"Jadi Joan itu tetanggamu? Yang biasanya mengawasi rumah ya?" tanya Rei sembari menyeruput minumannya. Rei menatap Chairey lurus dengan tatapan penasarannya, sesekali pemuda yang seleranya dianggap aneh itu melirik ke arah belakang tempat Joan duduk.
Chairey mengangguk. Mulutnya sudah sibuk mengunyah keik yang ia pesan sementara jari-jari kurusnya sibuk memutar-mutar sedotan minuman.
"Tetangga yang seperti kakak. Uhm, karena sering perhatian dan sering datang berkunjung. Juga kenal lama, sejak aku masih sekolah junior, seperti kakak laki-laki." Chairey tersenyum manis lalu menatap dua laki-laki di hadapannya. "Oh! Kak Joan juga kenal orang tua angkatku, orang tua Kak Joan sudah kenal sebelum aku tinggal di rumah."
Rei mengangguk mendengar penjelasan Chairey, dan Zen hanya menatap Chairey lurus, dalam hatinya Zen merasa iba dan penuh tanda tanya bagaimana gadis yang tampak rapuh ini bisa bertahan hidup sendirian dan masih bisa terlihat begitu bercahaya.
"Rey tidak takut?"
Chairey menoleh ke arah Rei yang lebih sering bertanya padanya dibandingkan Zen. Mengerjapkan mata perlahan dan tersenyum kecil, tetapi bisa dilihat jika senyum saat ini tidak secerah sebelumnya.
"Takut awalnya, tidak mungkin tidak takut, 'kan? Ibu dan ayah angkat meninggal bersamaan karena kecelakaan, padahal hari itu kami berencana pergi piknik. Ada banyak tetangga yang datang dan menawarkan tinggal bersama, ada juga saudara dari ibu dan ayah angkat yang mengajakku pindah dari rumah."
"Lalu kenapa tidak mau? Bukankah lebih baik tinggal bersama saudara dibanding sendirian?" tanya Rei dengan kening berkerutnya. Chairey masih tersenyum.
"Mereka bukan saudara, hanya orang-orang yang bersimpati padaku. Dan biasanya rasa simpati itu tidak akan bertahan lama," jawab Chairey perlahan, tidak terdengar marah atau penuh rasa benci. Chairey hanya sekadar mengutarakan apa yang ia pikirkan dan rasa. Chairey tidak membenci juga tidak segera percaya hanya karena rasa kasihan.
"Aku mengerti rasanya. Mistrees melakukan hal yang benar." Zen mengusap rambut Chairey tanpa membuat tatanan rambut gadis itu berantakan. Chairey menunduk malu karena dipuji.
"Rey kuat sekali, sungguh! Kalau aku jadi Rey pasti aku sudah menangis dan ... dan akan membenci banyak orang. Rey hebat ya, aku kagum." Rei tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya ke hadapan Chairey membuat Chairey terkikik.
"Iya, aku hebat, haha. Uhm, omong-omong bagaimana ponselnya? Mau aku kembalikan sekarang? Aku takut sekali kalau ponsel ini penting untuk kalian, tetapi syukurlah tidak ada yang menghubungi selain Zen dan Rei ke nomor ini." Chairey bernapas lega dan kembali mengingat bagaimana jantungnya selalu berdebar ketika menyalakan ponsel tersebut, ia takut jika ada panggilan masuk yang penting dan Chairey tidak bisa menjawabnya.
Rei mengangguk dan menadahkan tangannya ke Chairey.
"Aku pinjam sebentar."
Chairey segera memberikan ponsel yang ia simpan dalam tas kecilnya, menatap ke arah Rei seolah menunggu apa yang akan Rei periksa.
"Aku minta maaf kalau ada yang tidak sengaja aku ganggu atau aku buka, tetapi aku tidak pernah dengan sengaja membaca pesannya atau melihat isi dalamnya." Chairey menjelaskan dengan suara pelan sembari menggenggam kedua tangannya sendiri. Rei hanya tertawa ringan karena mendengar ucapan Chairey.
"Kenapa minta maaf? Tidak ada kesalahan yang Rey buat, lagi pula aku pinjam ponsel ini hanya untuk mengganti nomornya. Nah ... sebentar," pinta Rei dengan jari-jari tangannya yang lincah mengganti dan mengotak-atik bagian dalam ponsel. Menyalakannya kembali dan sedikit mengetikkan sesuatu di sana. "Selesai!"
Rei menarik tangan Chairey dan meletakkan ponsel itu kembali di tangannya.
"Rey bisa pakai ponselnya lagi, aku sudah simpan nomorku dan nomor Zen di situ. Jadi, Rey bisa hubungi kami kalau ada apa-apa atau misal ingin cerita. Aku ingin Rey tetap aman, jadi gunakan ponsel ini untuk hubungi kami, okay?" Rei tersenyum manis, sepasang mata hitamnya menatap lurus Chairey dengan banyak artian. Chairey mengangguk dan segera menyimpan ponselnya.
"Aku mengerti, uhm, terima kasih. Sungguh tidak apa-apa aku pakai ponselnya? Datanya sudah dipindahkan?"
"Kalau anak ini sudah bilang pakai, tandanya sudah aman. Dia paling paham tentang hal seperti ini, jadi Mistrees tidak usah khawatir. Juga, jangan ragu untuk menghubungi, meski kami tidak bisa menjawab atau membalas segera karena pekerjaan," ungkap Zen memasang wajah seriusnya. Rei melirik ke arah Zen dan Chairey bergantian.
"Aku penasaran sejak tadi, sejak dulu sebenarnya. Dan sekarang aku tidak tahan lagi, Zen kenapa kau memanggil Rey dengan sebutan Mistrees? Tidak seperti Rey ini majikanmu atau kau bekerja jadi pelayannya, Rey juga bukan bangsawan, apa Mistrees itu panggilan sayang?" Zen segera menginjak kaki Rei kuat-kuat karena bicara sembarangan. Rei menahan teriakannya, kalau saja ia di rumah, seisi rumah sudah akan mendengar teriakan melengkingnya.
"Aw ... aw. Kenapa diinjak!? Sakit Zen ... " isak Rei setengah berbisik karena mulutnya yang ia tutup dengan tangan.
"Karena kau bicara sembarangan. Bicara lagi dan lihat, apa kali ini yang akan aku injak," geram Zen, deretan gigi putihnya mengerat dan sorot matanya terlihat serius penuh pengancaman. Rei bersungut karena diancam, sementara Chairey hanya menahan senyum memandangi dua orang yang sudah sering kali bertengkar sejak mereka bertemu.
"Aku juga penasaran, waktu itu Zen hanya tanya, apa boleh panggil Mistrees? Karena aku merasa itu hanya panggilan, dan aku tidak pernah merasa terganggu atau keberatan dengan nama panggilan apa saja." Chairey tersenyum dan sudah menghabiskan semua yang ia pesan.
"Tidak ... ada yang spesial. Aku hanya merasa panggilan Mistrees cocok untuk ... untuk Chairey. Jadi, karena itu aku ... aku bertanya apa boleh panggil dengan sebutan Mistrees." Zen menundukkan kepalanya, wajahnya kembali memerah seperti udang yang baru saja direbus. Rei menggigit lidah kuat-kuat agar tidak tertawa untuk keselamatan kaki dan anggota tubuh lainnya.
"Aku tidak keberatan kok Zen. Aku senang karena dipanggil Mistrees, rasanya aku jadi seperti tuan putri, haha. Aku suka dipanggil seperti itu oleh Zen, aku juga suka Rei juga punya panggilan untukku. Aku senang, sungguh," ungkap Chairey sambil tersenyum lebar, sejak tadi senyum gadis manis yang menyukai tanaman itu tidak pernah luntur dari wajahnya. Senyum yang tidak terpaksa dan benar-benar tulus karena rasa bahagia. "Ah! Aku juga mau tanya karena penasaran, kalian bekerja, 'kan? Kalian kerja apa? Di kantor?"
Zen mematung ketika mendengar pertanyaan Chairey, pundaknya kaku dan pikirannya mulai bekerja lebih keras untuk memberikan jawaban terbaik. Zen bahkan bisa merasakan jantungnya berdebar lebih kencang dari tadi, dan lidahnya jauh lebih kelu untuk menjawab. Yang bisa Zen lakukan saat ini hanya melirik Rei dan berharap Rei bisa menjawab pertanyaan tersebut.
"Iya, kami bekerja. Rey mau tahu? Jawabannya rahasia." Rei mengedipkan sebelah matanya ke arah Chairey lalu tertawa geli. Berdeham perlahan dan menatap Chairey lagi. "Sungguhan rahasia, kalau diberitahu bisa gawat. Sebagai penjabaran, kami melakukan hal yang tidak biasa, dan tidak banyak orang bisa lakukan. Sesuatu yang harus dirahasiakan dan tentu saja bukan merampok bank atau rumah, dan kami juga bukan pekerja komersial malam hari dan tidak menculik untuk meminta tebusan. Hanya tidak biasa saja."
Mulut Zen terlihat setengah terbuka karena jawaban Rei, ia tidak pernah berpikir jika bisa menjawab pertanyaan Chairey dengan jawaban seperti itu. Chairey mengerjapkan matanya, sorot mata kagum dan penasaran saling bercampur aduk. Chairey menundukkan kepala dan berbisik seolah mereka sedang membicarakan rahasia besar negara.
"Jadi rahasia? Wah, keren sekali. Seperti yang di film? Agen rahasia begitu? Baiklah, aku tidak akan tanya lagi, semoga pekerjaan kalian tidak pernah terbongkar jadi kalian selalu aman."
Ada sesuatu di dalam hati Zen yang meleleh, terasa hangat dan membuat perasaan Zen nyaman dan senang. Sesuatu yang Zen tidak tahu apa, tetapi Zen paham jika sesuatu itu bereaksi karena ucapan sederhana dari Chairey. Rei mengangguk dan tersenyum manis.
"Terima kasih Rey! Hehe. Kami akan selalu aman dan selalu berusaha untuk aman, suatu hari nanti kami akan beritahu apa pekerjaan kami tetapi tidak sekarang. Aku ingin Rey juga aman, bukan hanya aku dan Zen. Karena Rey adalah teman yang aku sayangi."
Chairey merasa terharu ketika Rei mengatakan dirinya adalah teman yang disayangi. Namun, Chairey tidak sadar jika ada satu pekerjaan ilegal yang tidak Rei sebutkan.