Hujan turun sudah sejak tadi pagi, bahkan matahari tampak bersembunyi di balik awan-awan besar yang kelihatan begitu gelap.
Tanah yang basah, suara rintik air ketika menghantam atap rumah dan beberapa orang yang terlihat berlarian agar tidak terkena hujan. Sebaliknya untuk Chairey, sebaliknya untuk gadis yang baru berusia tujuh belas itu. Ia memang menunggu saat ini, ia sudah lama menunggu hujan datang. Malah dirinya sempat menggerutu ketika hujan tidak juga menyapa.
Kini Chairey sudah berdiri di bawah hujan sejak tadi pagi, mungkin sudah dua jam lamanya gadis manis dengan rambut coklat itu menari dan membiarkan hujan mengguyur tubuhnya. Hari ini akhir pekan, ia tidak harus pergi sekolah dan memiliki janji bertemu dengan Zen dan Rei. Chairey bergerak lincah ke sana dan kemari mengikuti suasana hatinya yang begitu bagus.
Tidak sedikit pun ia merasa dingin, atau bisa dibilang Chairey tidak peduli pada bagian ujung jarinya yang sudah mengeriput karena udara dingin.
"Chairey! Chairey!"
Sebuah suara teriakan yang memanggil namanya membuat Chairey berhenti bergerak, ia menoleh mencari sumber suara. Joan tampak berlarian kecil dengan payung besar yang melindunginya dari hujan. Chairey tersenyum, ia melambaikan tangannya ke arah Joan berulang kali.
"Sudah berapa lama kau main hujan?"
Joan menatap Chairey lekat-lekat dan kini mereka berdekatan. Chairey tersenyum dan mulai ragu untuk menjawab, karena jika ia bilang sejak pukul tujuh Joan akan memarahinya.
"Sudah berapa lama? Hujan sudah turun sejak pukul tujuh, dan sekarang sudah pukul sembilan lewat. Jangan katakan jika kau sudah main hujan sejak awal?" tanya Joan setengah mendesak. Chairey mengalihkan pandangannya, bibir bawahnya yang sudah terlihat membiru ia gigit perlahan sebagai sasaran.
Joan menepuk keningnya sendiri karena apa yang Chairey lakukan. Dirinya sudah punya firasat jika Chairey akan main hujan sejak pagi-pagi sekali.
"Pulang. Sekarang." Joan menatap Chairey dengan tatapan tegas dan tidak bisa dibantah, Chairey mengangguk dan berjalan perlahan menuju rumahnya yang tidak jauh dari sana. Di bagian depan rumah Chairey ada sebuah lapangan yang tidak terpakai, dulunya orang-orang memakai lapangan itu untuk bermain bulu tangkis, tetapi karena peminatnya semakin turun maka tempat itu tertinggal tanpa ada yang mengurus. Lahan kosong dengan luas yang cukup untuk Chairey berlari sesukanya itu selalu Chairey gunakan untuk main hujan dan Joan selalu mencarinya ke sana.
Chairey melangkah sembari bersenandung kecil menuju rumahnya, ia melirik ke arah Joan yang mengawasinya dari jauh. Chairey terkikik pelan dan masuk ke dalam rumah. Setelah mengganti pakaian dan membuat minuman hangat untuknya Chairey kembali dikejutkan karena banyaknya pesan masuk dan panggilan tidak terjawab di layar ponsel milik Rei.
"Uhm?" gumam Chairey pelan karena rasa bingung. Chairey menatap ponsel itu dan membaca pesannya satu-satu.
"Mistrees? Kau di sana?"
"Mistrees kenapa diam? Mistrees kau masih tidur?"
"Jangan bilang Mistrees sedang main hujan saat ini."
"Mistrees ini sudah hampir dua jam."
Deretan pesan dari Zen yang mencarinya sejak pagi membuat senyum Chairey mengembang, panggilan yang tidak terjawab itu juga berasal dari Zen. Sembari menahan tawa dan setengah diliputi rasa bersalah, Chairey mengetik sesuatu untuk membalas pesan Zen agar Zen tidak khawatir. Belum satu menit pesan tersebut Chairey kirim, Zen sudah menghubunginya.
"Halo."
"Mistrees main hujan sejak pukul tujuh? Sekarang sudah pukul sembilan tiga puluh menit. Selama itu?"
Suara Zen terdengar begitu khawatir dan penuh rasa tidak percaya karena apa yang terjadi. Chairey bersungut kecil, ia tidak mengerti kenapa orang-orang akan cemas dan marah jika tahu ia main hujan dalam waktu satu atau dua jam lamanya.
"Hanya dua jam, tidak begitu lama. Sudah lama tidak hujan, jadi aku ... senang," jawab Chairey kebingungan memilih kata agar Zen tidak marah seperti Joan. Dari sini Chairey bisa mendengar suara napas Zen ketika mendengar jawabannya.
"Sudah mandi? Sudah minum minuman hangat?"
"Sudah! Aku sudah mandi dan ganti pakaian, aku juga buat cokelat hangat, apa Zen suka coklat hangat? Aku lebih suka coklat hangat dibanding kopi, terlalu pahit, tetapi aku juga suka teh. Hanya saja hari ini lebih memilih coklat hangat."
"Mistrees, Mistrees tahu kalau Mistrees bisa sakit, 'kan? Aku tidak melarang Mistrees main hujan, tetapi jangan terlalu lama. Mustrees bisa demam."
Chairey memainkan kakinya perlahan sebelum menyeruput coklat hangat yang ia buat. Perasaannya hangat dan nyaman, hujan dan minuman hangat adalah dua hal yang ia sukai dan selalu berhasil membuat perasannya merasa nyaman meski dirinya harus melewati hidup sendirian. Dan sekarang, ada Zen juga yang membuatnya merasa nyaman ketika sedang bicara walaupun mereka yang baru kenal selama satu minggu. Chairey tidak mengerti dan tidak tahu bagaimana orang-orang berteman, ia juga tidak tahu bagaimana biasanya menjalin sebuah hubungan pertemanan, buku yang ingin dia cari pun tidak ditemukan. Namun, selama hubungan di antara keduanya terasa nyaman dan menyenangkan, Chairey merasa semua akan baik-baik saja.
Chairey hanya menjawab iya pada pesan Zen yang terus berulang, membantah Zen akan membuat pemuda itu lebih cerewet lagi. Chairey selalu merasa lucu ketika Zen mulai cerewet dan menasihatinya, mengingat selama ini Chairey hanya menerima larangan-larangan dari Joan juga beberapa aturan yang Joan buat untuknya. Seperti tidak pulang larut malam, memberitahu Joan ketika menerima tamu asing, jangan membuka pintu ketika ada yang mengetuk lewat dari pukul sembilan dan jangan tidur lewat dari pukul sepuluh.
Chairey tidak pernah keberatan, ia merasa itu adalah cara Joan memperhatikannya. Chairey meyakini jika semua orang memiliki cara masing-masing untuk saling memperhatikan dan peduli.
"Hari ini jadi bertemu?" tanya Chairey yang membuat Zen diam. Tidak ada suara yang terdengar kecuali suara berisik yang Chairey tidak tahu apa atau berasal dari mana.
"Iya, aku sudah katakan pada Rei. Pukul empat sore di kafe Laurent,'kan?"
Chairey tersenyum, sekilas ia berpikir jika Zen akan membatalkan janji bertemu mereka.
"Iya, pukul empat. Oh, Zen, ada yang akan ikut nanti, tapi dia bilang tidak akan bergabung dengan kita hanya mengawasi dari jauh. Namanya Kak Joan, dia tetangga yang baik sekali padaku. Karena sudah kenal lama jadi aku anggap sebagai kakak sendiri, uhm, tidak masalah dia ikut, 'kan?" tanya Chairey memastikan. Chairey tidak mau Zen atau Rei akan merasa tidak nyaman karena kehadiran Joan, Chairey juga tidak mau jika Joan merasa kecewa jika Chairey menolak keinginannya.
"Tidak masalah. Aku mengerti kenapa dia khawatir, selama tidak mengganggu dan bicara yang tidak-tidak. Rei juga akan mengerti, kita baru kenal satu minggu dan akan bertemu, wajar jika dia khawatir pada Mistrees. Karena kalau keadaannya dibalik, aku juga akan khawatir."
Chairey tersenyum dan bernapas lega karena Zen tidak marah, Chairey hampir saja lupa untuk memberitahu Zen tentang Joan yang akan ikut dalam rencana mereka.
Mereka kembali membicarakan tentang tetangga dan teman kerja Zen, sesekali Rei akan ikut dalam percakapan keduanya, yang Chairey tahu saat ini Rei selalu suka menggoda Zen dalam setiap kesempatan. Rei selalu berhasil membuat Chairey tertawa karena godaannya pada zen, meski Zen selalu marah-marah karena apa yg Rei lakukan.
Waktu bergulir dengan cepat, hari libur Chairey ia habiskan bicara dengan orang asing dan secangkir coklat hangat yang mulai dingin. Bahkan saat memasak untuk makan siang Chairey tidak memutus pembicaraan ketiganya, ia hanya bercerita jika akan membuat sesuatu untuk dimakan.
"Aku harus siap-siap, sekarang sudah pukul tiga. Kita akan bertemu satu jam lagi, 'kan?" tanya Chairey sembari beranjak dari duduknya. Chairey berdiri di depan lemari untuk memilih pakaian mana yang akan ia kenakan.
"Iya, baiklah. Sampai jumpa di Laurent, hubungi aku kalau ada apa-apa Mistrees."
"Bye Zen." Chairey menutup panggilan dengan salam kecil dan kembali pada deretan pakaian yang ada di depannya, Chairey suka dress sederhana dengan motif renda dan corak bunga. Ia juga suka pakaian rajut yang membuatnya hangat. Chairey mengambil dress one piece berwarna putih tanpa corak dengan aksen renda di bagian bawahnya. Menyiapkan sepatu dengan warna sama dan segera memasang lensa kontak untuk membantunya melihat.
Bisa saja Chairey memakai kacamata, tetapi terlalu lama memakai kacamata membuat kepalanya sakit dan Chairey benci itu. Karenanya Chairey lebih memilih lensa kontak sebagai alat pembantu. Chairey menatap dirinya lagi di cermin, ia perhatikan pakaiannya, ia perhatian rambutnya, ia perhatikan wajah dan riasan sederhananya. Chairey merasa berdebar karena pertemuan pertama mereka, sudah banyak wajah yang Chairey bayangkan tentang Zen dan juga Rei. Dan untuk itu Chairey ingin menunjukkan tampilan terbaiknya.