"Karel berangkat ke sini sama siapa?" tanya saya kepada Karel, anak kedua dari Mbak Nana saya sendiri lagi duduk di sofa sedang memangku Karel.
"Sama papi," jawab dia. Itu dia sambil memainkan mobil-mobilan yang dia bawa.
"Terus mana papinya?" tanya saya lagi. Anak berumur empat tahun ini menjawab kembali lagi di luar teleponan. Kebetulan karena ada suaminya Mbak Nana, saya berkeinginan untuk bicara dengan dia supaya dia bisa membujuk Mbak Nana untuk pulang ke Bandar Lampung saat ini juga. Saya ingin menepati janji saya kepada papa. Saya tidak mau mengecewakan papa hanya gara-gara kedua saudara saya ini sulit sekali diminta untuk datang ke rumah sakit.
"Karel main di sini dulu, ya, sama Opa. Tante mau keluar sebentar," kata saya dan untungnya Karel sangat pintar, dia tidak rewel juga kalau ditinggalkan. Saya izin dulu sama papa buat keluar untuk menemui suaminya Mbak Nana yaitu Mas Adinata. "Iya, sayang, iya. Nanti aku ke rumah kamu, ya. Ya, aku lagi di rumah sakit sekarang, lagi jenguk papa mertua aku. Udah, kamu tunggu aku di sana. Jangan lupa, yaa, ituu, pakai baju yang aku beliin kemarin, biar sexy." Begitu saya keluar dari ruangan papa, saya melihat Mas adinata berdiri tidak jauh dari tempat saya berdiri di dekat ambang pintu ruangan papa. Dia memang lagi sedang telponan dengan berdiri membelakangi saya. Saya berjalan dengan perlahan-lahan tadinya. Saya mau memanggil dia cuman karena saya mendengar percakapan dia dengan seseorang di seberang sana, saya jadi penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Mengapa mas Adinata begitu sangat mesra saat berbicara? Apakah dia lagi sedang berbicara sama mbak Nana? Tetapi tadi, saya dengar ada kata rumah dan sexy, sedangkan Mbak Nana lagi tidak di Bandar Lampung dan siapa yang dia maksudkan itu?
Saya jadi menaruh curiga kepada dia. Terlebih terbukti saat dia membalikkan tubuhnya, dia terkejut saat melihat diri saya ada di dekatnya dengan tatapan saya yang sedang menyelidik. Saya tersenyum kikuk, berusaha untuk menetralkan pikiran negatif saya supaya tidak mempengaruhi diri saya sendiri. Jadi saya berusaha untuk tetap berpikiran positif dan tidak negative thinking sama dia.
"Ngobrol sama siapa, Mas?" tanya saya sebenarnya, agak rasa tidak enak hati karena saya takutnya dianggap tidak sopan telah bertanya dengan pertanyaan seperti itu dan juga terlalu kepo. Hanya saja, saya merasa ada yang mengganjal di sini. Jadi saya harus menuntaskan rasa penasaran saya meskipun memang saya mendengar itu ada yang agak aneh.
"Oh, bukan siapa-siapa, Nay, biasalah ada urusan sama klien. Aku masuk dulu, ya, mau nemuin papa," katanya Mas adinata. Dia jawab di awalnya itu terkesan terlihat gugup seperti habis ketahuan telah melakukan sesuatu yang salah, cuman di sini, Mas Adinata berusaha untuk menutupinya dari saya dengan dia mengalihkan pembicaraan untuk menemui papa langsung. Saya sendiri berusaha untuk menyimpan hal ini seorang diri. Cukup aneh kalau bicara sama klien tetapi dengan kata-kata mesra dan nada-nada yang menggoda. Saya cukup bingung di sini, apakah ada sesuatu hal yang sengaja disembunyikan oleh mas Adinata? Sikap apa yang harus saya ambil? Apa saya harus menanyakannya kepada mbak Nana atau membiarkannya saja karena memang ini bukanlah urusan saya. Ini adalah urusan rumah tangganya Mbak Nana dan juga Mas Adinata. Saya takut kalau saya harus ikut campur terlalu jauh.
Saat masuk ke dalam ruangan papa. Ia lagi sedang berbincang sama Mas Adinata. Saya juga langsung ikut nimbrung sama pembicaraan mereka. "Gimana mbak Nana? Udah di bilangin belum Mas, suruh pulang gitu temuin papa," kata saya agak dengan muka bete saya sembari langsung mengambil tempat duduk di sebelah Karel yang masih bermain mobilannya di atas sofa.
"Ya, itu dia Nay, Mas udah bilang sama dia, cuman gitu, ya. Kamu tahu sendirilah, sekeras kepala apa dia itu? Udah dikasih tau, masih tetep aja ngurus kerjaan dia. Jadi, ya, udahlah, Mas juga udah bingung ngomong sama dia tuh kayak mana lagi. Kan maksud Mas itu, kalau dia pulang, kita bisa pergi bareng gitu, temuin papa, jenguk papa. Lah, ini enggak gitu. Aduh nggak ngerti lagi deh Mas sama dia itu gimana. Sama jalan pikiran dia itu, Mas nggak paham, Nay," tutur mas Adinata, bicara panjang lebar, ia mengungkapkan kekesalan dia, rasa jengkelnya tentang mbak Nana yang menurut dari penilaian saya dari ekspresi wajahnya, marahnya ia terlihat dibuat-buat sepertinya.
"Udah, udah, nggak usah di ributkan kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa. Papa juga tidak akan memaksa. Itu sudah menjadi haknya anak-anak, terserah saja mau jenguk Papa atau tidak. Kalau mereka punya pikiran, mereka tahu mana yang harus di prioritaskan dan mana yang tidak," ungkap rasa kekecewaan papa kepada anak-anaknya.
Saya sedih sekali mendengar papa bicara seperti itu. Papa sudah merasa kalau dia bukanlah prioritas dari anak-anaknya melainkan adalah pekerjaan yang menjadi prioritas dari anak-anaknya dan pekerjaan yang lebih penting daripada orang tua sendiri.
Tidak lama dari itu, mamah datang bersama dengan kak Shena. Kak Shena terlihat, dia merasa takut dan merasa menyesal. Kelihatan sekali dari wajahnya kalau dia merasa bersalah sudah membuat papa masuk ke dalam rumah sakit. Saya tidak mau bicara dengan dia, tidak perlu juga buat bicara panjang lebar sama manusia yang ngeyel kayak dia. Dia selalu merasa paling dewasa, dia merasa paling pintar, padahal umur sebenarnya tidak menjadikan dia itu sebagai pribadi yang dewasa. Jadi, ya, sudah, terserah dia saja. Saya, sih, sudah eneg ngomong sama dia karena dia itu selalu menyusahkan diri saya sendiri dengan perbuatan-perbuatan dia yang kadang bikin orang lain Jadi kerepotan.
Seandainya saja dia dapat memahami kalau perbuatan dia itu adalah perbuatan yang merugikan diri dia sendiri dan juga nama baik keluarga saya. Bisakah dia dapat berubah terlebih bisa belajar untuk menjadi orang yang dewasa?
"Pah, Shena minta maaf ya udah buat Papa kayak gini, maafin Shena," ucap dia untuk kesekian kali. Sebenarnya ini bukan sekali, dua kali, dia buat papa marah. Dan maaf yang terucap dari mulut dia itu hanya sekedar sebuah formalitas saja yang di minta oleh mamah saya yang padahal aslinya, Shena itu tidak benar-benar tulus. Kalau dia tulus meminta maaf kepada papa, tentu saja dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, tetapi dia selalu mengulanginya lagi sampai papa pun terkadang sempat drop, dia harus minum obat juga supaya jantungnya tidak kambuh lagi sakitnya. Tapi perbuatan kak Shena yang kali ini memang benar-benar parah. Perbuatan dia seharusnya tak bisa ditolerir lagi. Dan dia tidak pernah sekali pun belajar dari kesalahan-kesalahan dia yang dulu. Berbuat salah lalu mengulang kesalahan yang sama, itulah ciri khas diri dia. Tidak pernah tahu untuk belajar dari sebuah kesalahan. Jadi, sia-sia saja, kata-kata maaf yang keluar dari mulut dia. Percuma, karena baru juga hubungan kembali membaik, dia bakalan berbuat ulah lagi. Sangat melelahkan punya saudara seperti dia karena yang kerepotan itu saya bukan mbak Nana bukan juga dengan Mas Joe.
Apalagi mamah itu selalu menekankan saya, 'bantu kakak kamu' Mama lebih sayang sama Kak Shena, dia terlalu memanjakan Kak Shena dari dulu. Itu yang buat Saya kesal. Jadi dia itu merasa ada yang bela diri dia karena mamah selalu ada di pihak dia, berbeda sama papa yang selalu tegas sama anak-anaknya meskipun papa juga memanjakan kita semua tanpa ada yang di beda-bedakan.
Dan papa, sebagai orang tua semarah-marahnya dia kepada anak yang telah berbuat kesalahan, baik kecil atau pun besar, dia bakalan tetap yang namanya memaafkan kesalahan anak dan tidak akan menyimpan dendam kepada anaknya sendiri walaupun anaknya itu sudah membuatnya masuk ke dalam rumah sakit yang nyaris, jika saja kita semua terlambat membawa papa masuk ke rumah sakit, mungkin papa tidak akan secepat itu untuk mendapatkan penanganan dari tangan medis. Syukurlah nyawa papa masih bisa diselamatkan ini akan menjadi pelajaran untuk kak Shena seharusnya Kalaupun dia bisa mengambil hikmahnya kalaupun tidak itu berarti memang dia benar-benar batu hatinya.
*
Supaya Papa bisa lebih terasa segar dan sehat lagi, juga tidak bosan. Saya ingin menghilangkan kejenuhan papa yang cuma bisa berdiam saja di dalam ruangan. Saya pun berinisiatif untuk mengajak papa pergi ke taman rumah sakit. Saya mau, papa bisa melihat yang hijau-hijau yang dapat menyegarkan matanya. Dari pepohonan dan rerumputan hijau. Sekalian juga, supaya papa bisa berjemur di bawah panas pagi mentari.
Saya perhatikan sedari tadi, papa saya selalu melamin mulu. Saya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan berat. Pasti tebakan saya ini, papa lagi mikirin soal dua anaknya yang durhaka itu. Tak sekalipun ada kabar atau sekedar bertanya tentang keadaan papa saat ini.
"Nayla perhatikan, Papa ini melamun aja. Lagi mikirin apa, sih, Pah?" tanya saya kemudian. Saya duduk di kursi taman dan papa saya dudukkan di sebelah saya. Tadinya saya mau papa itu naik kursi roda saja supaya tidak kelelahan berjalan tetapi papa itu maunya tetap jalan saja, supaya dia bisa menggerakkan badannya juga. Kalau tidak digerakkan, dia bakalan merasa kram pada tubuhnya dan sakit juga kaku. "Papa cuman mikirin, bagaimana keadaan kalian kalau tidak ada papa, ya? Apakah Papa ini sudah benar-benar memberikan yang terbaik untuk anak-anak Papa ini?" jawab papa. Bertanya tanpa jawaban. Papa sekarang lagi sensitif, saya harus berhati-hati kalau ingin menjawab pertanyaan dari papa apabila papa nantinya bertanya pada saya.
Saya awalnya termenung mendengar jawaban dari papa yang melamunkan dirinya, menatap ke depan dengan pandangan kosong. Saya melihat selang infus papa dengan perasaan sedih. Saya jujur, sangat dekatnya sama papa, kalau papa tak lagi ada di dunia ini, saya akan sangat terpukul. Dan papa sendiri juga lebih dekat kepada saya. Makanya papa itu lebih banyak bicara itu kepada saya. Papa tidak pernah bicara sama yang lain untuk hal-hal yang lebih ke soal perasaan selain kepada diri saya, karena saya tidak pernah yang namanya mencari masalah sama kedua orang tua saya. Itu kenapa, saudara-saudara saya terkadang dulunya itu sangat tidak suka sama saya sebab mereka berpikir, papa itu pilih kasih. Padahal semua diperlakukan dengan sama dan kedua orang tua saya benar-benar memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya tanpa terkecuali dan tanpa siapa pun yang harus dibeda-bedakan karena semua dianggap anak. Anak semua sangat disayang sama kedua orang tua saya sendiri. Jadi memang sebenarnya, tidak ada yang perlu harus di-irikan.
Itu dulu, entah pun saya juga tidak paham dengan jalan pikiran saudara-saudara saya namun berbeda keadaannya saat ini. Semua sudah pada dewasa, yang menikah baru satu yaitu Mbak Nana saja dan yang lainnya masih sibuk dengan urusan karir dan urusan kehidupan masing-masing.
Saya menghela napas lagi kemudian saya merangkul bahu papa. Saya taruh kepala papa di bahu papa. "Papa sudah memberikan yang terbaik untuk kita. Dan Papa tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun dan Papa seharusnya nggak boleh bicara seperti itu. Jangan bicarakan tentang kematian," kata saya. Sejujurnya saya memang sangat tidak menyukai untuk membahas hal tersebut.
"Tetapi Nayla, kapan waktunya datang, Papah akan," Papa tak melanjutkan kata-katanya, mungkin papa merasa papa akan membuat saya sangat sedih jika melanjutkan pembahasan ini tetapi saya ingin memberikan pengertian kepada papa yang saya tahu, papa pun sudah paham. "Maksudnya Papa semua orang juga bakalan mati pada waktunya? Kita sudah tahu tentang itu dan itulah mengapa Papa menghawatirkan, apakah Papa sudah benar-benar cukup memberikan yang terbaik untuk kalian jika bagaimana nantinya papa akan meninggal. Papa tidak ingin anak-anak Papa hidup dalam kesusahan. Jujur saja, Papa merasa ada yang salah dengan didikan papa," sambung papa yang tadi.
Saya tidak mengerti apa yang dia maksudkan? Sejauh ini saya merasa papa sudah memberikan kebutuhan yang kita perlukan. Papa selalu memenuhi semua itu dan tidak ada yang pernah merasa kekurangan. Saya lalu menggenggam tangan papa, rasanya dingin sekali kulitnya itu. Memang papa pucat wajahnya bila saya perhatikan dari dekat dan saya ingin menyalurkan kehangatan dari tangan saya kepada papa.
"Memangnya apa yang Papa khawatirkan dan apa yang sedang Papa pikirkan saat ini?" tanya saya hati-hati. Dengan penuh kelembutan saya bicara kepada papa saya, penuh cinta dan penuh kasih sayang saya berikan kepada papa, sebagaimana papa selalu ada untuk anak-anaknya termasuk diri saya sendiri yang benar-benar diperhatikan sekali sama papa.
Papah kemudian menoleh kepada saya dan saya lalu mengangkat kepala saya dengan masih posisi tubuh yang sama. Papa menatap saya dengan sembari menggenggam tangan saya erat-erat.
"Sepertinya papa sudah salah dalam mendidik kalian," ujar papa makin membingungkan saya sampai saya mengerjapkan mata saya berkali-kali. Saya tidak mengerti apa yang papa katakan kepada saya. Saya merasa selama ini, papa tidak salah. Tidak ada yang salah dengan dia bagaimana mendidik kami, saya tidak paham dengan maksud kata-kata papa.
Di tengah-tengah perbincangan serius antara saya dengan papa yang saya sendiri masih ingin menanyakan, apa maksud dari kata-kata papa itu tetapi sayangnya Mahesa datang tiba-tiba di waktu yang tidak tepat. Dia menyapa saya dan juga papa saya.
"Nay, di sini ternyata kamu?" Saya tersenyum dan melihat papa yang kebingungan. Mungkin papa berpikir, mengapa bisa dokter Mahesa terlihat akrab sama saya gitu dan saya tidak mau membuat papa terlalu berpikir lebih dalam lagi. Itu kenapa saya mengenalkan Mahesa kepada papa.
"Aku udah kenal lama sama dokter Mahesa, Pah," jelas saya dan papa cumaengangguk paham.
"Oh, begitu. Pantesan kok dokter Mahesa kelihatannya seperti udah kenal sama anak saya ya, hehe," ujar papa sambil tertawa. Ya saya sama Mahesa jadi kelihatan sama-sama canggung. Mungkin karena kita harus bisa terlihat akrab seperti seorang teman yang padahal kita tidak pernah menjadi teman.
"Kenal dari mana? Kok, kamu nggak pernah cerita kalau punya teman seorang dokter?" tanya papa, terlihat penasaran. Saya jadi bingung harus menjawabnya seperti apa? Kalau saya menjawab dia sebagai mantan, rasanya itu tidak mungkin. Tetapi kalau saya menjawabnya sebagai teman, namun rasanya saya seperti tidak pernah menganggap dia itu pernah ada di hidup. Saya bahkan lebih dari seorang teman, ibaratnya seperti itu, cuma saya memilih jawaban yang aman saja.
"Dia dulunya satu sekolah sama aku, Pah. Cuman aku Itu di atasnya gitu," jawab saya. "Oh, jadi dia di kelas kamu temenan atau gimana?" tanya papa semakin spesifik papa bertanya. Itulah mengapa saya memikirkan hal ini dari tadi karena papa itu kalau bertanya, pasti bakalan selalu detail karena papa itu orang yang sangat penasaran sama cowok-cowok yang pernah ada di dalam hidup saya.
Mahesa mendapatkan pertanyaan seperti itu yang menjebak dari papa langsung buat dia jadi terdiam dan saya dengan perasaan gugup sebenarnya, saya cuman bisa saya alihkan agar memang tidak terlalu mendetail untuk menjawab pertanyaan papa, saya juga tidak mau berniat untuk menjawab pertanyaan dari papah yang menurut saya itu tidak penting. Jadi saya mengatakan kepada papa seperti ini. "Papa udah waktunya masuk ke dalam kamar, yuk. Papa mesti istirahat lagi, jangan lama-lama. Kita, kan, udah berjemur lama. Kalau berlebihan nggak baik juga," terang saya cepat-cepat tapi berusaha untuk tetap kelihatan tenang.
Papa tersenyum penuh arti kepada saya. Saya tahu maksud dari papa itu apa? Soalnya memang papa paling tahu diri saya itu seperti apa. Saya pun membantu papa untuk berdiri dan sebelumnya itu papa berjalan lebih duluan dengan saya masih memegang bahu papa, kemudian saya menatap Mahesa. "Nanti kita bicara." Saya memberi isyarat pada dia lewat mulut saya tanpa harus mengeluarkan suara dengan begitu, papa tidak mengetahuinya.
Saya tidak mau Papa menganggap saya sudah benar-benar mendapatkan seorang laki-laki lagi setelah saya pernah berpisah dengan beberapa laki-laki yang pernah ada di dalam kehidupan saya.
"Kamu sama dokter Mahesa itu beneran temenan?" tanya papa lagi. Saya sebenarnya tidak terbiasa untuk berbohong kepada Papa saya sendiri tetapi saya tidak mau menceritakannya terlalu dalam, makanya saya hanya menganggukkan kepala saya saja toh juga dibilang dia mantan saya rasanya itu tidak ada manfaatnya juga dan untuk apa juga saya harus menyebutkan dia adalah seseorang yang pernah ada di dalam hidup saya? Pun juga itu hanyalah kisah lama di mana lagi sedang masa-masa cinta monyet di SMA.
"Tapi sepertinya kalian itu dekat lebih dari teman. Feeling Papah, loh, ini," ucap papa dengan senyum meledek.
Saya hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Papa. "Sudah Papa nggak usah bahas itu terus," kata saya. Mendudukkan Papa di brankar rumah sakit. "Sekarang papa istirahat nanti aku tanyain, kapan Papa bisa pulang ya, kalau Papa sudah benar-benar pulih kesehatannya kita bakalan pulang," tambah saya lagi. Kini saya membantu papa untuk berbaring tidur.
"Iya benar, Papa juga udah nggak betah di rumah sakit lama-lama. Papa pengen cepat pulang, mau ketemu sama peliharaan papa," adu papa pada saya. Ya, beginilah papa itu orangnya nggak bisa jauh-jauh sama peliharaan-peliharaan papa. Tidak lama dari itu muncullah Mama sama Kak Shena dan juga dokter Mahesa bersama dengan perawatnya. Dokter Mahesa memeriksakan keadaan papa dan dia mengatakan kepada kami, kalau papa sudah di bolehkan untuk pulang ke rumah. Saya sangat bersyukur akhirnya papa bisa pulang juga. Lalu dokter Mahesa pamit untuk pergi keluar sedangkan perawat membantu papa untuk melepas infus dan sementara saya sendiri menepati janji saya pada Mahesa, untuk bicara dengannya, maka itu saya menghampiri dia di luar.
"Dok," panggil saya. Saya berdiri beberapa langkah di belakang Mahesa. Orang yang saya panggil pun membalikkan tubuhnya. Saya tersenyum pada dia mulai mendekati dia dan saya mengatakan kepadanya, "Malam nanti kita bicara ya." Mahesa terlihat senang sekali karena saya mengajak dia untuk mengobrol berbincang-bincang lalu dia membalas ucapan saya. "Di tempat biasa, kan?" Saya menganggukkan kepala saya setelah beberapa detik saya berpikir, sepertinya tidak ada yang salah, karena itu saya menyetujuinya.
*
Berbincang-bincang lah kita ke tempat di mana dulu kita suka berkencan waktu SMA. Kita suka jalan bareng malam-malam motoran. Hahaha yang benar saat itu terlihatnya sederhana saja tapi ternyata manis juga bersama dengan Mahesa. Apalagi di tambah, orangnya itu harmonis. Menyeimbangkan kekauan saya. Dan kita ngobrol berdua di tempat Puncak Mas. Kebetulan di sini adalah tempat wisata yang menjadi unggulan juga dari Bandar Lampung dan tempatnya seru untuk diadakan party juga.
"Udah lama banget aku enggak dengar kabar kamu," kata dia. Terlihat dari matanya, dia sungguh-sungguh bahagia bisa bertemu dengan saya tetapi mengapa saya sendiri tidak bisa menunjukkan rasa yang sama seperti bagaimana dia menunjukkan perasaannya kepada saya. Saya bahagia juga bisa bertemu dengannya namun memang di pikiran saya itu ada sesuatu hal yang mengganjal, ada sesuatu hal yang menghalangi untuk menahan hati saya sendiri supaya saya tidak terjebak pada perasaan yang saya miliki karena saya tahu pada akhirnya itu akan menjadi apa.
Yang saya ingin pertanyakan pada dia adalah tentang satu hal.
"Memangnya kabar tentang aku itu penting banget ya buat kamu?"
Mahesa begitu saya berikan pertanyaan seperti itu, ia langsung terdiam, ia terlihat sedang berpikir memikirkan sesuatu yang mungkin saya rasa adalah jawaban atau memang dia lagi sedang mengenang masa dulu atau dia lagi sedang mencari alasan, mengapa dia harus tahu tentang kabar saya?
Sudut bibir pada wajahnya tertarik ke atas, membentang membentuk senyuman. Tanda senyuman apa itu?
"Iya," jawabnya. Terkejut saya mendengarnya, cukup terkejut karena memang saya rasa, sangat tidak masuk akal, apakah dia tidak merasakan sakit hati pada saya setelah apa yang saya lakukan kepadanya?
"Kamu," saya kehilangan kata-kata saya sejenak, saya diam sebentar. Saya menutup wajah saya dengan kedua telapak tangan saya setelah saya menunjukkan ekspresi ingin tertawa, sekilas padanya. Saya hampir mau tertawa mendengar jawaban darinya walaupun hanya satu kata saja. Hanya dengan jawaban kata iya, menandakan semua hal semua yang saya tidak bisa saya pertanyakan satu persatu kepada dia.
"Kenapa kamu ketawa? Ada yang lucu ya emangnya?" tanya Mahesa beruntun. Saya kembali membuka wajah saya.
"Enggak, gimana, ya? Cuma," sekarang saya kehilangan kata-kata saya lagi, lalu saya menggigit bibir bagian bawah saya, bingung untuk kemudian melanjutkannya. Saya menatap kembali Mahesa yang terheran-heran melihat saya yang tiba-tiba tertawa dan senyuman yang masih terlihat jelas di wajahnya. "Lucu aja gitu, karena seharusnya yang bilang seperti itu adalah aku bukannya kamu, seharusnya, kan, kamu itu yang yang patah hati sama aku. Aku yang udah matahin kamu, kan?" tanya saya mengingatkan kejadian itu semua.
Mahesa menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan saya. "Itukan cerita tentang masa lalu. Ya udah, nggak ada yang perlu harus diingat-ingat lagi gitu dan lagian juga nggak ada salahnya kan buat tahu kabar kamu?" ucap dia, saya merasa over pede kah diri saya ini? Selalu merasa percaya diri kah saya sampai mengatakan bahwa kabar saya itu penting untuk diketahui.
"Iya kamu memang benar, nggak salah, kok," jawab saya malu dengan pikiran dan kata-kata saya sendiri terhadap Mahesa. Saya berpikir, sudah terlalu jauh untuk hal-hal yang seperti ini. Saya merasa bahwa dia sebenarnya ingin kembali lagi balik ke dalam hidup saya setelah bertahun-tahun kita berpisah. Ternyata saya salah.
"Tapi memang kalau boleh jujur, kabar kamu itu penting buat aku Nay," kata dia tiba-tiba sampai dia berhasil membuat mata saya membulat besar, tak menyangka dengan kata-kata dia selanjutnya. Apakah dia sedang berusaha membuat saya kebaperan? Membuat saya terbang ke atas langit? Berusaha membuat saya jatuh hati lagi padanya?
"Waktu kamu di mana sempat mutusin aku tiba-tiba, emang aku kecewa banget sama keputusan kamu dengan sepihak itu, tapi enggak bisa dipungkiri juga, waktu pertama ketemu sama kamu saat sekarang ini, jujur aja perasaan aku masih sama kayak dulu," jelasnya.
"Kenapa?" tanya saya, menatap serius dirinya dengan menyelidik.
"Ya, kamu itu beda aja gitu dari perempuan-perempuan lain. Kamu itu spesial di mataku, makanya down banget waktu kamu mutusin aku tiba-tiba waktu dulu itu," katanya. Dapat saya pahami perasaannya. Saya memiliki alasan di mana saya selalu memutuskan seorang laki-laki bukan hanya pada Mahesa saja tetapi juga dengan laki-laki yang lainnya yang pernah saya pacari. Saya memiliki alasan yang terkait pada orang tua saya, yang terkait pada kesempurnaan. Pada definisi sempurna yang di ciptakan oleh orang tua saya terutama pada mama saya sendiri hingga saya akhirnya memutuskan mereka saja tanpa alasan yang jelas dan merelakan atau mengorbankan perasaan saya.
Semuanya berawal ketika di masa putih abu-abu, persoalan cinta yang saya dapatkan di masa-masa itu, di masa-masa saya remaja. Laki-laki itu kecil sekali buat saya. Rasanya setiap harinya, kehidupan saya bakalan dikelilingi oleh banyak laki-laki yang memuja-muja saya, yang mengagumi diri saya, yang menyukai penampilan dan fisik saya, yang ingin menjadi kekasih saya, dan ingin memiliki hati saya.
Sudah bukan hal asing lagi untuk mengenal cinta di dalam kehidupan saya, pengalaman banyak hal itu udah saya pahami seorang diri. Pahit manisnya itu udah saya makan. Kenyang saya kalau untuk urusan cinta dan cinta.
Kalau mau diitung-itung urusan soal mantan, saya ada punya banyak mantan tetapi mantan-mantan saya ini bukan dari laki-laki yang sembarangan saja. Saya pacari sewaktu ada yang suka sama saya terus saya langsung menerimanya, oh tidak! Ada persyaratannya untuk menjadi kekasih saya saat itu.
Jujur saja karena didikan dari kedua orang tua saya, semua itu tertanam pada diri saya dan pada akhirnya, saya ada yang memiliki kesamaan jalan pikiran dengan kakak-kakak saya itu. Mengapa saya melupakan semua ajaran yang diberikan oleh Oma saya karena saya sudah terpengaruh dengan bagaimana cara orang tua saya mendoktrin pemikiran mereka kepada anak-anaknya.
Setiap saya dan ketiga teman saya lagi ngobrol ngumpul di cafe, pembahasannya ya memang tidak jauh-jauh dari urusan cowok apalagi kalau kita di cafe itu kebanyakan juga dominan cowok lagi pada ngumpul. Tapi memang tidak semua yang seumuran sama kita, ada juga yang di atas kita seperti anak-anak kuliahan. Pun ada yang dari sekolahan lain. Bnyak yang memperhatikan saya dan saya tahu akan hal tersebut cuma saya cuek saja.
Kalau teman-teman saya ini malahan yang justru suka menjodoh-jodohkan saya dengan cowok-cowok yang mereka kenal. Saya sendiri malah asik main HP saya aja. Saya tidak terlalu tertarik untuk memperhatikan laki-laki yang memiliki wajah tampan atau siapa pun. Dan memang, tapi tidak bisa lagi dipungkiri kalau banyak laki-laki yang suka mengajak saya berkenalan saat saya lagi asik dengan kegiatan saya sendiri bersama dengan teman-teman saya. Lagi ngobrol asik, tiba-tiba ada saja laki-laki yang datang ingin ikut gabung sama kami dan teman-teman saya mengizinkannya. Tentu saja itu sudah jelas, lalu nantinya kita ngobrol-ngobrol, nggak lama nanti juga seseorang ada yang mau ngajak saya kenalan.
"Boleh kenalan nggak?"
"Ada yang marah gak kalau aku ngajak kenalan kamu?"
itu kalimat pamungkas yang suka diucapkan oleh laki-laki kepada saya. Saya dengan ramah tamah welcome saja nanti berlanjut dia bakalan minta nomor w******p saya yang didukung oleh teman-teman saya juga.
"Udah Nay, coba jalanin aja dulu. Lagian ganteng juga, tajir lagi. Itu cowok yang bawa mobil BMW di luar tadi," seru Ola begitu pemuda SMA lain yang sempat meminta nomor w******p saya sudah pergi setelah berbincang-bincang sebentar dengan saya dan teman-teman.
"Gue tau dia. Sesuai sama Poto di Instagramnya juga," seru Vidya sambil menunjukkan hp nya pada teman-teman saya. Termasuk saya yang harus melihat poto Instragramnya.
"Tinggi, muka ganteng, tajir, dan famous, juga, loh. Kayaknya cocok buat Lo, deh, Nay," tambah dari Meisya yang mereka katakan itu adalah syarat dari mana laki-laki yang pantas untuk menjadi kekasih saya. Saya mau melihat seorang laki-laki itu dari hal tersebut bukan yang biasa-biasa saja. Itulah kenapa saya menerimanya.