Page 11 - Ponsel & Chairey

1430 Words
Chairey menutup panggilan yang sudah lama tersambung itu dengan tidak rela, ia menatap ke arah layar ponsel untuk beberapa saat dengan senyum kecil. Gadis remaja dengan warna mata coklat itu terlihat begitu bahagia karena punya teman baru. Di luar dari pada itu, Chairey merasa Zen dan Rei sangat menyenangkan dan begitu baik hati. Ia tidak mengerti bagaimana cara orang lain berteman atau teman sekelasnya berhubungan, yang jelas Chairey merasa ia tidak lagi sendirian saat ini. "Chairey? Chairey kau di dalam?" Suara pria yang memanggilnya membuat Chairey sedikit terkejut, segera menoleh ke arah pintu dan menyimpan ponselnya. Beranjak perlahan untuk mengetahui siapa yang datang mencarinya. "Ya?" jawab Chairey singkat sembari mencari tahu sumber suara. Chairey membuka pintu, menatap seorang pria dengan rambut berwarna coklat gelap dan tinggi mencapai seratus delapan puluh berdiri di hadapannya dengan kantung kecil berwarna merah muda. "Kak Joan! Aku kira siapa yang mencariku, ada apa? Masuklah, aku sedang bersantai," seru Chairey dengan senyum lebarnya. Kini Chairey membuka pintu lebar-lebar mempersilakan tamunya masuk. Joan adalah tetangga lama Chairey yang ia anggap saudara sendiri, mengingat Joan yang juga dekat dengan orang tua angkatnya dan juga sering membantunya melakukan hal-hal yang tidak bisa Chairey lakukan sendirian. Rumah Joan terletak tidak jauh dari rumah Chairey, hanya berjarak empat rumah. Sehingga membuat Joan jadi lebih sering berkunjung melihat kondisi gadis yang tinggal sendiri itu. "Oh? Bersantai? Santai sekali sampai aku harus memanggilmu berkali-kali, memangnya apa yang kau lakukan? Membaca novel?" tanya Joan dengan mengerutkan keningnya. Joan melangkah masuk ke dalam, mengunci pintu dan memberikan Chairey kantung merah muda yang ia bawa sejak tadi. "Hm? Apa ini? Dingin," gumam Chairey dengan tatapan mata penasaran. Joan terkikik melihat reaksi Chairey, perlahan tangan besarnya mengusap rambut Chairey hingga rambut Chairey berantakan. "Ice cream, kesukaanmu. Tadi aku lihat kedainya berikan diskon, jadi aku belikan saja untukmu sekalian aku juga mau mampir ke sini. Makanlah sebelum cair, oh ya, bagaimana dengan pipa rumahmu? Apa sudah ada tukang yang datang?" Joan berjalan menuju bagian dapur rumah Chairey seperti sudah biasa. Pemuda yang berusia hampir sembilan belas itu menatap sekitar rumah memastikan tidak ada lagi hal yang rusak atau harus diperbaiki. "Tidak ada. Tidak masalah sebenarnya, yang rusak hanya air hangatnya, aku tinggal memasak airnya lalu mencampurnya dengan air dingin untuk mandi. Bukan hal besar," jawab Chairey enteng. Chairey tidak begitu memedulikan hal-hal kecil seperti itu ketika ia bisa menemukan solusi lainnya, meski menambah pekerjaannya sekalipun Chairey tidak keberatan. Chairey duduk di sofa dan sudah siap menikmati ice cream kesukaannya tersebut. "Apa? Bagaimana kau bisa bilang begitu? Astaga anak ini, kalau kau begitu kau hanya akan habiskan waktu dan menambahkan pekerjaanmu. Lagi pula memperbaikinya tidak butuh waktu lama, bagaimana kalau ... hah, sudahlah, biar aku saja yang perbaiki. Heran aku, bagaimana kau bisa bertahan di cuaca dingin seperti ini," gerutu Joan dengan embusan napas pelannya. Kepalanya menggeleng perlahan karena mendengar jawaban Chairey. Joan tahu jika Chairey gadis unik yang tidak seperti gadis kebanyakan, Chairey tidak tahu fashion, tidak punya teman, Joan tidak pernah lihat Chairey membawa orang lain ke rumahnya sama sekali. Baik itu teman sekolah atau teman lainnya, anak remaja perempuan itu hanya terlihat keluar masuk rumah untuk membeli ice cream atau bahan makanan. "Tidak usah Kak, aku baik-baik saja, sungguh. Yang paling penting, memangnya kakak bisa perbaiki? Kalau bisa harusnya tidak usah panggil tukang ya? Haha." Chairey tertawa kecil, sudut bibir tipisnya yang sudah penuh dengan ice cream itu tertarik dengan wajah berserinya. Joan yang tengah mempersiapkan peralatan hanya bisa menggeleng-geleng perlahan karena ucapan Chairey. "Kau sedang mengejekku? Baiklah, tunggu saja kau, aku akan membalasmu. Setelah aku selesaikan pipanya, aku akan menyelesaikanmu juga." Joan berucap setengah berteriak karena jarak mereka yang terpisahkan dinding pembatas antara ruang depan dan dapur. Rumah yang ditinggalkan orang tua angkat Chairey tidak begitu luas, hanya memiliki dua kamar tidur, satu ruang tamu, dan dapur yang tergabung dengan ruang makan. Namun, halaman belakang rumah mereka cukup luas. Ada banyak tanaman hias dan bunga yang Chairey tanam di sana. Chairey memiliki kesukaan tersendiri dengan tanaman, ia suka berkebun, menanam banyak jenis bunga dan merawatnya sepenuh hati. Suasana hati Chairey akan bagus seharian jika melihat tanamannya tumbuh subur dan baik. "Oh ya, bagaimana tanaman yang diberikan paman Albert kemarin? apa sudah kau tanam?" tanya Joan lagi agar tidak ada keheningan di antara mereka berdua. Chairey mengangguk meski tidak ada Joan di sana, lalu membersihkan sisa ice cream di bibirnya. "Sudah, aku berencana mengunjungi paman Albert nanti untuk bertanya tentang tanaman itu. Apa butuh perhatian khusus atau hanya ditanam seperti biasa, aku tidak punya pengalaman menanamnya, aku tidak mau tanaman yang paman berikan mati atau layu." Chairey menjawab penuh semangat sembari membereskan kotak ice cream yang sudah ia habiskan. "Kak, kau tahu? Aku punya teman baru, dan mereka baik sekali padaku. Kami akan bertemu nanti, katanya kalau mereka tidak sibuk, mereka akan mengajakku bertemu di kafe pusat kota." Tidak ada jawaban dari Joan, Chairey memiringkan kepalanya karena merasa heran kenapa Joan tidak merespons ucapannya. Belum sempat Chairey buka suara ia sudah dengar langkah kaki mendekat. "Siapa? Mereka? Laki-laki?" Joan tiba-tiba muncul di hadapan Chairey dengan wajah serius seolah Chairey baru saja dapat masalah. Chairey mengangguk, bagaimana Joan bisa tahu kalau teman barunya adalah laki-laki pikirnya. "Benar, bagaimana kakak bisa tahu? Hebat sekali, seperti peramal!" seru Chairey dengan cekikikan. Joan mengembuskan napas kecilnya karena Chairey yang malah tertawa. "Bagaimana bisa berkenalan? Mereka ... tidak lakukan apa-apa padamu, 'kan? Apa mereka minta uangmu? Minta kirimkan sesuatu? Atau mereka memintamu berfoto dengan pakaian terbuka dan berpose aneh? Atau mereka meminta alamat rumahmu? Mereka tahu kau tinggal sendirian?" berondong Joan tanpa membiarkan Chairey menjawab satu pertanyaan pun. Chairey mengerjapkan matanya perlahan karena kebingungan dengan rentet pertanyaan yang Joan ajukan padanya. Chairey tertawa lagi, kali ini Joan yang bingung. "Kenapa tertawa?" "Karena kakak seperti polisi yang sedang menanyai kriminal, haha. Seperti di film yang sering aku tonton, hm, maaf. Tidak, mereka tidak minta apa pun dariku, mereka juga menolak alamat yang mau aku berikan, mereka tidak minta aku berfoto, tidak juga meminta barang Kak. Mereka bukan orang jahat, sungguh, mereka baik. Kami hanya bicara lewat telefon, lalu berjanji untuk bertemu nanti," jelas Chairey dengan wajah ringannya. Joan sama sekali tidak percaya. Joan tahu bagaimana busuknya laki-laki, ia terlalu sering melihat banyak laki-laki tidak bertanggung jawab yang menipu gadis-gadis remaja untuk keuntungan mereka. Terlebih lagi Chairey termasuk gadis lugu yang tidak menaruh curiga pada banyak orang, dan gadis yang diam-diam Joan sukai. Joan mengembuskan napasnya lagi karena rasa khawatir, takut sekaligus rasa cemburu yang mulai naik perlahan demi perlahan. Joan belum ingin memberitahu Chairey tentang perasaannya, ia takut Chairey akan merasa tidak nyaman dan membuat jarak di antara keduanya menjauh. Joan tidak mau hal itu sampai terjadi, ia dan Chairey sudah berhubungan dekat dan menjadi kakak adik tanpa darah sejak lama. "Jangan mudah percaya pada laki-laki Chairey, aku sudah katakan padamu berulang kali, 'kan? Laki-laki itu punya banyak sekali cara untuk memperdaya gadis muda, mereka punya seribu satu cara bahkan sepuluh ribu cara untuk membuat gadis-gadis percaya lalu menipu mereka demi keuntungan sendiri," tekan Joan dengan wajah serius. Chairey tersenyum kecil dan menunjuk ke arah Joan dengan telunjuk kurusnya. "Apa kak Joan begitu juga padaku? Karena aku percaya kakak, aku yakin kakak orang baik dan tidak akan melakukan hal buruk padaku. Apa tidak begitu sebenarnya?" "Tentu saja aku tidak punya niat buruk padamu, maksudku memang tidak semua laki-laki, tetapi kebanyakan laki-laki seperti itu," tambah Joan. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Joan mengembuskan napas karena tingkah Chairey yang begitu naif. "Nah, tidak semuanya, 'kan? Karena aku sudah bertemu kak Joan, aku juga percaya jika Zen dan Rei sama seperti kakak. Mereka tidak memiliki niat buruk padaku, tetapi, kalau kakak khawatir aku akan berhati-hati. Aku selalu ingat ucapan kakak, aku akan bawa semprotan lada untuk jaga-jaga. Kalau mereka mulai macam-macam, aku akan semprot mata mereka lalu lari sekencang-kencangnya, aku pandai berlari!" tukas Chairey dengan senyum lebar. Kedua mata coklatnya penuh keyakinan dan rasa percaya diri membuat sepasang mata gelap yang Chairey tatap luluh dan tidak bisa lagi berucap apa-apa. "Baiklah, aku percaya padamu. Tidak dengan teman barumu, sekarang coba ceritakan padaku, bagaimana kalian bisa bertemu. Dan tadi, siapa namanya? Zen dan Rei? Apa mereka tidak berasal dari sini?" Joan merangkul tubuh Chairey dan membawanya ke ruang depan. "Mau bicara sekarang? Bagaimana dengan pipanya? Ditunda dulu?" Chairey menatap Joan dan berjalan mengikuti pemuda yang lebih tua darinya dan tampak sangat cemas itu tanpa menolak. "Iya, nanti saja. Ditunda dulu, karena aku harus dengar bagaimana kalian bertemu. Setelahnya aku ingin dengar di mana kalian akan bertemu dan seperti apa Zen juga Rei itu. Jika aku merasa buruk, maka kau tidak akan aku izinkan pergi sendirian."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD