan melupakan semua mimpi buruk malam ini.
“Dan langsung membuatnya kabur, atau jika dia mau, dia ternyata hanya mengincar uang yang baru saja kamu dapatkan?”
“Apa bedanya dengan sekarang? Seseorang menikah denganku hanya karena uang!”
“Jelas berbeda! Lebih baik kamu tau dia menikahimu karena uang, dari pada pada kamu berharap dia menikahimu karena cinta, tapi ternyata bukan! Lagi pula, semua ini akan membebaskanmu dari rasa sakit atas sebuah harapan. Karena kamu tau pasti, kapan semua ini akan berakhir. Tidak ada hati yang terluka atau perasaan yang tersakiti.”
Mau tidak mau, Nada setuju dengan semua itu. Tapi sampai dia terlelap dia tidak tau, jika terkadang takdir tidak selalu sesuai dengan harapan. Siapa yang tau kapan cinta akan datang atau pergi? Dan siapa yang tau, jika ini bukan lagi tentang keinginan atau harapan, tapi tentang garisan nasib yang telah tertulis dengan tinta emas oleh tangan Tuhan.
***
Dua minggu telah berlalu, tapi mereka belum juga mendapatkan titik terang. Dari sekian banyak lelaki yang ditawari, ada beberapa yang menelpon dan mengajak bertemu untuk membicarakannya, namun semuanya segera tereliminasi. Semua lelaki itu benar-benar berandal, bahkan ada yang sampai mengancamnya untuk meminta uang, atau jelas-jelas hanya ingin menipu. Beruntung Nada selalu menolak untuk bertemu di tempat sepi atau pribadi. Dia tau, dia tidak mengenal setiap orang itu, dan tidak setiap orang baik. Ada yang setuju memang, tapi tidak bisa menyediakan waktu selama sebulan penuh.
“Aku menyerah.” Ujar Nada malam itu. Dia dan Echa sedang makan di salah satu restoran cepat saji. Cheese burger yang Nada pesan baru satu gigitan, tapi sudah tak tersentuh lagi.
Echa mendesah. Dia juga hampir menyerah. Ini semua tidak semudah bayangannya. Apa sepuluh ribu dolar itu tidak cukup untuk membeli satu bulan waktu seseorang? Itu uang yang besar, bahkan untuk orang asing yang bekerja kantoran sebagai pegawai menengah sekalipun.
Jika saja Echa tidak tau apa yang pernah terjadi pada Nada, akan lebih mudah mencari seorang lelaki untuknya. Tapi setelah semua yang terjadi, Nada berhak mendapatkan kebebasan atas pilihannya sendiri. Sayangnya orangtua Nada yang tidak tau apa-apa justru membuat deadline yang mustahil untuk Nada menentukan pilihannya sendiri. Sebenarnya, Nada sendiri yang membuat deadline itu secara impulsive.
Echa bersandar pada kursi, memilih untuk tidak berkomentar seraya mengedarkan pandangan pada orang-orang yang ada di sana. Tepat pada saat itu, seseorang masuk melewati pintu kaca. Echa terpana untuk beberapa lama dan terus saja mengikuti gerak gerikanya. Lelaki itu mengantree, kemudian duduk dengan setumpuk makanan, dan makan seolah sudah satu abad dia tidak makan.
Wajah lelaki itu tampan, terlalu tampan malah untuk hanya terbalut celana training belel dan kaos usang yang jika di perhatikan, ada bolongan kecil pada jahitan di bahunya. Echa memprediksi lelaki itu dari salah satu negara di timur tengah karena memiliki tipe wajah yang sama dengan Omar Borkan Al Gala yang di usir dari Arab karena memiliki wajah yang terlalu tampan. Walau nyatanya Omar lebih tampan, tapi lelaki ini memiliki wajah di atas rata-rata dengan sudut-sudut yang lebih tegas. Matanya sendu, nampak teduh walau ternyata teduh itu mengandung badai. Hidung mancung dan bibirnya sempurna. Serta cambang yang dibiarkannya tumbuh tidak terlalu panjang membuat dia cukup untuk menarik perhatian. Tidak cukup, tapi lebih menarik perhatian.
“Cha! Kamu nggak dengerin aku?” pekik Nada kesal. Dari tadi dia mengoceh, tapi teman bicaranya malah mengacuhkan.
“Sorry, apa tadi?”
“Aku bilang, aku akan nelpon Bapak. Bilang kalau aku putus dengan pacarku, terus pulang dan pasrah mau dinikahin sama siapa juga.”
“Dan kamu pasrah dinikahin sama lelaki tua? Jangan menyerah dulu. Lihat dia….” Nada memutar kepala, menuju arah telunjuk Echa. “Kita coba tawari dia.”
“Kamu gila ya, Cha? Liat wajahnya, bentuk tubuhnya! Dia bisa dapet banyak uang dengan jadi model atau simpenan tante-tante! Atau dengan wajah itu, langkahnya pasti mudah jalan apapun yang dia pilih. Mana mau dia repot-repot pura-pura nikah demi duit!”
“Iya, tapi kayaknya wajah itu nggak memberikan apa-apa. Coba liat, pakaiannya gembel, makannya cepet dan banyak kayak nggak pernah makan dua abad. Orang yang banyak uang, atau mudah mencari uang, nggak akan bertingkah barbar kayak gitu. Jujur aja, walau ganteng, liat cara makannya buat aku ilfil.”
“Kita aja nggak berhasil ngeyakinin bule yang tampangnya cuma lumayan, apa lagi ini, Cha. Udah deh, misi kita udah gagal. Dan aku udah nyerah.”
Tapi Echa nggak mungkin ngebiarin temannya menyerah. Nggak mungkin ngebiarin dia nikah sama lelaki yang udah bau tanah. “Kamu tunggu di sini. Aku janji, kalau yang satu ini nggak berhasil, kita bisa nyerah.” –ngga juga. Echa tidak akan menyerah gitu aja. Gimanapun caranya, dia yakin bisa mendapakan satu lelaki buat Nada.
Nada tak yakin harus memandang ke arah mana ketika Echa dengan santai duduk di hadapan lelaki itu. Dia menatap burger, tapi tangannya meraih kentang goreng dan memakannya tanpa minat. Seolah instingnya yang mengambil alih, Nada menatap lelaki itu, tepat ketika lelaki itu menatap ke arahnya. Nada mencoba tersenyum dengan canggung, namun lelaki itu hanya mengangguk dengan sopan, sebelum kembali menghadap Echa. Nada yakin, mereka akan gagal lagi kali ini.