Yang Aldo pikirkan saat berani narsis di depan Kezia dan kedua temannya adalah ya memang ini sikapnya, kebiasaannya dan makanan sehari-harinya. Apalagi yang menjadi targetnya adalah Kezia, sosok yang memang harus wajib ia kasih rasa kesal minimal satu kali dalam sehari. Lucu memang membicarakan bagaimana kisah dirinya dan Kezia yang kemungkinan benar tidak ada habisnya, jika endingnya mereka tidak jatuh cinta.
Sasi bukan paranormal. Mahesa juga bukan pakar cinta. Namun apa yang menjadi perkiraan mereka persenan benarnya hampir menyentuh seratus. Karena memang dalam kenyataannya, sudah banyak yang membuktikan kalau cinta yang berawal dari sebuah kebencian justru lebih abadi dan bahagia saja menjalaninya.
Sayangnya entah Kezia dan Aldo yang sama-sama membantah pembuktian itu, atau memang hanya mereka berdua yang tidak ditakdirkan memiliki ending saling jatuh cinta. Sergio juga ikut memikirkan semua hal itu setiap kali ada kejadian di mana Aldo dan Kezia sedang bertengkar atau apapun.
"Kalian tunggu di sini aja, biar gue masuk sendirian."
Aldo buru-buru membuka pintu mobilnya dan keluar setelah pamit pada orang-orang di dalam kendaraan mewah beroda empat ini. Hanya Sergio yang masih mengamatinya sampai setidaknya masuk ke pintu utama apartemen yang salah satu tempatnya ditinggali Rere.
"Katanya sih playboy, ngeklaim punya cewek banyak lagi, padahal kan ceweknya cuma Rere. Mereka yang deket kan, cuma buat temen kalo Rere nggak ada aja." Galih langsung menyenderkan punggungnya ke sofa bagian belakang mobil Aldo yang didudukinya.
Fajri menghela napas. "Lha terus kalo cari cewek lain meskipun nggak dipacarin karena pacar aslinya sibuk, itu bukan playboy?"
Sergio justru meresponnya dengan tertawa. "Bukan do Jri, itu namanya Aldo. Nggak perlu nyebutin soal playboy, dunia udah tau siapa bos kita itu." Kalimat itu meluncur saja tidak ada dorongan apa-apa kecuali pikiran Sergio sendiri yang berpendapat tentang seorang Aldo.
Sementara Fajri dan Galih menyandarkan punggung mereka dan mungkin sembari memikirkan ucapannya, mata Sergio tanpa sengaja menemukan sebuah cincin sofa yang awalnya diduduki Aldo. Ia buru-buru mengambil cincin itu dan mengamatinya di bawah matahari yang cukup terik hari ini.
Ketika dilihat.. ia baru tahu cincin ini terbuat dari emas asli 24 karat. Bentuk yang polos dengan tambahan aksen berlian super kecil di tengahnya, Sergio yakin ini cincin ikatan.
"Tapi.. buat apa Aldo nyimpen cincin kayak gini?"
Galih buru-buru bangun dan melihat apa yang Sergio bawa sampai Fajri juga mengikuti gerakannya.
"Cincin siapa, Yo?"
"Ini bukannya cincin kawin, ya?"
Sergio masih mengamati cincin yang dibawanya bahkan sampai kedua temannya mengajukan pertanyaan masing-masing, ia tidak punya jawaban pasti untuk menjawabnya. "Setahu gue, ini bener cincin nikah dan gue nemu di sini. Tapi masa iya, Aldo nyimpen cincin nikah?"
Dari Fajri, Galih, maupun Sergio sendiri sama-sama tidak mengerti bagaimana bisa ada sebuah cincin ikatan di mobil Aldo yang notabene tidak pernah dikendarai siapapun kecuali pemiliknya sendiri atau Sergio, itu pun saat keluar bareng-bareng.
"Jangan-jangan Rere sama Aldo udah nikah, kok nggak kasih tau kita?"
"Gila Aldo, diem-diem nikah di belakang kita. Nggak mau terus terang aja, enak kali ya nikah di usia muda. Ya nggak?"
"Hhe!" Galih langsung menggosok wajah Fajri yang hampir memikirkan hal-hal di luar batas wajar mereka dengan satu tangan dan gerakan yang cepat. "Kebiasaan pikirannya kemana-mana."
"Aldo, Aldo!"
Sergio buru-buru meletakkan cincin yang ia temukan ke tempat asalnya, sebelum pemiliknya sampai dan membuka pintu mobil ini.
"Gimana Rere?" Sergio langsung pura-pura bertanya saat Aldo baru saja menutup pintu mobilnya setelah membukanya dan duduk si sebelahnya. "Sakit apaan dia?"
"Demam, sampe 38° Celcius."
Aldo menjawab pertanyaan Sergio seolah sedang tidak terjadi apa-apa sebelum ia masuk mobil. Padahal tatapan ketiga temannya sudah saling curiga, tetapi mungkin Aldo tidak menyadarinya.
"Kasihan banget, cantik-cantik harus hidup sendiri sampe sakit nggak ada yang bisa jagain 24 jam."
Aldo langsung tersindir saat Galih mengatakan kalimat itu. "Maksud lo nyindir gue, Lih?"
"Nggak Do, gue cuma kasihan aja sama Rere."
Aldo tidak langsung memberikan respon negatifnya terhadap Galih atau pun dua orang teman lainnya. Karena ungkapan Galih barusan, sudah membuat berpikir memutar otak apakah ada yang salah hari ini sampai bisa-bisanya Galih mengatakan demikian padahal biasanya tidak sampai sedetail ini.
-Bab Selanjutnya-
"Nggak masuk akal."
Saat Hira mengutarakan pendapatnya setelah semua fakta-fakta yang dikumpulkan bersama untuk pertama kalinya, empat orang yang mendengar hanya diam dan menatapnya dengan mata polos. Pada dasarnya memang tidak ada yang tahu, tetapi apa salahnya untuk mencari tahu.
"Belum tentu nggak masuk akal Hira, kita cuma perlu bukti yang bener-bener kuat soal hubungan pernikahan Aldo sama Kezia."
Sergio segera menganggukan kepalanya setelah menyeruput kopinya dan menunggu Sasi menyelesaikan ucapannya. "Bener kata Sasi, cuma butuh bukti. Karena bisa aja selama ini kita dibutain sama mereka berdua."
"Berempat. Kan kandidatnya bukan cuma Aldo ataupun Kezia, ada Kak Mahesa sama Rere juga."
"Tapi dari tadi gue nggak ada bilang kita kandidatin Mahesa ya, gue cuma nemu bukti samar cincin Aldo yang entah itu ikatan sama Rere atau Kezia."
"Ya terus salah kalau gue mau kandidatin Kak Mahesa? Kalo gitu ngapain tadi hubungin gue sama Sasi buat ikutan diskusi padahal pendapat gue soal Kak Mahesa nggak diterima? Tau gitu kan ya gue sama Sasi nggak usah dateng aja." Hira justru langsung tersulut emosi saat Sergio mengutarakan niat awalnya membuat pertemuan di belakang Kezia dan Aldo ini.
Sergio sontak merapatkan mulutnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, sampai nyalinya kembali terkumpul dan menghela napas cukup dalam. "Gue nggak ada nyalahin lo soal bawa-bawa Mahesa, tapi bukti yang gue lihat cuma cincin yang ada di mobil Aldo doang."
Sasi, Galih atau Fajri hanya mendengarkan Hira dan Sergio yang saling bertukar pikiran, seolah mereka sedang menonton debat yang membicarakan tentang pernikahan rahasia.
"Gue juga ada, jauh lebih jelas."
Hira langsung mengatakam kalau ia juga memiliki bukti, sebuah foto Selfi Kezia yang pada latar belakangnya ada sepasang sepatu sneakers laki-laki. Keempat orang yang ia kasih lihat langsung melongo.
"Zi, ini kan cuma foto selfi Kezia doang. Lo cuma mau kasih liat ada sepatu sneakers cowok di belakang itu, kan?"
Sasi sebagai perwakilan, para cowok tidak jadi bertanya karena yang dipertanyakan sama seperti yang Sasi sudah tanyakan.
"Cuma perhatiin lagi deh, masa kalian cuma lihat itu aja?"
Sergio menatap foto yang diperlihatkan Hira, tetapi sesekali menatap seseorang yang sedang mempelihatkannya.
"Maksud lo.. soal ini?"
Dan begitu jemari Sergio menemukan sesuatu yang aneh menurutnya saat memperhatikan lagi foto yang Hira perlihatkan. Yang lain langsung memfokuskan mata mereka menatap bagian foto selfi Kezia yang Sergio curigai itu adalah maksud Hira. Sayangnya, sampai sekarang tidak ada jawaban pasti dari narasumber dan yang pertama kali mencurigai tentang foto itu.
***
Kecurigaan yang membingungkan. Sejak kemarin malam, Sergio membentuk BPK bersama Galih, Hira, Sasi dan Fajri untuk menyelidiki lebih lanjut tentang yang sebenarnya terjadi. BPK sendiri singkatan dari Badan Penyelidik Kepastian, yang mana mereka memerlukan kepastian tentang rahasia rapat-rapat yang seperti dibungkam cukup lama oleh salah satu dari sahabat mereka. Kandidat terkuatnya adalah Aldo dan Kezia, dan cadangannya adalah Mahesa dan Rere. Mereka berdua dicurigai, karena sejak awal ada berita tentang pernikahan anak CEO hampir sebulan lalu, hanya Aldo dan Kezia yang sepertinya membantah kuat pernyataan tentang mereka berdua. Padahal dari segi logika yang sejak awal Hira dan Sasi gosipkan, dua anak CEO ternama itu normal kalau dirumorkan. Yang BPK sekarang adalah bukti yang kuat.
"Ra, lo kenapa dari kemarin cemberut mulu?"
Hira hanya melirik yang bertanya padanya, setelah itu kembali menatap papan putih di depan. "Nggak papa kok, kenapa emangnya?"
"Lo marah karena kemarin gue sempet nggak setuju lo kandidatin Mahesa?" tanya Sergio yang duduk di bangku sebelah kanan belakangnya.
Galih langsung menoleh ke arah Sergio baru saja bertanya pada seorang gadis di sebelah kirinya. "Masalah kalian kemarin belum juga selesai sampe sekarang?"
"Buat apa gue harus marah?" Hira langsung menolehkan wajahnya mengikuti arah wajah Sergio yang berusaha menatapinya dari belakang kanan. "Kalau lo bertiga emang cuma kandidatin Aldo, Kezia sama Rere ya bebas. Tapi jangan urusin gue kalau gue juga mau kandidatin Kak Mahesa sama Kezia juga."
"Ra, yang bener aja lah. Kandidat Kak Mahesa-Kezia itu hampir nggak mungkin."
Hira langsung bergerak menoleh ke belakang tepat di mana Sasi duduk di belakangnya. "Hampir nggak mungkin belum tentu bener-bener nggak mungkin, kan?"
Fajri yang duduk di bangku paling depan alias berada di depan Galih tepat sedari tadi menyimak, kini ingin ikut bicara. "Ya udah, mau siapapun yang dikandidatin gue ikut. Karena gue penasaran banget, siapa sih mereka yang udah bikin gempar satu kampus sebulan lalu."
"Gue juga."
Galih akhirnya ikut kandidat Mahesa-Kezia.
Sasi langsung saling menolehkan wajahnya bergantian dari Hira ke Sergio, setelah itu berhenti di tatapan depan bukan untuk siapa-siapa tetapi melepas bingung saja.
"Ya udah, BPK tersedia kandidat siapapun asal masuk akal."
Suara gerakan langkah kaki terdengar hampir memasuki kelas ekonomi ini. Fajri buru-buru mengintip dengan berdiri tanpa berpindah dari bangku asalnya, samar-samar terlihat dua orang berjalan berjauhan.
"Jadi lo baru nyadar kalau kandidat Kak Mahesa-Kezia itu masuk akal?"
"Eh, eh! Kayaknya Aldo sama Kezia tuh!" Fajri langsung menyerukan pemberitahuan pada anak-anak anggota BPK yang dari pagi sudah sampai di sini. Semua buru-buru mengikuti rencana yang sudah mereka buat sendiri dan menunggu sampai dua orang yang Fajri maksud masuk ke dalam kelas.
"Dih, nyinyir banget sih lo jadi cowok?"
Dalam sekali hitungan langkah kaki, suara teriakan Kezia sudah hampir memenuhi ruangan. Tebakan BPK, Kezia masih sedang perang mulut dengan Aldo sebelum masuk kelas.
"Habisnya lo lucu kali lagi senyum-senyum nggak jelas semalem, ngapain lo? Mahesa baru aja hapus block kontak lo."
Aldo mengatakan itu sambil mengarahkan tangan kanannya membuka pintu kelas. Sementara Kezia yang kesal hanya mengikutinya masuk dengan wajah cemberut, tentu saja.
"Kepo. Bukan urusan lo."
Mungkin walau tanpa sadar dilakukan, yang jelas mereka berdua sedang berjalan bersama dengan tatapan anak-anak BPK yang sangat awas mengawasi.
"Dih, nyolot. Nggak bisa terima kenyataan ya, kalau Mahesa emang nggak suka sama lo?"
Kezia langsung naik darah saat Aldo masih juga memancing emosinya. Tangannya bergerak menarik kemeja artan Aldo yang dijadikan outer sekaligus dalaman kaos hitam laki-laki itu.
"Heh, Aldo! Dengerin ya, mau Kak Mahesa suka sama gue atau pun nggak, bukan urusan lo." Kezia membulatkan matanya tajam ke arah mata Aldo yang menatapnya balik dengan sedikit rasa takut. "Urusin aja tuh, cewek lo yang bejibun. Dasar buaya, kerjaannya tiap hari ternak cewek."
Mata Aldo dan Kezia sama-sama dijatuhkan pada satu titik, di mana mereka berdua masih menjadi pandangan utama BPK. Sampai setidaknya Kezia memilih untuk melepaskan tangannya dari baju Aldo, anak-anak BPK langsung buang muka berpura-pura tidak melihat apa-apa.
"Nggak usah sok ngalihin perhatian, gue lihat kok kalian dari tadi liatin gue sama Kezia."
Dan ternyata.. Aldo tahu yang sedang dilakukan anak-anak BPK. Kezia yang awalnya beranjak menuju bangkunya pun, langsung berhenti di arah jalannya dan buru-buru menoleh ke arah Aldo sekaligus 'kalian' yang laki-laki itu maksud.
Bersambung.