Sebenarnya apa yang salah? Sepuluh ribu dolar itu uang yang lumayan untuk seorang yang belum mempunyai pekerjaan tetap atau hanya seorang pegawai biasa. Apa mungkin... dirinya yang salah?
Nada menunduk, melihat tubuhnya sendiri. Tidak seperti Echa yang langsing semampai, badannya sedikit berisi walau belum bisa dikatakan gemuk, tapi siapapun tidak akan berpikir dua kali untuk berpaling jika ada wanita lain dengan tubuh yang lima kilogram lebih ringan dari dirinya, apa lagi bule-bule yang terkenal suka sama cewek yang cenderung kerempeng. Wajahnya juga tidak begitu mengesankan. Memang di masa lalu ada beberapa orang keras kepala yang terus mengejarnya, tapi semakin bertambah usianya, semakin hilang saja orang-orang seperti itu. Menurut Echa sih, semua ini salah Nada sendiri yang memang tidak membiarkan orang lain mengenalnya cukup dekat. Apa masa lalu masih memengaruhinya, sehingga tiga tahun belakangan ini tidak ada seseorang dalam hidupnya? Nada tidak yakin.
Ketika Nada mengangkat kepala, Echa tengah kembali ke meja mereka sementara si Tuan Tampan meneruskan makannya yang sempat tertunda tanpa menoleh lagi. Mereka pasti gagal lagi.
“Dia bilang akan menelpon setelah berpikir.” Tutur Echa, keoptimisan bersinar terang di wajahnya.
“Dia tidak tertarik.” Nada meraih gelas minum dan menyedot soft drink di dalamnya.
“Jangan pesimis begitu, dia pasti akan menelpon.”
“Aku tidak mau kamu kecewa, Cha, tapi lihat dia, makan seolah tadi tidak ada apa-apa. Dia tidak memperhatikan kita, tidak memperhatikanku. Dia bilang akan menelpon mungkin untuk cepat-cepat mengusirmu dari mejanya.” Nada tidak mengerti, kenapa kemarahan menguasai dirinya. Ini bukan salah siapa-siapa, kan? Ini salahnya sendiri karena tidak layak.
Dia tidak layak untuk siapapun.
***
Echa tau belakangan ini Nada murung dan seolah menghindarinya. Ada saja alasan Nada saat Echa mengajaknya keluar untuk sekedar makan sekalipun. Belum lagi wajahnya yang selalu tertekuk, tidak seperti seseorang yang baru saja ketiban bulan. Dan setelah berhari-hari berlalu dengan hubungan mereka yang terasa canggung, Nada memilih malam ini untuk mengeluarkan isi kepalanya.
“Besok aku pulang, Cha.”
“Hah?” Echa menolehkan pandangan dari laptopnya. “Kamu udah pesen tiket?”
“Belum. Gampanglah masalah tiket. Tapi sepertinya, lebih cepat aku kembali ke rumah lebih baik.”
“Tapi kamu kan belum nemuin lelaki yang cocok!”
“Masalah itu, aku udah menyerah. Jodoh itu nggak akan ke mana. Seandainya memang aku udah ditakdirkan untuk nikah sama kakek-kakek, ya mau diapain lagi?”
“Ya ampun, Nada! Kamu itu udah banyak uang, belilah vitamin buat nambahin kecerdasan kamu! Masa sih kamu terima nasib gitu aja? Kakek-kakek, Nad! Kakek-kakek! Dulu juga kamu kabur ke sini karena itu, dan setelah sekian lama kamu mau nyerah gitu aja?”
“Ya abis gimana, Cha? Kamu sih ngmong enak! Pacarmu udah ngajakin kawin, tapi kamunya malah masih nggak mau.”
Echa mendesah, bangkit dari duduknya untuk duduk di samping Nada. “Coba, Nad, kamu buka hati. Kamu masih terlalu dipengaruhi masa lalu. Kamu memandang rendah dirimu, dan mencari alasan untuk menghindar ketika ada seseorang yang mendekatimu.”
Nada benci jika membicarakan masa lalu. Terlalu menyakitkan dan memalukan. “Aku nggak mau bahas masalah ini lagi, Cha,” Nada meraih tangan Echa. “Aku makasih banget sama kamu yang udah banyak nolong aku. Tapi kali ini, aku akan pasrah dengan takdir. Aku akan pulang besok.”
“Tapi, Nad...”
Nada menggelang, memberi isyarat pada Echa untuk menghentikan perbincangan sampai di sini. Nada memaksakan sebuah senyuman sebelum dia bangkit dan mengambil kopernya di atas lemari. Ditaruhnya koper itu di atas tempat tidur dengan posisi terbuka lebar.
“Oh ya, kemarin aku ke beachwalk, dan beli parfume yang pasti kamu suka.” Nada membuka lemari dan meraih paper bag kecil bertuliskan label parfume ternama. “Ini hadiah buat kamu.” Dia menyodorkan paper bag itu ke arah Echa yang langsung di rampas temannya itu. Nada tertawa, tau jika Echa jadi freak kalau menyangkut parfume.
“Serius nih, Nad? Parfume ini kan mahal, ya ampun...”
“Serius. Lagi pula, ini nggak ada apa-apanya dibanding apa yang udah kamu lakuin buat aku selama ini. makasih banget ya, Cha..”
“Hmm... Nada... aku jadi sedih... kamu mau ninggalin aku.” Echa memeluk Nada dari samping. Suaranya lebih seperti merajuk dari pada sedih, buat Nada senyum.
“Kamu kan bisa ngunjungin aku di Depok. Atau aku yang akan main-main kesini.”
“Semoga dalam perjalanan pulangmu nanti kamu ketemu cowok ya, Nad. Yang tanpa ba-bi-bu langsung ngelamar kamu.”
Nada terkekeh. “Dasar penulis, kadang khayalannya nggak masuk diakal.”
Echa melepas pelukannya dengan bibir mengerucut sebal. “Nothing imposible on this world, baby. Semua bisa aja terjadi. Dua tahun lalu saat kamu ke Bali, kamu nggak nyangka dapet bonus seratus ribu dolar, kan?”
“Itu sih namanya takdir, Cha.”
“That’s I mean. The power of God! The power of Allah!”
“Iya, iya. Semoga aja deh, Vanesha Valeria Putri.” Nada bangkit, kembali melakukan pekerjaannya, menyusun setiap baju yang ia miliki ke dalam koper, sementara Echa hanya menatapnya sambil duduk di sisi koper yang sedang Nada isi.
Echa memandang temannya dengan otak yang terus berputar. Adakah salah satu temannya yang bisa dipinta untuk berperan sebagai suami bohongan? Kalaupun ada, apa nantinya orang itu gak akan berulah? Memang ada kontrak, tapi dia bisa aja ngancem beberin kontrak itu ke orangtua Nada, ribet lagi urusannya. Terlalu beresiko bila dengan orang lokal. Apa Adit, pacar Echa, aja ya? Adit? Echa tersenyum. Kenapa nggak kepikiran dari kemarin-kemarin? Adit lelaki baik, dan cinta mati sama Echa. Dia pasti setuju dan nggak akan bikin ulah. Karena setelah semuanya selesai, reward yang akan Adit dapet adalah menikah sama Echa! Adit pasti mau!
Echa baru hendak membuka mulut untuk mengajukan usul itu, ketika ponselnya berdering nyaring. Echa mendesah seraya berdiri untuk menghampiri ponselnya di meja tempatnya biasa bekerja. Pasti editornya lagi yang ngingetin deadline.
“Hm?” jawabnya males, walau nomer yang tertera di layarnya bukan nomer yang dikenal. Karena si Bobi itu manusia tanpa modal, dia pasti minjem handpone temennya lagi untuk nelpon.
“Echa?” suara di sebrang terdengar asing. Dan logatnya terdengar aneh.
“Ya?”
“Ini Alden, apa tawaranmu masih berlaku?” bahasa Inggris lelaki itu rapi sekali, sopan. Dan ada nuansa Timur Tengah yang baru Echa sadari. Echa tersenyum lebar.
“Tentu saja!”