Page 12 - Ponsel & Chairey

1304 Words
"Jadi, kalian bertemu dari ponsel? Kau temukan ponselnya di perpustakaan umum yang sering kau datangi?" Joan memasang wajah seriusnya, ia menatap ke arah Chairey yang duduk di hadapannya. Chairey mengangguk ringan karena ia sedang mengatakan yang sejujurnya, Chairey termasuk orang yang jarang berbohong bahkan mungkin hampir tidak pernah. Chairey memainkan kedua kakinya perlahan, sesekali ia akan menatap je arah halaman lewat jendela seolah tanaman-tanamannya lebih penting dibanding pembicaraannya dengan Joan saat ini. Joan mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengar penjelasan Chairey tentang ponsel, Zen dan Rei. Joan masih merasa curiga tentang pertemuan mereka yang mirip betul dengan serial televisi. Namun, Joan tidak pernah mendengar baik tentang Rei ataupun Zen di komplek perumahan mereka. Joan hampir mengenal seluruh orang di sana, karena Joan sendiri bertugas mengawasi keamanan yang terjadi di sekitar perumahan. "Aku tidak pernah dengar tentang mereka, jadi sudah pasti mereka tidak berasal dari dekat sini. Mereka bilang mereka tinggal di mana?" tanya Joan. Chairey kembali ke arah Joan lalu diam dan berusaha mengingat percakapan ketiganya beberapa saat lalu. "Uhm, tidak. Mereka tidak bilang tinggal di mana, seingatku mereka bilang mereka tinggal bersama di satu rumah dan bersama orang-orang lain. Mungkin mereka satu kelompok dan memutuskan menyewa rumah bersama agar lebih hemat? Karenanya bisa tinggal sama-sama, pasti menyenangkan sekali seperti itu!" Chairey menepuk kedua tangannya dan memasang wajah girang karena membayangkan hal yang tidak pernah terjadi itu. Joan mengerutkan keningnya, tidak membantah tetapi tidak juga menyetujui. "Tidak tahu. Mungkin juga." Joan kembali berpikir, bagaimana bisa kebetulan seperti ini, bagaimana bisa mereka menargetkan Chairey di sebuah tempat umum? "Kak?" panggil Chairey sembari menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Joan sesekali. "Kakak memikirkan apa? Zen dan Rei? Kakak baik sekali sampai memikirkan mereka." Chairey tertawa kecil. "Aku tidak memikirkan mereka karena aku peduli, anak ini," balas Joan seraya menarik hidung Chairey geram. Chairey mengerang sakit perlahan karena apa yang pemuda itu lakukan. "Sakit, hahaha. Iya, iya, aku hanya bingung. Kenapa kakak begitu curiga? Kalau curiga terus nanti bisa sakit, atau bisa jadi aku yang sakit seperti kata kakak tadi. Karena ... pipanya tidak jadi diperbaiki." Chairey tersenyum kecil, Joan mengembuskan napasnya, pemuda itu tahu jika jarang sekali ia akan menang ketika bicara dengan gadis remaja di hadapannya. Joan ikut tersenyum, tangannya mengusap rambut Chairey dan beranjak dari duduknya. "Baiklah, baiklah. Aku akan perbaiki pipanya, tetapi aku akan ikut denganmu ketika kau memutuskan untuk bertemu dengan mereka. Aku tidak akan ikut campur tentu saja, aku tidak akan duduk di dekat kalian, aku hanya akan mengawasi dari jauh dan memastikan kau baik-baik saja." Chairey mengangguk, ia tidak keberatan jika Joan ingin ikut meski hanya dari jauh. "Dari dekat juga tidak apa-apa, mungkin kakak, Zen dan Rei bisa berteman? Bukannya itu bagus? Jadi kita bisa sering berkumpul bersama dan melakukan banyak hal bersama," ajak Chairey dengan nada penuh semangat. Matanya terlihat bersinar ketika mengucapkan kata bersama. Joan tertawa karena ide Chairey, pemuda itu paham betul bahwa dirinya dan dua orang pemuda yang baru Chairey kenal tidak akan bisa berteman baik. "Tidak, terima kasih. Temanku sudah banyak, oh, omong-omong tentang ponsel yang ditinggalkan apa ponselnya ponsel pintar?" tanya Joan dari arah dapur. Chairey bersungut pelan karena Joan yang malah menyombongkan teman-temannya. "Bukan, bukan yang jenis itu. Ponselnya kecil, keluaran tahun lama, ponselnya bahkan tidak punya kamera. Hanya digunakan untuk mengirim pesan dan menelefon saja." Chairey menjawab sembari berjalan melangkah ke arah lemari kecil yang ada di dekatnya, mengambil ponsel yang ia letakkan beberapa saat lalu sebelum Joan datang. "Aku tidak lihat isinya, Kak. Tidak sopan, ini ponsel orang lain jadi aku tidak mau periksa, kakak juga tidak boleh. Kalau mau lihat ponselnya, lihat saja tetapi jangan dilihat isinya," larang Chairey dengan langkah kakinya yang mendekat ke arah Joan. Gadis itu sedikit membungkukkan badan untuk melihat apa yang Joan kerjakan. Tubuh Joan setengah berbaring di dekat kumpulan saluran pipa yang ada di dapur, letaknya ada di bawah wastafel. Joan melirik Chairey yang mendekat ke arahnya lalu kembali fokus pada pipa yang sedang ia perbaiki. Joan diam mendengar jawaban Chairey tentang ponselnya, jika ponsel yang ditemukan adalah ponsel pintar maka alasannya bisa saja untuk mengawasi Chairey atau melakukan tindak kriminal lewat kameranya. Namun, ponselnya tidak punya kamera. Mungkin aku yang terlalu curiga. "Apa yang rusak? Pipanya harus diganti?" Chairey menatap kumpulan pipa yang tampak sama semua di matanya lalu menatap Joan lagi. Joan menggeleng. "Tidak perlu, cukup diperbaiki. Buka dari pipanya, sepertinya dari kabel atau pemanasnya. Aku kira tadi aliran air tersumbat, sepertinya dugaanku salah. Jam berapa biasanya kau mandi?" Joan bergerak perlahan menjauh dan membereskan apa yang ia bongkar. "Jam tujuh, uhm, kalau sedang malas bisa jam delapan," jawab Chairey seadanya. "Jangan dipaksakan, seperti kataku tadi, aku tidak masalah harus menghangatkannya secara manual tanpa menggunakan mesin." Chairey menggigit bibir bawahnya pelan, dia takut terlalu menyusahkan, Chairey tidak mau jika orang lain sampai menganggapnya beban. Joan mengusap rambut Chairey lagi, setengah mengacak lalu tersenyum. "Aku tidak memaksakan, ini memang tugasku. Pekerjaanku mengawasi kalian dan memastikan keamanan juga kenyamanan kalian di sini, apa lagi orang tuamu sudah menitipkanmu padaku. Tidak mungkin aku diam saja, ini hanya hal kecil, tidak sulit. Jangan terlalu cemas," ungkap Joan dengan nada lembut, Joan selalu khawatir pada Chairey yang sering memprioritaskan orang lain dibanding dirinya sendiri. Pemuda itu juga khawatir karena Chairey yang selalu menyimpan semuanya sendirian. Mengingat kembali ketika Chairey demam tinggi, dan hampir tidak keluar rumah selama dua hari lamanya. Para tetangga dekat sudah berusaha mengetuk pintu dan memanggil Chairey untuk memastikan gadis yang tinggal sendirian itu baik-baik saja tetapi nihil, tidak ada jawaban. Karena cemas, mereka meminta Joan masuk lewat kunci cadangan. Ketika Joan memeriksa dia menemukan Chairey tengah tertidur di kamar, tubuhnya memerah karena panas tinggi dan mengeluarkan banyak keringat. Setelah diperiksa dokter dan minum obat, Joan menanyai Chairey tentang keadaannya dan kenapa Chairey diam saja saat sedang sakit dan butuh bantuan. "Hanya demam biasa, jadi aku tidak mau menyusahkan. Aku sudah minum obat, aku tidak tahu kalau kalian khawatir, sorry." Joan ingat betul apa jawaban Chairey kala itu, Chairey meminta maaf karena sudah menyulitkan dan tidak mengira jika mereka akan khawatir. Joan sempat mendengar tentang Chairey yang bukan anak kandung orang tuanya, tetapi Joan yakin, orang tua angkat Chairey menganggapnya anak sendiri dan tidak memperlakukan Chairey dengan buruk. Setelah kejadian itu, Joan memutuskan untuk mengunjungi Chairey setiap tiga hari sekali. Memastikan semua fasilitas rumahnya dalam keadaan baik, memastikan Chairey sehat, memastikan Chairey punya simpanan bahan makanan cukup saat akan turun hujan atau terjadi badai dan banyak hal lainnya. Joan juga sering kali mengingatkan, jika Chairey harus memanggilnya atau meminta bantuan tetangga sesegera mungkin jika merasa kesulitan. Meski Chairey selalu bilang iya, Joan sulit untuk percaya dan berakhir dengan rasa cemas yang tidak berhenti. "Kak sudah sore, hampir makan malam, mau makan di sini? Aku berencana masak tumis brokoli dan udang. Nanti aku buatkan teh juga," ucap Chairey, jari-jari kurusnya menunjuk ke arah jam dinding, pukul lima lewat tiga puluh sore. Joan menatap ke arah luar lalu menatap ke arah Chairey lagi. "Baiklah. Aku akan malam di sini, aku pinjam kamar mandinya." Joan menunjuk ke arah kamar mandi sebelum melangkah ke sana, ia cukup berkeringat ketika memeriksa saluran pipa tadi. Makan malam dengan keadaan kotor tidak akan menyenangkan untuknya juga untuk Chairey. Chairey mengangguk menjawab Joan meski Joan tidak lagi melihatnya, Chairey kini menuju dapur untuk menyiapkan bahan masakan dengan bersenandung kecil. Chairey suka udang, suka daging dan suka daging kepiting. Chairey bisa makan makanan pedas meski ia lebih suka ice cream dibanding yang lain-lain. Chairey selalu memasak untuk dirinya sendiri, jarang sekali ia memesan makanan di luar atau datang ke kafe untuk menikmati menu mereka. Menurut Chairey, memasak jauh lebih menyenangkan dan ia akan merasa senang ketika masakannya terasa pas di lidah. Pikiran Chairey melayang, dari sini ia bisa mendengar suara keran air dan suara air yang tengah ia rebus. Chairey berpikir, akan bagus sekali jika ia bisa memasak untuk Zen dan Zen menyukai masakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD