Ending Jatuh Cinta

1844 Words
"Arghhh!" Rere melempar heels tingginya sejauh yang ia bisa setelah menutup rapat pintu apartemennya. Pukul 2 pagi ternyata tidak membuatnya takut pulang dengan membawa teriakan-teriakan keras sekalipun. Justru rasa-rasa ingin mengamuk saat ini juga, akan ia ladeni jika seseorang yang menjadi penyebab naik darahnya ada di hadapannya. "Dasar kardus." Rere tidak langsung meneriakkan keras seseorang penyebabnya marah-marah untuk saat ini. Yang berani ia ungkapkan dengan jelas adalah u*****n yang cocok untuk seseorang yang membuatnya hampir gila hari ini. "Sok banget nyombongin hartanya, padahal skill modeling cuma gitu-gitu aja." Mau anak pemilik Mauran Group, mau keturunan raja, mau seberapa kaya, Rere tidak akan semarah ini jika bukan karena cemburu penyebabnya. "Gue bakal diem, kalau Kezia terbukti sama sekali nggak deket sama Aldo. Tapi gue bakalan buat Kezia nyesel, kalau sampek dia terbukti deket sama Aldo." Rere mempertajam tatapan matanya yang sedikit memerah di waktu yang hampir menuju pagi ini. "Gue bakal hancurin karir Kezia dan buat namanya ternodai di mata publik. Gue akan buat dia nyesel senyesel-nyeselnya karena udah berani main-main sama gue." Hati Rere terus memanas mendengar nama Kezia, padahal ia sendiri yang mengatakannya. Mata Rere memerah saat emosinya memuncak di titik di mana Kezia memang ia rasa sangat berdosa. Sekarang obsesi utamanya bukan uang, tetapi sebuah rasa gila yang menghancurkan tatanan awal tujuannya ke Jakarta. Sebuah obsesi luar biasa yang sudah ditertawakan semua teman-temannya, dan bahkan ia sendiri tidak peduli karena Aldo. Karena Aldo adalah segalanya, setidaknya untuk saat ini. "Tunggu apa yang bakal gue lakuin ke lo, Kezia." -Bab Selanjutnya- Hira membawa sebuah nampan berisi ice cream dengan tiga macam yang berbeda. Satu untuk Kezia, satu lagi Sasi dan sisa satu untuk dirinya sendiri. "Yang gue nggak paham itu bukan materi yang dijelasin kemarin, tapi justru lo yang tiba-tiba ngilang waktu gue sama Hira baru keluar kelas." Sasi buru-buru melanjutkan obrolannya pada Kezia sampai Hira datang dan ikut duduk di depannya. Yang ditanyai hanya senyum-senyum kurang jelas, sembari menyicip ice cream. "Pulang sama Aldo kali." Kezia buru-buru menggebrak meja yang mereka bertiga tempati. "Heh! Lo ngomong pake akal sehat dong. Dikit-dikit ada yang aneh sama gue, Aldo disangkut-pautin, Kak Mahesa kek kali-kali." "Ya nggak sama dong Zi, kan logisnya lebih ke Aldo." Kezia menghela napas, memalingkan wajah dan memutar bola matanya ke arah mana pun asal tidak terus fokus pada kedua temannya. "Lebih logis kalo Kak Mahesa lah, kalian jelas-jelas tau, kan kalau pacar Aldo itu berapa banyak? Salah satunya yang jadi temen modeling gue." Sasi mencoba menyicipi ice cream yang dipesannya. Sementara Hira masih sedikit lebih fokus pada obrolannya dengan Kezia. "Tapi mau selogis apapun, pada kenyataannya Kak Mahesa nggak mau sama lo, Kezia." Hira mempertegas kalimatnya itu disertai ekspresi wajah yang mendukung. "Kurang lebih sama persis kayak perasaan lo ke Aldo yang nggak bakalan tumbuh karena ya.. emang nggak ada niat buat suka." Kezia masih menikmati makan ice cream-nya sebelum akhirnya berniat membuka suara lagi setelah Hira puas membantah apa yang ia katakan. "Lo kan, yang bilang perasaan nggak suka nggak bakal pernah bisa tumbuh kalau nggak niat? Padahal jelas-jelas semua itu salah. Yang nentuin kemana hati kita memutuskan buat suka, itu hati kita sendiri. Otak kita mana bisa ngontrol buat itu semua, kita nggak akan tau nantinya kemana hati kita akan tertuju. Karena ya.. lo sama sekali nggak punya kuasa buat milih siapa orang yang jadi pilihan hati lo." Hira maupun Sasi jelas sudah langsung sama-sama dibuat terkesima dengan bagaimana penyampaian Kezia yang tenang, jelas dan detail. Tentang bagaimana Kezia yang sama sekali tidak seperti biasanya, karena baru kali ini keduanya melihat Kezia sebijak itu mengungkapkan bagaimana proses hati mulai memilih seseorang sebagai arah tujuannya. "Jadi.." Kezia menertawakan kecil Hira yang baru saja akan merespon pelan-pelan. "Jadi, ya Kak Mahesa bisa aja semudah yang sama sekali nggak kita sangka bisa balas perasaan gue. Karena ya alasannya jelas, yang nentuin itu hati dan kita nggak punya kontrol." Hira buru-buru menggeleng begitu saja saat Kezia tiba-tiba memotong apa yang akan ia katakan. "Enggak, bukan itu. Yang gue maksud itu, jadi Aldo atau pun lo bisa aja dong saling suka mau kapan pun itu? Ya nggak, Sas?" Sasi masih menikmati ice cream sebenarnya, tetapi karena yang Hira katakan seru, buru-buru ia mengangkat tangan atau lebih tepatnya ibu jari yang berdiri tegak di depan wajah Kezia. "Setuju. Kalian berdua sama-sama nggak punya kontrol, wajar juga kalau tiba-tiba kalian berdua bisa saling suka." "Ck! Tapi nggak gue sama Aldo juga." Kezia masih tidak terima karena teori cinta yang baru saja ia beritahukan pada temannya justru semakin memojokkannya dengan Aldo bukan mendukungnya yang masih terus dan akan mengharapkan Mahesa. "Widih." Sebuah kata yang baru saja terdengar, membuat Kezia hampir saja merasa mati rasa di seluruh bagian tubuhnya. Pasalnya suara itu benar-benar dan sama sekali tidak asing baginya yang seolah mendengar suara pemilik suara yang sama hampir setiap hari. "Aldo?" Hira menatap seorang laki-laki yang memakai celana pendek selutut berwarna coklat dengan kaos oblong hitam dan tambahan perpaduan vest. Sampai setidaknya Kezia dan Sasi sama-sama menoleh ke belakang dan didapati satu gank berisi empat laki-laki yang cukup terkenal di kalangan anak-anak Trisakti. "Baru aja ngomongin gue, ya?" Aldo mengembangkan senyum super percaya dirinya. Lebih dari yang biasa Kezia lihat dengan muak saat di rumah. "Kenapa waktu gue dateng langsung pada diem-diem aja? Berarti bener dong, baru aja kalian ngomongin gue?" Hidung Kezia langsung keluar asap, padahal seseorang yang narsis tingkat dewa itu hanya menanyakan hal sebenarnya. "Eh, badut! Apaan sih lo? Dateng-dateng geer banget, bilang kita baru saja ngomongin lo. Buat apaan? Nggak untungnya tau nggak." Aldo tidak yakin Kezia mengatakan yang sebenarnya. "Serius nggak ada ngomongin gue?" "Nggak!" Sasi menarik baju Kezia dan hendak membisikkan sesuatu pada telinga yang ditarik bajunya. "Zi, kan emang bener kita baru aja ngomongin dia. Ngapain bohong segala sih?" Entah Sasi yang kelewat polos atau justru Kezia sendiri yang kelewat gengsi. Karena kalau harus jujur pun, tidak ada salahnya sama sekali karena mereka membicarakan Aldo hanya untuk penghias obrolan bersama Kezia. "Maling mana ada yang mau ngaku." Aldo masih tidak pergi juga dari tempat ia berdiri memergoki ketiga gadis dari Trisakti ini. Sampai akhirnya ia memutuskan sendiri untuk meminta Sasi duduk sedikit menjauh dari Kezia agar ia bisa duduk di sebelah gadis berambut panjang lurus yang terurai rapi itu. "Yakin lo nggak ngomongin gue?" Aldo kini berbicara cukup dekat tepat di telinga Kezia. Kezia sendiri juga sampai merasakan napas Aldo memasuki celah-celah rongga telinganya, padahal ia membenci itu semua. "Nggak! Gue bilang nggak ya nggak! Lagian buat apa juga gue ngomongin lo yang sama sekali nggak penting." Aldo hanya manggut-manggut tetapi tidak percaya kalau Kezia sudah mengatakan sejujurnya. "Di depan aja lo bilang nggak penting, padahal di belakang jelas-jelas lo sama dua temen lo ini ngomongin gue. Udah deh Zi, nggak usah gengsi buat ngakuin kalau lo itu salah satu cewek yang suka sama gue." Kezia sedikit menggerakkan posisi badannya menghadap ke arah Aldo yang duduk mepet-mepet dengannya. Tangannya bergerak mendorong tubuh Aldo agar sedikit menjauh dari posisinya. "Denger ya Aldo! Nggak usah ngimpi kalau gue bakalan suka sama lo." "Gue nggak ngimpi—" Hira tiba-tiba berdiri dan menahan Aldo yang hampir meninggikan nada bicaranya terhadap Kezia. "—Do, udah deh. Lo mau satu mall bakal ngasih pandangan mereka ke meja ini, cuma gara-gara lo berdua berantem nggak jelas kayak gini." "Iya, heran." Sergio langsung menyetujui ucapan Hira. "Nggak di kampus, nggak di tempat umum, seneng banget kayaknya lo berdua berantem nggak capek?" "Nggak!" Aldo maupun Kezia, untuk saat ini kompak menjawab pertanyaan Sergio. "Ya, udah. Karena ya terlanjur juga kita semua ada di meja yang sama, mendingan kita have fun bareng di sini, gimana?" "Ide bagus." Galih langsung menyetujui, sisanya mengangguk dan masing-masing mengambil kursi untuk yang masih berdiri karena tidak kebagian kursi. *** "Akhhhh!" Kezia meneriakkan kekesalan yang ia rasa saat Aldo cs ikut-ikutan acaranya dengan Hira dan Sasi di dalam mall tadi. Tidak peduli di lampu merah atau jalan yang kurang mulus sekalipun, jika ia sudah kesal, teriak sekencang mungkin akan menjadi pelampiasan utama. "Kurang keras Zi, biar sekalian orang-orang di jalan ini ngasih perhatian mereka ke mobil gue." Kezia menghela napas saat Hira protes karena kelakuan nekadnya. "Siapa suruh tadi lo ngajak Aldo sama temen-temennya duduk di satu meja sama kita, kan ngeselin. Udah tau gue benci nauzubillah sama Aldo, pakek segala ngasih ide nggak masuk akal lagi." Sasi mungkin juga ikut muak karena gengsi Kezia sudah tidak lagi sesuai takarannya. Rasanya sekarang gengsi itu jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya. "Hih, Kezia. Masuk akal dong Hira ngajak Aldo sama temen-temennya gabung di satu meja yang sama kayak kita, wajar. Yang nggak masuk akal itu, lo yang barusan teriak-teriak nggak jelas di tengah lampu merah." "Sas, tapi Aldo kalau diladenin, makin ngelunjak pedenya." Hira akhirnya memilih untuk tertawa karena Kezia memang kadang-kadang sulit menerima kenyataan kalau gengsinya juga sama besar dengan kepercayaan diri Aldo yang katanya lebih dari normalnya. "Kita nggak ngeladenin itu Zi, namanya. Kan lo sendiri yang ngasih respon negatif, seharusnya kalo gengsi itu masih sesuai tatanannya, semua yang lo rasa nggak akan sengeselin ini buat lo. Lo sendiri yang ngasih standar kalau Aldo itu punya kepercayaan diri sangat lebih, bahkan itu juga sama kayak gengsi lo yang nggak kalah super itu." "Ra, kok lo jadi belain Aldo? Lo temen gue atau temen Aldo?" Tiittt tiittt Bunyi klakson mobil lain tiba-tiba terdengar di kanan mobil Hira yang melaju tidak terlalu ngebut karena sedang bertengkar kecil dengan Kezia. Sampai setidaknya kaca mobil Hira dibuka oleh pemiliknya, mobil lain yang cari masalah itu ternyata lebih dulu membuka kaca mobil bagian kiri dan memperlihatkan Aldo yang menaik-turunkan alisnya di kursi penumpang depan dengan seorang pengemudi tampan bernama Sergio yang duduk di ujung kanan depan. "Masih belum selesai juga ngomongin guenya?" Kezia masih sedang mempersiapkan kata-kata untuk membalas teriakan Aldo di mobil seberang, namun Hira justru cepat-cepat menutup kembali kaca kanan mobilnya dan menginjak gas untuk melaju ngebut meninggalkan mobil cowok-cowok. "Ra, lo kenapa malah ngebut sih?" Kezia langsung protes saat omongannya harus terpotong karena Hira menginjak gas. "Baru juga gue mau ngomong, biar Aldo nggak sembarangan bilang kita dari tadi ngomongin dia." Hira menggeleng. "Udah lah nggak penting, udah kelewat juga, kan?" "Ya kan, lo yang ngebut." Kezia masih terdengar kesal karena Hira tidak membiarkannya bicara pada Aldo. "Mana bisa gue mau ngomong, kaca mobil langsung lo tutup gitu aja dan nginjek gas nggak bilang-bilang." Sasi memegangi kedua pilipis matanya, seolah ia jadi ikut hampir gila karena permusuhan yang Kezia dan Aldo lakukan hampir setiap harinya, hari akal sehat tidak terkecuali. "Aduh, gue sampe pusing dengernya." Kezia langsung melipat kedua tangannya di depan d**a setelah Hira dan Sasi, yang ia pikir membela Aldo. "Lo cuma nonton di belakang aja pusing Sas, coba lo jadi gue." "Justru karena gue sendiri di belakang, tambah pusing dengerin lo berantem mulu sama Aldo kayak nggak bakal ada habisnya kalau di ending kalian nggak jatuh cinta." Hanya beberapa susunan kata menjadi kalimat yang dibentuk oleh Sasi, hampir membuat Kezia kehilangan napas saat mendengar itu pertama kali. Rasanya seperti menjadi sosok tokoh cerita fiksi yang kebanyakan hidupnya ditentukan oleh perkataan teman-temannya. And of course, Kezia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelahnya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD