Tentang Keluarga yang Dijadikan Rahasia

1387 Words
Kezia baru saja keluar dari toilet yang baru ia sadari kalau ia salah tempat. Dari sana, buru-buru saja ia pergi dan menghampiri kedua temannya yang telah menunggunya di tempat duduk teras kelas. Yang ia lihat, mereka berdua duduk dan menunggu dalam posisi diam-diam saja. Sementara dia ambang pintu kelas ada juga tiga laki-laki anak buah Aldo yang ikut memperhatikan berjalan sedikit ketakutan. "Ngapain liat-liat?" Kezia langsung nyolot menyentak ketiga laki-laki yang padahal hanya diam saja melihatnya berjalan. "Apaan sih Zi, diliatin aja kepedean lo!" seru Galih. "Iya dah, perasaan kebetulan aja mata kita ngeliat lo jalan kayak gitu," imbuh Fajri. Sergio justru mendahulukan tertawa kecil. "Lagian ngapain jalan kayak baru saja liat hantu gitu? Baru nyadar salah masuk toilet?" "Eh, lo bertiga nggak udah banyak bacot ya!" Baru setelah ketiga laki-laki merasa heran padanya, langsung saja ia duduk di tengah kedua temannya. Dengan keadaan wajah bingung dan bercampur sedikit ketar-ketir, Kezia memberanikan diri menatap wajah kedua temannya. "Kenapa Zi.. kaget ya karena salah masuk toilet?" Yang pertama kali memperlihatkan julidnya adalah Hira. Bukannya bertanya baik-baik agar si oknum lebih tenang dan bercerita secara serius dan jujur, Hira justru mendahulukan tertawa sedikit terbahak karena kelakuan Kezia. Sasi membulatkan mata saat mendengar Hira mengatakan bahwa Kezia salah masuk toilet. "Eh, yang bener lo Ra? Gimana bisa Zi.." Kezia sedikit berusaha memejamkan mata, tetapi tidak sampai tertutup sempurna, di sana ia manfaatkan untuk menarik napas pelan-pelan agar tidak keseluruhan kekesalan yang ia rasa pada Aldo tadi terulang hanya karena ulah beberapa oknum ini yang salah duanya adalah temannya sendiri. "Kalian nanya bisa agak normal, gak? Ya.. nggak usah terlalu kayak peduli, tapi yang jangan kayak seolah-olah kalian itu musuh gue. Jangan samain sama mereka bertiga!" Kezia menoleh ke arah tiga anak buah Aldo di ambang pintu kelas sana saat menjelaskan sedikit detail perkataannya pada Hira dan Sasi. "Lo berdua temen gue, kan? Bisa kali yang sehat dikit nanyanya." Hira menertawakan kecil ucapan Kezia. "Baperan amat Zi, hari ini. Kenapa.. apa karena tadi Aldo buat emosi sampai ngebul?" Nyatanya Kezia tidak main-main dalam ucapannya. Tatapannya langsung menajam saat Hira tiba-tiba kembali membahas tentang Aldo yang entah sekarang sudah di alam mana laki-laki playboy yang satu itu. "Lo berdua atau pun kalian bertiga, berani macem-macem sama gue.. nasib kalian akan sama aja kayak Aldo. Kehilangan tulang hidung, mau?" Galih, Fajri dan Sergio langsung memegangi masing-masing hidung mereka. Seolah sedang melindungi indra penciuman itu dengan menggunakan tangan, takut-takut tiba-tiba saja serangan dari Kezia datang dari tempat yang sama sekali tidak terduga. "Iya, iya Zi. Lo abis ngapain emang?" Kezia masih mengawasi tiga laki-laki yang masih juga berdiri di ambang pintu kelas. Sampai akhirnya ia menatap sedikit tajam, baru memutuskan untuk kembali menoleh ke arah wajah kedua temannya. "Ke mobil lo sekarang yuk, gue bakal cerita di sana." Hira dan Sasi buru-buru berdiri dan beranjak pergi saat Kezia menarik tangan masing-masing kanan dan kiri mereka berdua. "Dih, dasar cewek! Cerita gitu aja pake ngumpet-ngumpet segala." Dan.. masih saja Fajri sempat protes padahal Sergio dan Galih sudah hampir sampai di tempat parkir kampus. -Bab Selanjutnya- Begitu Rere membuka pintu apartemennya, yang didapatinya pertama kali adalah Aldo. Pacarnya dengan wajah terdapat luka di bagian hidung yang nampak merah samar-samar. "Sayang, wajah kamu kenapa?" Aldo diam saja sembari menikmati belaian tangan dengan jejemari lembut milik Rere di terjunkan pada wajahnya. Jujur saja, Aldo akan malu tidak ketulungan kalau ia terang-terangan mengatakan bonyok karena ditonjok seorang gadis. Pasti akan jadi lucu ceritanya jika Rere menanggapi tidak cukup serius. "Aldo.. aku nanya lo ini. Wajah kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Tangan Aldo menghentikan gerakan jemari Rere yang terus didaratkan pada wajahnya bahkan yang bukan bagian lukanya. Dalam sekali itu, Aldo berusaha tenang dan menghela napas juga melirik sedikit ke arah kanan entah untuk apa. "Sayang, kamu tawuran ya? Buat apa sih.. nggak guna tau nggak." "Re, kalau aku jawabnya di dalem aja gimana?" Rere langsung menoleh ke kanan dan kiri dari posisi apartemen yang ditinggalinya. Baru setelah sadar memang seharusnya membawa Aldo segera masuk, ia menggandeng pacarnya untuk ke dal dan berakhir duduk berdua di sofa ruang tamunya. "Jadi gimana? Apa yang terjadi?" Rere buru-buru menanyakan hal pertama yang ia lihat saat membuat pintu apartemen. "Bilang sama aku, ini semua kenapa? Kenapa bagian hidung kamu, kayak bonyok banget gitu?" Aldo masih juga memberikan respon apalagi jawaban. Rasanya mungkin sedikit malu kalau harus blak-blakan bilang kalau ini hanya ulah seorang perempuan yang notabene marah padanya karena di awal ia yang menjadi biang keroknya. "Sayang, kok diem aja sih?" Aldo perlahan mengangkat wajah dan memberikan tatapan pada Rere. Di saat itu juga, pacarnya buru-buru mengangkat tangan kanannya kembali membelai wajah Aldo agar ia mendapatkan sedikit penawar dari sana. "Sayang, ayo jujur sama aku. Siapa yang berani buat kamu kayak gini?" "Dia cewek." Rere ingin terkejut sebenarnya, tetapi saat diperjelas lagi apa yang Aldo katakan, rasanya justru sedikit lucu untuk didengar. "Cewek.. gimana bisa dia sembarangan nonjok kamu?" "Aku duluan sih yang mulai." Rere mulai menyelipkan senyum yang sejak tadi ia tahan tetapi kenyataannya cukup sulit. "Emang kamu ngapain sih, Sayang? Kamu apain cewek itu sampe harus dia nonjok kamu, bagian hidung lagi." Aldo merendahkan posisi duduknya dari awal yang normal-normal saja. Pandangannya mengarah bergantian dari wajah pacarnya dan beberapa spot ruangan di apartemen ini. "Biasa, aku cuma narik tasnya dari belakang gitu, dia udah kesulut emosi. Mungkin karena dia emang punya dendam kali ya, sama aku." "Emang ngerasa punya dendam sama dia?" *** "Nggak ada. Tapi gue nemu hp." Hira dan Sasi langsung saling tatap waktu Kezia mengatakan kalau ia menemukan handphone, tetapi dengan sedikit ada keragu-raguan di sana. "Hp siapa? Lo liat isinya nggak?" Baru saat Hira menanyakan hal yang sebenarnya juga Sasi pertanyakan akhirnya terjawabkan, Kezia justru langsung mendapat notifikasi chat yang tidak biasanya memang khusus ditujukan padanya. Jadi setelah membaca isi chat itu, Kezia langsung terlihat membungkam mulutnya rapat-rapat, seolah tidak jadi akan mengatakan apa yang ia tahu dan terjadi waktu salah masuk toilet hari ini. "Woy! Malah bengong lagi, hp siapa yang lo temuin?" Kezia lebih dulu menata bahan bicara yang akan digunakannya. "Hp nggak tau, belum juga sempet megang, eh pemiliknya udah nyolot katanya gue nyuri hp dia. Nggak tau aja, gue anak siapa." Hira dan Sasi yang awalnya merasa cerita yang akan dibawakan Kezia akan cukup menyeramkan, kini menjadi tertawa terbahak-bahak mendengar bagaimana Kezia mengucapkan kalimat terakhirnya dengan keseluruhan rasa percaya diri yang dimilikinya. "Kasih tau Zi, belum tau aja ini Kezia." Sasi langsung mengungkapkan apa yang seharusnya Kezia katakan saat bertemu pemilik hp yang nyolot itu. "Nama lengkapnya Kezia Azura Mauran, anak kesayangan pemilik Mauran Group yang banyak diminati investor-investor besar. Tetapi pemilik perusahaannya yang nggak akan kasih kendor buat nyusun sebaik mungkin perusahaan Mauran." "Kasih tau ya gitu Zi seharusnya, biar lengkap." Hira masih mengimbuhi padahal sudah sambil menyetir mobilnya. "Biar tau dia siapa lo, sembarangan banget nuduh orang nyuri padahal nggak tau faktanya. Hpnya apaan sih sebenarnya, heran." "Yang jelas kayaknya, hp entry level." Kezia ikut nimbrung dengan tertawa natural sejauh ini mendengar ucapan-ucapan kedua temannya. "Nggak usah banyak julid sama orang ah, kita nggak sejahat dia, itu yang penting." "Bener juga Zi, tapi orang yang sembarangan nuduh orang itu emang harus dikasih bukti yang akurat, nyata dan jelas." Sasi hampir ikut tersulut saat teringat cerita Kezia kalau hari ini mendapat kabar tidak mengabaikan katanya ia adalah maling. Kezia merespon dengan tertawa. "Nggak perlu, dia bakal tau sendiri siapa gue kalau suatu hari nanti dipertemukan sama gue dalam keadaan yang sama sekali nggak sama kayak sekarang." Hira dan Sasi hanya tertawa mendengarnya. "Bukti yang akurat yang jelas nggak akan menyelesaikan masalah, kalau yang dipermasalahkan adalah attitude." [Walaupun kamu nggak tau apa-apa isi hp saya, setidaknya jangan pernah mencoba menceritakan hal ini kepada siapapun, karena saya sedang proses percaya sama kamu.] Dalam hati jujur, Kezia mungkin benar-benar tidak akan sanggup berada di posisi Mahesa yang notabene baru saja sedikit ia tahu apa masalah yang sedang dihadapi laki-laki itu. Dari sekian banyak yang Kezia tahu tentang Mahesa, termasuk tinggi badan, berat badan, ukuran sepatu, ukuran baju dan beberapa hal pribadi lainnya, apapun tentang keluarga si cowok Kezia sama sekali tidak pernah tahu. Sejauh yang bisa ia coba untuk mengenal Mahesa, tidak sedikit pun laki-laki tampan ber-atittude itu membiarkan siapapun mengetahui tentang latar belakangnya. Tentang bagaimana kondisi keluarga, juga tentang masalah terberat apa yang selama ini membuat Mahesa terpuruk tidak bisa bercerita pada siapa-siapa. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD