Rere langsung bungkam.
Begitu saat yang tepat untuk Kezia meninggalkan si oknum dan masuk ke dalam mobil Mahesa di tempat parkir depan sana. Senyumannya semakin mengembang puas saat melihat wajah yang hampir pucat Rere di depan gedung pemotretannya. Jadi jelas apa yang sedang ia lakukan mengundang tanda tanya untuk Mahesa.
"Dia siapa?"
"Temen modeling aku, Kak."
Mahesa terlihat seperti sedang memperhatikan intens bagaimana wajah yang Kezia bilang teman modelingnya di depan gedung pemotretan ini. "Habis kamu apain dia? Apa yang terjadi?"
Kezia lebih dulu menertawakan Mahesa yang ternyata bisa sekepo ini, padahal masalahnya bukan tentang apapun yang serius. "Nggak terjadi apa-apa sih Kak, cuma ya.. dia nanya aja sama aku, siapa aku, ya aku bilang aja aku anak pemilik Perusahaan Mauran Group yang investornya ngantri di mana-mana. Aku perjelas lagi kalau Mauran Group itu jarang orang nggak tau, auto diem dia. Padahal awalnya dia bilang mau biayain aku pindah kampus biar nggak deket-deket sama Aldo."
Mahesa mengernyit. "Emangnya kamu deket sama Aldo?"
"Sama sekali nggak." Kezia buru-buru menggeleng dan meraih tangan kiri Mahesa yang berada di bagian kanannya. "Aldo itu resek Kak, pasti tau dong kalau dari SMA kita berdua terkenal saling musuhan?" Satu tangan Kezia yang lain digunakan untuk menggerakkan dua jari tekuk lurus-tekuk lurus seolah sedang mengisyaratkan yang ia katakan.
Mahesa diam saja dalam memperhatikan Kezia mengungkapkan sesuatu yang baru saja ia tanyakan. Sampai seseorang yang tadi sempat ia kira bertengkar dengan Kezia, kembali masuk ke dalam gedung pemotretan di beberapa meter sana.
"Tapi kalau kalian saling musuhan, bukan berarti nggak bisa saling jatuh cinta, kan di masa depan?"
Kezia langsung merespon ungkapan itu dengan tertawaan hampir setengah ngakak. "Kamu ngomong apa sih, Kak? Gila kali aku kalau sampai mau jatuh cinta sama Aldo."
Sementara Kezia menertawakan pertanyaannya, Mahesa justru memilih untuk mengembangkan senyum rendam yang dimilikinya. "Jatuh cinta itu hati yang memilih, kan? Kita sama sekali nggak punya kontrol buat itu. Lagian kalau sekarang kamu bilang nggak bakal mau, kita sama-sama nggak pernah tau kalau nantinya hati kamu justru lepas kontrol sampai nggak bisa mewujudkan apa yang kamu bilang seperti sekarang."
"Maksud kamu, bisa aja aku jatuh cinta sama Aldo gitu?"
Mahesa mengangguk. Sementara yang diberikan sebuah anggukan semakin menggeleng seolah meremehkan apa yang baru saja ia katakan. Karena kata Kezia sendiri, Aldo jelas-jelas adalah musuh untuk gadis itu.
"Kamu liat cewek yang tadi kan, Kak?"
Mahesa diam saja. Jadi Kezia anggap itu jawaban iya.
"Nah, itu ceweknya Aldo." Kezia langsung mempertegas kalimatnya di mana sebuah fakta menyatakan kalau Aldo memang tidak akan pernah cocok untuknya, bahkan kalau Mahesa sendiri yang bilang. "Nggak cuma satu sih, masih banyak yang jadi cadangan sama beberapa singgahan juga. Kakak emang mau, aku terjebak dalam cinta yang nggak sehat kayak gini?"
"Lalu, apakah kamu pikir mencintai saya itu jauh lebih sehat?"
***
Sejak awal Lana sudah curiga, anak dan menantunya sedang merencanakan sesuatu dalam pernikahan yang dibangun dari sebuah perjodohan yang mendadak ini. Sejak bagaimana Kezia yang sama sekali tidak ingin ada orang-orang luar ada di akad. Sejak bagaimana Kezia yang memohon pada Papanya agar tidak mengundang siapa pun kecuali kedua pihak keluarga dan beberapa staff kepercayaan yang sudah dipercaya bisa untuk tutup mulut sampai waktu yang nggak tentu sampai kapan.
Kapan itu yang menjadi momok bagi Lana. Kapan yang Lana sudah tunggu sampai empat minggu kemudian, tetapi Kezia dan Aldo juga sama sekali tidak menginginkan pernikahan resmi mereka bocor ke publik. Kata suaminya, Aldo dan Kezia mungkin belum siap kalau teman-teman mereka tahu keduanya sudah resmi memiliki ikatan pernikahan yang sah.
"Sekarang Mama tanya, berikan jawaban beserta alasan yang jelas kalian jarang memakai cincin pernikahan ini."
Kezia dan Aldo benar-benar tidak pernah menyangka kalau Mama Lana akan setegas ini menanyakan pertanggungjawaban mereka. Padahal ini hanya karena satu hal ceroboh saja ketika masing-masing dari Kezia dan Aldo lupa memakai cincin pernikahan yang masih berada dalam laci kamar, sampai akhirnya ditemukan oleh Mama Lana.
"Ma, aku belum siap temen-temen aku tau kalau aku udah nikah."
Mama Lana masih menundukkan kepalanya sembari memijit pelan bagian kedua pelipis matanya. Tidak merespon apapun padahal suaminya sedang berdiri menghadap anak dan menantunya, sementara juga terdengar jawaban Aldo sebelumnya.
"Aku minta maaf kalau dengan aku lupa pakai cincin pernikahan itu, Mama jadi kecewa." Aldo berusaha sebisa mungkin menjelaskan masalah sejelas-jelasnya. "Ini semua bom waktu, Ma. Mau cepat atau lambat, siapapun akan tau kalau aku sama Kezia udah nikah. Tapi kalau untuk saat ini, aku masih belum siap."
"Sampai kapan Aldo?"
"Ya, aku nggak tau Pa." Aldo berganti mengalihkan pandangannya ke arah Papa Algo yang baru saja mengajukan pertanyaan padanya. "Sampai kapan pun itu, nggak ngubah fakta kalau aku sama Kezia emang udah nikah. Tapi seenggaknya aku butuh waktu untuk pelan-pelan mempersiapkan diri kalau nanti temen-temen tau soal ini. Pernikahan ini juga mendadak, normal kalau aku aku masih mau menutup kemungkinan agar orang-orang tau lebih lama lagi."
Yang Kezia rasa adalah dilema. Di mana hatinya ingin memeluk Mama Lana yang sudah begitu sayang padanya tetapi saat ini sedang dibuat kecewa, namun di otak justru bisa-bisanya masih mampu memikirkan bagaimana kelanjutan semua rencananya. Tidak ada yang bisa ia lakukan, selain diam dan hampir ikut terluka melihat sosok Mama Lana yang benar-benar kecewa dibuatnya.
"Tapi cincin pernikahan itu adalah bukti kalian benar-benar serius saling menjaga ikatan. Normal juga kalau Mama kecewa sama kalian berdua, karena selama yang Mama lihat kalian hanya memakai cincin itu saat di rumah."
Papa Algo yang kini terus mengungkapkan bagaimana fakta-fakta dan rentetan kejadian pengamatan Mama Lana tentang Kezia dan Aldo yang jarang memakai cincin pernikahan selain saat di rumah.
"Ya mungkin wajar Mama kecewa, tapi seperti yang udah aku bilang, aku belum siap orang-orang tau kalau status kita berdua udah nikah." Aldo buru-buru merendahkan lututnya hingga berspuh di depan Mamanya, dan memegang kedua tangan wanita paruh baya itu dalam satu genggaman hangat. "Tolong Ma, kasih aku sama Kezia waktu untuk siapin mental menghadapi kenyataan kalau pernikahan itu bukan privasi."
Kezia hampir ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan begitu sebuah dering panggilan masuk ke handphone yang sedang digenggamnya sejak tadi. Nama kontak My Dad, tertera jelas di layar monitor handphone-nya. Dua orang laki-laki menatapnya penuh pertanyaan, dan hanya Mama Lana yang masih sepenuhnya memblokir pandangan matanya lantai ubin yang dingin.
"Halo, Pa."
"Halo, Sayang. Gimana, apa kabar?"
"Aku baik, Pa. Papa sendiri?"
"Tentu baik dong, sayang. Kamu udah terima paket belum dari Papa?"
Kezia melirik ke arah tiga orang yang masih berada di ruang tamu. Sementara ia menyendiri di tempat yang agak menjauh dari posisi orang-orang.
"Paket apa, Pa emangnya?"
"Ada, deh. Coba sekarang kamu cek di luar, ada kurir apa nggak."
Kezia lebih dulu memperhatikan Papa Algo, Aldo, dan Mama Lana yang masih saling diam-diam saja di ruang tamu. Sampai akhirnya ia sendiri memberanikan diri untuk melangkah ke luar rumah dan mendapati sosok kurir yang membawa paket cukup besar.
"Buat Kezia, Mbak sendiri?"
Kezia tidak menjawab langsung dengan lisan, jadi ia hanya mengangguk sementara si kurir memberikannya paket itu dan langsung info ke Papa kalau paket sudah diterima.
"Isinya apa, Pa?"
"Kamu buka aja ya, bareng Aldo sekalian bukanya."
Paket itu dibawa Kezia masuk dan berhasil menyita perhatian ketiga orang yang ada di rumah ini. Sembari terus menaruh handphone-nya di antara daun telinga dan bahu yang disatukan sampai suara panggilan dari Papanya terputus begitu saja.
"Sayang, Papa aku minta kita buka paket ini bareng-bareng."
Mama Lana dan Papa Algo yang mendengar itu hanya saling menatap, Kezia juga sedikit memberikan kesan akting berharap Aldo juga mengikuti skenarionya.
"Ngapain Papa Pandu kirim paket segala?"
Kezia memberikan gelengan. "Aku nggak tau, langsung kita buka aja gimana?"
Aldo maju mendekat ke arah Kezia dan mengambil alih paket berukuran persegi panjang besar itu. Kezia juga masih ikut memegang, sementara ia mencoba menyobek bungkus bagian ujung dan sudah nampak kalau benda ini bernyata cukup pipih tetapi terasa berat.
"Aduh," rintih Kezia saat jarinya tiba-tiba terkena isi paket. Aldo buru-buru mengecek bagian jari yang sakit itu, dan ternyata cukup tidak ada luka serius apa-apa.
"Udah biar aku aja yang buka, kamu duduk saja di sofa sana sama Mama."
Papa Algo tidak bisa diam saja, ia ikut turun tangan membuka paket yang ukurannya tidak seperti paket-paket normal pada umumnya yang besarnya mungkin tidak sampai— sebesar ini. Jadi sampai sebuah bagian pembungkus sudah terbuka, kardus yang mengikat pun di buka, Papa Algo dan Aldo kompak mengangkat isi paket yang pipih menjadi vertikal.
Mama Lana dan Kezia memperhatikan sebuah foto yang berada di dalam frame dengan memiringkan kepalanya hampir sembilan puluh derajat jika kuat.
"Ee.. kok kayaknya nyetak fotonya kebalik ya?"
Kezia yang pertama kali protes, membuat Mama Lana yang berada di sebelahnya langsung menoleh tidak jadi sekecewa tadi. Sementara Aldo dan Papa Algo yang sadar ini kelakuan mereka, langsung bergerak kompak membenarkan posisi foto sebesar satu kali setengah meter ini sebagai mana mestinya.
"Nah, waw." Kezia terpukau saat pertama kali melihat posisi asli foto yang dikirimkan Papanya. Foto itu berisi wajah-wajah bahagia keluarganya dan keluarga Aldo saat selesai akad nikah. Dekorasi bunga sederhana di bagian belakangnya, membuat konsep foto yang tercetak cukup besar ini menjadi lebih indah dari kejadian aslinya.
Mama Lana membungkam mulutnya. Seolah di dalam foto ini mengingatkannya bagaimana hampir satu bulan yang lalu meminta putra tunggalnya untuk meminang sosok kesayangan keluarga Mauran yang kini sudah benar-benar nyata menjadi menantunya. Rasanya seperti.. waktu berjalan sangat begitu cepat. Seolah sama sekali tidak ada senggang jarak di antara kejadian hari ini dan empat minggu lalu yang membuatnya hampir sekecewa ini karena ulah anak dan menantunya.
Aldo menjatuhkan tatapannya pada Mama Lana, sedikit rasa terharu berhasil singgah dalam hatinya saat melihat sebuah perasaan tulus oleh wajah yang hampir akan penuh air mata dari Mamanya.
"Mama nggak nyangka.. sudah hampir satu bulan kalian menikah."
Kezia buru-buru menolehkan wajah pada mertua perempuannya setelah menatap cukup lama foto besar di tangan suami dan mertua laki-lakinya. Di sana Kezia baru menemukan sebuah wujud perasaan haru yang cukup berhasil membuatnya menjatuhkan pandangan sedikit lama.
"Mama nggak nyangka, tidak terasa ternyata perjodohan kalian yang mendadak beberapa bulan lalu, sudah cukup sejauh ini."
Mama Lana hampir meneteskan air mata, tetapi begitu Kezia memeluknya dari sebelah kanan membuatnya langsung merasa sangat nyaman.
"Makasih sekali lagi, Ma." Kezia mengungkapkan itu saat kepalanya berada di sandaran ternyaman persis ketika berada di bahu Mamanya saat di rumah. "Makasih Mama udah mau jadi Mama yang terbaik buat aku. Makasih Mama udah sepenuhnya ngasih aku kasih sayang persis seperti yang Mama aku sendiri kasih ke aku. Makasih juga.. Mama udah ngasih percaya ke aku buat bisa jadi pendamping hidup Aldo. Mama bener-bener, mertua yang baik. Mertua impian semua menantu."
Papa Algo lega mendengarnya. Saat Kezia mengatakan banyak terima kasih pada Mama Lana, rasanya sudah tidak ada lagi hal yang lebih mengharukan lebih dari itu, setidaknya untuk sampai saat ini.
"Tolong bilang juga ke Papa Pandu, kalau aku berterimakasih banget sama beliau karena telah mengijinkan aku buat menjadi suami kamu. Bilang ke Papa Pandu juga, kalau aku bener-bener akan bertanggungjawab atas seseorang yang sudah dipercayakan beliau untuk aku."
Mama Lana sepertinya sudah melupakan kecewa yang tadinya rasa. Kezia dan Aldo ternyata bisa sama-sama memberikan ungkapan yang keduanya rasa bahkan di balik bagaimana pun masa lalu perjodohan di pernikahan ini yang cukup bahkan sangat mendadak.
"Kalian terbaik." Itu baru ucapan pertama Mama Lana setelah bertanya hanya satu kali di awal semua yang terjadi kali ini. "Kalian adalah salah satu wujud kebahagiaan Mama, yang sama sekali tidak Mama harapkan untuk ada perpisahan. Ikatan pernikahan kalian, adalah murni rasa syukur Mama sama Tuhan. Mama bersyukur, karena kalian yang disatukan hanya karena sebuah perjodohan pun, ternyata mampu menyesuaikan diri dan berusaha menciptakan rasa saling mencintai di dalamnya. Jadi Mama, sangat berterimakasih."
Bersambung.