Pertanyaan Gila

1558 Words
Hari ini, Malam ini khususnya detik ini. Kezia masih belum juga tahu sepenuhnya atau paling tidak setengahnya latar belakang seorang Mahesa yang sudah menjadi gebetannya sejak SMA. Dari hampir empat tahun kenal, Kezia sama sekali tidak tahu CEO mana yang menjadi latar belakang keluarganya. Karena setiap kali pengambilan raport atau acara apapun di sekolah, Mahesa tidak pernah bersama orang tuanya. Laki-laki berhati dingin itu hanya akan pergi ke sekolah dengan tatapan tajam yang memikat membawa seorang laki-laki dewasa memakai jas rapi untuk mengambilkannya raport. Seratus persen Kezia yakin, itu bukanlah Papa Mahesa. Dari cerita orang-orang, Mahesa itu memiliki Papa yang sangat berwibawa dengan postur tubuh lumayan sempurna. Benar-benar selayaknya seorang CEO sukses yang memiliki vibe orang kaya-raya. Hal lain yang membuat Kezia tidak percaya seorang laki-laki berjas itu bukan orang tua Mahes a, adalah Mahesa yang sama sekali tidak menunjukkan tunduk pada seorang orang tuanya saat berbicara pada orang yang dimaksud. Mahesa justru lebih terlihat berbicara pada anak buahnya, atau bahasa halusnya pekerjanya. "Heran, pinter banget Kak Mahesa nyembunyiin identitasnya." Kezia tiba-tiba mengeluarkan suara di hampir tengah malam ini, sampai sebuah gerakan dari seseorang di sebelahnya ikut terasa. "Mahesa aja lo pikirin, gue nih lo pikirin. Gara-gara lo nonjok gue tadi pagi, hampir aja patah tulang hidung gue." Kezia langsung tertawa kecil sebagai respon. "Kenapa hampir? Seharusnya patah aja sekalian, haha. Lagian lo kan udah ada yang mikirin, banyak lagi, ngapain gue nambah tempat?" Aldo buru-buru berbalik dari posisi berbaringnya yang sejak tadi berlawanan arah dengan posisi Kezia. Tangannya bergerak meraih bahu Kezia seolah meminta istrinya itu juga berbalik agar bisa menatap langsung wajahnya. "Maksud lo.. lo nyindir gue karena pacar gue Rere?" Kezia langsung berbalik dan mendapati wajah Aldo yang sudah setengah tidur setengahnya lagi masih hidup. "Ngapain coba gue nyindir-nyindir, nggak penting. Lo sendiri aja kali yang ngerasanya gue nyindir, padahal lo sendiri yang ngerasa gitu." "Oh ya? Terus kenapa tadi gue denger lo ngomongin soal Mahesa? Kenapa dia?" Kezia langsung merespon mau muntah. "Dih, kepo! Bukan urusan lo." Aldo juga langsung menggerakkan bibirnya untuk tertawa kecil. "Padahal gue denger langsung lo Zi, lo baru saja bilang soal identitas Mahesa yang disembunyiin udah cukup lama. Kasian banget anak Om Pandu, ngejar cowok yang deket kayak berat banget." "Aldo! Udah gue bilang ya, ini bukan urusan lo!" Kezia buru-buru berbalik lagi ke posisi semula dimana tadi ia membuang muka setiap kali harus tidur satu ranjang bersama Aldo. Sebenarnya Aldo sama sekali tidak peduli apapaun yang bersangkut-paut dengan urusan percintaan Kezia yang membosankan, tetapi karena hasrat jahilnya keluar di saat-saat seperti, gerakan untuk membuat Kezia lebih marah dari sebelumnya tiba-tiba harus dijadikan penangkalnya. Kezia diam saja pada posisinya saat ini. Setidaknya sampai sebuah suara perut keroncongan alias merasa lapar terdengar membuatnya benci kenapa sampai selarut ini tidak tidur juga. Semenjak menjadi menantu di keluarga Raharja, pola kehidupan Kezia menjadi sedikit atau bahkan banyak mengalami perubahan. Seperti pukul berapa untuk tidur malam, apa yang dilakukan ketika gabut, bagaimana tata cara berangkat ke kampus tanpa ketahuan kalau ia dan Aldo sebenarnya tidak harmonis seperti yang mereka kira dan beberapa hal lain lagi yang sama sekali tidak bahkan tidak bisa Kezia temui di rumahnya sendiri. "Eh, lo mau kemana?" Itu adalah pertanyaan menyebalkan yang sama sekali tidak Kezia harapkan terdengar di saat-saat lapar yang tidak wajar seperti malam ini. "Tuh kan, lo kepo." Kezia langsung berhenti saat baru saja akan memakai slopnya yang tersembunyi di bawah ranjang. "Bisa banget jadi cowok banyak bacot, heran." Setelah menyelesaikan kalimatnya yang itu, Kezia buru-buru membuka pintu kamar yang sebenarnya sudah cukup sangat pelan-pelan, tetapi suara masih sangat jelas bisa terdengar sampai ke keseluruhan ruangan yang ada di rumah sebesar ini. Jadi setelah pintu itu terbuka, Kezia buru-buru keluar dengan langkah yang sebenarnya sudah tidak kuat digunakan berjalan, tetapi terpaksa karena perut kecilnya sama sekali tidak bisa diajak bicara. "Jam segini ada makanan apa coba di kulkas, kalo buah aja kan nggak bakal kenyang." Kezia berbicara sendiri sembari berjalan sebisanya menuruni tangga dan menuju dapur khususnya kulkas. Saat dibuka, benar dan persis seperti perkiraannya, kalau stok makanan yang bisa langsung dimakan hanyalah buah. "Ngapain sih lo ke dapur malem-malem gini, hah?" Kezia langsung menoleh ke arah suara yang terdengar sedang bertanya padanya. Ketika dilihat jelas, ternyata itu Aldo yang sedang mengikutinya berjalan sampai tempat ini dengan membawa selimutnya karena mungkin kedinginan. "Apaan sih lo, udah sana nggak usah ganggu!" Bukannya pergi karena diusir, Aldo justru memilih tidur di meja makan dengan memberikan kenyamanan kepalanya di atas meja sana. Kezia hanya geleng-geleng melihatnya, pikirnya selagi Aldo tidak macam-macam mengganggunya, it's okay ia biarkan suaminya tertidur di meja makan. Kezia buru-buru mengeluarkan satu butir telur dari kulkas dan menaruhnya di atas meja. Setelahnya, baru mengambil panci kecil yang diisinya air dari kran dan langsung menaruhnya di atas kompor untuk dimasak. Kezia menunggu sampai beberapa menit, sampai setidaknya air yang ia masak terlihat sudah mendidih, buru-buru ia masukan satu butir telur. "Lo cewek kali, masa masak cuma rebus telur aja." Kezia lebih dulu menghela napas sebelum memutuskan berbalik, menatap wajah menyebalkan Aldo yang ternyata masih memejamkan mata dengan kepala tersandar di meja itu. "Bukan urusan lo, Aldo." Kezia mengatakan itu dengan sangat mudah. "Lagian ngapain juga sih, lo ngikutin gue sampe ke sini." "Ini rumah gue kali, ngapain gue ngikutin lo di rumah gue sendiri? Logika dong!" Mau kesal, tetapi yang Aldo katakan memang kenyataan. Mau menahan, tetapi aura kesal yang sudah meronta-ronta minta dilontarkan. "Ya udah kalo gitu, minimal lo diem." Kezia masih juga membalas ucapan Aldo yang sebenarnya hanya menjahilinya. "Nggak usah banyak bacot, atau nggak gue lempar nih teflon ke muka lo yang berdebu tuh kayak meja." Aldo tiba-tiba langsung menggebrak meja, tepatnya meja makan yang saat ini hanya diisi satu kursi olehnya. Tatapannya ditajamkan dan tertuju pada Kezia yang masih menunggu telur rebus di atas kompor matang. Langkah kaki yang perlahan-lahan mungkin sedikit membuat Kezia ketakutan karena kalau sudah begini, Aldo tidak mungkin tidak berbuat sesuatu yang aneh padanya. "Do! Lo.. lo mau ngapain?" Aldo tidak menjawab apa-apa. Sampai suara pintu kamar yang terbuka di lantai dua sana terdengar, mungkin hanya Kezia yang tidak mendengarnya. Aldo semakin mendekatkan tubuhnya pada Kezia yang membulatkan mata besar-besar, benar-benar bingung tentang apa yang akan dilakukannya. "Aldo! Lo jangan—" Dan ucapan Kezia berhenti di situ saja saat matanya melihat kedua mertuanya yang berdiri menatapnya dan Aldo dari lantai dua. Oh my gosh, dalam hati Kezia berteriak. Alasannya adalah kenapa harus di saat-saat seperti mertuanya harus melihatnya berdua bersama Aldo di dapur. "Oh! Aldo.." Badan Aldo tiba-tiba di pasrahkan padanya yang setidaknya masih berpikir apa yang harus dilakukan untuk sekarang. Namun karena badan suaminya sudah menguasai keseluruhan dari kekuatan tubuhnya sekarang, ia hanya pasrah dan memeluk Aldo saja. "Mama sama Papa emang gitu, mereka selalu kepo sama perkembangan pernikahan kita." Aldo berbisik tepat di telinganya. "Makanya kedengeran sedikit aja yang mencurigakan, mereka langsung mastiin apa yang terjadi sama kita berdua. Jadi gue langsung aja inisiatif ngikutin lo ke sini, jaga-jaga kalo tiba-tiba mereka buka pintu. Kan repot kalo lo ketangkep basah di dapur sendirian malem-malem, kesannya kayak gue nggak sayang sama lo." Kalimat yang mungkin manis, sayang manis yang bukan dari hati melainkan sekilas terpikirkan dalam otak. Kalimat yang sengaja diucapkan dengan begitu lantang dan penuh tekanan intonasi bernada. Seolah seluruh dunia hanya memberikan dukungan jika kalimat dan skenario pernikahan yang ia jalani dengan Aldo selama ini, memang hanya diberikan jalan untuk sekadar menjadi permainan akting. "Tapi jangan nyender gini Do, gue mana kuat." Kezia masih berusaha menahan volume tubuh Aldo yang jauh lebih berat dari pada dirinya. "Bisa-bisa kita ambruk bareng nih di sini, gue nggak kuat!" Aldo tidak semangat mendengar Kezia yang tidak sejalan rencana dengannya. "Manja banget sih, gitu aja masa nggak kuat. Bentar aja biar Papa sama Mama sampe kamar aja." Sampai tiba-tiba inisiatif Aldo berkembang untuk memegang pinggang Kezia dan mengangkat istrinya itu sampai didudukan di atas meja dapur. Mata Kezia hampir membulat sempurna saat melihat tubuhnya melayang di udara karena ulah Aldo. Di mana suaminya kini semakin agresif memainkan wajahnya dengan satu tangan. Jujur Kezia ketar-ketir, takut kalau Aldo akan lepas kendali dan semua akan berantakan hanya karena suaminya kemungkinan berpikir di luar perencanaan. "Aldo.. lo mau ngapain?" Kezia berbisik pada Aldo yang masih memegangi pinggangnya dengan wajah si oknum yang hampir saja menyentuh keseluruhan bagian wajahnya. "Aldo.." "Kalian berdua ngapain di dapur?" Aldo buru-buru mengangkat kepalanya ke arah di mana Mama dan Papa sedang melihatnya dari lantai dua. "Eh, itu, anu Pa.. Ma.. Kezia laper, jadi dia buat telur rebus." Tawa yang menertawakan mereka terdengar dari atas lantai dua sana. "Ini beneran Kezia laper dan kamu temenin dia ke dapur, atau.." "Enggak, Pa." Kezia buru-buru menurunkan tubuhnya yang kini berada di atas meja. Dibantu tangan Aldo yang memegang pinggangnya, seolah semua ini terjadi karena keduanya memang sama-sama menginginkan pernikahan yang normal atau karena skenario yang dijalani benar-benar another level. Kezia baru tahu, sejak Aldo membalas pertanyaan Mama Lana dengan sedikit gagu yang dibuat-buat. Ternyata skenario Aldo cukup menarik untuk diikutinya kali ini, sayang sekali waktunya tidak tepat karena malam-malam begini perutnya memang asli lapar. "Jadi apa? Kalian cuma pura-pura?" Pertanyaan gila. Seumur-umur pernikahan ini sampai sekarang masih terjadi, Kezia maupun Aldo sama-sama tidak pernah diajukan pertanyaan yang seperti ini apalagi yang bertanya adalah Papa Algo. Jadi waktu pertanyaannya terdengar di ujung telinga, di detik yang sama jantung Aldo dan Kezia berdegup seolah sama sekali tidak ada kendali dalam organnya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD