Wajah sendu kak Hilman membuatku menerka-nerka apa yang ada di pikirannya. "Kakak merasa.. bosan." Jawabnya, lalu menyeringai. "Ish!" Geramku kesal. Tentu saja aku tidak boleh menganggap serius omongan orang ini. Memang aku saja yang bodoh hingga sempat berpikir kakak merasa iba pada kondisi Jacob. "Hahahaha! Lagian kau kenapa serius sekali, sih? Dia kan cuma tetangga baru. Apa jangan-jangan, kau sungguhan suka padanya ya?" Tanya kak Hilman sambil menusuk-nusuk pipiku dengan jarinya. "Ih! Tidak! Sudahlah! Kakak kalau bosen, keliling saja sana! Siapa tau ketemu suster cantik!" Aku menepis tangannya dengan keras. "Wah.. bagus juga idemu, Han! Kalau begitu, kakak beraksi dulu yah!" Kak Hilman mengacak-acak rambutku, lalu segera melangkah pergi tanpa beban. Dia benar-benar seorang kakak

