Mahesa itu sangat dekat sekali dengan Luna Liniara yang ternyata, mereka berdua itu setelah ditelusuri oleh saya, keduanya memiliki hubungan persahabatan. Mereka memiliki hubungan yang dekat. Tadinya awalnya saya merasa baik-baik saja. Saya tidak mempermasalahkan Mahesa mau dekat dengan siapa pun saya tidak akan melarangnya. Tetapi, lama-kelamaan, saya perhatikan keduanya ini, mereka sepertinya sudah melebihi di luar batasan yang ada. Saya itu paling tidak suka kalau ada perempuan yang cari perhatian sama Mahesa. Memang Mahesa juga banyak disukai di sekolah tetapi mereka tidak terang-terangan karena mereka tahu, Mahesa pacaran sama siapa. Sama diri saya. Orang yang paling disegani di sekolah ini. Nggak banyak orang yang berani sama saya dan karena itu, nggak akan ada yang berani mendekati Mahesa, tetapi perempuan yang bernama Luna ini sudah mulai coba-coba tidak tahu diri bila Mahesa itu sudah memiliki pacar. Dia tidak tahu siapa saya. Dia tidak tahu kalau saya itu paling tidak suka, milik saya di ganggu-ganggu oleh orang lain atau pun di dekati. Memang saya ini orang yang rada posesif tetapi tidak saya tunjukkan sifat itu pada Mahesa secara gamblang.
Saya orangnya suka main halus, main cantik tanpa barbar. Dan lagi pula, Mahesa tidak akan tahu apa yang saya lakukan. Saya itu sebenarnya paling nggak suka sama orang gendut. Saya cari tahuz ternyata dia ini tidak ikutan kegiatan apa-apa dan kelihatannya dia itu orang yang tidak percaya diri dengan fisiknya. Ya iyalah jelas, dia gendut banget, saya jadi kepikiran sesuatu hal untuk membuatnya jera dengan memberikan pelajaran dan juga sekaligus untuk membuat dia bisa belajar ngurusin badan. Dia harus kurusin badan apalagi dia masih gadis, nggak akan ada yang mau sama cewek gendut seperti dia.
Sewaktu SMA, saya berusaha untuk mendekati Luna sebenarnya. Mudah saja untuk mengambil hati anak itu. Dia sangat mudah untuk di labui. Dengan saya iming-imingi sesuatu hal di mana saya mengajak dia untuk ikutan chilliders karena kami kekurangan anggota di tim kami, saya sebenarnya terpaksa berbohong. Saya memiliki maksud dan tujuan untuk membawa dia masuk ke dunia cheerleader saya dengan mengatakan kepadanya, kalau dia harus bisa lebih percaya diri lagi sama kemampuannya dan menunjukkan kepada orang-orang yang selalu mengolok-olok kan fisik dia karena saya tahu, dia itu suka dibully di sekolah karena bentukan badan dia itu yang lebar dan gendut banget.
Saya senang sekali melihat dia tersiksa saat latihan chiliders, ini akan sangat menjadi hal yang lucu karena tubuhnya yang gemuk harus ikutan menari dengan lompat sana sini, yang sebenarnya jelas tidak sepadan dengan teman-teman yang lain yang memiliki tubuh ramping dan seperti diketahui, dia ini kan menjadi korban bully, akan ada sangat banyak orang yang mem-bully dia.
Saat tahu Mahesa melihat Luna latihan chiliders di rumah saya bersama dengan tim yang lain, Mahesa terkejut dan tidak menyangka. Ia bertanya banyak hal ke saya kala itu. Mengapa Luna bisa berada di rumah saya? Mengapa Luna, sahabatnya itu bisa masuk ke tim chilliders saya? Setelah saya jelaskan kepada Mahesa meski tak semuanya saya jelaskan, tetapi baru hal sedikit saja, Mahesa sudah marah-marah kepada saya.
"Kamu ngizinin Luna buat masuk ke tim chilliders? Enggak salah kamu?" tanya dia emosi sekaligus keheranan dengan apa yang saya lakukan sama Luna. Sebenarnya, kan, saya hanya mau bermain-main saja sama anak itu, sepertinya akan sangat seru. Saya mau membuat sesuatu hal sebagai hiburan di mata saya. Memang saya ini sudah jahat.
Saya menyadari apa yang telah saya lakukan kepada sahabatnya itu, tetapi Luna juga harus menyadari, apa yang telah dia lakukan kepada saya.
Saya juga suka mempertanyakan, apa dasar saya atau alasan yang sebenar-benarnya saya melakukan semua ini? Apakah saya benar-benar mencintai Mahesa? Saya masih bingung. Saya merasa nyaman dengannya. Apakah saya cemburu karena Luna dekat sama Mahesa walaupun mereka itu hanya sebagai sahabat saja. Saya tidak tahu pasti karena yang saya rasakan, hanya saya merasa tidak suka melihat Mahesa dekat dengan perempuan lain.
Apakah saya menyangkal akan perasaan cemburu saya? Saya tidak mengerti dan saya tidak mau terlalu memikirkannya. Saya hanya ingin memikirkan apa yang harus saya lakukan saja terhadap Luna Liniara.
"Memangnya kenapa? Apa yang salah? Kamu tahu, kan, dia itu orang yang tidak pernah percaya diri sama kemampuan dia. Aku yakin, dia memiliki potensi dan kemampuannya di chiliders, jadi apa salahnya dia mencoba hal yang baru di usia dia yang masih muda ini? Aku benarkan? tanya saya balik pada Mahesa. Saya mau tahu respon dia itu seperti apa ketika tahu saya tetap berpendirian teguh pada apa yang saya katakan kepada dia dan yang ingin saya lakukan. Saya mau melihat, mau sampai sejauh mana dia ingin menghalangi saya supaya saya tidak yang namanya memberikan izin kepada Luna dalam mengikuti chilliders dan bulan-bulan ke depannya nanti dia akan tampil di depan semua orang, di mana sebagai pembuka di acara pertandingan basket yang akan diikuti oleh tim basket dari sekolah saya dan tim-tim basket dari sekolahan lain juga.
Ini moment yang sangat saya tunggu-tunggu. Saya jadi tidak sabar akan menunggu momen hal yang menyenangkan itu.
"Ya, kamu lihat dong, harusnya kamu pertimbangin lagi. Luna itu bukan porsinya ada di situ. Emangnya kamu nggak lihat fisik dia? Kita realistis aja, kalau dia nggak bisa yang ada malah membahayakan diri dia. Kamu ini, astaga!" Mahesa menepuk jidatnya frustasi. "Dan kamu menempatkan dia di posisi yang rentan, dia nggak bakalan bisa ngelakuin itu, dia bakalan bisa gagal Nay!" pungkas Mahesa berturut-turut, penuh penegasan di setiap intonasi kata-katanya dan bahkan, pada saya tak pernah sekali pun, dia bicara dengan nada tinggi dan ngotot seperti tadi. Dia bicara tadi itu tanpa jeda, nyerocos terus seperti kereta api yang sedang melaju. Dan juga dia memang benar-benar kelihatan kesal dengan saya hanya karena gara-gara membahas Luna. Reaksi yang saya lihat dari wajah dia, betapa dia juga mengkhawatirkan keadaan Luna. Ia takut akan terjadi sesuatu dengannya. Dia tahu posisi-posisi yang ada di dunia chiliders dan risiko-risiko juga hal lainnya, dia tahu semua seluk-beluknya karena memang dia selalu menemani saya setiap latihan dan selalu banyak bertany tentang hal-hal chiliders karena memang Mahesa ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang apa yang saya suka, itulah dia.
"Dia harus bisa melewati tantangannya Mahesa. Kalau dia mau berhasil, dia itu harus menunjukkan ke semua orang kalau dia itu bukan cewek yang nggak bisa apa-apa karena fisik dia yang membatasinya. Orang-orang selalu beranggapan seperti itu ke dia dan aku mau bantu dia. Apa salahnya, sih? Kenapa kamu jadi marah-marah sama aku? Harusnya kamu berterima kasih sama aku yang udah mau membantu dia supaya dia bisa berprogres, bisa tumbuh jadi lebih baik lagi dan kamu harusnya dukung sahabat kamu itu. Bukannya kamu malah terkesan meremehkan sahabat kamu itu gimana, sih kamu? Harusnya kamu berperan sebagai pendukung dia karena kamu sahabat dia, kan?" Untuk kali itu saya bicara panjang lebar pada Mahesa. Syukurlah hanya saya saja yang ada di rumah ini. Kalau ada orang rumah, saya tidak mungkin akan membawa Mahesa ke rumah saya karena saya tidak mau mendengar komentar apapun dari mereka tentang Mahesa. "Udah, deh, pokoknya, kamu diam aja. Aku itu kepengen dia itu bisa lebih percaya diri, itu aja. Dia harus menunjukkan potensi dia. Jangan cuma bisa diam-diam aja jadi orang itu. Nggak usah kelihatan cupu banget sahabat kamu itu. Lewat cupu yang ada bakalan kena bully terus. Seenggaknya dia bisa melawan semua pandangan negatif orang-orang itu ke dia," tukas saya pada Mahesa dan di setiap kata-kata, saya tekan kan intonasi bicara saya.
Sebenarnya kalau ingin bicara soal toxic positive, saya termasuk orang yang toxic. Tetapi lebih ke arah yang positif. Jadi toxic positive itu artinya orang yang toxic itu mendukung seseorang memberikan pandangan yang baik, memberikan semangat apapun kepada seseorang itu untuk bisa tetap berpikiran baik, tetap melakukan hal yang sekiranya itu positif mau di setiap keadaan apapun itu. Tetapi tidak sesuai dengan kapasitasnya, tidak sesuai dengan ukurannya, tidak sesuai dengan tempatnya, dan tidak sesuai dengan keadaannya. Lebih sulitnya untuk menerima perasaan diri sendiri dan menolak akan perasaan itu. Pada dasarnya jadi lebih menuntut manusia untuk tetap positif padahal perasaan apapun itu sedih, kecewa dan lain halnya adalah bagian dari perasaannya manusia. saya tahu hal itu tetapi saya pun juga masih terjebak di dalamnya. Dan karena itu dari apa yang saya alami saya pengaruhi kepada Luna.
Yang pada akhirnya berujung dengan hal yang tidak baik seperti itulah diri saya yang mendukung Luna tetapi saya memiliki tujuan dan maksud yang tidak baik untuk dia. saya memberikan bentuk apresiasi padanya supaya dia mau nge-push diri dia sendiri tetapi tidak sesuai dengan kapasitas dan ruangnya.
Dan saya tidak peduli dengan perasaan dia bakal seperti apa nantinya, yang jelas saya akan merasa sangat bahagia sekali karena berhasil membuat dia malu. Permainan saya ini memang bagus kan cantik dan halus sekali. Saya sangat mudah untuk memainkan emosi seseorang.
Salah Mahesa, jika dia berpikir saya bakalan nurut sama dia. Jika dia berpikir saya bakalan mengikuti apa kata dia. Tidak akan. Saya lebih suka menjalani apa yang ingin saya lakukan tanpa paksaan dari orang, dari siapapun dan tanpa harus menuruti apa kata siapa selain dari orang tua saya sendiri. Saya juga sebenarnya tahu, tanpa Mahesa memberitahukannya kepada saya kalau Mahesa di sekolah, diam-diam berusaha untuk selalu membujuk Luna. Untuk menghentikan apa yang ingin dia lakukan, menghentikan Luna untuk tidak tampil saat sebelum pertandingan basket di mulai. Saya diam-diam menyaksikan pertengkaran Mahesa dan dengan Luna.
"Kenapa Sa? Lo malu kalau gue bakal tampil nanti sama tim chiliders yang lain? Gud juga bisa kayak mereka Sa, nggak cuma mereka doang. Lo ngeremehin gue banget sih! Apa karena badan gue yang gede ya? Lo sok peduli sama gue padahal Lo juga suka ngeledekin gue karena gue punya badan yang gede. Gue tau gue nggak cakep kayak cewek Lo, intinya gue itu jelek, gendut nggak kayak cewek-cewek yang lain, yang gaul, gue nggak kayak teman-teman Lo itu karena itu kan Lo ngelarang-larang gue," cecar Luna tak memberi ampun atau celah pada Mahesa supaya bisa bicara sama Luna dengan baik-baik.
Luna udah bener-bener emosi. Dia sangat tersinggung sama sikap Mahesa yang sama sekali tidak mendukung dia padahal kalau andai dia tahu, Mahesa itu peduli sama dia. Cuman karena dia sudah merasa rendah akan kepercayaan dirinya, merasa diri dia itu seperti apa yang disebutkan, makanya dia memiliki cara pandang yang lain cara pandang yang buruk tentang Mahesa, karena itu dia tidak terima dengan sikap Mahesa yang berusaha untuk menghentikan dia.
Mahesa menarik tangan Luna yang sudah bersiap berbalik badan untuk pergi dari hadapan Mahesa dengan kekesalannya yang sudah dia lampiaskan sedari tadi. "Eh, Lun, jangan salah paham dulu sama gue. Bukannya gue itu mau ngelarang-larang Lo karena fisik Lo, tapi gue itu cuma,"
"Kasihan, kan, sama gue?" sambung Luna berikutnya. "Lo kasihan sama gue kan karena segitunya, gue mau ngebuktiin diri gue ke mata semua orang kalau gue juga bisa seperti mereka. Itu kan yang pengen Lo omongin ke gue?" Massa diam saja memperhatikan Luna yang terus bicara. "Lo tau apa, sih, soal perasaan gue?" tanya Luna dengan nada pelan tapi tajam dan menusuk.
"Gue itu nggak mau Lo itu kenapa-napa," ujar Mahesa dengan nada, Iya berusaha setenang mungkin menghadapi Luna yang lagi sedang panas-panasnya. Mahesa mendapatkan kesempatannya untuk bicara pada Luna dengan perasaan yang berusaha ia stabilkan. Saya tahu Mahesa, dia berusaha kelihatan sabar di sana karena kalau dia ikutan emosi dan menjadi api, yang ada tidak akan bertemu jalan titik temunya. Itulah Mahesa yang tahu tempat dan posisinya di mana dia harus berinteraksi dan membaca situasi keadaan. "Kalo Lo kenapa-napa nanti gimana?" tanya Mahesa masih tetap dengan berusaha sabar untuk bicara pelan-pelan pada Luna.
"Urusannya sama Lo itu apa?" tanya Luna balik dengan nada nyolot. "Penting banget Lo ngurusin hidup gue? Kenapa Lo nggak ngurusin hidup Lo aja dan nggak usah ngurusin urusan gue. Gue tahu, kok, apa yang harus gue lakuin, terserah gue jadi karena ini hidup-hidup gue, jangan kebanyakan ngomong, selama Lo nggak bisa bisa ngerasain apa yang gue rasain. Lo juga termasuk sama seperti mereka yang sukanya ngebully gue, yang sukanya ngata-ngatain gue terus, yang sukanya ngeremehin gue," marah Luna. saya merasa kasihan sekali pada Mahesa yang sebenarnya itu peduli sama Luna hanya saja sikap dia itu di salah artikan sama Luna. Biasalah menangkap Apa yang dibicarakan sama Mahesa.
"Kalau gue ngomong gini, pasti loy bakal selalu bilang gue, kalo gue itu baperan padahal Lo sendiri enggak tahu soal perasaan gue. Sakit apa gue harus terima dari semua omongan-omongan kalian. Paham Lo sampai sini?" seru Luna. "Jadi gue itu nggak butuh kepedulian Lo. Lo urus diri Lo sendiri dan nggak usah peduliin gue lagi. Gue bisa urus diri gue, ini pilihan gue yang mau melakukan itu semua!" Setelah melepaskan kemarahannya di hadapan Mahesa sehingga membuat Mahesa terdiam seribu kata melihat tingkah Luna yang sangat emosional itu. Kepergian dari Luna setelahnya menarik saya untuk menghampiri Mahesa keluar dari persembunyian saya. "Aku ngerasa itu bukan kayak Luna yang aku kenal. Dia beda banget, Aku benar-benar bingung sekarang," ucap Mahesa, termenung. Mahesa tidak percaya dia sedang berbicara dengan siapa tadinya? Dia sedang berhadapan dengan siapa? Dia masih berdiri diam termenung.
"Untuk apa kamu harus bingung buat semua yang kamu lihat barusan? Benar kata Luna, itu pilihan dia lalu kenapa kamu harus capek-capek melarang dia? Mencoba melarang apa yang dia inginkan?" tanya saya berbondong tetapi tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. "Kamu lihat sendiri kan Bagaimana reaksinya Luna mendengar penjelasan dari kamu?" tanya saya lagi tetapi sayangnya malah diabaikan oleh Mahesa. Saya menarik napas dalam-dalam sembari melipat kedua tangan saya di atas perut. Memperhatikan Iya yang masih diam mematung. Apakah Luna itu memiliki daya tarik yang luar biasa sehingga membuat Mahesa berani ngacangin saya? "Kamu tertarik banget ya sama dia?" pancing saya sengaja saya bicara seperti itu supaya laki-laki yang sedang saya ajak bicara ini menatap saya dan benar saja, dia langsung mengalihkan perhatiannya ke saya. Dan tanpa menunggu dia bicara, saya pun juga pergi dari hadapannya Mahesa yang bingung akan posisinya itu.
Saya tahu itu, antara saya atau pun sahabatnya, ke mana dia harus pergi itu terserah dia. Saya tidak akan mengatakannya. Saya memberikan pertanyaan menjebak itu hanya sekadar untuk memancing Mahesa karena saya ingin memainkan emosi dia saja. Saya mau tahu mau sampai mana dia peduli dengan sahabatnya itu yang benar-benar tidak memiliki rasa percaya diri sama sekali. Dan tidak bisa bijak untuk menyikapi persoalan dari permasalahan.
Saya teramat bahagia bisa melihat pertengkaran dua sejoli itu rasa-rasanya. Rencana saya sudah berhasil dan tinggal menunggu momen di mana saatnya saya akan benar-benar melihat dia dipermalukan oleh pilihan dia sendiri oleh keinginan dia sendiri dan oleh ambisi dia sendiri dan moment itu saya masih mengingatnya. Saya sengaja tidak datang untuk menemani tim chilliders saya. Saya menyuruh orang lain sebagai perwakilan dari saya sedangkan saya duduk di antara para penonton bersama dengan teman-teman saya beralasan kepada Luna kalau saya tidaklah datang untuk memberikan arahan yang benar kepada mereka untuk memberikan instruksi yang benar kepada mereka karena memang dari anggota tim yang ada di bawahan saya mereka sudah saya ajak kerja sama. Mereka juga tidak suka dengan Luna, dia itu perempuan yang tidak tahu diri akan tubuhnya sendiri yang tetap bersikeras untuk menunjukkan kemampuannya yang padahal sudah dikatakan, benar apa kata Mahesa itu, bukanlah ruangnya bukan kapasitasnya Tetapi dia melebihi apa yang seharusnya tidak dilakukan, ibarat kata, dia mau memaksakan kehendaknya sungguh sangat di sayangkan dan sungguh sangat menyedihkan Kalau saya jadi dia saya akan menunjukkan kemampuan saya yang lain yang jelas-jelas bisa saya kuasai yang jelas-jelas tidak akan mempermalukan diri saya sendiri di depan semua orang.
Luna itu punya pikiran yang pendek sekali dia tidak bisa berpikir panjang. Karena dia masih memainkan emosinya, karena dia masih menuruti ego dia. Hanya karena saya memberikan kata-kata positif saja, dia sudah langsung terbang bila sudah merasa termotivasi oleh seseorang. Tetapi bila dikatakan untuk mendengar hal-hal yang sekiranya itu membuat dia sedih, dia langsung down, kentara sekali kalau mental dia benar-benar lemah. Dia belum bisa tahan banting sama realita yang terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi dia, yang tidak sesuai dengan harapan, dan sangat tidak sesuai dengan bayangan yang diinginkan Itulah dirinya yang harus perlu dikoreksi.
Saya mengabari tim saya itu tiba-tiba tidak bisa datang mereka semua sudah tahu terkecuali Luna. Dan apa yang terjadi pada Luna adalah kesalahan dia. Dia yang mempermalukan diri dia sendiri dan bukan diri saya yang mempermalukan diri dia. Dia ditertawakan oleh banyak orang karena begitu kemunculan dia saja, dia sudah menjadi bulan-bulanan sama banyak orang dan saat mulai eksekusinya, dia tak bisa melakukannya dengan baik yang justru menjadi sebuah kejadian yang fatal untuk diri dia sendiri dan mungkin, kejadian hari itu akan menjadi sejarahnya di hidup dia yang mana, karena pilihan yang dia pilih telah menjerumuskan dia ke lubang perasaan rasa malu yang luar biasa, yang bakalan selalu diingat oleh siapa pun yang merasakannya. Dan seseorang akan menangis setelah dia merasa sakit hati, saya sendiri terakhir menangis saat di mana, saya berpisah dengan oma. Saya duduk termenung waktu itu ketika melihat Luna melarikan diri dari banyaknya orang yang mentertawakan dia setelah terjatuh. Saya tidak ikut tertawa tetapi justru saya kembali mengenang di masa kecil saya bersama dengan oma,alu saya harus terpisahkan dengannya. Saya ketika berada di kota besar, saya selalu menangis. Saya tidak benar-benar menikmati kehidupan yang diberikan oleh orang tua saya, kemewahan yang mereka manjakan kepada anak-anaknya.
Saya justru selalu menangis dan menangis karena merindukan Oma saya tetapi Mama saya memarahi saya. "Kamu dengan menangis, tidak bakalan bisa menyelesaikan masalah apapun." Mama pernah mengatakan hal tersebut kepada saya. Mama meminta saya untuk diam, mama meminta saya untuk tidak lagi menangis. Menangis tidak menyelesaikan masalah apa pun. Itu kenapa, setiap rasa sakit yang saya punya selalu saya pendam saja dan saya tidak ingin diri saya larut pada kesedihan karena mama selalu berulang-ulang kali menegaskan kepada saya kalimat-kalimat seperti tadi. Karena itulah saya jadi tidak terbiasa untuk menangis.
Setiap ada masalah dan orang-orang harusnya bisa melakukan hal itu karena tidak ada yang salah. Saya bahagia karena bisa memberikan pelajaran kepada Luna yang sudah membuat saya merasakan perasaan yang tidak nyaman mengenai Mahesa. Dia harusnya tahu batasan dia dengan Mahesa tetapi saya tidak benar-benar merasa bahagia sebetulnya. Ada rasa bahagianya tetapi hilangnya itu cepat sekali dan lalu tergantikan dengan rasa kasihan melingkupi hati saya melihat perempuan itu, dia terlalu banyak berharap kepada saya dan dia katanya benar-benar ingin menjadi seperti saya.
Padahal seharusnya dia cukup menjadi diri dia sendiri, tak perlu menjadi diri orang lain. Dia terlalu fokus pada kata-kata orang yang menyakiti hatinya sehingga dia benar-benar ingin membuktikan kemampuan yang dia miliki tetapi apa yang dia miliki tak menonjol juga pada dirinya, itu kesalahan dia karena tidak fokus dengan diri dia sendiri untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang dia miliki karena dia terlalu fokus untuk melakukan hal yang sama seperti orang lain padahal kenyataannya setiap orang itu berbeda-beda. Setiap orang tidak memiliki kemampuan yang sama juga. Karena tentu dari kemampuan yang berbeda-beda itu tidak bisa yang namanya harus disamakan dan diterapkan yang bukan di kapasitasnya namun sayangnya Luna tidak menyadari akan hal tersebut. Sehingga sangat mudah untuk dia dilabui oleh orang sangking ia berambisi untuk membuktikan bahwa dia bisa menjadi seseorang yang yang banyak dikagumi oleh orang-orang.