Chairey menatap ke arah kanan dan kiri mencari-cari orang yang akan ia temui. Ia baru saja sampai sekitar sepuluh menit yang lalu, terakhir kali berkirim pesan pada Zen, Zen mengatakan jika mereka sudah sampai. Sementara Joan berjalan di belakang Chairey cukup jauh.
"Kafe Laurent di kursi bagian tengah, uhm," gumam Chairey perlahan sembari menatap papan nama yang ada di bangunan besar hadapannya. Chairey berjalan memasuki kafe dengan suasana klasik tersebut, warna putih dan abu-abu muda mendominasi bagian dalam. Meja-meja bulat tersusun rapi di dalam ruangan, dengan sebuah lampu gantung hias besar yang terlihat begitu menarik mata. Patung-patung lilin berbentuk cupid yang diletakkan di sudut ruangan juga tidak kalah menarik, hingga desain dalam kafe ini benar membuat pelanggannya merasa nyaman dan betah berlama-lama.
Chairey melangkahkan kakinya ragu, ini kali pertama ia masuk ke dalam sebuah kafe. Kembali kedua matanya mencari sosok dua pria yang katanya sudah menunggu sejak tadi, satu pria memakai kemeja hitam lengan panjang dan satu lagi pria dengan kemeja lengan pendek motif bunga-bunga.
"Rey? Chairey?"
Chairey tersentak kaget karena mendengar suara yang tiba-tiba dari arah belakangnya, beruntung ia tidak terlalu kaget dan menimbulkan keributan. Chairey pasti akan malu sekali. Kembali Chairey menatap ke arah sumber suara yang membuatnya kaget ini. Seorang pria yang tingginya sekitar seratus delapan puluh, berambut hitam dan memakai kemeja lengan pendek motif bunga.
"Rei?" tanya Chairey memastikan. Bibirnya sudah tampak mengembang karena menemukan salah satu pria yang dia cari. Pria yang ia panggil dengan nama Rei itu pun mengangguk girang.
"Benar! Ini aku Rei. hehe. Sendirian? Tidak jadi temanmu ikut?"
Chairey menggeleng, menoleh ke arah belakang di mana Joan berdiri menatap ke arah Rei dengan tatapan awasnya. Rei tersenyum kikuk karena di awasi, membungkukkan badannya singkat ke arah Joan sebagai salam lalu menatap Chairey sambil berbisik. "Itu ... temanmu? Apa dia marah karena kami mengajakmu keluar? Dia sepertinya ... tidak senang?"
Chairey terkikik pelan, menepuk lengan Rei singkat dan menggeleng.
"Tidak, Joan namanya. Joan hanya khawatir, tidak marah, dia seperti kakakku sendiri karenanya mau ikut untuk melihat kalian. Uhm, apa kita akan berdiri di sini saja?" tanya Chairey karena ia yang mulai risi akibat banyak mata yang menatap ke arahnya. Rei menepuk keningnya pelan sebelum menarik lengan Chairey dan membawanya ke meja bagian tengah.
Di sana terlihat seorang pria dengan kemeja hitam lengan panjang, duduk sendirian memasang wajah kakunya. Warna rambutnya hitam seperti Rei dengan sepasang mata berwarna hitam juga, pria yang tampak tidak nyaman itu menoleh karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Pandangannya lurus, seperti terpaku pada sosok gadis yang Rei bawa. Wajah yang tadinya pucat kini perlahan timbul rona merah di beberapa tempat, Zen mengalihkan pandangan dan mencoba untuk tenang. Zen tidak mau terlihat bodoh di hadapan Chairey.
"Zen! Lihat siapa yang datang? Hehe."
Rei menepuk punggung Zen cukup kuat sebelum membuat Chairey duduk di hadapan Zen. Zen tersentak pelan, menatap kesal Rei dan kembali pada Chairey. Zen berdeham melegakan tenggorokannya, lidahnya kelu untuk mulai bicara.
"Hai ... senang bertemu denganmu, Mistrees." Zen menatap Chairey malu-malu, rona merah di wajahnya sudah terlihat jelas membuat Chairey tersenyum karena merasa lucu.
"Hai, aku juga senang bertemu dengan Zen, dengan Rei juga. Kalian sudah lama di sini? Maaf, aku sedikit kesulitan mencari Laurent, Joan juga tidak tahu di mana tempatnya. Kami jarang sekali datang ke pusat kota." Chairey menatap Rei dan Zen bergantian dengan senyum manisnya, lalu menatap ke arah belakang, Joan tampak sudah duduk di belakang.
"Itu Joan, yang aku katakan di telefon waktu itu. Dia pemalu, tetapi tidak separah Zen sepertinya." Chairey tertawa kecil karena ucapannya, disusul Rei yang tidak bisa menahan tawa saat Zen sedang dijadikan bahan ejekan. Wajah Zen sudah merah seutuhnya, ia bisa marah dan menatap kesal ke arah Rei ketika Rei mengejek, tetapi ia bisa apa pada Chairey pikirnya.
"Sorry Zen, habisnya Zen lucu sekali. Kita memang sudah banyak bicara ini itu, bahkan sudah saling tahu kesukaan. Uhm, aku juga sebenarnya merasa berdebar saat akan bertemu kalian, tetapi sekarang sudah lega karena sudah bertemu. Kalian sudah pesan sesuatu? Apa yang enak di sini?" tanya Chairey pada Rei yang tampak lebih santai seraya meraih buku menu yang ada di atas meja.
"Semuanya. Semua yang ada di Laurent enak! Aku tidak bohong, tetapi kalau Rey tanya aku biasa pesan apa, aku biasanya pesan blueberry cheesecake, panacotta atau sandwich telur. Tiga macam itu kesukaanku di Laurent, Rey bisa coba salah satunya. Kalau Zen biasanya hanya akan pesan sandwich atau pasta, anak ini tidak suka makanan manis." Rei menjelaskan secara rinci tentang apa-apa yang biasanya mereka makan agar Chairey dapat menentukan pilihan terbaik. Zen mengangguk membenarkan ucapan Rei, Zen tidak suka makanan manis. Dia bisa muntah ketika dipaksa makanan manis atau sejenis keik dengan banyak gula dan krim di dalamnya.
Chairey ikut mengangguk seolah mendapatkan informasi baru tentang Zen.
"Begitu? Baiklah, aku akan coba panacotta dan sandwich telurnya. Aku juga mau milkshake, uhm ... coklat. Di mana aku harus membayarnya?" tanya Chairey dengan kepalanya yang sudah bergerak mencari meja kasir. Rei tertawa kecil dan menggeleng perlahan.
"Tidak perlu, setelah makan kita tinggalkan uangnya di atas meja. Pelayan akan datang untuk mengambil dan memeriksanya. Jadi, tidak perlu ke kasir untuk membayar. Dan hari ini Zen yang traktir! Rey pesan saja yang banyak!"
Chairey mengerjapkan matanya karena rasa kaget sekaligus takjub, tidak pernah ia mendengar ada kafe yang cara bayarnya seperti Laurent. Bagaimana kalau pelanggan tidak bayar sesuai menu atau bahkan tidak bayar sama sekali batinnya.
"Wah, apa ... ada pelanggan yang tidak bayar sebelumnya?" Chairey terlalu penasaran untuk tidak bertanya. Perlahan gadis manis yang memakai kontak lensa berwarna hijau itu menggigit sedikit bibir bagian bawahnya untuk menunggu jawaban, tanpa sadar jika Zen sudah memperhatikannya sejak tadi. Rei tersenyum karena pertanyaan Chairey.
"Ada, dan dia tidak pernah bisa masuk ke Laurent lagi. Laurent memiliki sistem keamanannya sendiri, mereka tahu betul mana pelanggan yang akan membuat mereka bangkrut, haha. Kenapa Rey malah mengkhawatirkan itu? Memang sih tidak biasanya ada kafe yang cara bayarnya seperti Laurent, tetapi aku tidak menyangka Rey akan benar-benar menanyakannya. Hahaha." Kali ini wajah Chairey yang memerah karena malu.
"Aku penasaran, aku sempat berpikir jangan-jangan kafe ini kafe sihir, yang kalau pelanggannya tidak bayar atau bayar tidak sesuai akan melayang ke arah atap untuk ditakut-takuti atau malah akan berubah jadi katak." Chairey memiringkan kepalanya dan bercerita seolah hal yang sedang ia bicarakan ini benar adanya.
"Aku juga sempat berpikir begitu ... aku mengira pemilik kafe ini adalah penyihir, karena ia mampu mengingat semua nama pelanggan-pelanggannya. Meski hanya pelanggan yang datang lebih dari dua kali, tetapi tetap saja itu terdengar tidak masuk akal. Laurent punya banyak pelanggan." Zen kali ini bicara menambahkan cerita buatan Chairey, tidak tahu Zen yang memang merasa seperti itu atau sekadar ingin mengobrol dengan Chairey.
Kedua mata Chairey membulat, otot-otot sekitar wajahnya tampak tertarik setelah mendengar ucapan Zen. Chairey sungguh kaget dengan kemampuan pemilik Laurent, jika dia memiliki ingatan yang seperti itu apa dia akan punya banyak teman tanya Chairey dalam hati.
"Hebat sekali. Bagaimana dia bisa mengingat nama pelanggan sebanyak ini? Aku bahkan tidak bisa ingat nama teman sekelasku, padahal hanya ada dua puluh empat murid. Zen benar, aku yakin pemilik kafe ini penyihir yang menyamar di tengah manusia. Apa Zen pikir akan ada manusia serigala juga? Mereka suka hidup berbaur dengan manusia selain penyihir, 'kan?"
Rei bertopang dagu menatap dua orang rupawan yang pembicaraannya terdengar aneh ini. Kalau ada orang yang mendengar percakapan mereka, Rei yakin orang-orang tersebut mengira keduanya sedang membicarakan tentang novel fantasi.
"Kalian sedang membicarakan isi novel atau khayalan yang ada dalam pikiran? Kalian bahkan tidak sadar jika pesanannya sudah datang," sungut Rei dengan kening berkerutnya. Rei menatap blueberry cheese cake yang ia pesan, memotongnya kecil-kecil sebelum ia nikmati. Chairey dan Zen menatap ke arah meja berbarengan lalu tertawa.
"Kapan sampainya? Aku jadi semakin yakin kalau ini kafe sihir, haha." Chairey masih tertawa dan bertepuk tangan kecil karena ia yang memang tidak sadar kapan pesanannya datang. Zen juga cukup kaget, ia tahu betul jika kafe ini bukan kafe sihir tetapi ia benar-benar tidak tahu kapan pelayan datang mengantar pesanan mereka.
"Tadi, saat kalian membahas tentang manusia serigala. Aku buru-buru meminta pelayan itu pergi agar mereka tidak menganggap teman-temanku ini jiwanya terganggu," ejek Rei dengan memasang wajah bangga. Zen menginjak kaki Rei kesal karena perkataannya.
"Aw!" Rei mengerang kesakitan karena apa yang Zen lakukan, sementara Chairey kebingungan dengan apa yang terjadi. Gadis itu menoleh ke arah Zen dan memicingkan matanya.
"Zen ... kenapa main kekerasan? Aku sudah bilang tidak baik, 'kan? Tegur saja Rei kalau kesal, jangan begitu, lihat wajah kesakitan Rei. Ayo minta maaf, setelah minta maaf kita bisa mulai makan bersama."
Zen tidak bisa membantah ucapan Chairey, ia hanya mencecak pelan dan menatap Rei kesal.
"Sorry." Zen menatap Chairey lagi setelah menyelesaikan tugasnya. Rei menahan tawa agar dirinya tidak lagi jadi korban, praduga Rei tentang Chairey benar adanya. Chairey akan membawa sesuatu yang berbeda untuk keduanya, Chairey akan membuat Zen tidak lagi menjalan hidup kakunya. Dan Rei yakin jika hal menarik lainnya juga akan segera terjadi.