Kezia langsung mundur hampir dua langkah tambah setengah, karena bangkunya memang berada di belakang Sasi yang duduk di belakang Hira.
Hira dan Sasi langsung nampak tegang. Keduanya sama-sama tidak memiliki improvisasi apa-apa ketika bisa saja Kezia mencurigai mereka. Yang bisa mereka lakukan adalah pasrah, semoga Kezia tidak bertanya lebih dari sesuai takarannya.
"Tadi gue chat kalian di grup chat, kenapa nyombong banget nggak dibales?"
"Ya maaf Zi, handphone gue masih dipinjem keponakan buat main game."
Kezia tidak merespon percaya atau pura-pura percaya, sampai setidaknya Hira juga berniat menjawab pertanyaannya.
"Buru-buru Zi, soalnya tadi nunggu keponakannya Sasi main game sebelum kita berangkat ke kampus."
Aldo juga mendengar semuanya. Meski tangannya masih dilipat di depan d**a, ia juga tahu persis anak buahnya dan dua teman Kezia sedang merencanakan sesuatu yang ia tidak tahu apa. Jadi setelah menurunkan kedua tangannya sambil berjalan ke bangkunya yang ada di ujung paling belakang, saat sampai di dekat Kezia langsung saja ia mendekatkan kepalanya dengan si gadis.
"Kayaknya anak-anak lagi ngerencanain sesuatu, kita harus lebih hati-hati." Begitu bisik bibir Aldo yang terdengar di telinga Kezia bersama sebuah tarikan napas yang sangat terasa. Yang dibisikinya hanya diam saja, tidak protes apa-apa padahal Hira dan Sasi sudah hampir sulit menebak bagaimana keadaannya. Apalagi Galih, Sergio dan Fajri yang kelihatannya terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"Ok, selamat pagi!"
Dosen datang. Kezia dan Aldo buru-buru menuju ke bangku mereka masing-masing dan masih disusul anak-anak lain yang baru masuk lalu juga sama menuju bangku mereka.
"Hari ini saya mau infokan, kalau kegiatan KTS semester ini adalah hiking. Dan sesuai yang sudah direncanakan senior kalian, hiking kita ke Gunung Burangrang Bandung. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan, untuk ketentuan lebih lanjut mengenai tanggal pasti, jadwal kegiatan dan lain-lainnya, bisa dilihat pada papan mading kampus. Terimakasih."
Kalau dosen sudah memberikan info dan langsung keluar kelas begitu saja, artinya hari ini free. Anak-anak kelas ekonomi hanya perlu mengikuti dosen mereka keluar kelas dan melihat papan mading yang ternyata sudah penuh oleh anak-anak kelas ekonomi lain.
"Kegiatan ini cuma buat anak ekonomi aja, ya?"
Sasi bertanya sambil terus mendesak beberapa mahasiswa ekonomi lain untuk melihat info hiking lebih lanjut. Berusaha membuka jalan bersama Hira, tentu saja untuk Kezia melewatinya.
"Kayaknya iya, —misi!" Hira menjawabnya juga sambil terus mendesak anak-anak lain, sampai tiba di depan mading tepat membuat Kezia bisa membawa jelas pengumuman tentang KTS hiking kali ini. "Eh, iya dong cuma buat anak kelas ekonomi."
"Dua hari lagi. Gila aja, mendadak banget." Kezia langsung menunjukkan first impression-nya sekaligus membuka handphone-nya untuk memotret info yang terpajang di mading ini. Begitu selesai, ia langsung keluar dari kerumunan bersama kedua temannya dan di satu kali berhenti Aldo cs ada tepat di hadapannya.
Kezia memilih tidak memberikan respon apa-apa dan ingin meninggalkan tempat ini secepatnya saja. Namun ketika sebuah tangan tiba-tiba meraih handphone-nya yang masih dipegangnya, matanya langsung membulat sempurna.
"Apaan sih, lo? Lepasin hp gue!"
Aldo tidak peduli apapun yang pemilik handphone yang ia raih katakan. Selain ingin secepatnya mendapatkan info KTS tanpa harus desak-desakan di depan mading.
"Liat doang Zi, entar gue balikin."
Kezia tidak mengijinkan, tetapi Aldo justru semakin kuat ingin meminjam handphone yang sudah setengah berada di tangan itu. "Aldo! Lo lepasin nggak? Kalau mau liat info, liat sendiri sana di mading."
"Kalo ada yang mudah, ngapain cari yang susah coba?" Aldo masih saja tidak menyerah ingin meminjam handphone Kezia, yang sama sekali tidak dikasih ijin oleh pemiliknya. "Pelit banget sih, entar dibalikin. Bentar doang kali, nggak gue apa-apain kok hp lo."
Tiga teman Aldo dan dua teman Kezia alias BPK benar-benar tidak bisa menebak ada dendam besar apa yang mereka berdua rasakan. Karena dari pengawasan awal-awal ini, mereka sama sekali tidak menemukan celah yang cerah yang membawa mereka menuju jawaban dari semua pertanyaan. Sampai akhirnya Fajri muak dan memutuskan memotret langsung info di mading walau harus desak-desakan, lalu buru-buru memberikan handphone-nya untuk Aldo.
"Lo gitu aja diributin Do, nggak penting banget sih."
Kezia hanya menggertakkan giginya saat Aldo melepas handphone-nya dan mengambil handphone Fajri yang dengan mudah diberikan untuknya. Lalu secepatnya mungkin mengajak kedua temannya buru-buru pergi dari sana dengan langkah yang sedikit dibawa sebagai amarah.
"Santai dong jalannya!"
Walaupun masih ada saja ucapan Aldo pada Keiza yang terdengar padahal musuhnya jelas-jelas sudah ingin mengakhiri pertengkarannya.
***
Mahesa mengawasi semuanya dari lantai atas. Melihat bagaimana sikap Aldo yang selalu saja membuat Kezia kesal tetapi justru terlihat manis saja di mata orang-orang bahkan dirinya sendiri. Hampir selama tiga tahun, ia menyia-nyiakan harapan Kezia terhadapnya yang baru beberapa hari lalu mendapat responnya.
Yang orang-orang lihat adalah Kezia dan Aldo yang hampir setiap harinya bahkan setiap jamnya bertengkar karena hal tidak penting yang dibesar-besarkan. Padahal mungkin saja orang-orang tidak pernah tahu bagaimana yang sebenarnya mereka berdua rasakan tentang hubungan keduanya yang sama-sama menarik perhatian dunia.
Mahesa sebenarnya tidak peduli dengan ini. Entah tentang hubungan Aldo dan Kezia yang sudah terkenal menjadi musuh akut sejak SMA atau tentang bagaimana ambisnya Kezia mengejar-ngejarnya sampai ke ujung dunia. Begitu sih, katanya.
"Sa, nyokap lo telfon-telfon gue mulu nih! Diangkat apa nggak?"
"Biarin aja."
Ya, bahkan sampai saat ini pun masih ada saja seseorang selain Kezia yang juga sangat ambis ingin membuatnya segera masuk dunia Papanya. Seseorang yang sama yang sebenarnya tidak dinginkannya hadir dalam hidupnya, tetapi terpaksa ada, dan terpaksa juga ia harus berbakti kepadanya karena siapapun orangnya, Mahesa bukan orang yang pilih-pilih dalam menerapkan tata krama bersikapnya.
"Tapi gue risih, Sa."
Mahesa langsung berbalik setelah kalimat kedua masih bisa didengarnya. "Ya udah matikan hp kamu. Nanti pasti dia telfon saya langsung."
Bahkan sebelum Mahesa menyelesaikan ucapannya, dering panggilan benar-benar masuk ke handphone-nya. Sebuah nama kontak yang sama sekali tidak inginkan ada pada histori panggilan masuknya itu, benar-benar membuatnya hampir muak untuk kesekian kalinya. Tetapi ya.. kembali lagi pada ketentuan awalnya. Mahesa tidak bisa pilih-pilih pada siapapun harus bersikap dengan tata krama sesuai ajaran Ibunya.
"Halo, ada apa Tan?"
Walaupun bertanya, Mahesa tahu persis tujuan istri Papanya itu meneleponnya untuk kesekian kali ia yang terus menolak.
"Tante tebak, hari ini kamu pasti mampir toko buku langganan kamu, 'kan?"
Namun untuk yang kali ini Mahesa salah. Salah dari sekian kali menebak yang baru pertama kali mendapat pengalaman baru melakukan kesalahan dalam menebak apa yang istri Papanya akan bicarakan dengannya.
"Iya Tante, memangnya kenapa?"
Yang kali ini, jujur Mahesa penasaran dengan jawabannya.
"Tante titip buku resep masak sama kamu, tentang masakan apa aja deh asalkan kamu beliin. Kalau bisa, jangan cuma satu ya. Lebih dari satu pokoknya, bebas mau dua atau tiga. Boleh kan, Mahesa?"
Mahesa mengembangkan senyumnya, walau jelas istri Papanya tidak bisa melihat itu hanya dari panggilan handphone. "Tante aja nanyanya pakek 'kan', gimana cara aku nolaknya?"
"Ih, Mahesa. Kamu ini udah ganteng, peka lagi. Beruntung cewek yang berhasil milikin kamu. Makasih ya sebelumnya, Mahesa."
Mahesa manggut-manggut sembari melakukan perjalanan langkah kaki pelan-pelan pergi dari tempat asalnya. "Mana ada, nggak ada Tante."
"Nggak percaya ah, masa cowok seganteng kamu nggak ada sama sekali cewek suka gitu? Kalau dari penampilan kamu aja, Tante liat pasti banyak kok cewek yang ngantri. Iya, kan?"
Mahesa tidak bisa merespon lebih ekspresif dari sekadar tersenyum simpul yang cukup tipis. "Nggak ada beneran Tante, udah ya? Nanti aku beliin buku resepnya."
Lalu begitu setelahnya dan panggilan ditutup saat tatapan Mahesa menemukan Kezia duduk di tengah Hira dan Sasi di ujung tangga menghadap yang sama seperti dirinya. Jadi jelas ia tidak bsia melihat langsung mereka bertiga dari anak tangga paling atas.
***
Sebuah taksi berhenti di depan gedung Universitas Trisakti. Di dalamnya ada satu supir dan satu penumpang yang memakai mini flower dress berwarna cream dengan tambahan memakai aksesoris kaca mata hitam ber-frame cukup besar dan lebar.
Saat mengetikkan nomor yang Yunus tadi berikan, Rere langsung saja menekan opsi bertanda telepon warna hijau itu dalam sekali detik berjalan. Sekitar menunggu tidak empat puluh menitan, suara yang ia tunggu terdengar di handphone-nya.
"Halo, Re? Ada apa lagi?"
"Ada yang perlu gue bicarain lagi sama lo, gue tunggu di dalem taksi yang ada di depan kampus lo."
Jeda sebentar, sepertinya oknum yang ia ajak bicara di balik telepon masih berpikir atau mencari taksi yang ia maksud.
"Bicara soal apa lagi? Belum puas kenalan sama gue waktu itu?"
Rere hampir kehilangan kesabaran saat Kezia mulai lagi membuatnya terpancing emosi. "Lo nggak usah nyolot, gue tunggu di sini. Kalo lo nggak dateng, artinya lo emang beneran ada hubungan yang cukup deket sama Aldo."
"Dih, nggak penting bang—"
Panggilan itu langsung dimatikan oleh Rere sendiri, mau tidak mau memutuskan apa yang oknum ucapkan di seberang. Begitu panggilan mati, pandangan Rere langsung dialihkan pada semua kampus besar di area Jakarta ini dengan membuka kaca pintu mobil taksi ini. Tatapannya cukup tajam, membuat beberapa mahasiswa yang melihatnya jadi ngeri-ngeri, takut mungkin bisa diterkamnya kapan saja.
Namun tidak sampai banyak ditambah mahasiswa lain yang melihatnya berada di dalam taksi, sosok yang ditunggunya berjalan memakai sneakers tinggi dengan pakaian fresh style look. Bawahan highwaits jeans warna biru muda tanpa rip dengan atasan kemeja putih setengah crop yang bagian bahunya dibuat meninggi, finish bagian d**a berbentuk V.
Hanya melihat tampilannya saja, Rere sempat berpikir Kezia benar-benar bukan saingan yang bisa diremehkan jika hubungan gadis itu dengan Aldo tidak sekadar kenal karena satu kelas sejak SMA.
"Rere?"
Seseorang yang merasa namanya disebut langsung memberikan anggukan. Ia membuka pintu di mana Kezia berdiri dan masuk setelah dipersilakannya.
"Jadi lo mau ngomongin soal apa lagi?"
"Selain kenal karena sekelas dari SMA, lo juga dikenal sama semua orang sebagai musuh akutnya Aldo, 'kan?"
Kezia terlihat benar-benar bosan harus membahas sesuatu yang sama sekali tidak ia sukai. Namun urusannya dengan Rere harus segera selesai, jika ia ingin tenang tanpa harus diganggu Rere pacar utama oknum playboy bernama Aldo.
"Kalo iya, emangnya kenapa? Nggak penting banget sumpah pertanyaan lo." Kezia benar-benar bukan tidak habis pikir pelet apa yang Aldo gunakan hingga membuat Rere sebodoh ini menurutnya dalam berhubungan dengan suaminya itu. "Walaupun sekarang gue musuh akutnya Aldo, yang emang satu kampus tau itu. Gue nggak akan pernah ngubah kenyataan, kalau gue akan selamanya nggak suka sama Aldo. Gue nggak bakalan suka sama Aldo, lo bisa pegang omongan gue."
"Nggak dipercaya."
"Terserah sih. Lo mau percaya mau nggak, yang jelas gue udah ada crush sendiri. Yang jelas jauh lebih baik daripada cowok lo yang playboy itu."
Yang kali ini baru menyita perhatian Rere. Pandangan matanya yang awal malas menatap dan mendengarkan Kezia berbicara, yang kali ini jelas berbeda responnya.
"Lo yakin?"
"Yakin lah. Aldo bukan type gue, sekalipun dia tiba-tiba jadi suka sama gue, nggak akan pernah nyoba buat balas perasaan dia. Karena ya.. udah ada orang lain di hati gue."
Rere langsung terenyuh mendengar itu, sudut bibir kanannya dinaikan mengikuti ucapan seseorang yang sejak tadi didengarnya saat berbicara.
"Kepedean banget."
Kezia juga menertawakan kecil Rere yang terkesan meremehkan pesonanya. "Kenapa nggak? Gue pantes kok buat punya rasa percaya diri lebih."
Rere buru-buru membuang asumsinya tentang bagaimana pun respon Kezia yang terkesan menumbuhkan kepercayaan diri lebih dari anjurannya. Kembali lagi ke tujuan awalnya, ia langsung menatap tajam ke arah oknum yang duduk di sebelahnya. "Tapi gue nggak main-main ya Zi. Sekali gue tau kalian berdua ternyata punya hubungan lebih dari sekedar temen sekelas, gue nggak akan segan buat pelan-pelan ngancurin karir lo. Nama lo bakal ternodai, kalau sampe gue liat bukti langsung soal lo sama Aldo yang punya hubungan lebih."
Kezia justru tertawa, menertawakan ancaman Rere yang sama sekali tidak membuatnya takut. "Lo barusan ngancem gue? Ya, gimana ya.."
Rere masih menajamkan tatapan matanya sementara Kezia meremehkan ancamannya.
"Gue sebenernya nggak takut sama ancaman lo, sama sekali nggak. Tapi gue sendiri juga nggak pernah dan nggak akan pernah ada niat buat punya hubungan lebih sama Aldo. Jadi lo bisa gampang buat megang omongan gue tanpa perlu ngancem-ngancem gue segala, soalnya gue nggak akan takut sama apapun ancaman itu. Lo.. masih inget kan, gue siapa?"
Bersambung.