Kalya langsung masuk kelas Dinda dengan wajah panik, seluruh tubuhnya mengeluiarkan keringat, dia melihat Dinda yang sedang menunduk lesu di bangkunya. "Din." Kalya berjalan mendekat dan melihat Dinda mengangkat wajahnya. Kalya agak sedikit terkejut, mata Dinda berwarna hitam raut wajahnya tampak lesu dan lagi, rambutnya pun sepertinya disisir dengan asal.
"Lo udah kayak orang gila tau nggak."Kalya mengambil ikat rambut di kantung rok nya ladu kemudian memengikat rambut Dinda yang agak berantakan itu, Dinda terdiam hingga akhirnya Kalya menyelesaikan ikatannya itu.
"Kal." Suara Dinda terdengar sangat berat. "Iya?" Dinda berbalik, menghadapkan tubuhnya ke Kalya, tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca lalu langsung mendekap tubuh Kalya. "Gue harus gimana? Gue ngerasa gue bodoh banget Kal, gue bingung." Dinda menangis pelan sambil terus mendekap Kalya.
"Din, ini udah terjadi, nggak bisa lo ulang lagi, yang penting sekarang lo harus terima dia, coba jujur sama mama lo." Ujar Kalya lembut sambil mengelus kepala Dinda, dia menggeleng. "Mau diusir gue sama nyokap? Enggak, gue takut Kal."
"Kevin, dia udah tau masalah ini?" Tanya Kalya dan Dinda mengangguk, Kalya mendesis, ini masalah sangat berat dan dia yakin Dinda sangat tertekan sekarang, lalu bagaimana cara Kalya membantu sahabatnya itu?
"Lalu?" Dinda terdiam sebentar. "Dia marah-marah sama gue, katanya itu salah gue sendiri nggak hati-hati malah dia nuduh gue selingkuh, padahal gue cuma ngelakuin itu sama dia, terus dia gamau nemuin gue lagi." Kalya melotot mendengarnya,emosinya langsung naik ke ubun-ubun.
Kalya melepas pelukannya, dia menatap Dinda sangar, "b**o banget tuh cowok! Dia yang berbuat dia yang nggak mau tanggung jawab! Gue harus temuin dia, yang bener aja tuh cowok mau enaknya doang, lo tunggu sini." Kalya sudah emosi, dia berbalik dan hendak pergi namun Dinda menahannya.
"Jangan Kal," Kalya menoleh, melihat Dinda sebentar lalu kemudian melepaskan genggaman tangan Dinda, berlari sekencang mungkin untuk sampai di tempat perkumpulan Kevin dan kawan-kawannya.
***
Daniel tertawa dengan celetukan Abi. Berkali-kali dia menepuk laki-laki itu sambil tertawa geli, saat ini dia sedang berkumpul dengan teman-temannya di pojokkan sekolah yang tentunya jauh dari pemgawasan guru. "Anjir muka lo udah jelek malah dijelekkin tinggal nunggu busuk aja tuh muka." Ujar Daniel sambil tertawa geli.
"Kusuka dirinya, mungkin aku sayang, namun apakah mungkin kau menjadi milikku." Anton dan Rendi yang sedang bersanandung ria, perasaan mereka berdua sama, sama-sama digantung sama gebetan.
Daniel berhenti tertawa dan melihat Kevin yang duduk termenung, biasanya Kevin tidak seperti ini, biasanya dia yang paling berisik,lalu kenapa sekarang dia mendadak bisu kayak gini?
Daniel hendak berdiri dan menghampiri Kevin namun,
"KEVIN!" Teriakkan seorang perempuan mampu membuat semua anak anak yang berada disana terdiam dan menoleh ke sumber suara, Daniel melihat Kalya yang berdiri tak jauh dari mereka sambil memasang wajah sangar.
Kevin terkejut dan melihat Kalya takut-takut, perlahan tapi yakin Kalya melangkahkan kakinya mendekat, melewati Daniel dan berjalan terus sampai dia sudah berada di hadapan Kevin. "Berdiri lo." Kevin terdiam sambil terus memperhatikan wajah Kalya dengan takut.
"Gue bilang berdiri ya berdiri!" Kalya membentak dan dengan cepat Kevin langsung berdiri, teman-temannya yang lain menatap mereka berdua bingung, tidak seperti biasanya dia tampak takut dengan oranglain.
"Lo tau kan kesalahan lo apa? Gue mau kita ngomong baik-baik." Kalya menatap Kevin tajam dan Kevin hanya mengangguk. "Kita jangan ngomong disini." Ujar Kevin pelan.
"Tapi gue mau Daniel ikut sama gue." Ujar Kevin sambil melirik Daniel.
***
"Jadi, apa yang mau lo jelasin ke gue?" Ujar Kalya melihat Kevin yang duduk sedangkan dirinya dan Daniel berdiri sambil menatap laki-laki itu.
"Gue gatau, selama kita berhubungan aman-aman aja, dia pasti selingkuh." Ujar Kevin dengan lantang, namun ketika mendapatkan tatapan tajam Kalya dia langsung ciut kembali. "Lo gila ya? Dia tuh cuma berhubungan sama lo! Gila ya lo jadi cowok!"Kalya lepas kendali, bisa-bisanya dia berkata seperti itu sedangkan sahabatnya menderita seperti itu.
"Wehh wehh, ini ada apa sih? Gue belum paham." Daniel terlihat agak bingung, berkali-kali dia menggaruk belakang kepalanya karena bingung, Kalya langsung menoleh dan melihat Daniel. "Lo tau gak? Temen lo ini hamilin sahabat gue!" Daniel melotot, kaget dengan apa yang barusan Kalya katakan.
"Gila lo? Kevin anjir." Daniel melihat Kevin yang sedang menunduk. "Gue harus gimana Niel? Gue belum siap jadi ayah apalagi nanggung kan udah dikelas akhir, gue gatau harus gimana Niel." Daniel langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, apa yang di dengarnya kini seolah tidak nyata.
"Bantu gue Niel, gue harus gimana." Kevin mengenggam tangan Daniel berharap bantuan dari sahabatnya itu. Daniel langsung menonjok pipi Kevin hingga laki-laki itu jatuh tersungkur
"Lo bodoh sih, ahh b**o, kenapa napsuan amat sih jadi anak? Jadi gini kan sekarang! Gue bilang jangan lakuin hal itu, b**o banget bikin pusing aja lo, sekarang gimana jadinya hah! Anak orang masa depannya udah hancur gara-gara lo dan apa lo mau tanggung jawab akan hal itu? Mau berbuat mikir dulu setan!" Daniel emosi, dia tidak tau lagi emosinya sudah berada di ubun-ubun, seketika wajah memerah karena terlalu emosi. Tanpa aba-aba Kevin langsung menonjok pipi Daniel membalas pukulan Daniel jauh lebih kuat sehingga membuat sudut bibir Daniel berdarah.
"Gue gatau Niel! Ya namanya juga setan lewat, gue tau gue salah!" Kevin ikut membentak Daniel ambil memegangi sudut bibirnya yang sepertinya robek. Daniel semakin liar, dia ingin melayangkan tonjokkan lagi di pipi Kevin,namun gerakkan nya terhenti oleh Kalya, perempuan itu dengan cepat menahan tangan Daniel.
"Udah! Kalian kenapa jadi tonjok-tonjokkan gini? Kalau ketahuan sama guru gimana? Kita bertiga bisa kena BK! Otak kalian dimana hah?" Daniel menatap mata Kalya sebentar, benar juga apa kata perempuan ini.
"Ada apa kalian ini ribut-ribut?" Mereka bertiga langsung melihat Bu Sondang yang berdiri tak jauh dari mereka. Bu Sondang langsung teriak saat melihat wajah Daniel dan Kevin yang dimasing-masing pipi berwarna biru keunguan seperti sehabis dipukul.
"Kalian kenapa berantem hah?" Bu Sondang melihat Kalya yang sedang mengenggam tangan Daniel dia langsung paham, pasti mereka berdua bertengkar karena memperebutkan seorang perempuan, melihat itu Kalya langsung melepaskan genggaman tangannya.
"Kalian bertiga, ikut ibu ke ruang BK!" Teriak Bu Sondang.
Sesampainya mereka diruang BK, Daniel berkali-kali bilang bahwa ini bukan salah Kalya,ini slaah dirinya karena sudah memulai pertengkaran, jika ditanya penyebabnya apa mereka semua terdiam, tidak mungkin mengatakan bahwa Dinda dihamili oleh Kevin dan itu menjadi penyebab keributan ini, bisa-bisa Kevin dan Dinda dikeluarkan dari sekolah hari ini juga.
"Kalya, kamu ini perempuan, kamu selalu saja menjadi penyebab pertengkaran kemarin antara Yoga dan Daniel sekarang Kevin dan Daniel, kamu tidak malu?" Kalya menunduk, rasanya ingin menangis aja, ini bukan salahnya.
Bu Sondang menulis sesuatu di kertas lalu dia masukkan ke dalam amplop. "Panggil orangtua kamu kesini, poin kamu ibu tambahkan dua puluh lima jika orangtua kamu tidak datang makapoin kamu akan ibu beri lima puluh, poin kamu sudah ada lima puluh di Ibu kalau ditambakan dengan ini? Hitunglah berapa, intinya jika poin kamu sudah mencapai seratus lima puluh, kamu akan dikeluarkan dari sekolah." Kalya langsung terdiam dan juga terkejut, tidak hanya Kalya, Daniel dan Kevin pun ikutan terkejut.
"Tapi Bu, kan saya sama Kevin yang bertengkar jangan bawa-bawa Kalya Bu." Daniel berusaha membela, kasihan Kalya. Bu Sondang menggebrak meja. "Ibu tidak perduli, ibu menilai siapa yang menyebabkan pertengkaran bukan yang bertengkar, tentunya kalian berdua akan mendapatkan hukuman, kalian sudah berada dikelas akhirseharusnya kalian berpikir sebelum bertindak! Lelah juga ibu lama-lama menangani kalian, sekarang kalian bertiga boleh keluar. Ingat kamu Kalya sampaikan amplop itu kepada orangtua kamu." Suara Bu Sondang yang menggelegar mampu menarik beberapa murid untuk mengintip ruangan BK.
"Baik Bu." Ujar Kalya lemas lalu kemudian langsung keluar dari BK disusul oleh Daniel dan Kevin.
***
Kalya duduk di ujung teras kelas sambil memeluk lututnya, matanya sudah berkaca-kaca, dia mendapatkan surat panggilan dan ini sungguh membuatnya ingin menangis. Apa yang akan dia katakan kepada orangtuanya?
"Gue harus gimana hikss." Kalya menumpahkan air matanya, dia menangis sesegukan, tidak akan mengira bahwa nasibnya akan menjadi seperti ini, dia menunduk sambil terus menangis.
"Maaf." Kalya terdiam lalu mengangkat kepalanya dan melihat Daniel yang sudah berada dihadapannya dia jongkok sambil memasang wajah bersalah.
"Maaf, karena gue lo jadi begini, gue terlalu emosi." Kalya kembali menunduk lalu meneruskan tangis nya yang sempat terhenti, Daniel semakin merasa bersalah, dia mengusap kepala Kalya pelan berusaha menenangkan gadis itu.
"Kenapa lo harus mukul sih? Nyusahin aja ih hiks, apa yang bakal gue bilang sama orangtua gue nanti?" Ujar Kalya,nada suaranya terdengar bergetar.
"Maaf Kal, gue cuma kesel, karena gue sama, sama anak yang dikandung Dinda saat ini." Kalya berhenti menangis lalu mengangkat kepalanya. "Maksud lo?"
"Iya, gue anak haram." ujar Daniel dengan senyuman. "Karena itu gue bener-bener marah, maafin gue yah." Kalya terkejut dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Daniel anak haram?
"Mamah gue dulu hamil gue diluar nikah, dan ayah gue sempet kabur hingga akhirnya kandungan mamah gue udah delapan bulan, ayah gue balik dan bertekad menikahkan mamah gue setelah gue lahir, walaupun akhirnya mereka menikah tapi gue tetep anak haram kan? Yang dibikin sebelum ada kata sah." Kalya terdiam mendengar cerita Daniel, dia benar-benar baru tau ini.
"Maafin gue." Ujar Daniel lagi.
"Iya,kali ini gue maafin." Daniel tersenyum.
"Hmm Dan,sabar ya gue baru tau tentang ini dan gue yakin lo pasti kuat." Daniel tersenyum. "Gue pasti kuat." Ucapnya walaupun Daniel sendiri pun tidak yakin dengan apa yang diucapkannya.
***
Halo.
Gimana sama chapter ini? Gaje yaa wkwk maafkan aku yaa. Semoga chapter ini kalian suka yaa jangan lupa vote dan komentar:)
Byee
-Sal