Bab. 9 Menjadi yang Unggulan Dalam Kehidupan

3147 Words
Yang pada sebenarnya adalah kehidupan saya harus di penuhi dengan kesempurnaan dari setiap aspeknya, dari setiap sudutnya. Mama saya selalu menasehati saya setiap harinya, ketika saya pada saat itu mau mau bertanding chiliders antara sekolahan saya dengan sekolahan yang lain. Di rumah, saya lagi sedang di make up-in terlebih dahulu sama mama. Mama benar-benar memperhatikan setiap detail yang ada pada tubuh saya. Dia juga bilang kepada saya saat kedua tangannya sedang merias wajah saya. "Kamu harus menang, loh, Nay, kamu harus perform dengan baik. Pokoknya Nggak boleh ada kesalahan sedikit pun saat kamu tampil di depan banyak orang. kamu harus tunjukin Kalau kamu bakalan bisa mendapatkan juara dan kamu bakalan memenangkan juara satu. Kamu harus menyombongkan itu nanti, biar orang-orang itu tahu kalau kita itu punya kualitas yang bagus, kualitas yang lebih unggul daripada yang lain." Itu yang pernah dia katakan kepada saya. "Kamu tentu nggak bakalan mau dong, malu-maluin diri kamu dan sekolahan kamu?" Saya menganggukkan kepala saya, mengerti. Mana mungkin saya mau memalukan nama baik sekolah saya karena nama baik sekolah saya itu yang saya pertaruhkan. Dan saya tidak mau prestasi yang saya dambakan tidak bisa saya dapatkan di bidang yang saya sukai Ketika saya waktu itu masih duduk di bangku kelas satu SMA. "Mama enggak mau ya dengar kekalahan dari kamu? Kamu ingat itu?" Peringatan Mama itu membuat saya gugup dan merasa tidak percaya diri dengan kemampuan saya. Saya merasa terbebani akan tuntutan yang Mama berikan kepada saya. Dan lagi, jadi saya selalu dituntut untuk menang, menang, dan menang. yang ada di pikiran saya itu hanyalah sebuah kemenangan saya tanpa saya memikirkan penampilan saya apakah ada yang kurang atau tidak? Apakah saya sudah memberikan yang terbaik atau tidak? Karena fokus saya itu hanyalah kemenangan saja dan itu benar-benar sangat mengganggu pikiran saya dan saya merasa terbebani akan perasaan saya sendiri. Karena memang saya menanggung beban tanggung jawab yang telah diberikan oleh Mama. Saya sudah berpikir yang aneh-aneh. Saya takut sekali kalau saya tidak bisa memenuhi ekspektasi mama. Saya takut kalau saya tidak bisa memenuhi harapan mamah terhadap saya. Saya takut menggagalkan kepercayaan mama kepada saya bahwa mama saya itu sangat percaya dan yakin sekali kalau saya itu bisa memberikan yang terbaik dan membanggakan mamah.        Intinya yang dimau oleh mama itu adalah saya harus selalu unggul untuk segala hal dan dari siapa pun. Saya tidak boleh yang namanya ada di urutan terbelakang, ada di posisi yang berada di bawahnya seseorang atau siapa pun, lebih dari seseorang intinya. Saya harus menjadi yang pertama dan selalu yang pertama, tidak boleh ada yang menggantikan posisi saya. Bahkan saya harus mendapatkan rangking satu dikelas atau kalau bisa mendapatkan juara pertama paralel di angkatan saya.       Saya menuruti apa yang Mama saya katakan. Selama ini, saya menilai memang tidak ada yang salah dari bagaimana mama mendidik saya. Mereka hanya ingin saya melakukan yang terbaik, sebisa mungkin. Lebih beratnya itu adalah orang tua saya sendiri itu. Mama yang terlebih-lebih tidak bisa menerima kekurangan dalam bentuk apapun ataupun kekalahan. Itulah mengapa, saya harus benar-benar terlihat sempurna dan seperfect itu juga untuk sebagai memuaskan keinginan orang tua saya. Tetapi sayangnya saya pernah mengalami kegagalan. Saya pernah saat di pertandingan chiliders itu saya melakukan kesalahan sampai saya terjatuh ketika sedang menunjukkan perform saya sampai mata kaki saya pun terkilir.        Mama saya yang pada saat itu datang untuk menyaksikan perform saya di lapangan, dia saat melihat saya terjatuh benar-benar marah pada saya karena saya telah melakukan kesalahan saat itu. Mama datang ke pertandingan saya itu bela-belain untuk saya. Dia meluangkan waktunya untuk diri saya. "Mama sudah meluangkan waktu Mama di tengah-tengah kesibukan Mama, tapi Mama harus melihat kegagalan kamu, Nayla. Itu yang mau kamu tunjukkan sama mama? Itu yang mau kamu perlihatkan sama Mama? Kenapa kamu membuang-buang waktu Mama hanya untuk melihat kamu gagal? Kamu sudah tahu, kan, kalau mama itu sangat tidak suka sama yang namanya kegagalan."        Kalau boleh saya bilang, saya juga sangat merasa sakit hati atas kata-kata Mama terhadap saya dan terhadap usaha saya yang memang tidak semaksimal yang diharapkan oleh Mama saya.        Mama marah-marahi saya di waktu yang benar-benar tidak tepat. Dia memarahi saya di saat saya saja lagi sedang dicoba diobati kaki saya supaya sembuh, supaya pulih kembali, tetapi Mama saya ini tidak ada rasa kepeduliannya kepada saya. Seperti empati dia itu terhadap saya tidak ada. Malah yang justru dia lebih memilih mementingkan hal lain, ketimbang diri saya sendiri. Saya tidak paham dengan yang dia pikirkan itu apa? Saya tahu mengapa mama sangat tidak menyukai kegagalan, karena mama pernah gagal di masa lalunya.        Mungkin mama membalaskan dendamnya itu di masa-masa sekarang kepada anak-anaknya. Ambisi orang tua yang bagi saya di awal itu sangatlah menyulitkan buat saya. Namun lama-lama saya jadi terbiasa. Saya menguatkan diri saya untuk berjuang memenuhi ekspektasi kedua orang tua saya. Papa saya juga tidak ingin anak-anaknya itu gagal. Karena untuk membiayai pendidikan anak-anaknya tidaklah mudah. Makanya kami semua itu harus bisa sukses. Bisa jadi orang yang berguna.        Saya yang tidak ingin membuat orang tua saya kecewa terutamanya kepada Mama, saya ingin menunjukkan yang terbaik kepada dia bahwa saya tidak ingin dia melihat saya lagi-lagi gagal karena ketika saya gagal saja, saya tahu betapa Mama tidak bisa menerimanya. Dan ia tak akan pernah mau memberikan support system kepada saya biasa saya terus-terusan gagal. Jadi, diri saya sendiri yang harus mendukung diri saya. Motivasinya adalah yang ada di dalam diri saya sendiri dari cambukan yang dikatakan oleh Mama saya itu, yang mendorong saya untuk tidak ingin lagi gagal. Saya berusaha latihan mati-matian supaya saya bisa mendapatkan yang terbaik, menunjukkan perform saya yang lebih dari yang pernah mereka lihat juga. Saya ingin menjabat sebagai leader dari chilliders yang ada di sekolah saya.        Itu tujuan saya juga dan saya berhasil mendapatkannya. Saya menunjukkan semua itu kepada Mama saya dan membuktikan bahwa saya benar-benar bisa dan mampu. Saya tidak mau terlihat remeh, tidak ingin juga diremehkan dengan siapa-siapa. Saya sebenarnya sedih ketika melihat respon dari orang tua saya melihat saya gagal. Cuman karena saya orangnya itu cukup keras juga bersedih-sedih pun hanya membuang-buang waktu dan mengharapkan sesuatu yang tidak akan bisa saya dapatkan, juga akan sangat percuma, jadi untuk mendapatkan respect dari orang tua saya adalah saya harus berusaha untuk menjadi yang sempurna, supaya orang tua saya terutama mama bisa bangga pada diri saya dan pencapaian saya.        Jujur saja, dari bagaimana orang tua saya mendidik saya untuk menjadi yang sempurna, pada akhirnya saya selalu merasa tidak berpuas hati pada apa yang saya dapatkan. Saya tidak pernah yang namanya untuk tahu arti dari bersyukur. Mensyukuri hidup terutama pada apa yang saya dapatkan. Dan bukan berarti saya sama seperti kak Shena. Bedanya saya dengan Kak Shena, dia itu tidak pernah bisa memanfaatkan apa yang telah dia dapatkan dari orang tua saya, tetapi kalau saya sendiri untuk hal lain, saya selalu merasa tidak puas hati, saya selalu merasa ada yang kurang begitu pun pada apa yang saya hadapi dengan seseorang.         Saya selalu tidak puas dengan seseorang, saya selalu merasa orang yang bersama saya ini banyak kurangnya setelah saya menjalani hubungan dengannya. Akhirnya, saya selalu memutuskan hubungan itu sepihak saja entah bagaimana caranya dia memperlakukan saya, saya selalu merasa ada yang kurang. Saya tidak benar-benar yang namanya merasa cinta yang tulus, saya menyukainya tetapi saya tidak bisa benar-benar mencintainya karena saya merasa ada kekurangan dari diri dia dan saya tidak bisa untuk menerimanya.         Saya ingin mencari yang lebih baik dari apa yang telah saya dapatkan sebelumnya. Itu mengapa saya selalu mencari, mencari, dan mencari seseorang yang benar-benar tepat untuk saya, yang memiliki kesempurnaan dan sama halnya dengan diri saya sendiri tanpa ada kekurangan dan saya membenci akan hal tersebut.         Saya tidak mengatakan apa-apa kepada teman-teman saya jika mereka tahu saya telah putus dari laki-laki mana pun. Kalau banyak orang, banyak perempuan yang selalu curhat sama teman-temannya, saya sendiri tidak suka curhat tentang masalah saya sama teman-teman saya sendiri. Meskipun mereka itu dekat sama saya, tetapi saya tidak terlalu ingin terbuka mengenai soal percintaan saya.         Dan bicara soal laki-laki, ada satu orang laki-laki yang selalu mencuri perhatian saya, namanya Mahesa. saya tahu nama dia karena mudah bagi saya untuk mencari tahu siapa dan siapanya yang memang ingin saya ketahui namanya.         Saya perhatikan dia selalu memperhatikan saya bersama dengan perempuan dan fisiknya itu gendut banget. Saya masih selalu mendiamkan Mahesa, ingin tahu mau sampai mana dia memperhatikan saya. Kebanyakan cowok itu biasanya mendekati saya itu secara langsung tetapi ini tidak, Mahesa ini tergolong orang yang penakut atau dia mau memulainya itu dengan pelan-pelan. Contohnya waktu saya pulang dari sekolah, saya sengaja bawa motor Karena sebenarnya saya lebih suka motoran. Ada sebatang coklat dengan pucuk surat di dashboard saya si pemberinya itu adalah Mahesa. Puitis sekali. Hari gini, dia masih main surat dan isinya juga puisi-puisi yang di buat olehnya. Saya tersenyum geli dengan tingkah laku adik kelas ini, keesokan harinya saya latihan di lapangan mengajarkan anak-anak menari karena saya juga anak tari. Lalu ada Mahesa dengan segerombolan teman-temannya, dia secara terang-terangan akhirnya mulai mendatangi saya. Kenapa dia mendatangi saya? Karena saya yang mulai memancingnya, saya ingin mengepush dia. Jangan jadi laki-laki yang lembek dengan hanya memperhatikan orang yang dia suka dari jauh.        Sebenarnya, sewaktu saya mencari nomor hp-nya sama temannya dan tidak boleh dibocorkan sama Mahesa atau sama yang lain, saya diam-diam menghubunginya tanpa sepengetahuan siapa-siapa. Temui saya kalau kamu memang laki-laki yang jantan. Saya tau kamu selalu memperhatikan saya. Dan jangan ngelak ya.        Saya sengaja ngetes dia seperti itu karena saya mau tahu seberapa jantannya dia untuk menemui saya karena saya tahu, dia menyukai saya, kalau tidak suka sama saya, tidak mungkin dia memperhatikan saya terus. Dan tanpa dia katakan pun, saya sudah tahu dia memiliki perasaan sama saya. Siapa juga yang tidak menyukai perempuan seperti saya? Hanya orang bodoh yang tidak memiliki perasaan sama saya, yang tidak suka sama saya karena memang saya selalu menjadi incaran banyak laki-laki.        Saya tahu kalau dia itu anak basket. Setiap latihan nge-basket dia juga selalu mencuri pandang sama saya kalau lagi latihan tari dan inilah momennya, di mana dia menghampiri saya, dia membawakan saya minuman. Saya suka memainkan emosi laki-laki ini apalagi dia ini adik kelas saya. Menurut saya, dia masih terlihat cupu cuman tidak masalah, saya bakalan membuat dia untuk bisa lebih berani lagi. Mungkin kelihatannya saya yang agresif dengan memancing-mancing dia tetapi saya memiliki tujuan saya sendiri hanya untuk bermain-main dengan laki-laki satu ini. Saya bersikap ramah pada laki-laki ini, Mahesa mungkin akan menjadi sesuatu hal yang awalnya dari sekedar main-main saja buat saya hingga menjadi keseriusan saya dengannya.        Teman-teman saya pada heran karena melihat saya yang dekat sama adik kelas saya yang sebenarnya itu, bisa dibilang saya yang membuka peluang untuk Mahesa masuk ke dalam kehidupan saya padahal tidak semua orang mudah untuk saya ijinkan masuk ke dalam kehidupan saya tetapi semuanya berawal dari saya yang hanya ingin menganggapnya sebagai mainan saya saja, tidak ke arah yang buruk melainkan saya hanya ingin membuat dia itu bisa jadi lebih berani saja. Karena itulah saya sengaja dengan memancing dia supaya dia itu bisa nge-push diri dia untuk keluar dari zona yang namanya secret admirer, itu terlalu drama. Akhirnya, secara terang-terangan juga dia udah mulai berani untuk mengajak saya jalan ya seperti bagaimana pasangan muda lagi menikmati masa-masa pdktnya.        Kita tanpa status, jalan bareng, nonton bareng pokoknya, makan bareng, semuanya itu apa-apa bareng. Dia sendiri masih memakai motor matic. Teman-teman saya keheranan karena melihat saya mau gitu jalan sama cowok yang cuma modal bawa motor matic. Padahal mantan-mantan saya itu bawanya ya kendaraan yang bermerek semualah, oke-oke semualah kalau motor pun motor gede. Saya ya sendiri memang tidak serius-serius juga menjalaninya karena memang tujuan saya itu supaya dia bisa lebih berani seperti laki-laki yang pada umumnya dengan mendekati saya secara terang-terangan.        Saya belum memiliki ada rasa suka dengannya karena melihat dia yang terlalu sederhana dan tinggi badannya yang masih di bawah saya. Ya jelas bukan levelnya saya. Cuman di sini lama-lama saya menjalaninya kok agak beda ya Mahesa ini dengan laki-laki lain yang pernah bersama dengan saya? Mereka wataknya itu pada keras, sedangkan saya juga keras tetapi berbeda dengan Mahesa. Di sini, dia orangnya itu ramah, mengayomi, lembut, dan dia itu suka mengalah, dia bisa menyeimbangkan watak saya. Ini yang membuat saya terkesan sama dia, tentu saja, lama-lama saya mulai tertarik padanya. Lucu juga kalau diingat-ingat. Yang dari awal cuma sekedar bermain-main saja, lama-lama saya terjebak dengan permainan yang saya buat sendiri.         Dia tahu harus bersikap apa ketika bagaimana saya ini sedang emosi, dia bisa menenangkan saya, dia tahu caranya.         "Ya aku kesel Mahesa, sebentar lagi bakal tampil tapi mereka enggak ada menunjukkan keseriusan mereka. Kalau kayak gitu, mereka mending di keluarin aja, deh, dari tim ini, gak ada gunanya juga."       Saya yang lagi kesal sama beberapa orang yang tidak bisa menunjukkan keseriusan mereka terhadap latihan cheeleders, yang seharusnya sudah lebih baik dari sebelum-sebelumnya, nyatanya tidak ada kemajuan yang signifikan yang saya lihat sendiri.  "Nay, Nay, pokoknya kamu tenang dulu ya. Kita kasih mereka kesempatan sekali lagi, masih ada beberapa waktu lagi kan? Pokoknya kamu nggak perlu pakai emosi dulu, kita tinggal susun rencana lagi kalau misalkan tidak bisa kita ganti strategi yang lainnya. Atau konsepnya yang setidaknya itu bisa mereka pahami banget dan yang lainnya tolong latihan dengan serius, gitu tolong kerja samanya. Ini menyangkut nama baik sekolah kita juga."        Di saat saya lagi kesulitan mengatasi masalah saya, Mahesa membantu saya. Saya sebenarnya orang yang tidak bisa sabaran. Saya terkenal tegas kalau melatih dan siapa yang saya latih, harus bisa tanggap dengan arahan saya. Jika tidak ada yang bisa mengikutinya, saya bisa emosi. Tetapi Mahesa? Dia selalu ada buat saya, dia bisa menghandle urusan saya yang tidak bisa saya handle seorang diri saja, juga dia selalu mendukung apa yang saya lakukan. Bedanya dengan Mahesa juga dengan yang lainnya ini adalah bagaimana seseorang itu bisa memperlakukan saya. Saya selalu mencari seseorang yang perfect dari luarnya. Tetapi, yang saya anggap perfect itu sama sekali tidak bisa memberikan apa yang saya mau kepada saya. Tidak ada kepedulian. Sama-sama keras juga dan selalu menuntut saya untuk ini dan itu karena sangking saya sibuknya, tetapi mereka tidak mau mengerti dengan keadaan saya. Berbeda halnya dengan Mahesa, dia selalu menyempatkan waktu dia selama di tengah-tengah kesibukannya juga dengan perlombaan basketnya. Dia ada untuk saya dan itu yang membuat saya nyaman sehingga saya mau menerima dia menjadi pasangan saya, menjadi kekasih saya. Saya jelaskan dan saya ceritakan kepada teman-teman saya. Mereka memahami apa yang saya inginkan dan saya sangat bersyukur karena mereka dapat mendukung saya. Saya hanya ingin mendapatkan dukungan supaya saya bisa menguatkan bahwa keputusan saya untuk mempertahankan Mahesa itu benar-benar adalah keputusan yang tepat bagi diri saya. Saya tidak tahu karena cinta atau karena apa saya sampai mau mempertahankannya tetapi yang jelas, saya masih membutuhkan orang seperti dia.        Biasanya kadang Mahesa membawa saya itu makan di tempat-tempat yang sekiranya itu di pinggiran jalan yang biasa jual soto, bakso atau yang lain semacamnya. Soalnya pacar-pacar saya yang sebelumnya, suka bawa saya itu ke tempat-tempat yang mereka ingin menunjukkan yang terbaik buat diri saya seperti makan di restoran yang mahal, pokoknya bener-bener memanjakan saya dengan uang yang mereka punya tetapi saya sudah terbiasa akan hal itu. Saya sendiri bersama dengan Mahesa, merasa vibesnya itu beda. Jadi teringat di mana saya pernah makan sama oma di tukang bakso yang ada di pasar, nah, saya jadi keinget momen-momen saat dulu. Sebenarnya saya merindukan momen-momen yang sederhana seperti itu. Kalau di manjakan dengan hal-hal yang sekiranya memang terlihat bermewah-mewahan, saya sudah terbiasa sebenarnya akan hal itu dan saya tidak terlalu antusias. Karena memang sangat mudah untuk saya dapatkan kalau pun saya mau.       "Aku mau hadiri pesta ulang tahunnya Olla. Kamu bisa, kan, nemenin aku?" tanya saya sembari lagi pedicure manicure untuk persiapan nanti malam. "Kamu nggak lupakan hari ini ada jadwalnya?" tanya Saya lagi untuk memastikannya karena Mahesa itu orangnya gampang lupaan jadi aku harus mengingatkan dia lagi. "Ya nggak lah sayang. Ya udah nanti malam aku jemput ya," katanya di seberang sana dan saya mengiyakannya lalu saya kembali merilekskan diri saya untuk menikmati pelayanan-pelayanan yang saya dapatkan hari ini. Mama tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar saya. "Ini Mama udah siapin gaun buat kamu nanti malam pesta. Gimana, bagusan yang mana? Ini atau yang ini?" Mamah menunjukkan dua gaun yang terlihat mewah, yang satunya berwarna merah dan yang satunya berwarna hitam. Sebenarnya yang mana saja cocok saja dengan saya cuman ya saya terserah vagaimana Mama saya saja, karena memang mama orangnya selalu detail mengurusi penampilan saya.  "Ya menurut mamah yang bagus buat aku yang mana?" tanya saya balik, terkesannya memang saya itu tidak peduli dengan penampilan saya. Itu yang membuat Mama berdecak kesal. "Ya tapi kamu maunya yang mana? Nanti kalau Mama kasih tahu yang bagus menurut Mama tapi ternyata enggak bagus menurut kamu gimana?" Mama balik bertanya dengan nada kesal. "Yaudah, aku apa aja, deh, terserah Mama aja," ucap saya, tidak tahu kenapa saya memang lagi sedang tidak mood untuk memikirkan soal penampilan saya, toh juga, saya berpenampilan biasa-biasa saja masih terlihat elegan di mata banyak orang, jadi saya tidak perlu harus berpenampilan yang lebih dari orang yang memiliki acaranya. "Nayla Mama kan sudah bilang sama kamu, kamu itu harus tetap tampil cantik walaupun kamu memang sudah cantik bawaannya, cuman kamu harus tetap memperhatikan penampilan kamu. Tidak boleh ada yang kurang satu pun dan kamu tidak boleh berpenampilan yang biasa-biasa saja. Mama tidak mau nanti orang menilai Mama itu pelit lagi, nggak bisa lagi ngurusin anak perempuan," omel Mama, mulai bicara yang ke mana-mana yang dia bahas. Tadinya saya menyilangkan kaki saya tetapi karena sudah selesai perawatannya dan pelayan-pelayan tadi pun akhirnya beranjak pergi dari kamar saya, saya pun ikut beranjak dari tempat duduk saya. Saya berdiri di hadapan mama sambil penunjuk gaun yang ingin saya pakai malam itu. "Aku pilih yang warna hitam," ucap saya. Saya memutuskannya itu dengan asal karena saya ingin mengakhiri omelan mama. Saya tidak mau mendengarkan ocehan Mama yang terlalu berlebihan menurut saya. Karena ini hanyalah acara ulang tahunnya sahabat saya dan saya memang malam itu ingin berpenampilan yang biasa-biasa saja.  Kalau biasanya saya selalu perfeksionis pada penampilan saya, kali ini saya ingin berpenampilan yang sederhana saja karena menurut saya, saya sudah cukup cantik di matanya Mahesa, sangat cantik malah. Saya hanya tidak ingin orang-orang terpesona dengan penampilan saya daripada penampilan dari sahabat saya yang berulang tahun pada malam itu. Dan lagian juga, saya juga tidak mau terlalu banyak berdebat sama mama saya yang ada nanti mood saya hilang karenanya.       Sebenarnya memang kalau Papah itu lebih mencukupi kebutuhan anak-anaknya untuk memberikan nafkah yang sekiranya anak-anaknya itu tidak merasa kekurangan apapun. Itu lain halnya bila Mamah itu mendidik kami dengan nasihat-nasihat mamah yang sudah pernah saya katakan sebelumnya, tentang banyak hal contohnya seperti saya harus berpenampilan sempurna tanpa ada kekurangan. Saya yang tidak boleh mengalami kegagalan. Dan intinya, segala kekurangan-kekurangan dari yang bukan segi materi. Mungkin lebih kepada kehidupan tentang hal-hal seperti itu contohnya dan mama lebih menekankan kita untuk juga jangan menjadi orang yang biasa-biasa saja, seseorang harus memiliki keunggulan yang luar biasa. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD