Mahesa katanya menjemput saya dengan motor gedenya. Dia memang cowok yang tidak mau kelihatan terlalu menonjol, padahal dia di sekolah selalu bawa motor matic. Bisa saja dia bawa motor gede cuman untuk pergi ke sekolah, dia rasa motor matic saja sudah cukup. Tetapi dia berusaha untuk tidak membuat saya malu di acara pesta nanti makanya dia berusaha untuk mengimbangi saya juga. Itu sudah harus dia lakukan, karena dia harus terlihat sempurna, juga saya tidak mau ada yang kontras antara saya dengan pasangan saya karena saya memilih dia menjadi kekasih saya, dia harus bisa mengimbangi diri saya juga, dan jangan membuat saya malu. Saya selalu mengatakan itu kepada dia. Walau sebenarnya saya tidak menyinggung soal fisik dia. Karena sifat dia itu yang saya sukai jadi menolong dia untuk menutupi kekurangan dari fisik dia tetapi bukan berarti dia tidak mengimbangi saya untuk hal yang lain. Jika saja sifatnya yang sudah berhasil membuat saya merasa nyaman, saya pastinya tidak akan yang namanya menerima dia menjadi pacar saya.
"Kamu dijemput sama siapa Nay?" tanya mamah yang tiba-tiba muncul dari arah belakang tubuh saya. Saya sedang menunggu Mahesa di depan pintu rumah supaya, kalau dia sudah datang, saya bisa langsung pergi saja, tapi rupanya mama juga jadi ikut-ikutan berdiri di sebelah saya dengan kedua tangan dilipat di atas perut.
"Aku lagi nunggu cowok aku Mah," jawab saya jujur.
"Cowok? Cowok kamu yang mana itu? Kok, kamu nggak pernah ngenalin ke Mama kalo kamu udah ganti cowok baru?" Mama bertanya heran.
"Ada, namanya Mahesa, nanti aku kenalin sama Mama," kata saya kepada mama sembari ngecek hp saya. Mama hanya mengendikkan salah satu bahunya saja lalu dia dengan santai masuk ke dalam rumah, tetapi klakson dari suara motor menarik perhatiannya untuk enggan masuk ke dalam rumah lagi. Padahal saya berharap, Mama masuk saja ke dalam rumah dan saya sebenarnya, tidak benar-benar untuk mau memperkenalkan Mahesa dengan Mamah karena saya lagi tidak ingin mendengar komentar-komentar apapun tentang Mahesa dari mulut Mama.
Soalnya, setiap cowok yang saya kenali sama mama itu selalu saja Mamah itu tidak setuju, selalu saja mama tolak, karena memang okelah cowok-cowok yang pernah bersama saya itu terbilang tidak susah-susah amat hidupnya, masih tergolong dari kalangan yang ekonominya itu sebenarnya masih di bawah saya dan Mamah itu tidak menyukainya karena Mamah ingin saya mendapatkan yang lebih dari apa yang saya punya saat itu juga. Atau kalau bisa, yang benar-benar setara sama saya.
Mahesa turun dari motornya, saya melirik Mama yang mulai menilai Mahesa dari ujung kepala sampai ujung kaki begitu ia menaiki anak tangga dan berdiri di dekat saya.
Oh, tidak! Mama mau mulai lagi! Mahesa menyalami tangan mamah dengan sopan. "Malam, Tan. Saya Mahesa, pacarnya Nayla," kata dia sebagai memperkenalkan dirinya. Tidak ada Papa di sini karena papa masih mengurus pekerjaannya.
"Oh iya, saya Mamanya Nayla," balas Mama dengan nadanya yang cuek. Dia juga menjawabnya seolah seperti baru sadar dari lamunannya.
"Coba Nay," matanya masih menatap pada Mahesa dengan tatapan yang bingung. "Coba kamu berdiri di sebelahnya," titah mamah yang saya sangat tahu maksud dari perintah Mamah itu apa, tetapi saya tidak mau menurutinya sehingga membuat Mama kesal dan akhirnya turun tangan sendiri. Dia mendorong saya dengan memegang kedua lengan saya untuk berdiri di sebelah Mahesa yang kebingungan melihat tingkah mamah saya dan akhirnya, saya berdiri di sebelahnya. Terlihat kontras sekali, saya lebih tinggi dari pada Mahesa. Mahesa hanya sebatas pada hidung saya saja.
"Oh, masih tinggian kamu ya Nay?" sinis Mamah langsung membuat saya membulatkan mata, memberikan pelototan kepadanya sebagai isyarat, kalau mama sudah kelewat bicara. Seharusnya dia tidak menyinggung soal tinggi badan di depan Mahesa, jangan buat Mahesa menjadi tersinggung. Mama secara tanpa hati dong, dia bicara secara terang-terangan di hadapan orang yang bikun saya paling tidak suka, kalau nanti suasananya akan menjadi terasa canggung setelah omongan yang nggak enak, keluar dari mulut mama.
Toh juga, saya tidak mau mempermasalahkan masalah ini juga karena saya yang nyaman sama Mahesa walaupun Mahesa memiliki kekurangannya tetapi hati saya yang tidak ingin pisah dengannya, karena dia dapat menyeimbangkan watak saya. Entah memang karena cinta atau apalah, saya tidak bisa mengerti dan saya juga tidak mau terlalu yang namanya memikirkan soal cinta. pada intinya Saya tidak mau berpisah dengan Mahesa, akan sangat sulit untuk menemukan seseorang seperti dirinya lagi. Saya butuh seseorang yang dapat mengerti saya dan Mahesa sangat mengerti akan diri saya.
Mama menatap saya dan Mahesa secara berganti-gantian. Mahesa tiba-tiba saja terbatuk. Saya tahu dia hanya berpura-pura saja. Mungkin dia juga kaget karena diperlakukan seperti ini oleh Mamah saya. "Nay, kamu yang benar saja dong, nanti bagaimana pendapat orang yang melihat kalian berdua jalan bersamaan? Kalian itu sudah seperti adik dan kakak," komentar mamah yang jelas buat saya sudah tidak tahan untuk tetap berada di sini. Saya mau memarahi Mamah tetapi saya masih ingat, ada orang lain di sini, ada Mahesa dan tidak sopan rasanya kalau saya memarahi atau memberitahu mamah di depan orang lain. Saya masih memperhatikan etika dan adab saya kepada orang tua saya, tetapi saya juga punya emosi secara naluriah sebagai manusia. Hanya saja untungnya saya masih bisa sabar untuk menghadapi reaksi mamah yang menurut Mahesa, pasti di luar dugaan dia, dia pasti enggak menyangka kalau ternyata bakalan dibicarakan seperti ini oleh Mama saya.
Mahesa terlihat kikuk dan gugup juga. Dia menundukkan kepalanya karena rasa malu yang tak bisa dia tutup-tutupi. Itu sudah jelas, dia beneran tersinggung dengan yang dikatakan oleh Mama saya. Ya sudah, saya tak lagi bisa menunggu Mama untuk bicara hal yang lebih jauh lagi, hal yang lain lagi tentang Mahesa, saya harus menjaga perasaan dia karena itu saya segera menarik Mahesa menjauh dari hadapan mamah.
"Kita pergi sekarang," kata saya kepada dia. Mama terlihat tidak terima dengan kepergian saya yang tiba-tiba, tanpa berpamitan lebih dulu pada dia, saya tidak bisa lagi membuat Mahesa merasa tersinggung lebih jauh karena ucapan-ucapan mamah yang membandingkan fisik saya dengan fisik Mahesa atau pun dengan fisik cowok-cowok lain di luar sana. Mahesa memang tubuhnya itu tidak tinggi lebih dari saya tetapi saya herannya mengapa perlakuan dia lebih baik daripada orang-orang yang pernah saya pacari. Orang-orang itu adalah mantan-mantan saya yang memiliki fisik lebih oke dan jauh lebih baik daripada Mahesa. Saya selalu berpacaran yang tingginya itu lebih semua daripada tinggi badan saya. Hanya Mahesa saja yang tingginya berada di bawah saya. Dan terkadang juga, saya heran sama diri saya sendiri, kenapa saya bisa menerima seseorang yang jelas-jelas kekurangannya itu terlihat nyata di mata saya? Dan Mahesa bukan termasuk orang yang tajir-tajir sekali kalau urusan materi. Papanya memang seorang polisi. Hanya saja dia bukan termasuk orang yang bisa selalu mengajak saya ke tempat-tempat mahal, namanya uang jajan juga masih dikontrol sama orang tuanya, berbeda dengan pacar-pacar saya. Ada mantan saya yang sudah punya pekerjaan dan bisa mandiri sendiri juga ada yang belum, tapi mereka bisa mendapatkan uang jajan dengan jumlah nominal yang tak sedikit yang mereka dapatkan dari orang tuanya.
"Aku minta maaf atas ucapan Mama aku ke kamu," ungkap saya di tengah perjalanan. Saya keraskan suara saya supaya bisa terdengar olehnya. Mahesa sedikit menoleh ke belakang walaupun tidak sepenuhnya.
"Nggak apa-apa, Nay. Aku paham kok, lagian nggak aku masukkin ke dalam hati juga," balas dia. Saya tidak percaya dengan yang dia katakan, rasanya terlalu mustahil dan tidak mungkin dia tidak marah apalagi tidak merasa tersinggung atas kata-kata Mama yang dia dengar tadi.
Kata tidak apa-apa itu menunjukkan ada arti di baliknya bahwa dia sebenarnya tidak baik-baik saja, saya malah membenci satu kata itu. 'Tidak apa-apa' itu rasanya terlalu membohongi diri sendiri yang pada kenyataannya, tidaklah seperti itu. Tidaklah seperti yang dia katakan. Saya tahu, dia merasa sakit hati dengan yang diucapkan oleh Mamah saya kepada dia, tentu saja karena sudah membicarakan soal fisik. Seseorang akan sangat tersinggung bila fisiknya di olok-olokan, Mama secara tidak langsung pun telah mengolok-olok fisik Mahesa.
Saya masih tidak enak hati sama dia, terlebih ketika kita menghadiri pesta sahabat saya yaitu Olla, ternyata ada salah satu mantan saya ada di pesta ini. Memang, sih, saya pernah berpacaran sama seseorang yang ternyata itu adalah temannya Olla dan dia menyapa saya secara terang-terangan sedangkan Mahesa ada di sebelah saya dan teman-teman saya pun juga ada bersama dengan saya.
Dia terlihat keren, sih, dengan jas hitamnya. "Hai Nay, senang bisa ketemu sama kamu di sini," ucap dia sok akrab menurut saya. Respons yang saya berikan hanya berupa dari saya yang tersenyum tipis saja. Saya tidak mau terlalu banyak bicara juga sama dia, hanya seperlunya saja. Mahesa juga tahu kalau dia ini adalah mantan saya. Tidak mungkin mahesa tidak mencari tahu tentang saya, saya juga pernah bercerita kepada dia, itu pun karena Mahesa yang banyak bertanya.
Saya bukan tipikal orang yang suka membicarakan tentang masa lalu kepada pasangan saya yang sekarang. tetapi saya juga bakalan terbuka bila pasangan saya bertanya mengenai tentang masa lalu saya.
"Ini siapa? Pacar kamu?" Dia menunjuk Mahesa. Mahesa seketika itu menegakkan badannya dan kemudian dia mengulurkan tangannya, bermaksud untuk mengajak berkenalan mantan saya.
"Mahesa, pacarnya Nayla," kata dia dengan suara gagah.
"Kamu?" Mantan saya menunjuk saya dengan kening yang berkerut. Terbukti dia kaget dengan pilihan saya saat itu. "Dia pendek, loh, Nay? Kok bisa seorang Nayla punya cowok tapi cowoknya pendek gitu. Mana masih tinggian kamu lagi," ujar dia seperti mama saya saja.
Mahesa sudah pasti kena mental untuk yang kedua kalinya. "Aku pikir kamu bisa gitu dapetin yang lebih dari aku, ternyata nggak ya? Berarti masih jauh lebih oke aku ke mana-mana dong," sambung dia yang membanggakan dirinya. Inilah yang saya sangat tidak menyukai diri dia ketika berpacaran. Okelah saya memang lebih suka sama cowok yang tampan, saya memandang fisik seseorang tapi juga semua orang pasti melihat fisiknya lebih dulu dan tidak munafik juga diri saya. Hanya saja, dia itu orangnya terlalu over pede. Saya juga begitu sih cuman saya lebih ke dalam hati saya saja dan saya saja yang cukup perlu tahu tanpa harus sedih umbar-umbar dan bertingkah sombong. Saya tidak terlalu yang digembor-gemborkan berbeda dengan dia yang setiap harinya selalu membanggakan dirinya dan saya sangat tidak suka dengan cowok yang terlalu over pede.
"Oh ya, aku juga mau kenalin pacar aku loh sama kamu," ucap dia dan saya baru menyadari kalau dia telah mengabaikan perkenalannya dari Mahesa padahal Mahesa telah menyambutnya dengan baik. Dasar manusia yang tidak tahu sopan santun, dia tidak tahu atitude sama sekali. Seharusnya dia itu menyambut uluran tangannya Mahesa dan bukan mengabaikan Mahesa. Justru itu semakin membuat Mahesa tambah merasa malu karena dia diabaikan di sini. Dia pasti merasa rendah diri karena dia diremehkan fisiknya. "Hai sayang." Mantan saya langsung merangkul seorang perempuan yang tiba-tiba datang mendekat kepadanya dan berdiri di sebelahnya. "Ini pacar aku namanya Celine," kata dia menatap saya kemudian dia menoleh pada pacarnya. "Celine kenalin, ini Nayla mantan aku." Saya demi menjaga atitude saya, dengan berat hati, saya berkenalan sama pacarnya mantan saya ini yang namanya tidak perlu harus saya sebut. Saya saja ketika bertemu dengan dia, rasanya males banget. Memang waktu pacaran sama saya, saya yang tiba-tiba mutusin dia. Mungkin saat pada waktu itu, ia ingin membalas dendam pada saya dengan memamerkan pacarnya.
"Gimana nih, cantik gak pacar saya?" katanya dia dengan tersenyum songong. Kelihatan banget tengilnya. Mulai kan dia membanggakan pacarnya di hadapan saya. "Nggak kalah cantik kan sama kamu," matanya menatap saya, "malah cantikan kamu sayang," tambahnya lagi sembari menjawil dagu pacarnya. Dan pacarnya ini terus tersenyum meremehkan pada saya. Oh wow! Berani banget ya dia! Jangan sampai mereka menyinggung harga diri saya di sini. Saya paling benci dengan hal itu.
"Eh Rion," panggil Vidya dengan suara keras. "Semua cewek, sama-sama cantik kali. Gak perlu Lo banding-bandingin pacar Lo sama mantan Lo. Lagian menurut gue, masih cakepan temen gue ke mana-mana," kata Vidya emosi.
"Udah, deh, gue nggak mau ya pesta gue rusak cuma gara-gara masalah Lo yang membandingkan antara pacar Lo dengan Nayla, sahabat gue. Mending Lo pergi deh ke mana, kek. Gabung sama yang lain kek, jangan ngerusuh di sini!" timpal Olla lagi mulai emosi. Si mantan saya itu mendengus sebal, akhirnya dia itu pergi dengan bersama pacarnya. Syukurlah, tidak perlu banyak bicara panjang lebar lagi dia karena saya pun juga malas untuk meladeninya dan saya tidak mau membuang-buang tenaga saya untuk mengusir dia dari hadapan saya. Sekarang adalah urusan saya itu bersama dengan Mahesa. Saya akan membahas masalah ini dengan dia tetapi bukan saat di mana saya bersama dengan teman-teman saya. Tetapi menunggu momen waktunya seperti di mana momen waktunya itu adalah ketika Mahesa, saya temani sedang nge-gym. Ia yang lagi nge-gym, saya ya duduk sembari memainkan HP dia. Iseng saja karena saya merasa bosan dan tanpa sengaja, saya melihat pencarian di Google dia, cara untuk membuat tubuh menjadi lebih tinggi atau ada lagi pencarian dia yang saya baca ini di YouTube, cara untuk menambah tinggi badan. Sampai segininya dia? Tapi bagus sih, saya memang tidak pernah menyuruh dia untuk mencari gerakan olahraga supaya dia bisa lebih tinggi lagi tubuhnya, saya hanya ingin dia bisa mengimbangi saya saja tetapi memang untuk urusan fisik itu lebih sulit daripada penampilan karena kalau penampilan masih bisa di make over. Tetapi kalau tinggi badan yang jatuhnya ke fisik itu, lebih nyata terlihat jelas, saya tidak pernah mau meminta dia untuk melakukan yang macam-macam karena saya masih bisa menjaga perasaan dia, cuman di sini, dia sadar diri itu juga sudah bagus.
Memang saya tidak mau terlalu banyak bicara sama pasangan saya tentang kekurangannya, apapun itu. Saya mau dia cukup sadar diri saja. Memang untuk menjadi sempurna itu banyak sekali tuntutannya. Tuntutan tiada akhir dan memang manusia tugasnya harus memenuhi tuntutan itu untuk menjadi sempurna walau katanya tidak ada manusia yang sempurna namun manusia bisa menciptakan definisi kesempurnaannya. Sembari menutup HP dia. sebagian menariknya, di tempat yang masih sama, saya tersenyum bahagia melihat perjuangan Mahesa untuk menutupi kekurangannya itu. Memang sudah harus dia lakukan kalau dia mau menjadi pasangan saya yang bakalan saya pertahankan untuk jangka panjang. Kalau mau dipertahankan oleh saya, pasangan saya harus menjadi uang sempurna seperti apa yang saya mau, seperti apa yang saya inginkan darinya . Mahesa kemudian datang menghampiri saya, ia tidak menunjukkan kalau dia mengeluh atas kekurangannya. Mahesa juga tidak benar-benar mengungkapkan perasaan dia kepada saya atas kata-kata yang tidak enak yang telah dia dapatkan selama dia berpacaran dengan saya. Dia tidak mengeluhkan itu kepada saya untuk semuanya. Itu bagus sekali karena memang laki-laki itu tugasnya harus berusaha dan bukan mengeluh.
Dia harus berusaha untuk menjadi lebih baik atau bahkan yang terbaik dari pilihan yang ada dan bukannya mengeluh karena begini dan karena begitu, tanpa ada usaha, tanpa ada action, dan tanpa ada pergerakan sama sekali. Saya tidak menyukai laki-laki yang manja seperti itu. "Capek ya," kata saya pelan sembari memberikan handuk dan juga air minum kepada dia. Dia mengelap sendiri keringatnya dengan handuk itu dan lalu dia habis minum sampai setengah botol. Dia terlihat sangat bersungguh-sungguh saat berolahraga tadi, dia sangat bersungguh-sungguh untuk menjadi yang sempurna.
"Lumayan," jawabnya kembali meneguk sisa air yang ada.
"Aku senang melihat kamu olahraga tadi," ungkap saya kepadanya. Mahesa natap saya terheran-heran karena rasanya aneh mungkin, saya melihat dirinya olahraga dengan ungkapan senang? Memangnya apa yang harus disenangi? Pasti dia mikirnya begitu. Tanpa dia bertanya, saya menjelaskan kepadanya.
"Karena kamu sudah tahu risiko pacaran sama aku itu apa dan memang kamu harus mengatasi permasalahan kamu itu. Aku bisa saja dengan mudah menerima kamu dengan apa adanya kamu, tetapi tidak semudah itu juga kalau kamu tidak mau ada usaha untuk mengimbangi aku. Semua itu perlu usaha yang lebih keras untuk mencapai standarnya dari orang yang kita cintai, kalau memang kamu benar-benar cinta sama aku, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan karena kalau tidak, mungkin kita sudah tidak akan bersama lagi sekarang," pungkas saya dengan sengaja saya mengatakan seperti itu supaya dia itu bisa lebih berpikir lebih jauh lagi untuk menjadi perfeksionis karena untuk mengubah fisik tidaklah mudah kalau tidak pakai uang. Perlu yang namanya bekerja keras dengan ekstra.
"Iya aku tahu Nay, karena memang aku juga minder melihat mantan-mantan kamu itu pada tinggi-tinggi semua dan mama kamu, pasti ingin kamu mendapatkan yang seenggaknya itu jauh lebih baik dan aku masih jauh lebih buruk daripada mantan-mantan kamu," ucap dia dengan raut wajah yang terlihat frustasi dan nada bicaranya terdengar ia sangat benar-benar merasa sedih. Kasihan sekali dia. Kalau mungkin perempuan-perempuan lain akan berusaha untuk menenangkan si laki-lakinya supaya si laki-laki tersebut tetap percaya diri, tetapi tidak dengan diri saya. Saya tidak bisa berkata-kata manis, saya tidak bisa memperlakukan laki-laki dengan manis, memang saya sudah dibilang terkesan kaku dan formal saja bila bersama dengan saya. "Kamu udah merasakan perasaan seperti itu dan itu berarti kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan. Enggak ada waktu kalau kamu hanya merasa minder terus tapi tidak bisa mengatasi masalah kamu sendiri karena memang untuk menjadi yang sempurna, tidaklah mudah untuk mencapai pada standar itu," jelas saya.
"Standar siapa yang harus kita ikutin Nay? tanya ia yang terdengar marah saat saya mengatakan hal tersebut.
"Kamu sekarang pacaran sama siapa? Itu berarti, kamu harus mengikuti standar kesempurnaan yang sudah aku ciptakan. Kamu paham, kan? Aku terlahir dari keluarga apa dan aku sudah dididik untuk menjadi yang terbaik dari yang lain. Ketika kamu menjadi pasangan aku, kamu harus bisa menjadi sama seperti aku, menjadi seperti apa yang aku inginkan," tukas saya serius. Sangat serius dengan yang saya katakan dan bukan main-main. Bersama dengan saya, harus terima tuntutannya dan jangan banyak mengeluh untuk seorang laki-laki.
"Aku pikir kamu bakalan mengeluarkan kata-kata yang setidaknya dapat membuat aku merasa lebih baik, tapi, kok, kamu malah, ah." Mahesa menjeda kata-katanya yang diakhiri dengan mendesah berat. Seolah ia telah kehilangan apa yang harus dia katakan atau dia menahan ucapan dia berikutnya karena tidak ingin membuat saya marah. Langsung saya membuang muka darinya kemudian menepuk singkat kedua paha saya secara berbarengan dan berdiri dari posisi saya sebelumnya.
"Terbiasalah untuk menjadi orang yang kuat Mahesa, ketika aku berada di posisi yang membuat aku merasa tidak nyaman, aku tidak pernah yang namanya mengharapkan seseorang untuk menenangkan aku, untuk mengatakan hal-hal yang cuma sekedar untuk menghibur saja, itu tidak ada gunanya buat aku dan tidak ada artinya sama sekali. Begitu juga dengan kamu yang harusnya bisa terbiasa, kamu cukup melakukan apa yang harus kamu lakukan dan jangan mengharapkan lebih dari aku, supaya aku bisa menjadi apa yang kamu mau. Memang terdengar egois tapi kalau memang kamu cinta sama aku, harusnya kamu bisa melakukan apa yang aku katakan barusan ini," papar saya membuat dia terdiam gamang. Setelah itu saya pergi meninggalkannya. Terkesannya, saya ini tidak benar-benar peduli kepada dia. Cara saya dengan apa yang saya katakan, tidak ada lembut-lembutnya pada laki-laki dan bahkan tidak ada dukungan sama sekali yang keluar dari mulut saya.
Ini diri saya yang memang kaku, saya tidak bisa mengekspresikan diri saya untuk bersikap sebagaimana yang diinginkan oleh laki-laki tetapi saya selalu menuntut mereka untuk menjadi apa yang saya mau. Cuman memangnya, apa yang salah karena mereka yang datang lebih duluan ke dalam kehidupan saya dan saya sebagai tuan rumah, mengizinkan mereka masuk dan selebihnya mereka harus mengikuti aturan dari tuan rumah ini, pikir saya begitu. Kalau pun mereka tidak kuat, mereka bisa pergi meninggalkan saya, saya tidak akan merasa sakit hati untuk hal itu. Secinta-cintanya saya, saya tidak akan membodohi diri saya. Logika adalah yang paling utama buat saya dan bukan pada hati. Saya juga tidak mengerti mengapa saya seperti ini, tetapi saya sudah nyaman dengan diri saya yang mungkin, di mata orang, jika ada seseorang yang sudah mengetahui diri saya, dan bukan hanya sekilasnya saja, saya pasti sudah benar-benar dinilai buruk. Tetapi di mata saya, diri saya adalah sempurna. Terdengar over pede tetapi itulah kenyataannya dan saya tidak mempedulikan bagaimana pandangan seseorang atau siapa pun terhadap diri saya. Karena saya nyaman dengan apa yang telah saya tentukan di dalam diri saya ini.
*
"Menurut kamu, kalau mau membicarakan soal tentang fisik yang kita ingat ingat saat dulu kita pacaran dan itu menjadi problem buat kita, memangnya yang terlihat sempurna itu yang seperti apa, sih?" tanya saya pada Mahesa dan masih di tempat yang sama. Saya sadari dari detik terus berlanjut, menit pun terus berganti, dan waktunya jam pun sudah menunjukkan larut malam. Kami masih sama-sama betah di tempat kami yang dulunya selalu kita habiskan waktu bersama ketika malam hari.
"Aku pernah bilang sih sama sahabat aku Luna, kamu masih ingatkan dia?" Saat saya mendengar nama perempuan itu, saya teringat masa-masa dulu tapi saya belum fokus karena Mahesa masih melanjutkan kata-kata dia. "Dia pernah marah sama aku karena aku masih tetap bersikeras dengan pemikiran aku kalau yang sempurna itu, aku menilainya dari fisiknya seseorang itu seperti kamu," jawab Mahesa dan tak bisa saya pungkiri kalau saya senang mendengarnya. Artinya saya masih menjadi tipe perempuan yang disukai oleh Mahesa.
"Emang kebanyakan, katanya orang jangan cuma menilai dari fisiknya aja. Iya aku paham juga, karakter itu penting tapi ya gimana ya, menurut aku, nih, kalau perempuan ya ukurannya sempurna itu, ada yang lebih penting dari sekedar fisik yang terlihat. Maksud aku, aku menganggap seorang perempuan itu sempurna kalau dia bisa mengandung dan melahirkan, ini contoh standar kesempurnaan yang wah banget yang ada di pandangan aku. Kita bicarakan satu aspeknya saja dari fisik ya kan, kalau dari kehidupan, ya gimana ya? Nggak bisa di tolak ukur gitu juga, sih, karena kehidupan orang kan beda-beda, cuman sempurnanya kehidupan itu gimana kita bisa melewati masalah itu aja, sih, kalau menurut cara pandang aku. Cuman kalau satu, biasanya aku tekankan pada perempuan itu, dia sempurna fisiknya lebih ke itu, sih, bisa mengandung dan melahirkan karena aku memang kepengen punya anak kalau ketika aku nanti menikah," jelas Mahesa panjang lebar dan pembahasan yang dibahas jadi melebar ke mana-mana tetapi tidak masalah buat saya karena saya bisa menangkap maksud dari dia itu.
Memang obrolannya terlalu tinggi ya kalau mau membicarakan soal kesempurnaan, banyak yang bisa dibahas, dan tidak hanya dari satu aspek saja. Tetapi banyak dari aspek lainnya dan itu bagaimana cara pandang seseorang itu saja karena memang betul kata Mahesa, tidak bisa disamakan juga dan tidak bisa di tolak ukur juga karena kehidupan seseorang itu berbeda-beda dan cara pandangnya pun tentang kesempurnaan itu ya jelas berbeda, tetapi tetap pada bagaimana saya dengan prinsip, bagaimana dari saya menilai kesempurnaan itu yang sudah tertanam dari dulu hingga sampai saat ini. Karena kita juga memang lagi sudah membahas soal fisik. Menurut saya, tidak ada yang salah bila mau membahas soal ini karena kan memang seseorang punya standarnya juga, saya punya standar saya, Mahesa juga punya standarnya juga.
Jadi bila mau membahas soal fisik, jangan terlalu pakai perasaan, dan bukannya dengan pemikiran yang sempit untuk mencernanya atau jangan berpikiran bakalan berujung ke body shaming karena memang ya, bagaimana ya hal lumrahnya saja untuk dibahas. Karena setelah itu juga akan membahas hal-hal yang lebih spesifik lagi seperti orang yang PDKT pun juga banyak yang bertanya, sukanya seperti orang yang kayak mana, fisiknya bla bla bla nanti lalu berlanjut vagaimana wataknya seperti apa, setelah dari watak nanti bagaimana cara pemikiran dan apa yang disuka atau yang tidak disuka. Lalu nanti membahas soal prinsip, visi dan misi, dan jauh lebih semakin ke dalam dan makin ke dalam, dan telah menjadi hal yang wajar saja untuk dibahas.
Dan bicara soal Luna. Saya tidak mau membahas soal pendapat Mahesa dulu karena saya ingin membahas soal Luna, sahabatnya Mahesa.
"Gimana kabar sahabat kamu itu?" tanya saya setelah saya hanya ber'o' ria sebagai tanggapan saya pada pendapat Mahesa
Saya masih punya kesalahan pada dia saat dulu. Saya ingin mengatakan itu pada Mahesa Tetapi saya hanya bisa membantinnya saja. Saya tidak bisa berfokus ke mana-mana karena Luna, nama itu menarik perhatian saya, selalu terngiang-ngiang di dalam pikiran saya dan saya ingin membahas Luna lebih jauh lagi. "Luna? Oh, iya kabar dia baik," jawab Mahesa dengan cepat. "Dia juga kerja di rumah sakit yang sama, loh, jadi psikolog klinis," tambah Mahesa memberitahu. Saya mengangkat salah satu alis saya. "Oh, ya? Tapi saya nggak pernah ketemu ya di rumah sakit," kata saya dengan perasaan tidak menentu dan tak berarah. Karena perasaan saya campur bila membicarakan perempuan satu itu. Mahesa menyeruput jus dia sebentar lalu setelahnya, dia kembali menjawab pertanyaan saya. "Sibuk dia, lagi banyak pekerjaanlah, aku juga jarang banget ketemu sama dia di rumah sakit," jelas Mahesa yang dapat saya pahami.
"Aku punya kenangan yang buruk sama dia di masa lalu Sa," ujar saya dengan perasaan yang saya usahakan saya mengatakannya itu dengan hati yang tenang. Saya tidak ingin menunjukkan rasa bersalah saya dihadapan Mahesa walaupun kecil kemungkinannya. Kecil kemungkinannya karena saya termenung dari kata-kata saya seolah kembali saya ini mengenang hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu, antara saya dan dengan dirinya, Luna Liniara.