"Jadi, kau tidak sengaja meninggalkan ponselmu di perpustakaan umum? Apa yang kau lakukan di perpustakaan umum? Tidak biasanya kau ke perpustakaan umum? Kau yakin kau tidak sengaja meninggalkannya?" selidik Elle sembari menatap Rei dengan tatapan lurusnya. Bibir Elle tersenyum, ia tidak terlihat marah, kesal ataupun hal penuh emosi lainnya. Wanita yang belum genap berusia tujuh belas itu hanya menatap salah satu anggotanya dengan tatapan tanpa rasa percaya.
Rei mulai terlihat tidak nyaman, pria itu berdeham pelan dan menggaruk-garuk wajahnya perlahan.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak percaya, yah, memang terdengar hal yang tidak masuk akal, tetapi aku sungguh tidak sengaja meninggalkannya di sana. Zen memintaku ke sana untuk mengembalikan buku yang ia pinjam, kalau kau mau kau bisa tanya pada Zen langsung. Lalu setelah mengembalikan buku, aku memutuskan untuk duduk sebentar dan melihat-lihat, aku mengambil tempat duduk yang paling pojok dan tertidur. Sepertinya aku tidak sadar jika meletakkan ponselku di sana, karenanya setelah hampir dua jam aku tertidur aku buru-buru keluar untuk pulang. Dan ponselku ... tertinggal," jelas Rei panjang lebar. Rei menatap ragu pada Elle yang selalu menaruh rasa curiga padanya, bukan hanya Elle tetapi hampir setiap anggota Wall merasa Rei sedang menyimpan sesuatu. Seolah ada tembok besar di belakangnya.
Elle mengangguk perlahan karena mendengar penjelasan Rei, menoleh ke arah Zen yang masih sibuk bicara lewat ponsel singkat dan kembali pada Rei.
"Baiklah, sepertinya sungguhan tertinggal. Jadi, bagaimana kau akan bertanggung jawab? Ponsel itu, kau tahu pasti apa isinya, kau juga tahu pasti untuk apa ponse itu digunakan. Kalau ponselnya sampai jatuh ke tangan musuh, Wall bisa tamat, kalau jatuh ke tangan orang asing sih memang tidak masalah tetapi kalau dia sampai serahkan ponsel itu ke pihak kepolisian sebagai barang hilang maka ... itu juga gawat." Elle tersenyum lagi, seolah Elle sudah tahu jika ponselnya jatuh ke tangan orang yang tepat, seolah Rei memang memberikan ponsel itu pada orang tersebut.
"Aku rasa bukan musuh, Zen sedang menyelidikinya, aku juga sudah bicara dengannya. Aku yakin bukan salah satu dari mereka, dan aku juga sudah bilang ponselnya akan aku ambil jadi tidak perlu serahkan ke polisi. Aku tahu itu benda penting, maafkan aku Elle, aku janji tidak akan ceroboh lagi. Aku juga akan bertanggung jawab jika timbul masalah nanti ya karena masalah ponsel ini, aku minta maaf," lirih Rei dengan menundukkan wajah. Pandangan matanya ia tujukan pada lantai marmer putih bersih yang terkadang kotor karena tanah dan darah.
Elle terkikik kecil karena permintaan maaf Rei. Elle lebih dari pada tahu jika anggotanya hampir tidak pernah lalai. Elle juga punya insting jika hal ini akan jadi hal yang sangat menarik di kemudian hari.
"Aku tidak marah, aku bahkan menanyaimu dengan senyum bukan? Aku hanya khawatir, sebagai pimpinan kalian dan juga keluarga jauhmu, aku tidak mau kau tertimpa masalah besar. Namun, seperti katamu, semua akan baik-baik saja dan kau akan bertanggung jawab. Aku bisa lega, saranku cepat ambil ponselnya atau kau sudah mengganti isi dalamnya? Itu juga bagus, ponsel itu kan hanya wadah, yang paling penting itu isinya. Seperti manusia, tubuh hanya wadah, yang paling penting adalah pikiran." Elle menunjuk ke arah otak, tersenyum dan beranjak dari tempatnya.
Perlahan remaja perempuan itu meregangkan tangan dan menguap kecil. Ia menoleh ke arah Sebastian yang mendekatinya dengan nampan berisi aneka ragam makanan ringan.
"Nah, Rei, aku sudah harus kembali bekerja. Aku harap ucapanmu adalah kenyataan, dan aku menunggu hasil dari ucapanmu. Dan ... aku juga berharap orang asing yang bisa membuatmu dan Zen percaya bahkan bisa membuat anak itu bicara dengannya berjam-jam bisa bertamu ke sini, aku akan senang menjamunya, Sebastian akan buatkan masakan terbaiknya. Benar Sebastian?" tanya Elle sembari menepuk tubuh pria yang jauh lebih tinggi darinya itu dengan punggung tangan.
Sebastian tersenyum manis, ia sedikit membungkukkan badannya dan mengangguk sebagai jawaban awal.
"Yes, leader." Sebastian melirik ke arah Rei yang masih duduk di sana sebelum menggendong tubuh Elle dengan sebelah tangannya dan berjalan menuju ruang kerja Elle meninggalkan Rei sendirian. Elle melambaikan tangannya ke arah Rei sebelum menyandarkan kepalanya ke pundak pria yang sudah jadi asisten utamanya sejak awal.
Rei mengembuskan napas perlahan, ia menyandarkan punggungnya ke dinding pembatas dan memejamkan mata. Samar, Rei tersenyum tipis dengan pikirannya yang mulai melayang ke banyak arah. Ada banyak hal yang Rei pikirkan, tentang Zen, tentang dirinya, tentang Elle, tentang Wall dan tentang tugasnya.
Rei tahu betul risiko meninggalkan ponselnya di tempat asing. Ponsel tersebut merupakan satu-satunya benda untuk menyimpan berbagai kode rahasia Wall, ada juga puluhan nomor penting yang meliputi pemerintahan hingga anggota sindikat besar lainnya yang sangat dirahasiakan seperti anggota inti TRIAD dan pimpinannya, bangsawan hitam Inggris yang melindungi Yang Mulia Ratu dari berbagai kejahatan dan juga mengatur dunia bawah di Inggris, Vatikan dan juga sindikat ilegal lain yang sering bekerja sama dengan Elle.
Menyimpan data di ponsel dengan keluaran tahun lama itu memang Elle sengaja agar tidak mudah dilacak, diretas atau dicuri datanya, Elle tentu memiliki cadangan, tetapi jika ponselnya sampai hilang itu sudah cerita lain. Ponsel tersebut biasanya ada di tangan Elle atau Sebastian, tetapi bisa dipergunakan anggota lain dengan keperluan tertentu. Seperti Rei atau Fai yang membutuhkan beberapa kode rahasia negara atau butuh menghubungi salah satu nomor anggota yang tersimpan di dalamnya. Peraturannya, nomor tersebut hanya bisa dihubungi lewat ponsel itu, tidak boleh dihubungi dengan nomor pribadi atau nomor lain. Karena sudah menjadi perjanjian antara Elle dan orang-orang itu, jika Elle butuh membutuhkan mereka atau ada hal yang harus dibicarakan maka Elle akan menghubungi mereka lewat ponsel tersebut.
Dalam keadaan mendesak, seperti sedang diserang atau menghadapi hal berupa kematian, Elle diperbolehkan menghubungi mereka lewat nomor atau perangkat lainnya. Sebesar dan sepenting itulah ponsel yang Rei tinggalkan pada Chairey, dan jika kabar buruk ini diketahui semua anggota terutama Fai yang notabenenya selalu bersikap hati-hati akan marah besar pada Rei dan Zen yang dengan sengaja tidak segera mengambil ponselnya. Bahkan mereka menikmati waktu berbicara dan berkenalan dengan orang asing dan seolah-olah ponsel yang hilang itu hanya ponsel biasa.
Rei beranjak dari duduknya, sedikit menegakkan badan dan kembali memperhatikan Zen yang masih betah bicara dengan Chairey.
"Wah, sepertinya mereka cocok sekali. Apa saja yang mereka bicarakan sebenarnya? Tidak pernah aku melihat Zen bicara dengan wanita lain selama itu kecuali pada Mia, sulit dipercaya. Mungkin, kejadian buruk ini jadi awal yang baik bagi Zen, dan aku harus memikirkan cara bagaimana mengajak Chairey datang ke markas tanpa membuat Chairey bertanya tentang isi markas dan juga tentang pekerjaan kami. Apa aku bilang saja kalau kami semua adalah host dan Elle adalah pimpinannya? Yah, ide bagus. Toh, wajah anggota wall tidak kalah jika dibandingkan host yang ada di klub-klub itu."
Rei tertawa karena ucapannya, wajahnya berseri karena melihat perubahan Zen, ia juga tidak sadar jika nantinya hal ini akan membawa perubahan pada semua anggota bahkan dirinya.